Selasa, 10 September 2013

siwa sidhanta kristalisasi perbedaan di bali


SEJARAH PERKEMBANGAN
AGAMA HINDU
1. Nama Agama Hindu
Nama agama Hindu adalah nama suatu keyakinan yang berawal atau berasal dari India yang pada mulanya agama Hindu tidaklah demikian namanya. Nama Agama Hindu atau Hindu Dharma ini sedemikian rupa berkembang dan bahkan diberikan oleh orang-orang Barat yang datang ke India. Agama Hindu dewasa ini mengacu berbagai sumber baik tradisi maupun utamanya adalah kitab suci Veda sebagai sumbernya. Agama Hindu berkembang berawal dari India sampai pada ke Indonesia yang pada mulanya keyakinan agama Hindu dibawa oleh bangsa Arya dari Indo German membawa kepercayaan atau tradisi perangnya dengan memuja Dewa Indra. Bangsa Arya itu yang termasuk induk bangsa Indo Eropa, mula-mula adalah bangsa pengembara. Dari tempat mereka terakhir di daerah Asia Tengah, sebagian dari mereka masuk dan menetap di dataran tinggi Iran, dan sebagian lagi di Punjab. Pada waktu itu di sepanjang lembah sungai Sindhu terdapat suatu peradaban bangsa Dravida yang sudah tinggi tingkatannya. Peradaban ini berpusat di kota-kota yang diperkuat dengan benteng antara lain Mahenjodaro dan Harappa (Ardhana, 2002:9).
            Bangsa Arya sebagai bangsa Indo-German yang berasal dari Eropa yang menaklukkan India, karena sebagian sejarawan India menyatakan bahwa bangsa ini berasal dari India Utara atau dari bagian Tengah Himalaya. Pemberian nama Sanatana Dharma adalah sangat umum terhadap Agama Hindu di India  menunjukkan  penekanan  yang  berbeda terhadap makna istilah ini. Nama Sanatana Dharma ini pada abad ke-9 Masehi lebih dipopulerkan lagi oleh Úrì Saýkaracarya dengan mendirikan perguruan keagamaan yang sangat berpengaruh untuk menghadapi perkembangan Buddhisme dan Jainisme dengan mengembangkan dan menyebar-luaskan duta dharmanya ke seluruh penjuru India dan pada tahun 1875 Swami Dayananda Sarasvati mendirikan Arya Samaj, yang mempopulerkan bahwa Sanatani Pauraóika (Sanatana Dharma yang bersifat Pauraóika) adalah tidak murni dan menyatakan bahwa Arya Samaj adalah Sanatana Dharma yang sejati berdasarkan Veda. Namun dalam perkembangan terakhir pengertian Sanatana Dharma meliputi pula Jaina, Buddha, Sikh dan semua Sampradaya atau sekta dalam Hinduisme.
Selanjutnya pengertian yang bersifat lebih spesifik terhadap Hindu Dharma dikemukakan oleh pimpinan Visva Hindu Parisad, Organisasi Hindu Sedunia yang didirikan bulan Januari 1964 yang melaksanakan sebuah pertemuan yang amat bersejarah di kota Prayaga (Allahabad), pada saat itu bertepatan dengan upacara besar mandi suci yang disebut Kumbha Mela. Pertemuan itu mencoba merumuskan pengertian tentang Hindu Dharma yang didasarkan atas keyakinan, upacara yang umum serta menerbitkan sebuah buku pedoman, dalam rangka menyatukan pandangan  dalam rangka kesatuan bagi penganut Hindu.
            Perpindahan bangsa Arya sangat penting sepanjang sejarah India, yang secara kuat membentuk atau mempolakan Agama Hindu. Dengan tidak mengurangi arti bahwa para imigran itu memiliki agama yang sama, namun kenyataannya bahwa mereka dibedakan atas lima kelompok yang di dalam kitab suci Veda disebut Panca Janaá. Mereka menyebut diri mereka arya, yang terhormat, orang-orang yang memiliki kedudukun dan kualitas, menunjukan arogansi terhadap mereka yang berkulit hitam, hina. Bangsa Arya membawa relatip sederhana budaya desa dengan sistem kekerabatan yang patriarchat. Meskipun terdapat perkiraan yang kuat tentang institusi Brahmanisme dan inti dari Rgveda sendiri menambahkan infomasi tenga penyerangan bangsa Arya ke India, keduanya berhubungan demikian dekat dan demikian masa awal dimaksudkan untuk semua tujuan praktis, secara ringkas dapat dikatan bahwa agama Veda  tidak lain adalah aturan sistem pemujaan dari bangsa Arya. Sejak jaman Viracarita dan Puraóa yang kemungkinan pada masa yang bersamaan, menggambarkan aspek yang populer dari Agama Hindu Kuno, yang  diyakini berasal dari masa awal dalam mellengkapi ajaran suci Veda.
Tradisi agama yang tersimpan dalam Itihasa dan Puraóa dikenal adanya murti (arca) dan manðir (pura), mujizat (keajaiaban), mitologi dan hal ini sangat populer dan kadang-kadang menggantikan agama Veda. Upacara Veda hingga kini  berlangsung dalam bentuk yang berbeda-beda. Namun kenyataannya dalam tradisi upacara korban nampak pengaruh local, dilaksanakan dan mendomonasi lingkup Agama Hindu.
            Di dalam kitab-kitab Purana disebutkan Rsi Agastya, seorang missionaris dari bangsa Arya yang bertanggung jawab dalam penyebaran Agama Hindu di India Selatan. Pengaruh Hindu selanjutnya berkembang sampai Asia Tenggara dan Indonesia selama masa keemasan India. Meskipun untuk beberapa abad Agama Buddha dan jaina juga mengklaim banyak pengikut dan berkembang di bawah patron  raja dinasti Gupta di India Utara dan Pallava di Selatan, namun tersapu bersih  oleh supremasi Agama Hindu. Para Brahmana yang memegang tradisi Veda, teristimewa filsafat Vedanta berhasil memenuhi keinginan masyarakat dengan memberikan berbagai jalan  melalui berbagai Sampradaya atau sekta seperti Saiva, Vaisnava dan terakhir adalah Sakta. Demikianlah secara teratur  gerakan missionaris (Dharmaduta) menyebar luaskan berbagai kitab seperti Bhagavadgita, Ramayana dan Bhagavata Puraóa. Secara geografis Saiva dominan di India Selatan, Vaisnava berkembang di Utara, sementara itu di Bengal (Benggala), Assam dan Orissa berkembang  pesat Sakta dan pengaruh yang terakhir ini sampai ke Indonesia dan khususnya Bali. Upacara dan perayaan Galungan mengingatkan perayaan Durgapuja di India.
            Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama Agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia.  Dalam kontek pembicaraan kita saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. Jadi Agama Hindu sama dengan Hindu Dharma. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi dengan penduduk di lembah sungai Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang  datang kemudian menyebutnya dengan India. Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Sindhu sampai yang kini bernama Srilanka, Pakistan, Bangladesh dan bahkan Bharata yang disebut juga Jambhudvipa.
Nama  asli dari agama ini adalah Sanatana Dharma atau Vaidika Dharma. Kata Sanatana Dharma berarti agama yang bersifat abadi dan akan selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang masa, karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal, merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda, yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan,1984:13).
Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran Agama Hindu. Para rsi atau maharsi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India zaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (Aparoksa-Anubhuti) di dalam kitab-kitab Upanisad, pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di zaman dahulu itu sebagai autoritasnya. Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para maharsi dan orang-orang bijak sejak ribuan tahun yang lalu, membentuk kemuliaan Hinduisme, oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda, 1988:4).
Para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada, karena bersifat Anadi-Ananta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu. Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka, para maharsi mampu menerima mantra Veda. Para maharsi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sukta (himpunan mantra), Devata (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda). Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devata dan mahàrûi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra, 1988:5).
            Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agama-agama yang lain. Kitab ini terdiri dari beberapa buku yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Samhità) yang dikenal dengan Catur Veda (Rgveda, Yajurveda, Samaveda atau Atharvaveda). Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Sruti. Kata Sruti berarti sabda Tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya, lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. Seorang maharsi agung, yakni Vyasa yang disebut Krisndvaipayana dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Sakha, Āsrama (ashram), Gurukula, Sampradaya, Parampara atau Akara.
            Dalam memahami ajaran Agama Hindu, disamping kitab suci Veda (Sruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi, dikenal pula hiarki sumber ajaran Agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Smrti (kitab-kitab Dharmasatra atau kitab-kitab hukum Hindu), Sìla  (yakni tauladan pada maharsi yang termuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Purana (sejarah kuno), Acara (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Ātmanastusti, yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak.
Inilah gambaran indah tentang Hindu Dharma. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda -beda dalam Hindu Dharma; tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen, sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula. Hal ini adalah wajar. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma; karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah, demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka (Sivananda, 1988:134). Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan Dr. K. M. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan kesulitan lain. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar pada saat tertentu.
            Pernyataan-pernyataan di atas adalah benar sebab dalam ajaran Agama Hindu dikenal banyak jalan atau cara mencapai Brahman, Tuhan Yang Maha Esa dengan ribuan Udbhava  (manifestasi) Nya dengan nama-Nya berbeda-beda. Tuhan Yang Maha Esa, melalui Avatara-Nya. Ajaran Sraddha yang merupakan dasar keimanan Hindu Dharma dirumuskan dalam Panca Sraddha, yakni keyakinan terhadap Brahman, para dewa manifestasi-Nya dan Avatara-Nya, keyakinan terhadap kebenaran Ātman, roh atau jiva yang menghidupkan semua mahluk dan Ātmàn merupakan percikan-Nya (Brahman/Tuhan Yang Maha Esa) Yang Trancendent maupun Yang Immanet. Sraddha, keyakinan atau keimanan yang ketiga adalah terhadap kebenaran adanya Karmaphala (hukum perbuatan), keimanan yang  keempat adalah keyakinan terhadap penjelmaan kembali, Samsara (rebith) dan yang kelima adalah Moksa, yakni kebebasan tertinggi yang mesti dicapai umat manusia, bersatunya Ātman dengan Brahman, Tuhan Yang Maha Esa.
Ajaran Agama Hindu bagaikan aliran sungai mengaliri berbagai budaya dan peradaban umat manusia, sejak diturunkan oleh-Nya di lembah sungai Sindhu hingga ke Indonesia dan Bali khususnya, agama ini menyuburkan lembah-lembah kehidupan, peradaban dan budaya umat manusia yang dilalui itu. Agama Hindu menjadi jiwa dari segala aktivitas pemeluknya serta peradaban dan budaya yang mereka anut. Menyatunya antara agama dan budaya, seperti jalinan benang tenun (kain endek Bali), yang menyatu sedemikian rupa dengan keindahannya yang mempesona. Di setiap wilayah yang dialiri oleh ajaran Agama Hindu terjadi sinergi yang mempelihatkan identitas budayanya masing-masing, oleh karena itu akan tampak dalam acara Agama Hindu di masing-masing daerah, baik di India (tampak berbeda pelaksananan Agama Hindu di India Utara, Selatan, Barat, dan lain-lain karena faktor budaya pendukung agama tersebut), demikian pula di Indonesia, tampak perbedaan antara Agama Hindu yang dipeluk oleh warga Dayak Kaharingan, Hindu yang dipeluk oleh masyarakat Jawa dan sebagainya yang semuanya memiliki identitas budayanya masing-masing yang memberi warna budaya agama yang berbeda-beda.

2. Perkembangan Agama Hindu di India
Mengenai perkembangan agama Hindu di India dapat di pilah menjadi empat jaman (yuga) yakni: pertama jaman Weda, kedua jaman Brahmana, ketiga jaman Upanisad, dan keempat jaman Tantrayana. Dari masing-masing jaman tersebut memiliki kekhasan tersendiri, terutama dalam penonjolan aktifitas religiusnya. Jaman Weda ini dimulai dengan kedatangan bangsa Arya kira-kira 5000 SM tahun yang lalu, didaerah hulu sungai Sindhu yang terkenal dengan nama Panjab (lima sungai). Bangsa Arya itu yang termasuk induk bangsa Indo Eropa, mula-mula adalah bangsa pengembara. Dari tempat mereka terakhir di daerah Asia Tengah, sebagian dari mereka masuk dan menetap di dataran tinggi Iran, dan sebagian lagi di Panjab. Pada waktu itu di sepanjang lembah sungai Sindhu terdapat suatu peradaban bangsa Dravida yang sudah tinggi sekali tingkatannya. Peradaban ini berpusat di kota-kota yang diperkuat dengan benteng antara lain Mahenjodaro dan Harappa (Ardhana, 2002:9). Pada jaman Weda ini bahwa kegiatan keagamaan ditandai dengan pemujaan kepada dewa-dewa yang mengacu sumber catur weda saamhita seperti rgveda yang memuat mantra-mantra suci, samaveda  yang memuat mantra serta lagu suci agama Hindu, yajurveda yang memuat mantra untuk pelaksanaan persembahan atau yajna, dan atharvaveda yang memuat mantra gaib untuk memohon kerahayuan umat manusia. Jadi jaman weda ini diperkirakan sekitar 2500 SM telah berkembang agama Hindu di India.
Selanjutnya ada jaman berikutnya adalah jaman Brahmana. Bagaimana keberadaan agama Hindu pada jaman Brahmana tersebut? Brahmana adalah kitab suci yang menguraikan masalah yajna atau sesaji dan upacara-upacaranya, yang meliputi arti dari suatu sesaji atau yajna serta tenaga gaib apa yang tersimpul dalam upacaranya dan sebagainya. Tiap-tiap yajna ditetapkan dengan cermat sekali menurut peraturan-peraturannnya. Menyimpang sedikit saja dari peraturan-peraturan itu berarti batalnya, tidak sahnya yajna itu (Ardhana, 2002:                                     11-12). Jaman ini ada beberapa sumber pedoman yang ada bernama pustaka Kalpasutra berisi tuntunan upacara yajna yang begitu rumit, kemudian ada pustaka Ghryasutra berisi tuntuna yajna yang kecil dalam lingkungan keluarga, sedangkan tuntunan yajna yang tergolong besar diatur dalam pustaka srautasutra. Dalam srautasutra ada diatur mengenai upacara rajasuya dan upacara asvamedha yajna. Jaman ini diperkirakan keberadaannya pda tahun 1000 SM.
Selanjutnya pada jaman upanisad yang menitikberatkan aktifitas keagamaan pada spiritual atau rohani. Kata upanisad berarti duduk dibawah dekat kaki guru, untuk mendengarkan upadesa atau ajaran mengenai Brahman, samsara, swarganaraka, dan moksha. Upadesa dari sang guru mengandung ajaraan-ajaran yang bersifat ilmiah dan karena itu upanisad merupakan ilmu pengetahuan suci (jnana) yang dapat membuka mata hati pembacanya dalam membuka misteri kehidupan alam semesta ini. upanisad disebut juga kitab rahasia karena isinya mengajarkan tentang hal-hal yang bersifat dan hakikat Brahman Upanisad inilah yang memuat berbagai ajaran yang membahas ajaran ketuhanan (brahmawidya) yang merupakan dasar kehidupan beragama Hindu (Ardhana, 2002: 13-14). Jaman upanisad ini diperkirakan keberadaaannya sekitar tahun 800 SM. Sedangkan jaman yang terakhir adalah jaman Tantrayana sekitar tahun 600 SM. Dalam Tantrayana aspek yang menonjol adalah konsep teologinya yang melihat dari segi peranan sakti. Manusia mendambakan kesaktian yang ada pada Sang Hyang Widhi dan berharap supaya kesaktian-Nya itu diberikan kepada manusia sehingga dengan demikian dapat memiliki apa yang ada pada Brahman itu (Ardhana, 2002:16). Tantrayana berorientasi kepada Siva dan karena itu sekte ini dikenal pula sebagai sekte Siva. Dalam sekte siva ini, nama siva selalu disebut-sebut sebagai ista dewatadengan seribu nama (siwa sahasra nama) antara lain, Siwa, Hara,Rudra, Puspalocana, Sambhu, Maheswara, Trilocana, Wamadewa, Wiswarupa, Ganeswara, Pasupati, Tejomaya, Sadasiwa,Dhurga, Mahakala, Dhneswara, Padmagarbha, dan selanjutnya banyak sekali sampai seribu (Ardhana, 2002:17-18). Jaman ini bersumber pada Weda atau Agama atau Tantra yang sesungguhnya tidak dapat dipisah-pisahkan begitu rupa mengingat Tantranya bersumber pada Weda, seperti jaman Kertayuga bersumber pada Sruti, tretayuga bersumber pada Smrti, dwaparayuga bersumber pada purana, dan kaliyuga bersumber pada agama atau tantra. Dalam menyelenggarakan upakara yajna termasuk samskara ada beberapa alat peraga yang sering dipakai dhupa, dhipa, puspa, gand aksata, tirtha, dan mantra (Ardhana, 2002;19).          

3. Perkembangan Agama Hindu di Indonesia
            Perkembangan Agama Hindu di Indonesia merupakan kelanjutan dari perkembangan Agama Hindu di India. Sejarah dan perkembangan Hinduisme di Indonesia, berdasarkan bukti-bukti sejarah telah tiba pada abad ke 4 dan 5 Masehi, terutama di Kalimantan Timur (pada beberapa prasasti yang dikeluarkan oleh raja Mulavarman dan di Jawa Barat oleh raja Purnavarman) yang datang dari India Selatan. Selanjutnya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah ditandai dengan pendirian “Lingga” oleh raja Sanjaya pada tahun 654 Saka atau 732 Masehi yang dikenal sebagai pendiri dinasti Mataram Kuno. Sejak berdirinya kerajaan dari dinasti Sanjaya yang disusul dengan dinasti Sailendra di Jawa Tengah, terjadi pula perkembangan Hindusime di Jawa Timur (berdasarkan  prasasti Dinoyo, Malang) dan di Bali. Di Bali sejarah dan perkembangan Agama Hindu diduga mendapat pengaruh dari Jawa Tangah dan Jawa Timur. Masuknya Agama Hindu di Bali diperkirakan sebelum abad ke-8 Masehi, karena pada abad ke-8 telah dijumpai fragmen-fragmen prasasti yang didapatkan di Pejeng berbahasa Sanskerta. Ditinjau dari segi bentuk hurufnya diduga sejaman dengan meterai tanah liat yang memuat mantra Buddha yang dikenal dengan “Ye te mantra”, yang diperkirakan berasal dari tahun 778 Masehi. Pada baris pertama dari dalam prasasti itu menyebutkan kata “Sivas.......ddh.......” yang oleh para ahli, terutama Dr. R. Goris menduga kata yang sudah haus itu kemungkinan ketika utuh berbunyi:  “Siva Siddhanta”.

4. Perkembangan Agama Hindu di Bali
            Bali sebagai sebuah pulau kecil di hamparan katulistiwa Nusantara sejak masa prasejarah ikut serta dalam pertumbuhan budaya yang menjadi akar dari perkembangan kebudayaan Nasional. Penelitian arkeologi yang selama ini dilakukan di Bali telah berhasil mengungkapkan awal hubungan daerah ini dengan India. Di situs Sembiran telah ditemukan puluhan fragmen gerabah India dengan pola hias rolet, dua buah fragmen tepian gerabah Arikamedu (India) tipe 10, dua buah tepian gerabah tepian Arikamedu tipe 18, sebuah gerabah Arikamedu tipe 141, dan sebuah batu bertulis dengan huruf Kharoshti atau Brahmi. Selain itu, ratusan pecahan gerabah yang dipoles  dengan warna hitam kemungkinan juga berasal dari India karena mempunyai kandungan kimiawi dan mineral yang sama dengan gerabah berpola hias rolet tersebut. Perlu dicatat bahwa situs Sembiran dan Pacung di Bali Utara telah menghasilkan temuan gerabah India terbanyak sampai saat ini di Asia Tenggara. Kronologi gerabah India di  Sembiran mungkin berasal dari awal abad Masehi atau sekitar 2.000 tahun yang lalu (Ardika, 1997:62). Pada masa bercocok tanam, dengan memperhatikan tipologi tinggalan beliung persegi di Bali, maka dapat dikatakan bahwa Bali pada masa itu telah mempunyai hubungan budaya yang luas dengan daerah lainnya di kepulauan Indonesia maupun di Asia Tenggara (di antaranya Malaysia, Burma, Kamboja, Thailand, Laos, dan bahkan dengan China dan Formosa). Hubungan yang demikian luas terjadi akibat adanya migrasi yang disebabkan oleh pencarian daerah yang lebih subur untuk kepentingan perladangan. Hal ini ditunjang oleh kamajuan teknologi alat-alat batu dengan beberapa macam tipologi yang dapat dipergunakan dalam pekerjaan khusus seperti pembuatan perahu sebagai alat transportasi laut dalam penyeberangan dari pulau ke pulau  lain di kawasan Asia Tenggara (Suastika, 1997:38).
Sejalan dengan penelitian Suastika di atas, kini kepemilikan tanah di Desa Catur, Kintamani, Bangli lebih banyak dimiliki oleh etnis China yang memang mereka diduga telah datang ke Bali pada masa pertama kalinya  terjadi  hubungan antara Bali dengan China. Di Desa Catur, hingga kini diwarisi adanya pemujaan versi China yang di tempatkan di komplek Pura Desa di desa tersebut. Oleh umat Hindu setempat disebut sebagai tempat memuja Ratu Subandar. Hal yang sama dapat dijumpai di Pura Balingkang, Pura Ulundanu Batur, Kintamani, dan Pura Penataran Agung Besakih. Rupanya sejak zaman prasejarah Bali masyarakat Bali telah bersinergi dengan etnis luar (khususnya China).
Demikian pula pada masa perundagian. Masa perundagian adalah puncak segala kemajuan yang berhasil dicapai yakni merupakan perkembangan lebih lanjut dari masa bercocok tanam. Penduduk yang hidup bergabung dalam suatu desa, sudah berhasil mencapai suatu taraf yang baik dengan penguasaan teknologi yang tinggi seperti teknik pembuatan gera­bah, kepandaian menuang perunggu. Masa perundagian telah menghasilkan kebudayaan Indonesia asli yang bernilai tinggi ka­rena dijiwai oleh konsepsi alam pikiran yang hidup di dalam masyarakat pada waktu itu (Putra, 1987:50).
Kepandaian menuang benda-benda perunggu yang dibentuk menjadi bermacam-macam benda yang diinginkan, dapat disebut­kan sebuah di antaranya yang ditemukan di Bali yang kini disim­pan di Pura Penataran Sasih Pejeng, Gianyar yakni oleh masyarakat dinamakan “Bulan Pejeng” atau Nekara. Pembuatan Nekara ini dengan cara cire perdue atau cetakan hilang. Namun, yang perlu diperhatikan di sini adalah fungsi benda tersebut se­bagai benda upacara keagamaan seperti upacara untuk mohon hujan, di samping ditemukannya hiasan kodok pada bagian bidang pukul­nya dan juga sebagai genderang perang. (Putra, 1987:51, Ardana, 1982:50). Pada masa perundagian seni pahat sudah berkembang dengan baik, terbukti dari pola hias kedok muka pada tonjolan beberapa sarkofagus serta arca-arca sederhana dari beberapa desa di Bali. Kemungkinan besar bahwa seni pahat dari masa perundagian inilah selanjutnya menjadi dasar bagi perkembangan seni pahat di Bali setelah Agama Hindu sampai di daerah ini (Darsana, 1997:25).  Sejalan dengan pandangan tersebut maka kepercayaan dan budaya pada masa prasejarah Bali merupakan landasan masuk dan berkembangnya Agama Hindu dan pertumbuhan kebudayaan Bali.
Berita tertua tentang keadaan di Bali, yang berasal dari Pulau Bali sendiri berupa prasasti yang tidak berangka tahun. Prasasti ini jumlahnya 7 buah. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sanskerta. Sayang sekali prasasti-prasasti batu ini sudah rusak sekali sehingga tulisannya tidak dapat dibaca dengan jelas. Di samping itu ditemukan juga beberapa buah cap kecil dari tanah liat, besarnya kira-kira 2,5 Cm. Cap tanah liat tadi disimpan dalam stupa-stupa kecil yang juga dibuat dari tanah liat. Cap ini ditulisi mantra-mantra agama Buddha dalam bahasa Sanskerta. Mantra yang sejenis dengan mantra pada cap ini dijumpai di atas pintu candi Kalasan (Jawa Tengah) yang berasal dari abad ke-8 Masehi. Oleh karena itu dapat diduga bahwa cap ini juga berasal dari abad ke-8 Masehi. Mungkin mulai abad tersebut para bhiksu atau pendeta Buddha telah datang di Bali dan menetap di sini jauh sebelumnya. Selain prassasti berbahasa Sanskerta dan cap berisi mantra agama Buddha, dijumpai pula prasasti yang memakai bahasa Bali. Prasasti ini memakai  unsur-unsur penanggalan dan angka tahun, tetapi sayangnya tidak menyebut nama raja. Disebutkan bahwa keraton (panglapuan) terletak di Singhamandava (Sumadio, 1976:134-135).
Bila prasasti-prasasti berbahasa Sanskerta dan berbahasa Bali di atas menguraikan tentang Agama Hindu dan sezaman dengan cap tanah liat yang berisi mantra agama Buddha di atas, maka Agama Hindu sudah masuk ke Bali sezaman atau lebih dahulu dari abad ke-8 Masehi. Selanjutnya prasasti pertama yang di dalamnya memberi informasi tentang Agama Hindu berasal dari tahun 804 Saka (882 M) (prasasti Sukawana AI) yang isinya antara lain memberikan ijin membangun pertapaan di daerah perburuan Bukit Cintamani mmal. Di  samping itu, juga disebutkan bhiksu Sivakangsita, Sivanirmala, Sivaprajña, dan partapanan satra di katahan buru serta Hyang Api dan Hyang Tanda (Sumadio, 1976:136, Goris, 1954:53).
Berdasarkan nama-nama tersebut, yakni Sivakangsita, Sivanirmala, Sivaprajña, maka dapat diduga bahwa corak keagamaan saat itu adalah Sivaisme, sedangkan nama Hyang Api dan Hyang Tanda menunjukkan tempat dilaksanakan upacara Agnihotra atau Homayajña atau disebut juga dengan nama Yajñasala. Di desa Pakraman Tembau dijumpai sebuah pura dengan nama Pura Sala yang rupanya di masa yang silam adalah tempat dilangsungkannya upacara tersebut.
Prasasti selanjutnya berasal dari 818 Saka (896 M), isinya tentang pemberian ijin kepada nanyakan pradhana dan bhikûu agar membangun  sebuah kuil untuk Hyang Api di desa Banua Bharu. Prasasti lainnya berasal dari tahun 813 Saka (891 M) isinya tentang pemberian ijin kepada penduduk desa Turunyan untuk membangun kuil bagi Bhatara Da Tonta. Oleh karena itu mereka dibebaskan dari beberapa jenis pajak, tetapi mereka ini dikenakan sumbangan untuk kuil tadi. Beberapa jenis pajak harus dibayar setiap bulan Caitra dan Magha, pada hari kesembilan (mahanavamì). Bila ada utusan raja datang menyembah (sembahyang) pada bulan Asuji, mereka harus diberi makanan dan sebagainya (Sumadio, 1976: 136). Dalam prasasti itu juga menyebutkan haywahaywan di magha mahanavamì (Goris, 1954: 56). Dalam bahasa Bali dewasa ini kata mahaywahaywa (dari kata mahayu-hayu) berarti merayakan. Haywahaywan di magha mahanavamì berarti perayaan Magha Mahanavamì. Di India Mahanavami identik dengan Dasara yakni hari pemujaan ditujukan kepada para leluhur (Dubois, 1981:569). Swami Sivananda (1991:8) mengidentikkan  Dasara dengan Durgapuja yang dirayakan dua kali setahun, yakni Ràmanavaratrì atau Ramanavamì pada bulan Caitra, dan Durganavaratrì atau Durganavamì pada bulan Asuji (September-Oktober). Perayaan ini disebut juga Vijaya Dasami atau Sraddha Vijaya Dasami.
Bhatara Da Tonta adalah sebutan untuk dewa tertinggi (Tuhan Yang Maha Esa) bagi masyarakat Terunyan, di seberang timur Danau Batur, tempat prasasti tersebut di atas ditemukan (prasasti Turunyan). Bhatara Da Tonta dipuja melalui sebuah patung megalitik yang tinggi dan besar dan kini disimpan di dalam meru pada sebuah pura di desa setempat. Raja memberikan kebebasan kepada masyarakat membangun kuil untuk Bhatara Da Tonta menunjukkan bahwa kedatangan Agama Hindu ke Bali tidak mengubah atau menghapuskan kepercayaan masyarakat terhadap dewa tertinggi tersebut. Sebaliknya memberikan tempat yang terhormat berdampingan dengan dewa-dewa Agama Hindu lainnya.
Hal ini tampak diwarisi hingga kini di daerah pegunungan di Kabupaten Bangli (di pura Ulundanu Batur dan pura Balingkang), yakni adanya bangunan suci untuk memuja Ratu Subandar, yang di dalamnya tampak tata pemujaannya mengikuti tradisi budaya Cina. Di sini tidak dikenal istilah sinkretisme, melainkan berdampingan dan mendapat tempat yang terhormat bagi kepercayaan yang berbeda. Penggunaan meru di Bali menunjukkan adanya pengaruh dari India Utara, utamanya Nepal. Di negara ini, penggunaan meru seperti halnya di Bali tampak sangat umum.
Prasasti yang ke empat berasal dari tahun 833 Saka (911 M). Isinya mula-mula sama dengan prasasti Turunyan (bagian 1b-2a4). Selanjutnya diatur juga perihal orang desa Air Hawang yang tinggal di daerah desa Turuñan sebelah timur Danau Batur. Pada tiap-tiap bulan Bhàdravada, Bhatara Da Tonta harus dipuja dan disucikan, memakai bedak kuning dan sebagainya, oleh sahayan padang dari desa Air Rawang (Sumadio, 1976:137) yang menunjukkan adanya persamaan dengan pelaksanaan upacara Agama Hindu yang kini masih berlangsung di India, yakni upacara abhiseka, upacara penyucian terhadap arca utama (ìstadevata) pada sebuah mandir  atau pura di India.
Prasasti yang lainnya adalah prasasti yang tidak memuat angka tahun sebanyak 3 buah. Salah satu dari prasasti itu tidak  dapat disalin karena keadaannya sangat rusak.  Isinya mengenai pemberian ijin kepada kuil ida hyang di bukit tunggal paradyan Indrapura di daerah Air Tabar (Sumadio:137) dan prasasti yang terakhir dari masa Hindu Bali adalah prasasti Pura Kehen, Bangli yang menyebutkan bhiksu Sivarudra, Anantakusuma dan Prabhava serta pertapaan di Hyang Karimama dan Hyang Api (Goris, 1954:59-60). Seperti telah disebutkan di atas kata Hyang Api, Hyang Tanda, juga Hyang Karimama menunjukkan tempat upacara Agnihotra (Homayajña), yakni berupa Yajñaúala, Yajñakunda, atau Vedi. Kata hyang berarti parhyangan atau kahyangan yang berarti tempat suci. Hal ini didukung pula oleh nama pura, yakni Kehen, yang maknanya sama dengan keren dalam bahasa Bali yang berarti tempat api atau perapian. Dengan demikian upacara Agama Hindu yang rutin dilaksanakan pada awal masuknya Agama Hindu adalah Agnihotra atau Homayajña. Menurut informasi Ida Pedanda Gede Oka Punia Atmaja (mantan Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat) upacara Agnihotra atau Homayajña sangat umum berlangsung di Bali di masa yang silam. Pada saat pemerintahan raja Dalëm Dimade di Smarapura (Klungkung) terjadi peristiwa yakni panggung upacara terbakar pada saat upacara itu berlangsung dan raja memerintahkan upacara tersebut cukup dilakukan secara sederhana (kecil) yang lama kemudian tidak tampak lagi dilakukan oleh masyarakat.
Dilihat dari seni arca, karakter arca dalam periode ini terlihat lemah lembut, kegemuk-gemukan, bersikap tenang, mata setengah terbuka, pandangan mengarah ke ujung hidung. Ciri-ciri arca ­semacam ini dapat dijumpai dalam stupika-stupika tanah liat yang banyak didapatkan di sekitar desa Pejeng, Tatiapi, dan Blahbatuh tetapi arca ini bersifat Buddhist. Untuk arca   Hindu dapat dicontohkan arca Siwa yang terdapat  di Pura Putra Bhatara Desa Bedulu. Kecuali arca Siwa tersebut, arca Hindu lainnya, belum ditemukan tinggalannya. Konteksnya dengan daerah lain, tak dapat dipungkiri bahwa seni arca di Bali saat itu mendapat pengaruh seni klasik Jawa Tengah. Ciri-ciri kelemahlembutan,   kegemukan, dan lain sebagainya seperti tersebut di atas adalah ciri-ciri arca klasik Jawa Tengah. Akan   tetapi arca yang berciri demikian bukan saja didapatkan di Jawa dan Bali, tetapi juga di Kamboja, Thailand, Bhirma, dan Malaysia.  Karena itulah maka arca-arca masa klasik Jawa Tengah disebut memiliki "Gaya Intemasional", dan dan daerah pusat persebarannya diduga di Nalanda (Redig, 1997:172). Berdasarkan uraian tersebut di atas, awal mulanya pengaruh Hindu di Bali dari seni arca masih menampakkan gaya internasional atau gaya asli India.
            Hubungan Bali dengan India tampak pula dari perayaan Baliyatra, yakni perayaan setiap bulan Purnama Kartika (Oktober) yang berlangsung di Orissa, India Timur untuk memperingati leluhur mereka yang melakukan perjalanan suci ke Bali. Perayaan Baliyatra ini mengingatkan pula para cerita Babad (Sejarah Lokal Bali) yang menyebutkan bahwa leluhur orang Bali adalah Sang Hyang Pasupati yang berasal dari India Timur. Di samping itu ada yang langsung ke Bali, dari India Selatan terbukti dari prasasti Blanjong yang memakai huruf Pallawa bahasa Bali Kuno dan huruf Bali Kuno memakai bahasa Sanskerta. Demikian pula cerita Mahàrsi Markandeya yang datang ke Bali menanam Pancadatu, yang menjadi landasan berdirinya Pura Agung Besakih, dari Jawa ke Bali memberi petunjuk masuknya Agama Hindu ke Bali  melalui Jawa. Dengan demikian masuknya Agama Hindu ke Bali langsung dari India Timur dan India Selatan, dan  ada pula dari Jawa Tengah (Dieng) dan Jawa Timur (Gunung Raung) menuju Bali.
            Ketika Bali memasuki zaman Bali Kuna, di Jawa terjadi perubahan pusat peradaban, yaitu dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Tinggalan arca dari masa tersebut dalam beberapa hal masih memperlihatkan ciri-ciri Jawa Tengah. Contoh arcanya untuk Jawa Timur adalah arca-arca dari Belahan seperti arca perwujudan Erlangga atau arca-arca pancorannya dan untuk yang di Bali adalah arca-arca pancoran dari Goa Gajah Bedulu (Kempers, 1959; 69 ­71). Arca-arca ini berasal dari abad XI, ciri badaniahnya masih lembut dan berisi, seperti arca-arca Jawa Tengah. Arca-arca lainnya yang berasal dari abad XI ditemukan di Pura Sibi Agung dan Sibi Alit yang masing-masing berada di wilayah Desa Lebih dan Samplangan, Kabupaten Gianyar, Bali. Arca-arca yang dimaksud adalah arca Siwa berangka tahun Saka 945 (1022 M), arca Uma­mahesvaramurti berangka tahun Saka 948 (1026 M), arca Durgamahesamurti berangka tahun Saka 948 (1026 M), dan banyak lagi yang lainnya tetapi tanpa angka tahun seperti arca-arca Ganesa dan bhatara-bhatari (Redig, 1977: 172).
            Dalam periode Bali Kuna, kepala arca mu1ai dihiasi dengan sejenis mukuta berupa susunan kelopak bunga teratai yang disusun sedemikian rupa makin ke atas makin mengecil. Model mukuta ini berkembang sampai zaman­-zaman berikutnya. Perlu diberi catatan bahwa da1am periode ini juga muncul arca bergaya kekaku-kakuan, berdiri tegap (samabanga), badan lurus kaku dari atas ke bawah, berkain tebal tergantung berat dari pinggang ke pergelangan kaki, seperti terlihat pada arca-arca perwujudan di Pura Gunung Penulisan Kintamani. Di Jawa Timur, arca-arca bergaya kekaku-kakuan munculnya kemudian, tepatnya zaman Majapahit. Ketika di Jawa Timur berkembang arca-arca berciri demonis pada abad XIII, di Bali juga muncul arca-arca sejenis itu, contohnya arca Bhairawa di Pura Kebo Edan Bedulu. Dalam pada itu arca kekaku-kakuan dari abad XI  ­termasuk hiasan kepalanya yang khas masih terus berkembang, setidak-tidaknya sampai abad XVI (Redig, 1997:179).
Ada hal yang sangat menarik dan monumental, di samping berupa  candi-candi tebing, di Gunung Kawi, Gianyar, adalah peninggalan berupa sebuah arca Durgamahisasuramardhinni yang diduga arca perwujud­an Gunapriyadharmapatni  terdapat di pura Bukit Dharma di Banjar Kutri, Desa Buruan, Kabupaten Gianyar. Berdasarkan arca perwujudan tersebut, maka pada saat itu dapat diduga upacara dan perayaan Durgapuja yang disebut juga Sraddha Vijaya Dasamì  yang dikaitkan dengan pesermian arca ini telah dilaksanakan di Bali. Durgapuja atau Sraddha Vijaya Dasamì merupakan pemujaan kepada dewi Durga dengan ciri khas persembahan darah dan daging babi, yang kemudian di Bali dikenal dengan upacara dan hari raya Galungan yang dilaksanakan selama sepuluh hari. Saat itu pemujaan ditujukan kepada para leluhur dan juga dewi Durga di Pura Dalëm dan pura-pura lainnya di Bali.

5. Perkembangan Agama Hindu Dewasa Ini
            Perkembangan agama dewasa ini dimulai setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Semangat kemerdekaan mendorong generasi muda Hindu di Bali untuk memperjuangkan  agama  yang  dianutnya  untuk  diakui  sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Semangat kemerdekaan juga mendorong adanya reformasi dalam Agama Hindu, di antaranya pada tanggal 12 Juli 1951 Dewan Pewakilan Rakyat Daerah Bali memutuskan dua buah keputusan penting berkaitan dengan pelaksanaan Agama Hindu, yakni Keputusan Nomor 10 Tentang penghapusan adat yang berkaitan dengan seseorang yang melahirkan anak kembar buncing (kembar laki-laki dan perempuan), dan Nomor 11 Tentang penghapusan perkawinan Asupundung dan Anglangkahi Karanghulu, yakni perkawinan antara laki-laki dari Sudrawangsa dengan istri dari Brahmanawangsa dan antara laki-laki dari Sudrawangsa dengan istri dari Ksatriyawangsa. Keputusan DPRD Bali ini mencabut Paswara tahun 1910 yang diubah dengan beslit Rsiden Bali dan Lombok tertanggal 11 April 1927 No.352 Jl.C.2 tentang Asupundung dan Anglangkahi Karanghulu. Keputusan DPRD Bali tahun 1951 baru mendapat pengukuhan kembali dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, melalui Bhisama Sabha Pandita Nomor 3 Tahun 2002 tanggal 20 Oktober 2002 Tentang Pengamalan Catur Warna sesuai dengan kitab suci Veda dan susastra Hindu.
Seperti dimaklumi Parisada Hindu Dharma Indonesia adalah majelis tertinggi umat Hindu di Indonesia yang pada mulanya bernama Parisada Dharma Hindu Bali, lahir di Fakultas Sastra Universitas Udayana pada tanggal 23 Februari 1959 dalam sebuah rapat yang bernama Pesamuhan Agung Hindu Bali. Pada tanggal 3 Oktober 1959 berlangsung Pesamuhan Agung yang pertama bertempat di SMP Dwijendra, Denpasar yang berhasil menetapkan sebuah buku pelajaran Agama Hindu untuk sekolah dasar, yakni diberi nama Dharma Prawerti Sastra, yang berisi pengertian tentang dharma, vidhitattva, atmatattva, saýsara, karmaphala dan moksa dan sebagainya (Putra,1987:88).            
Pada tanggal 7 sampai 10 Oktober 1964 diadakan Mahasabha I Parisada Hindu Bali yang menetapkan anggaran dasar. Di samping itu, mengingat umat Hindu tidak hanya di Bali dan dari suku Bali, maka dengan tidak mengubah makna dan tujuannya Parisada Dharma Hindu Bali ditingkatkan dan diluaskan menjadi Parisada Hindu Dharma. Mahasabha II dilaksanakan pada tanggal 2 sampai 5 Desember 1968 di Denpasar yang dihari oleh 31 lembaga parisada daerah dari Bima di ujung timur dan Lampung di ujung barat, termasuk suku Tolai Tolotang di Sulawesi Selatan, sedangkan suku Marapu, Sumba tidak dapat hadir karena  kebetulan bersamaan dengan berlangsungnya upacara agama di daerahnya. Pada saat Mahasabha  II ini dicetuskan perubahan nama (dikembangkan) menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. Perubahan nama majelis ini membawa dampak positif bagi perkembangan kehidupan Agama Hindu di Indonesia.
Sampai kini Parisada Hindu Dharma Indonesia telah menyelenggarakan Mahasabha (musyawarah nasional) sebanyak delapan  kali. Mahasabha yang terakhir adalah Mahasabha VIII yang berlangsung pada tanggal 20 sampai 24 September 2001 dengan masa kepengurusan periode 2001-2006. Mahasabha ini menetapkan tiga organ Pengurus Parisada Pusat yang terdiri atas: (1) sabha pandita sebanyak tiga puluh tiga orang dengan dipimpin oleh dharma adhyaksa dan seorang wakil dharma adhyaksa. (2) sabha walaka berjumlah 55 orang dipimpin seorang ketua dan wakil ketua dan seorang sekretaris, dan (3) Pengurus Harian yang teridiri dari seorang ketua umum, enam orang ketua, enam sekretaris, seorang bendahara umum dan duqa orang bendahara (Dana, 2005:18-24). Banyak putusan yang memberikan arahan dan pembinaan telah berhasil ditetapkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesi, di samping juga  bagi  pembinaan kehidupan berAgama Hindu di Bali.
Dengan berdirinya Parisada Hindu Dharma Indonesia baik tingkat pusat, provinsi, kabupaten dan maupun kota di seluruh Indonesia, kehidupan Agama Hindu benar-benar mendapat pembinaan lebih mantap. Demikian pula di Provinsi Bali, baik pemerintah provinsi, kabupaten maupun kota menaruh perhatian yang besar terhadap pembinaan kehidupan beragama ini.
            Kehidupan beragama di samping mendapat pembinaan secara khusus melalui Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, Kabupaten dan Kota seperti disebutkan di atas.  Begitu pula berdirinya Majelis Utama Desa Pakraman, di tingkat provinsi dan  Majelis Madya Desa Pakraman di tingkat kabupaten dan kota, sesuai Peraturan Pemerintah Daerah Provinsi Bali (Perda) No.3 Tahun 2001 Tentang Desa Pakraman yang menyebutkan, Desa Pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Provinsi Bali, yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat Hindu secara turun temurun dalam ikatan kahyangan tiga, atau kahyangan desa, (Parimartha, 2003:136) menunjukkan bahwa desa pakraman adalah desa sebagai wahana aktivitas umat Hindu di daerah ini.
           


PERKEMBANGAN MAZAB SIVASIDDHANTA
.

1. Sivasiddhanta di India
Sekta Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India tengah) kemudian menyebar ke Indonesia. Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini yang berasal dari pasraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain: Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu. Yang populer di Bali adalah nama Trinawindu atau Bhatara Guru, begitu disebut-sebut dalam lontar kuno seperti Eka Pratama.
Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekta Siwa yang lain. Sidhanta artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidanta artinya kesimpulan dari Siwaisme. Kenapa dibuat kesimpulan ajaran Siwa? karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas. Diibaratkan seperti mengenalkan binatang gajah kepada orang buta; jika yang diraba kakinya, maka orang buta mengatakan gajah itu bentuknya seperti pohon kelapa; bila yang diraba belalainya mereka mengatakan gajah itu seperti ular besar. Metode pengenalan yang tepat adalah membuat patung gajah kecil yang bisa diraba agar si buta dapat memahami anatomi gajah keseluruhan.
Bagi penganut Siwa Sidhanta kitab suci Weda-pun dipelajari yang pokok-pokok/intinya saja; resume Weda itu dinamakan Weda Sirah (sirah artinya kepala atau pokok-pokok). Di India wahyu Hyang Widhi diterima oleh Sapta Rsi dan dituangkan dalam susunan sistematis oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk Catur Weda.

a. Sumber Ajarannya
Ada beberapa sumber ajaran Saiva Sidhanta di India yakni Veda, Saiva Agamas, serta sumber tertulis lainnya yang digunakan (Subagiasta, 2002:43). Selain itu ada juga naskah tradisional yang dinamai Meykanda Sastra sebagai filsafat kebenaran antara lain: (1) Siva-Jnana-Bodha, (2) Siva-Jnana-Sidhiyar, (3) Irupavirupatha, (4) Tiruvuntiyar, (5) Tirukhalirruppadiar, (6) Unmaivilakka, (7) Sivaprakasa, (8) Tiruarudpayan, (9) Vinavenba, (10) Porripakrodai, (11) Kadikkawi, (12) Nencuvidututu, (13) Unmainerivilakka, (14) Sankalpanirakarana (Subagiasta, 2002:44). Jadi selain sumber tersebut bahwa ada juga sumber yang penting lainnya berupa agamas, puranas, itihasa, upanisad, yoga, dan sebagainya.
Saiva Sidhanta adalah filsafat dari Saivaismei bagian selatan, yang bersumber tidak dari penyusun tunggal, yang merupakan jalan tengah antara adwaita-nya Sankara dan Wasista-advaita-nya Ramanuja. Kepustakaanya terutama terdiri dari: (1) 28 buah tentang Saiwita Agama, (2) kumpulan dari pujian-pujian Saiwita yang dikenal sebagai Tirumrai, (3) kumpulan tentang kehidupan orang-orang suci Saiwita yang dikenal sebagai Periyapuranam, (4) Siwajnanabodham-nya Meykandar, (5) Siwajnanasiddhiyar-nya Arulnandi, dan (6) karya-karya dari Umapati. Karya Tirumular yaitu Tirumantiram merupakan dasar dari struktur filsafat Saiva Siddhanta (Sivananda, 2003:261). Demikian beberapa sumber penting dalam Saiva Siddhanta.

b. Ajarannya
Ajaran pokok dari filsafat Saiva Siddhanta adalah bahwa Siwa merupakan realitas tertinggi dan jiwa atau roh pribadi adalah dari intisari yang sama dengan Siwa, tetapi tidak identik. Pati (Tuhan), Pasu (roh) dan Pasa (pengikat) dan 36 tattwa atau prinsip yang menyusun alam semesta, kesemuanya nyata. System filsafat Saiva Siddhanta merupakan intisari saringan dari Vedanta (Sivananda, 2003:261).
Siwa merupakan cirri realitas tertinggi, merupakan kesadaran tak terbatas, yang abadi, tanpa perubahan, tanpa wujud, merdeka, ada dimana-mana, maha kuasa, maha tahu, esa tiada duanya, tanpa awal, tanpa penyebab, tanpa noda, ada dengan sendirinya, selalu bebas, selalu murni, dan sempurna. Ia tidak dibatasi oleh waktu yang merupakan kebahagiaan dan kecerdasan yang tak terbatas, bebas dari cacat, maha pelaku, dan maha mengetahui (ibid,262). Lima kegiatan Tuhan (Panca Krtya) adalah: srsti (penciptaan), sthiti (pemeliharaan), samhara (penghancuran), tirobhawa (menutupi), dan anugraha (karunia), yang secara terpisah dianggap sebagai kegiatan dari Brahma, Wisnu, Rudra, Maheswara, dan Sadasiwa (ibid, 262). Dewa Siwa meresapi alam dan ciptaan ini melalui saktinya. Juga Dewa Siwa berkarya melaui saktinya. Dewa Siwa memiliki kekuatan (sakti). Dewa Siwa merupakan hakikat kesadaran. Siwa adalah kesadaran murni sedang materi (sarana) kesadaran tidak murni. Sedangkan sakti adalah mata rantai perantara di antara keduanya.

c. Tempat Pemujaannya
Tempat pemujaan bagi umat Hindu di India termasuk bagi pengikut Saiva Siddhanta dinamai Mandir. Dalam istilah lainnya juga dinamai Dewalaya. Sebagai sentra pemujaan Siwa di India kalau di daerah Uttar Pradesh ada di daerah Benares atau juga dinamai kota Kasi. Umat pada umumnya menyebutnya dengan nama kota Siva. Oleh karena di sana para umat Hindu untuk memuja Bhatara Siwa. Nama Mandirnya adalah Viavanath Mandir. Ada juga sebuah tempat suci yang sangat megah untuk pemujaan Dewa Siwa yakni Golden Temple yang terletak di tengah-tengah kota Benares di tempat sungai Gangga.
Selain itu ada juga beberapa mandir besar lainnya seperti: Somnath Mandir, Kedarnath Mandir, Mahakaleshwar Mandir, Omkareshwar Mandir, Mallikarjuna Mandir, Vaidhyanath Mandir atau Baijnath Dham Mandir, Bhismashankar Mandir, Ghushmeshwar Mandir, Tryambhakeshwar Mandir, Nageshwar Mandir, Setubandha Rameshwar Mandir, dan sebagainya (Subagiasta, 2002:49-57). Dalam praktek kehidupan beragama Hindu bahwa pada setiap rumah tangga juga ada untuk pemujaan Dewa Siwa berupa altar atau sejenis pelangkiran bagi umat Hindu di Bali. Pada masing-masing altar itu juga disediakan tempat khusus untuk menempatkan sesaji, sarana pemujaan, atau hal lainnya yang diperlukan. Umumnya disiapkan ruangan khusus yang memang disicikan.

d. Penerapan Saiva Siddhanta di India
Mengenai penerapan Saiva Siddhanta di India dapat dilihat dalam praktek nyata dalam kehidupan beragama Hindu di India secara sosiologis nampak dengan jelas. Kemudian secara religiusnya terlihat dalam praktek pemujaan (upasana atau puja). Yang paling rutin diterapkan adalah di suatu mandir, baik ditingkat perseorangan maupun dalam kondisi komunal. Ada dua cara dalam penerapannya yang dilakukan adalah dengan cara sarana, sadhana, material, upakara, banten/bali, atau simbol-simbol tertentu yang dinamai pratika atau saguna upasana. Sedangkan cara penerapan yang lainnya adalah dengan ahamgraha upasana atau nirguna upasana. Cara ini dilakukan dengan cara meditasi pada patung, arca, pratima, gambar/citra, dewa-dewi, aksara atau hal yang dapat meningkatkan kualitas meditasi menuju spiritual yang paramaartha serta parasiwa. Cara pratika upasana atau saguna upasana adalah bentuk meditasi yang real atau sakala, sedangkan ahamgraha upasana atau nirguna upasana adalah bentuk abstrak meditasi.
Bilamana dibandingkan dengan penerapan yang di Indonesia atau di Bali bahwa penerapan Saiva Siddhanta melaui ritual yang paling banyak dengan konsep panca maha yajna. Juga atas asas dan konsepsi catur marga. Penerapan di India pun juga ada kemiripan, karena juga diterapkan panca yajna yakni dewa yajna, manusa yajna, bhuta yajna, resi yajna dan pitra yajna. Kelihatannya dalam penerapan di India kesederhanaan dalam berupacara terutama dalam praktek upakara atau sesajen. Di India juga digunakan banten yang dinamai Bali namun masih tergolong lebih sederhana, tetapi bukan berarti lebih irit, tentu itu tidak bisa disamakan. Bisa saja menjadi lebih tidak irit mengingat biaya yang lainnya sangat membengkat, terutama dalam sangu pada para tamu (atithi uja) serta yang lainnya. Sehingga jika ditanya para bhakta disana juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Hal ini tergantung kepada pemujanya atau bahktanya. Tidak lantas langsung dibandingkan bahwa yang ini irit dan yang ini boros, yang ini benar dan yang ini salah. Hal demikian tidak bisa dirasiokan secara kasat mata. Karena kehidupan beragama Hindu sesungguhnya dasarnya adalah ketulusan hati. Umat Hindu tidak perlu bertindak gegabah dengan memvonis langsung bahwa beragama Hindu sulit, beragama Hindu boros, beragama susah dan lain-lainnya. Hal yang demikian jangan sampai terjadi dalam penerapan agama Hindu. Bila di India Nampak irit dan gampang, itu berarti yang kita miliki di Bali harus direformasi, tentu tidak. Ingatlah bahwa beragama Hindu memiliki drsta dan sadacara.
Dalam penerapan agama Hindu di India ada yang dinamai sepuluh samskara meliputi: garbhadana samskara (mensucikan kegiatan penciptaan), pumsavana samskara (upacara mantra-mantra kandungan berumur bulan ketiga bagi anak), Simantonnayana samskara (pengucapan mantra weda pada saat kandungan berumur tujuh bulan), Jatakarma samskara (upacara segera kelahiran anak), Namakarana samskara (upacara pemberian nama anak), Annaprasana samskara (pemberian makanan pertama kali saat berumur enam bulan), Cudakarana samskara (upacara pencukuran rambut pertama kali bagi anak), Upanayana samskara (upacara mendekatkan anak untuk belajar pada gurunya), Samavartana samskara (upacara mengakhiri masa belajar agama atau weda) dan Vivaha samskara (upacara perkawinan atau masa berumah tangga). Ada dikenal dengan homa untuk dewa yajna, tarpana atau sradha untuk pitra yajna, belajar weda atau brama untuk resi yajna, bali untuk bhuta yajna, dan penghormatan atau keramahtamahan untuk manusya yajna. Demikian penerapan ajaran Saiva Siddhanta di India yang sudah tentu ada kemiripan penerapan yang berlangsung di Bali, mengingat konsep yang utama juga sama yakni mengenai hakikat ketuhanan yang esa yaitu Dewa Siwa realitas tertinggi.

e. Pengikutnya
Bila diperhatikan tentang pengikut dari Saiva Siddhanta bahwa pada umumnya adalah para bhakta Siva. Terutama umat Hindu pada umumnya yang tersebar diberbagai pelosok wilayah di Negara bagian India, mulai dari daerah utara sampai ke daerah selatan. Daerah utara kebanyakan ada di Uttar Pradesh, Uttaranchal, Jammu Kashmir, Bengala, Bihar, Madhya Pradesh. Sedangkan di daerah selatan adalah sekitar Karnataka, Andra Pradesh, Tamil Nadu, dan sebagainya. Demikian juga sekte-sekte Saiva lainnya seperti: Akas Mukhi, Gudara, Jangama, Karalingi, Nakhi, Rukhara, Sukhara, Urdhabahu, Ukkara yang kesemuanya ini adalah sekte-sekte Saiva (Sivananda, 2003:150). Pengikut lainnya adalah para Brahmana dari Tamil Nadu dengan gelar Aiyer dan mereka disebut Smarta (ibid, 149). Cirri umumnya yang Nampak adalah mereka semua menggunakan tiga garis mendatar dari Bhasma dan Wibhuti (abu suci) pada dahinya dan kesemuanya memuja Dewa Siwa. Masih di daerah Tamil Nadu bahwa sebutan pengikut Saiva Siddhanta ada dinamai Gurukkal. Tetapi pengikut Waisnawa dinamai Pattar. Pada daerah lainnya seperti di Malabar bahwa pengikut Saiva Siddhanta dinamai Nambudiri, Muse dan Embantiri; sedangkan di daerah Bengala dinamai: Cakrawarti, Cunder, Roy, Ganguli, Coudhury, Biswa, Bagci, Majumdar, dan Bhattacarji (ibid, 149). Kalau di daerah Karnataka bahwa para Brahmana pengikut Saiva Suddhanta dinamai Smarta, Hawiga, Kota, Siwali, Tantri, Kardil, dan Padya (ibid, 149). Selanjutnya di daerah Telugu Smarta adalah Murkinadu, Welandu, Karanakammalu, Puduru, Drawidi, Telahanyam, Konasimadrawidi, dan Anuwela Niyogi (ibid, 150). Untuk di daerah Mysore dan Karnataka (Lingayat) mereka dinamai Wirasaiva, mereka mengenakan sebuah Linga Siwa yang diletakkan dalam sebuah kotak perak kecil pada lehernya (ibid, 150).
Ada juga dinamai pengikut dalam sebutan dasanama sannyasin, tetapi mereka tidak semua pemuja dan pengikut Siwa. Ada sebagian yang memuja Visnu atau dari paksa Vaisnawa. Sisanya lagi dari para bhakta yang ada di India. Khusus para Bhakta Hindu sebagai pemuja Siwa, diantaranya ada yang dinamai Saraswati, Puri, Bharati, Tirtha, Asrama, Wana, Aranya, Giri, Parwata dan Sagara. Semua para sannyasin sebagai pengikut Siwa tersebut merupakan para pemuja Siwa dari berbagai daerah di India, seperti: di Dwaraka, Josi, Puri, dan beberapa daerah lainnya di India. Tidak saja mereka sebagai pemuja Siwa, tetapi juga mereka sebagai pemuja Visnu. Kemudian para snnyasin Tamil mereka yang termasuk pada Kowilur Mutt dan Dharmapuram Adhinam yang semuanya mereka itu sebagai pemuja dan pengikut Saiva. Satu yang unik nampak pada saat perayaan Kembha Mela, Adha Kumbha Mela, dan Maha Kumbha Mela bahwa para pengikut Saiva Nampak memiliki kekhasan sekali, yakni mereka melumuri badannya dengan abu suci dan janggut mereka disimpul mati, sannyasin demikian dinamai Naga oleh karena kondisi realnya mereka dalam keadaan telanjang, tanpa busana sediktpun, namun mereka memiliki ketulusan hati, kesucian pikiran, perilaku yang mulia sebagai penyembah dan pemuja Siwa yang sejati. Satu lagi pemuja atau pengikut Saiva Siddhanta ada dinamai Gorakhnath Panthi yang berada di Gorakphur di wilayah Uttar Pradesh. Pengikut dari Gorakhnath biasanya disebut Kanphata, karena mereka melubangi telinganya dan mereka memakai anting-anting ada saat inisiasi mereka. Mereka memuja Dewa Siwa (ibid, 156). Jadi yang dinamai dasanama sannyasi itu adalah para bhakta atau umat Hindu India yang memiliki kepercayaan yang sangat kuat baik terhadap Dewa Siwa, sebagian lagi kepada Dewa Visnu, pemuja Rama, pemujaAnoman, serta pemuja lainnya sesuai ista dewata dalam agama Hindu.

f. Hari Sucinya
Seperti halnya di Indonesia dan juga di Bali bahwa perayaan suci agama Hindu Nampak ada persamaan dan sedikit perbedaan. Ada yang sama dalam sebutan perayaan sucinya seperti: Perayaan Siwaratri, perayaan Saraswati, Purnima atau Purnama, Amavasya atau Tilem, dan juga menyucikan sekali bagi perayaan umat Hindu setiap hari selasa, yang oleh umat Hindu dinamai Mangala Wara merupakan hari suci untuk pengendalian diri, menasehati diri, menggembleng diri, serta koreksi diri. Cara yang lazim dilakukan pada saat perayaan suci adalah dengan melakukan upawasa selama sehari penuh bahkan lebih dari sehari Bhakta ya ng telah mampu melaksanakannya setiap perayaan suci diikuti dengan upawasa tersebut. Bahkan bagi yang telah mantap juga diikuti dengan brata (pantangan), yoga (gerakan sikap badan yang tenang dan damai untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa (Bhatara Siwa), dan juga dengan cara semedi (melakukan meditasi). Sedangkan bagi bhakta yang mampu memusatkan pikiran dengan hening dan suci juga diikuti dengan japa yakni mengucapkan mantram suci berkali-kali seperti “Om Namah Siwaya” demikian seterusnya diulang dan diulang lagi dalam hati tanpa ada yang terdengar suara atau ucapan dari para bhakta.
Satu hal lagi yang menarik bahwa para bhakta Saiva Siddhanta di India tidak saja memilih setiap hari suci untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa, tetapi bersifat rutin dan kontinyu. Kapanpun dan dimanapun bila ada ditemui dan ada dijumpai sebuah mandir (sebuah tempat suci untuk memuja Siwa) maka seketika itu pula dilakukan pemujaan dan penghormatan kepada Bhatara Siwa. Caranya sesungguhnya tidak berat dan tidak juga gampang yang utama tetap landasannya adalah kesucian dan ketulusan hati. Bentuk atau sikap pemujaan kepada Bhatara Siwa adalah dengan cara mencakupkan kedua telapak tangan ditaruh di hulu hati dan ada diatas ubun-ubun juga ada dengan cara sungkem yakni dengan mencium pelataran mandir dan sebelumnya dilakukan pembunyian genta yang ada di mandir yang telah disiapkan sedemikian rupa. Maka bagi bhakta yang datang ke mandir diawali dengan membunyikan genta setidaknya satu kali atau tiga kali sesuai tradisi yang berlaku di mandir tersebut.
Bilamana pada saat siwaratri atau mahasiwaratri yang dipuja adalah Dewa Siwa. Pada saat itu para bhakta melakukan pemujaan kehadapan Dewa Siwa. Kalau di India perayan Siwaratri dilakukan sekitar bulan kapitu atau dinamai Sasi Magha sekitar bulan januari dan februari pada setiap tahunnya. Saat itulah umat Hindu datang berduyun-duyun ke tempat-tempat suci, seperti mandir, ada yang kecampuhan yakni tempat suci berupa pertemuan sungai, seperti ada yang disangam ada di wilayah kota suci Hindu bernama Prayaga. Disanalah umat Hindu atau pengikut Saiva Sidanta melakukan penyucian diri (kalau di Bali malukat, mesiram, melasti, jika disana dinamai snan dalam bahasa Hindhi, dan sananam dalam bahasa Sansekerta). Tempat suci sangan tersebut merupakan pertemuan dari tiga sungai suci Hindu yang bernama sungai Ganga, Yamuna, dan sungai Saraswati, jadi ketiga sungai suci itu dinamai Triveni atau Trinadhi.
Hari suci yang lainnya lagi adalah pemujaan kehadapan sakti Siwa yang dinamai Durga Puja yakni hari suci unutk memuja Dewi Durga sebagai ibu suci dan ibu niskala yang memberikan kekuatan lahir bhatin terhadap umat Hindu. Dalam tradisi India ada yang disebut nawaratripuja yaitu pemujaan selama Sembilan hari Sembilan malam terhadap Dewa Siwa dan Dewi Durga. Praktek pemujaannya adalah dengan vreta atau brata, yang dalam bahasa Hindinya dinamai ‘bret’ artinya tidak makan dalam kurun waktu yang diingin oleh para bhakta. Sembilan hari pemujaan dewi atau ibu dikenal sebagai nawaratripuja, merupakan sifat dari upacara wijaya utsawa kemenangan ‘sembilan hari’ dipersembahkan kepada ibu, karena keberhasilannya berjuang dengan para raksasa dipimpin oleh sumbha dan nisumbha (Siwananda, 2003:108-109). Jadi pemujaan Siva dan pemujaan Durgha saat nawa ratri puja tersebut merupakan proses bagi umat Hindu atau para bhakta untuk memperpendek proses evolusi dari asas kejiwaan menuju asas kesiwaan dan hal itu sebagai awal untuk penghancuran mala/pataka/dosa (kekotoran, kekeliruan, dan kesalahan).

g. Orang Sucinya
Orang suci umat Hindu yang ada di India ada yang dinamai Pandit. Kata pandit (bahasa Hindi ) sedangkan dalam bahasa Sansekerta disebut Pandita. Kalau di Indonesia disebut “Pendeta” yakni orang suci yang memimpin suatu upacara keagamaan Hindu. Tidak saja itu juga diagama non Hindu juga menamai pendeta. Selain itu ada juga yang dinamai para sadhu. Dalam kenyataan masyarakat Hindu di Bharatiya bahwa peran orang suci adalah sangat menentukan oleh kalangan Brahmin, maka peran para orang suci sangat menentukan. Orang suci kalau di Bharatiya sangat dihormati dan disucikan oleh umat Hindu. Terutama oleh pengikut Saiva Siddhanta bahwa para pemuja Siva dan para bhakti Siva begitu berbhakti kepada orang suci Sapta Rsi. Ketujuh rsi penerima wahyu yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasistha, dan Maharsi Kanwa. Di samping tujuh maharsi diatas pula dua puluh Sembilan maha resi penerima wahyu dan mereka itu dikenal dengan sebutan “nawawimsati krtyasca veda vyastha Maharsibbih” yaitu maha resi Swayambhu, Daksa, Usana, Wrhaspati, Aditya, Mrtyu, Indra, Wasista, Saraswata, Tridathu, Tridrta, Sandhyaya, Akasa, Dharma, Triyaguna, Dhananjaya, Krtyaya, Ranajaya, Bharadwaja, Gotama, Uttama, Parasara dan Maha resi Vyasa. Menurut tradisi Hindu, maharesi terbesar dan sangat banyak jasanya dalam menghimpun dan mengkodifikasikan Weda adalah maharesi Vyasa (tim penyusun, 1987:7). Selain itu juga ada dinamai maharesi penyusun Catur Samhita yakni maharesi Paila (Pulaha) sebagai penyusun Reg Weda Samhita, maharesi Waisampayana sebagai penyusun Yajur Weda Samhita, maharesi Jamini sebagai penyusun Sama Weda Samhita, dan Maharesi Sumantu sebagai penyusun Atharwa Weda Samhita. Itulah para orang suci Hindu yang juga sebagai orang suci bagi bhakta Siwa.



2. Sivasiddhanta di Indonesia
Ada tujuh maha rsi yaitu; Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista dan Kanwa. Para Rsi inilah yang menerima wahyu Weda di India. Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekte-sekte yang jumlahnya ratusan. Sekte Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya, kemudian disebarkan ke Indonesia. Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekte ini yang berasal dari pesraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain: Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja dan Trinawindu. Trinawindu di Bali disebut dengan Bhatara Guru, tapi ini hanya sebuah gelar Rsi Agastya di Bali
Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekte Siwa yang lain. Sidhanta yang artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidhanta artinya kesimpulan dari Siwaisme. Kenapa di buat kesimpulan ajaran Siwa? Karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit untuk menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang Sangat luas sekali. Karena itu bagi penganut Siwa, kitab suci Weda pun hanya pokok-pokok atau inti-intinya saja yang dipelajari, dan kitab suci Weda pun dinamai Weda sirah oleh penganut Siwaisme. Weda sirah, atau sirah artinya kepala atau pokok-pokok jadi hanya inti-inti dari Weda saja yang dipelajari, karena kitab suci Weda sangatlah luas. Jadi pengetahuan tentang Weda hanya inti-intinya saja yang dipelajari umat Hindu dunia, karena seperti cerita di atas Maha Rsi Agastya sangatlah sulit untuk memberikan pengetahuan Weda itu karena mencakup bidang yang sangat luas sekali. Salah satu murid Maha Rsi Agastya adalah Maha Rsi Markandeya yang membawa ajaran Weda/Siwa di Indonesia.
Di Indonesia Mazab Sivasiddhanta datang pada abad ke-4 M di Kutai dibawa oleh Rsi Agastya dari benares India. Terdapat 7 yupa dengan hurup sansekerta. Jawabarat tahun 400-500 M terdapat kerajaan Tarumanegara rajanya Purnawarman, terdapat 7 prasasti disebut koebon kopi). Jawa tengah terdapat kerajaan Kaliangga tahun 618-906 M rajaya ratu Sima terdapat prasasti bahasa sansekerta bergambar tri Sula. Kerajaan Sriwijaya pada abad -7 mulai adanya perkembangan Buddha mahayana. Kerajaan Mataram  rajanya Sanjaya tahu 654 mendirikan Lingga disebut prasasti cangkal. (Subagiasta, 2006:10).
Setelah itu banyak bermunculan cadi budhha seperti candi kalasan, borobudur. Kerajaan Kanjuruan rajanya Dewasima tahun 760 mendirikan tempat pemujaan Siwa Mahaguru. Kerajaan Medang  rajanya Sendok tahun 929-947 yang memuliakan dewa Siwa da memuja tri murti. Kerajaan kediri tahun 1042-1222 rajanya Kameswara. Kerajaan Singhasari tahun 1222-1292 rajanya Ken Arok dan yang terakhhir rajanya Wisnuwardhana mendirikan banyak candi. Kerajaan majapahit 1293-1528 rajanya Kertarajasa Jayawardhana terakhir rajanya Wikramawardhana masa jayana Sivasiddhanta. Kerajaan pajajaran rajanya Jayabhupati beraliran Waisnawa yang terakhir rajanya Parabu Ratu Dewata. (Subagiasta, 2006:13).
Bukti yang membuktikan bahwa kerajaan Kutai penganut siva adalah dalam hal kehidupan budayanya yang dimana yupa merupakan salah satu hal budaya masyarakat kutai. Yupa merupakan sebuah tugu batu untuk mengikat kurban yang dipersembahkan kepada para dewa. Namun, sebebarnya tugu batu itu merupakan warisan nenek moyang bangsa indonesia dari zaman megalitikum, yaitu kebudayaan menhir. Salah satu yupa menyebutkan suatu tempat suci dengan kata Vaprakecvara. Seorang ahli bernama Ny. Sulaiman mengatakan bahwa kata “Vaprakecvara” itu dihubungkan dengan dewa siwa. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa masayarakat kutai memeluk agama siwa. Hal ini didukung oleh beberapa faktor berikut: (1) Besarnya pengaruh kerajaan Pallawa yang beragama siwa menyebabkan agama siwa terkenal dikutai, dan (2) Pentingnya peranan para brahmana Di Kutai menunjukkan besarnya pengaruh Brahmana dalam Agama Siwa terutama mengenai upacara korban.
Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah bagian selatan, daerah intinya disebut Bhumi Mataram dengan ibu kota Medang Kamulan. Sumber Sejarah:
1)      Prasasti Canggal (732 M). Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan raja Sanjaya yang berbungan dengan pendirian lingga yang merupakan lambang dari Dewa Siwa. Sehingga agama yang dianutnya adalah agama Hindu.   
2)         Prasasti Kalasan (778 M). Prasasti ini menyebutkan tentang seorang raja dari Dinasti Syailendra yang berhasil menunujuk Rakai Panangkaran untuk mendirikan sebuah bangunan suci bagi Dewi Taradan sebuah bihara untuk para pendeta.Rakai Panangkaran akhirnya menghadiahkan Desa Kalasan kepada Sanggha Buddha. 
3)         Prasati Kelurak (782 M). Prasasti ini menyebutkan pembuatan arca Mansjuri yang merupakan perwujudan Sang Buddha,Wisnu,dan Sanggha yang dapat disamakan dengan Brahma,Wisnu,Siwa. Prasasti ini juga menyebut nama raja yang memerintah saat itu yang bernama raja Indra.
4)         Prasasti Sri Kahulunan.
5)         Prasasti Ratu Boko (856 M). Prasasti ini menyebutkan kekalahan raja Balaputra Dewa dalam perang saudara melawan kakaknya Pramodhawardani dan selanjutnya melarikan diri ke Sriwijaya.
6)         Prasasti Nalanda (860 M). Prasasti ini menyebutkan tentang asal usul raja Balaputra Dewa.
7)         Prasasti Mantyasih/Balitung (907 M). Menerangkan keberadaan kekuasaan Dinasti Syailendra.
Disamping prasasti, Mataram kuno banyak meninggalkan bangunan-bangunan candi baik yang bercorak Hindu (dari Dinasti Sanjaya) maupun yang bercorak Budha (dinasti Syailendra).Pemerintahan Matara Dinasti Sanjaya. Dinasti Sanjaya berkuasa sekitar abad ke-7 dari prasasti Canggal disebutkan adanya pendirian Lingga yang merupakan lambang Dewa Syiwa, selain itu menyebutkan wilayah kekuasaan Sanjaya yaitu Medang ri poh pitu.
3. Sivasiddhanta di Bali
Salah satu murid Maha Rsi Agastya adalah Maha Rsi Markandeya yang membawa ajaran Weda/Siwa di Indonesia. Pada saat ke Indonesia Maha Rsi Markandeya mendapatkan pencerahan di gunung Di Hyang (sekarang disebut dengan gunung Dieng) di gunung Dieng Beliau Rsi Markandeya mendapatkan pawisik agar membuat pelinggih di Tohlangkir (sekarang disebut Besakih) dan harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur emas, perak, tembaga, besi dan permata mirah delima.
Setelah itu Maha Rsi Markandeya menetap di Taro (Tegal Lalang, Gianyar). Dari pencerahan-pencerahan yang di dapat di gunung Dieng dan di Tohlangkir (Besakih) beliau memantapkan ajaran Siwa kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya Sewana, Bebali (banten) dan pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali dan ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggal Beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa menurut petunjuk-petunjuk maha Rsi Markandeya yang menggunakan bebali atau banten. Karena sedemikian luasnya isi dari Weda dan terbentur bahasa dari mantram-mantram Weda maka diciptakanlah banten sebagai simbolisme dari mantram-mantram yang ada dalam Weda. Setelah itu Maha Rsi Markandeya menetap di Taro (Tegal Lalang, Gianyar). Dari pencerahan-pencerahan yang di dapat di gunung Dieng dan di Tohlangkir (Besakih) beliau memantapkan ajaran Siwa kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya Sewana, Bebali (banten) dan pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali dan ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggal Beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa menurut petunjuk-petunjuk maha Rsi Markandeya yang menggunakan bebali atau banten. Karena sedemikian luasnya isi dari Weda dan terbentur bahasa dari mantram-mantram Weda maka diciptakanlah banten sebagai simbolisme dari mantram-mantram yang ada dalam Weda.

a. Sumber-Sumber Ajaran
Walaupun sumber-sumber ajaran Agama Hindu di Bali berasal dari kitab-kitab berbahasa Sansekerta, namun sumber-sumber tua yang kita warisi kebanyakan ditulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa sansekerta dan Bahasa Jawa Kuno. Kitab yang di tulis dalam bahasa Sansekerta umumnya adalah kitab Puja, namun bahasa Sansekerta yang digunakan adalah bahasa Sansekerta kepulauan khas Indonesia yang sedikit berbeda denga bahasa Sansekerta versi India. Sedangkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahsa jawa kuno antara lain Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana, Wrhaspati tatwa dan Sarasamuscaya. Kitab Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana dan Wrhaspati Tattwa adalah kitab-kitab yang Tattwa yang mengajarkan Siwa Tattwa yang mana juga kitab-kitab ini menjadi unsur dari isi Puja. Sedangkan Sarasamuscaya adalah kitab yang mengajarkan susila, etika dan tingkah laku.
Disamping itu juga terdapat banyak lontar-lontar indik yang menjadi rujukan pelaksanaan kehidupan umat beragama dan bermasyarakat di Bali seperti lontar Wariga, lontar tentang pertanian, pertukangan, organisasi sosial dan yang lainnya. Disamping itu juga terdapat kitab-kitab Itihasa dan gubahan-gubahan yang berasal dari purana, seperti Parwa (kisah Maha Bharata), Kanda (Ramayana) dan juga kekawin-kekawin yang menjadi alat pendidikan dan pedoman dalam bertingkah laku bagi masyarakat. Itihasa dan juga purana juga menjadi sumber dalam kehidupan berkesenian di Bali terutama kesenian yang masuk kategori Wali atau sakral, seperti wayang, topeng, calonarang dan yang lainnya, yang mana pementasan kesenian tersebut umumnya mengangakat tema cerita yang berasala dari Itihasa, purana atau kekawin. Tidak semua pelaksanaan kehidupan beragama di Bali yang dapat dirujuk kedalam sumber-sumber ajaran sastra agama, yang dikarenakan Agama Hindu di Bali begitu menyatu dengan Budaya, adat, seni dan segala aspek kehidupan orang Bali, sehingga banyak warisan budaya para leluhur orang Bali yang tetap diwariskan turun-temurun dan menjadi satu keatuan denga Agama Hindu di Bali.
Sebagai sumber ajaran dari pada saiva siddhanta di bali adalah bersumber pada ajaran weda dan sumber suci dalam naskah tradisional. Sebagaimana dijelaskan dalam Siwa Sasana ada dikelompokkan beberapa naskah tradisional di Bali. Kelompok yang dimaksud ada 4, yaitu: kelompok Weda, Tattwa, Ethika, dan upacara agama. Kelompok Weda, misalnya Weda Parikrama, Weda Sanggraha, Surya Sevana, dan Siwa Pakarana. Kelompok tattwa meliputi: Buanakosa, Buana Sang Ksepa, Wrhaspati Tattwa, Siwa Gama, Siwatatwapurana, Gong Besi, Purwa Bhumi Kamulan, Tantu Pangelaran, Usana Dewa, Gana Patitattwa, Tattwa Jenana, dan Jenana Siddhanta. Kelompok etika adalah Siwa Sasana, Resi Sasana, Wrti Sasana, Putra Sasana, dan Slokantara.  Kemudian yang tergolong dalam upacara katagori upacara agama meliputi: (a) upacara dewa yajna, antara lain: Catur Wedhya, Wrhspatikalpa, Dewatatwa, Sudarigama, dllnya; (b) upacara pitra yajna, meliputi: Yamatatwa, Empu Lutuk Aben, Kramaning Atiwatiwa, Indik Maligya, dan Putera Pasaji; (c) upacara rsi yajna, antara lain: Kramaning Madhiksa, Yajna Samskara, dllnya; (d) upacara manusa yajna, meliputi: Dharma Kaharipan Eka Ratama, Janmaprawati, Puja  Kalapati, Puja Kalib dllnya ; (e) upacara bhuta yajna, misalnya: Eka Dasa Rudra, Pancawalikrama, Indik Caru, Puja Palipali, dsbnya.

b. Pokok-Pokok Ajaran
Ajaran Siwa Siddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama yaitu Tattwa, Susila dan Upacara keagamaan. Tatwa atau filosofi yang mendasarinya adalah ajaran Siwa Tattwa. Di dalan Siwa Tattwa, Sang Hyang Widhi adalah Ida Bhatara Siwa. Dalam lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Siwa adalah Esa yang bermanifestasi beraneka menjadi Bhatara-Bhatari.
Sa eko bhagavan sarvah Siwa karana karanam Aneko viditah sarwah Catur vidhasya karanam Ekatwanekatwa swalaksana bhatara ekatwa ngaranya Kahidup makalaksana siwatattwa Tunggal tan rwatiga kahidep nira Mangekalaksana siwa karana juga tan paphrabeda Aneka ngaranya kahidup Bhataramakalaksana caturdha. Caturdha ngaranya laksananiram stuhla suksma sunya.
Artinya :
Sifat Bhatara eka dan aneka. Eka artinya ia dibayangkan bersifat Siwa Tattwa, ia hanya esa tidak dibayangkan dua atau tiga. ia bersifat Esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya Bhatara bersifat Caturdha. Caturdha adalah sifatnya, sthula, suksma dan sunia.

Sumber-sumber lain yang menyatakan Dia yang Eka dalam Beraneka juga kita temukan dalam banyak mantra-mantra, diantaranya adalah:
Om namah Sivaya sarvaya
Dewa-devaya vai namah
Rudraya Bhuvanesaya
Siwa rupaya vai namah
Artinya :
Sembah bhakti dan hormat kepada Siwa, kepada Sarwa
Sembah bhakti dan hormat kepada dewa dewanya
Kepada Rudra raja alam semesta
Sembah hormat kepada dia yang rupanya manis

Twam Sivas twam Mahadewa
Isvara Paramesvara
Brahma Visnuca Rudrasca
Purusah Prakhrtis tatha
Artinya :
Engkau adalah Siwa Mahadewa
Iswara, Parameswara
Brahma, Wisnu dan Rudra
Dan juga sebagai Purusa dan Prakerti

Tvam kalas tvam yamomrtyur
varunas tvam kverakah
Indrah Suryah Sasangkasca
Graha naksatra tarakah
Artinya :
Engkau adalah Kala, Yama dan Mrtyu
Engkau adalah Varuna, Kubera
Indra, Surya dan Bulan
Planet, naksatra dan bintang - bintang

Prthivi salilam tvam hi
Tvam Agnir vayur eva ca
Akasam tvam palam sunyam
Sakhalam niskalam tatha
Artinya :
Engkau adalah Bumu, Air
dan juga Api
Angkasa dan alam sunia tertinggi
Juga yang berwujud dan tak berwujud

Dengan contoh-contoh ini menunjukkan bahwa semua Bhatara-Bhatari itu adalah Bhatara Siwa sendiri. Bhatara-Bhatari itulah yang dipuja sebagai Ista Dewata. Banyaknya Ista Dewata yang dipuja akan berkaitan dengan banyaknya Pura dan Pelinggih, Pengastawa, Rerainan dan Banten. Ista Dewata adalah Bhatara Siwa yang aktif sebagai Sada Siwa, sedangkan Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa bersifat tidak aktif atau sering disebut Sunia.
Dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara yang paling mendominasi pemujaan yang ada di Bali. Konsep penciptaan, pemeliharaan dan pemrelina menunjukkan Bhatara Siwa sebagai apa yang sering disebut Sang Hyang Sangkan paraning Numadi, yaitu asal dan kembalinya semua yang ada dan tidak ada di jagat raya ini.
Salah satu yang menarik dari keberadaan Bhatara Siwa, ialah Beliau berada dimana-mana, di seluruh penjuru mata angin dan di pengider-ider. Di timur Ia adalah Iswara, di tenggara Ia adalah Mahesora, di selatan Ia adalah Brahma, di barat daya Ia adalah Rudra, di barat Ia adalah Mahadewa, di barat laut Ia adalah Sangkara, di utara Ia adalah Wisnu, di timur laut Ia adalah Sambhu dan ditengah Ia adalah Siwa. Sebagai Sang Hyang kala, di timur Ia adalah kala Petak (putih), di selatan Ia adalah Kala Bang (merah), di barat ia adalah Kala Gading (Kuning), di utara Ia adalah Kala Ireng (hitam) dan ditengah Ia adalah kala mancawarna.
Selain ajaran ke-Tuhanan, ajaran Siwa Siddhanta juga memuat beberapa ajaran diantaranya ajaran tentang Atma yang sesungguhnya berasal dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-Nya juga, ajaran Karma Phala yang berkaitan dengan Punarbawa atau siklus reinkarnasi, ajaran pelepasan yang berkaitan tentang Yoda dan Samadhi. Terdapat pula ajaran tata susila yang erat hubungannya dengan ajaran Karma Phala. Tumpuan dari ajaran tata susila itu adalah Tria Kaya Parisuddha yaitu Kayika Parisuddha (berbuat yang benar), Wacika Parisuddha (berbicara yang benar) dan Manacika Parisuddha (berfikir yang benar).

c. Tempat Pemujaannya

                Tempat pemujaan atau tempat suci umat Hindu Indonesia disebut pura. Sering pula umat Hindu menyebutnya dengan nama Kahyangan atau Parhyangan Pura berasal dari bahasa Sansekerta (Pur) artinya benteng, kota, tempat yang dikelilingi oleh tembok. Pura adalah tempat suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa atau para dewa sebagai manifestasi Tuhan. Dalam hal ini dinamai pula Dewalaya atau Mandiram (bahasa Sansekerta) dan juga dinamai Mandir. Dalam tulisan ini bahwa tempat suci dapat digolongkan berdasarkan karakternya yaitu
a)    Pura keluarga
b)    Pura territorial
c)    Pura fungsional
d)   Pura umum.
Palemahan pura umumnya terdiri dari tiga yaitu jeroan (utama mandala) melambagkan alam atas (swah loka), jaba tengah (madhyama mandala) melambangkan alam tengah (bwah loka) dan jaba sisi kanista mandala) yang melambangkan alam bawah (bhur loka). Adapun tempat pemujaan bagi umat Hindu, antara lain:pertama,pura keluarga adalah pura yang khusus bagi umat Hindu yang masih ada ikatan satu keluarga. Pura keluarga juga dinamai Pura Kawitan, Pamerajan, Dadia, Panti, Ibu, Padarman dan lain-lainnya. Bertempat di di pura keluarga bahwa umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta roh suci leluhur atau atma sidha dewata. Pelinggih utama pada pura keluarga biasanya berupa Gedong, Pelinggih Rong Tiga, atau ada pula berupa Meru serta Pelinggih Padmasana. Kedua, Pura Teritorial yang dimaksudkan adalah Pura Kahyangan Desa. Jenis pura ini juga dinamai Tri Kahyangan atau Kahyangan Tiga. Nama-nama Pura Kahyangan Tiga adalah
a)      Pura Baleagung sebagai tempat memuja Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Brahma (Pencipta).
b)      Pura Puseh sebagai tempat memuja Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Wisnu (Pemelihara)
c)      Pura Dalem sebagai tempat memuja Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa (Mengembalikan ke asalnya/praline)
Ketiga, pura fungsional merupakan tempat suci dalam kaitannya dengan kekaryaan umat Hindu. Pura ini juga dinamai Pura Swagina. Jenis pura fungsional, seperti pura subak merupakan tempat suci umat Hindu yang memiliki ikatan kerja dalam pertanian. Pura subak juga dinamai Pura Bedugul atau Ulun Subak. Kalau kaitannya dengan ikatan profesi bagi para pedagang di sekitar pasar atau di tempat tertentu untuk berjualan disebut Pura Melanting. Keempat, pura umum, pura umum adalah pura yang tergolong kahyangan jagat sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta segenap manifesti-Nya. Yang tergolong sebagai pura umum adalah Pura Sad Kahyangan Jagat, Pura Dang Kahyangan Jagat, pura jagatnatha di sekitar perkotaan maupun pura yang dibangun di wilayah Indonesia yang dapat dijadikan tempat sembahyang oleh umat Hindu. Kalau di bali bahwa pura kahyangan jagat diklasifikasikan berdasarkan atas, 1) Konsep rwa bhineda, 2) Berdasarkan konsep cadu sakti.

d. Hari Sucinya
Hari suci merupakan hari baik bagi umat Hindu untuk melakukan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Beberapa hari suci Hindu antara lain: Galungan, Kuningan, Sarswati, Pagerwesi, Nyepi, Siwalatri, Purnama dan Tilem. Pertama, hari raya Galungan yang pelaksanaannya setiap 6bulan sekali, yaitu pada Budha Keliwon Dungulan. Pada Hari Raya Galungan Umat Hindu melakukan Persembahyangan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, terutama dilakukan Di Pura keluarga (Pemerajan, Sanggah Gede, Dadia, kawitan, Kamulan, Taksu dan Lain-lainnya), Pura kayangan desa, Serta kayangan jagad lainnya. Perayaan Galungan juga merupakan hari baik menyatakan rasa terimakasih kehadapan Tuhan. Saat Hari Raya ini juga dinyatakan sebagai hari kemenangan Kebenaran (Dharma) atas ketidak benaran (Adarma) Perayaan galungan dimulai pada Hari sabtu keliwon Wariga samapi dengan rangkaian terakhir pada Budhha Keliwon Pahang. Adapun rangkaian utama perayaan Galungan adalah Penyekeban/Penyajaan, pengejukan, penampahan, punck perayaan galungan dan umanis galungan. Kedua, Hari Raya Kuningan yang di rayakan pada hari Sabtu keliwon Kuningan,10 hari setelaha perayaan Hari Raya Galungan. Hari Raya Kuningan juga diawali dengan rangkaian penampaan kuningan, Puncak perayaan Kuningan dan ulihang.
Ketiga Hari raya Saraswati yang dilaksanakan pada Sabtu umanis Watugunung. Umumnya perayan ini dikenal dengan nama piodalan Sang Hyang Aji Saraswati atau piodalan Sang hyang pangeweruh makna yang dikandung dari perayaan Saraswati adalah betapa pentingnya ilmu pengetahuan suci weda dan sains lainnya untuk kemjuan dan kesejahteraan umat manusia. Puncak perayaan Saraswati adalah dengan melakukan persembahyangan di Pura untuk memuja Dewi Saraswati sebagai Dewinya Ilmu pengetahuan, seni dan kebudayaan. Kesimpulannya bahwa ilmu pengetahuan itu menjadikan manusia itu sebagai manusia yang sempurna, sehingga dapat bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Ilmu pengetahuan itu penting bagi umat manusia baik jnana dan wijnana. Keempat, hari raya pagerwesi adalah sebagai hari pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Hyang Paramesti Guru) yang dirayakan setiap Budha Kliwon Sinta. Perayaan hari ini bermakna untuk permohonan kekuatan hidup baik secara fisik dan nonfisik (wahyu adhyatmika). Jadi perayaan Pagerwesi bertujuan untuk pemohonan kekuatan dan kemantapan saraddha dan bhakti umat Hindu.
Kelima, harii raya Nyepi yang pelaksanaana dirayakan setiap penanggal pian sasih kedasa. Rakaian Upacara hari raya nyepi diawali dengan pelaksanaan Melasti ke Segara untuk memohon tirta amerta atau air suci kehidupan serta untuk menghayutkan malapetaka/Dosa, kemudian dilanjutkan dengan pengerupukan atau mebuu-buu serta pelaksaan upacara tawur Kesanga disetiap lingkungan Desa terutama bertempat diperempatan jalan (Catus Pata) yang jatuh pada Tilem sasih Kesangga. Setelah itu sehari kemudian merupakan puncak hari Raya Nyepi, yang juga dikenal sebagai perayaan tahun baru saka pada penanggal pisan sasih kedasa. Perayaan Nyepi telah diakui sebagai hari hari libur Nasional oleh pemreintah berdasarkan kepres 03 tahun 1983,tertanggal 3 Januari 1983. Pada Perayaan Nyepi bahwa umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian seperti :Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungaan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan). Sebagai terakhir dari Hari Raya Nyepi adalah pelaksanaan Dharma Santhi atau pelaksanaan sima karma dari segenap umat Hindu untuk dapat saling memanfaatkan dan saling memperat hubungan persahabatan dan kekluargaan diantara umat agama Hindu dan sesama umat yang lainnya.
Keeenam, Hari Siwalatri yang berarti malam Siwa. Siwa adalah sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang memiliki kekuasaan untuk pameralina. Dalam naskah Siwa Tri Kalpa dijelaskan Batara Siwa melakukan yoga untuk keselamatan Dunia beserta segenap isinya bertepatan dengan Catur Dasi, Kresnapaksa atau Pangelong ping patbelas sasih kapitu. Saat itu dipilih oleh Batara Siwa untuk beryoga, karena merupakan malam yang tergelap dan saat yang terbaik melakukan pemujaan terhadap Batara Siwa. Saat Siwalatri, maka umat Hindu melakukan Tapa Brata Yoga dan Semedi. Waktu pelaksanaanya selama 36 jam. Jenis Brata dapat dilakukan brupa upawasa (tidak makan dan tidak minum), monabrata (tidak berbicara atau berhening), dan jagra (tidak tidur). Jenis upawasa ini berlaku secara luwes dan sesuai dengan kemampuan umat Hindu. Pelaksanaan perayann Siwalatri dapat pila dilakukan dengan rembug sastra atau dengan membaca doa, membaca pustaka Hindu baik berupa kekawin,sloka maupun satra lainnya. Ketujuh, hari Purnama dan Tilem, saat purnama dan tilem merupakan hari baik untuk melakukan pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hari Purnama (Purnima) adalah Hari bulan terang. Hari Tilem (amavasya) merupakan hari bulan mati atau bulan gelap. Pada hari Purnama merupakan Hari Payogan Sang Hyang Candra, sedangkan pada hari tilem merupakan Hari Payogan Sang Hyang Surya.  Sedangkan hari suci lainnya ada berupa Buda Kliwon, langgara kliwon, saniscara kliwon, kajeng kliwon serta yang lainnya

e. Orang Sucinya
            Walaupun agama hindu yang berkembang sampai di Bali sangat jauh kebelakang dari segi perjalanan waktu keberadaan agama hindu di india serta juga paham Saiva Siddhanta berkembang kebali, maka umat hindu telah hormat dan bakti kehadapan para orang suci Hindu baik yang diberi India maupun oran suci asli Indonesia. Dalam agama Hindu ada beberapa orang suci. Orang suci adalah sangat besar jasanya terhadap perkembangan dan penyebaran agama Hindu kepada umat di dunia ini. Tanpa orang suci, maka agama hindu sulit untuk berkembang. Justru dengan demikian peranan orang suci sangat penting untuk pembinaan dan pengembangan agama hindu. Orang suci umat hindu secara umum disebut dengan nama Rsi. Dalam tulisan ini ada beberapa orang suci bagi umat Hindu antara lain: Bagawan Brigu, Bagawan Baradwaja, Rsi Agastya, Bagawan Brihaspati, Mpu Tantular, Mpu Kuturan, Mpu Baradah, Rsi Markandeya dan Danghyang Niratha/ Danghyang Dwijendra.
            Pertama, Bagawan Brigu merupakan orang suci Hindu yang namanya banyak disebut-sebut dalam kitan Purana. Beliau sebagai pendiri keluarga/warga bargawa. Kedua, Bhagawan Baratwaja sebagai umat suci hindu yang ada kaitannya dengan cerita Ramayana yang ditulis oleh bagawan Walmiki. Bhagawan Baradwaja juga sebagai penerima wahyu suci dari Tuhan Yang Maha Esa. Beliau sebagai guru suci pada sebuah ashram kenamaan Hindu di kota prayaga yang kini dinamai kota alahabad. Pada kota prayaga ini adalah sebagai tempat suci hindu, karena disana terdapat campuhan (sangam) dari pada sungai gangga dan sungai Yamuna, dan sungai Saraswati (yang saat ini tidak Nampak). Pada saat bulan Januari/February segenap umat Hindu melakukan pensucian diri ditempat suci ini oleh karena dilaksanakan upacara kumba mela setiap tahun, upacara ada Kumba mela setiap 6 tahun dan upacara maha kumba mela setiap 12 tahun sekali.
            Ketiga Rsi Agastya sebagai orang suci lahir dikota kasi atau benaris india utara. Beliau telah menyebakan agama Hindu di India dan termasuk sampai di Indonesia dan di Bali. Keempat, Bhagawan Brihaspati adalah sesorang putra dari Bhagawan Angira yang merupakan orang suci yang terkenal dari umat hindu. Kelima, Mpu Tatular sebagai punjanga besar agama Hindu. Beliau telah menulis kekawin Suta Soma. Beliau telah memiliki empat putra yaitu Mpu Kanawasika, Mpu Asmarananta, Mpu Sidimantra dan Mpu Kepakisan. Keenam mpu kuturan sebagai orang suci yang berjasa menyebarkan ajaran agama Hindu di Indonesia dan di bali khususnya.beliau mengajarkan ajaran tri murti dan mengajarkan konsep tri khayagan disetiap desa adat atau di desa pakraman di Bali. Ketujuh Mpu Baradah sebagi orang suci hindu merupakan adik dari Mpu Kutular. Kebearan nama mpu baradah sngat terkenal di Bali dan Mpu Baradah ada dimuliakan disalah satu kompleks pura Besakih. Kedelapan, isi Markandya adalah orang suci Hindu pertamakali dating ke Bali untuk menyebarkan agama Hindu, beliau dating dari tanah Jawa menuju bali beserta beberapa pengikutnya untuk merabah hutan bali dijadikan lahan pertanian dan sekaligus menata beragama Hindu di Bali. kesembilan, Danghyang Dwijendra nama lain beliau adalah Danghyang Niratha. Jika kalau di bali belau bergelar pedanda sakti wawu rawuh. Kalau dilombok beliau bergelar Tuan Smeru dan disumbawa bergelar pangeran Sangupati. Banyak tempat suci yang telah beliau bangun di pulau bali, seperti: Pura purancak,Pura rambut siwi, pura pulaki, pura ponjok batu, pura tanah Lot, pura Peti Tenget, pura Wuluwatu, pura Air Jeruk, pura Batu Kelotok, dan lain-lainnya. Sepuluh, Danghyang Astapakeh merupakan salah satu orang suci dari budha Mahayana/majapahit dan di Bali beliau mendirikan pura sakenan di daerah serangan di Denpasar selatan. Keturunan beliau di Bali menetap didaerah karangasem yaitu di Desa budha keling.

 


KIRSTALISASI SEKTE-SEKTE
DALAM  SIVASIDDHANTA DI BALI

1. Sekte-Sekte dalam Sivasiddhanta di Bali
Menurut penelitian yang dilakukan oleh R.Goris, Sekte-sekte yang ada di Bali berasal dari India. Pada awalnya penduduk Bali menyembah Surya. Agama Hindu berkembang menjadi banyak sekte yang berasal dari negeri asalnya di Jmbhu dwipa  dan berkembang hingga ke  Balin dwipa. Banyaknya sekte-sekte di Bali ini disebabkan karena Weda tidak diwahyukan kepada seorang Maha Resi saja, dan juga tidak diwahyukan dalam kurun waktu yang sama dan diwahyukan pula di tempat yang berbeda. Ada tujuh Maha Resi yang menerima wahyu Weda, yaitu: Maha-Resi Grtsamada, Maha-Resi Wiswamitra, Maha-Resi Wama Dewa, Maha-Resi Atri, Maha-Resi Bharadwaja, Maha-Resi Wasistha dan Maha-Resi Kanwa. Weda diwahyukan sekitar 1.150 sampai 1.000 tahun Sebelum Masehi, di tujuh lembah sungai-sungai suci di India, yaitu: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Sarayu. Ketujuh Maha-Resi itu menafsirkan wahyu-wahyu yang diterima, kemudian mendirikan perguruan-perguruan serta mempunyai murid atau pengikut masing-masing. Inilah bentuk awal dari adanya sekte-sekte Agama Hindu.
Selain penelitian oleh R.Goris, Sejarah sudah mencatat pada abad ke-9, terjadi sebuah memontum penting dalam perkembangan agama Hindu. Pada saat itu yang memegang tapuk kepemimpinan di wilayah Bali adalah raja Sri Dharma Udayana Warma Dewa dengan permaisuri Mahendradatta Gunapriya Dharmapatni. Agama berkembang begitu pesat, ini dibuktikan dengan adanya banyak sekte pada zaman itu. Pada mulanya sekte-sekte tersebut hidup berdampingan secara damai namun lama kelamaan dalam perkembangannya sering terjadinya persaingan-persaingan. Bahkan tidak jarang terjadi konfik secara fisik. (Nurkancana, 1997:139). Persaingan sekteis ini menyebabkan ketenteraman Bali menjadi tergangu. Kemudian, raja Sri Dharma Udayana Warma Dewa dan ratu Mahendradatta Gunapriya Dharmapatni mengambil langkah politis atas keresahan yang terjadi. Maka, diutuslah Mpu Kuturan selaku penasehat istana untuk mencoba mencarikan solusi dari permasahan ini. Atas dasar tugas, Mpu Kuturan kemudian mengundang semua pucuk pimpinan sekte dalam suatu pertemuan (pasamuan) yang diadakan di Batu Anyar (sekarang wilayah Kab. Gianyar).  Pertemuan ini akhirnya mencapai kata sepakat dengan keputusan sebagai berikut :
1)      Paham Tri Murti dijadikan dasar di Bali, yang berarti di dalamnya telah mencakup seluruh paham sekte yang berkembang di Bali saat itu.
2)      Dalam setiap Desa Pakraman (Desa Adat) supaya dibangun Kahyangan Tiga, yaitu: Pura Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem.
3)      Dalam setiap rumah tangga supaya didirikan Rong Tiga sebagai tempat memuja Tri Murti. Brahma di ruang kanan, Wisnu di ruang kiri dan di tengah adalah Siwa sebagai Maha Guru atau Bhatara Guru. Rong Tiga itu selain sebagai tempat memuja Tri Murti, juga difungsikan untuk memuja ruh leluhur. Ruang kanan untuk memuja leluhur laki-laki (purusa), ruang kiri untuk memuja leluhur wanita (pradana) sedangkan ruang di tengah-tengah untuk memuja leluhur yang sudah menyatu dengan Bhatara Guru. (Subandi dalam Nurkancana, 1997:139).
Ada relasi antara manusia dengan Tuhan. Relasi ini diwujudkan dalam bentuk bakti sebagai wujud Prawrtti Marga. Tuhan dipuja sebagai saksi agung akan semua perbuatan manusia di dunia. Tuhan yang memberikan berkah dan hukuman kepada semua mahluk. Di Bali, bhakti kepada Tuhan direalisasikan dalam berbagai bentuk. Untuk orang kebanyakan, bhakti diwujudkan dengan sembahyang yang diiringi dengan upakara. Upakara artinya pelayanan dengan ramah diwujudkan dengan banten. Upakara termasuk Yajna atau persembahan suci. Baik sembahyang maupun persembahan Yajna memerlukan tempat pemujaan. Pemangku, Balian Sonteng dan Sulinggih mengantarkan persembahan umat kepada Tuhan dengan saa, mantra dan puja. Padewasan dan rerainan memengang peranan penting, yang mana pada semua ini ajaran sradha kepada Tuhan akan selalu tampak terwujud.
Demikian juga misalnya saat Bhatara Siwa sebagai Dewata Nawa Sanga diwujudkan dalam banten caru, beliau disimbulkan pada banten Bagia Pula Kerti, beliau dipuja pada puja Asta Mahabhaya, Nawa Ratna dan pada kidung belia dipuja pada kidung Aji Kembang. Bhatara Siwa sebagai Panca Dewata dipuja dalam berbagai Puja, Mantra dan saa, ditulis dalam aksara pada rerajahan dan juga disimbulkan pada alat upacara serta aspek kehidupan beragama lainnya.
Tempat-tempat pemujaan menunjukkan tempat memuja Bhatara Siwa dalam manifestasi beliau. Belia dipuja sebagai Siwa Raditya di Padmasana, dipuja sebagai Tri Murti di sanggah, Paibon, Kahyanga Desa dan Kahyangan Jagat. Pemujaan Tuhan pada berbagai tempat sebagai Ista Dewata sesuai dengan ajaran Tuhan berada dimana-mana. Demikinalah orang Bali menyembah Tuhan disemua tempat, di Pura Dalem, Pura Desa, Pura Puseh, Bale Agung, Pempatan Agung, Peteula, Setra, Segara, Gunung, Sawah, Dapur dan sebagainya. Disamping itu diberbagai tempat Tuhan dipuja sebagai Dewa yang "Ngiyangin" atau yang memberkati daerah pada berbagai aspek kehidupan, seperti Dewa Pasar, Peternakan, Kekayaan, Kesehatan, Kesenian, Ilmu Pengetahuan dan sebagainya.
Dengan demikian hampir tidak ada aspek kehidupan orang Bali yang lepas dari Agama Hindu. Dalam pemujaan ini Tuhan dipuja sebagai Ista Dewata, Dewa yang dimohon kehadirannya pada pemujaannya, sehingga yang dipuja bukanlah Tuhan yang absolut sebagai Brahman dalam Upanisad atau Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa, namun Tuhan yang bersifat pribadi yang menjadi junjungan yang disembah oleh penyembahnya. Ista Dewata ini dipandang sebagai tamu yang dimohon kehadirannya oleh hambanya pada waktu dipuja untuk menyaksikan sembah bakti umatnya. Oleh karena itu Tuhan dipuja sebagai "Hyang" dari aspek-aspek kehidupan yang rasa kehadiran-Nya sangat dihayati oleh hambanya sama seperti penghayatan umat terhadapa aspek kehidupan tersebut. Pemujaan dilakuakn dalam suasana, tempat cara dan bahan yang paling tepat dan paling dihayati oleh para pemuja-Nya. Terdapat persembahan Banten, pakaian, hiasan yang semuanya dipersembahkan dengan begitu serasi dengan penghayatan, perasaan dan cita rasa dari penyembah-Nya sehingga penghayatan menyusup kedalam lubuk hati yang terdalam. Apapun yang dipersembahkan, maka itu adalah sesuatu yang terbaik menurut para penyembah-Nya. Akibat dari semua itu adalah adanya variasai dan pelaksanaan hidup beragama di Bali.
Namun inti dari prinsip ajaran agama Hindu adalah sama, yaitu Tuhan yang ada dimana-mana sama dengan Tuhan Yang Maha Esa yang menampakkan diri dalam berbagai wujud dan pandangan penyembah-Nya, yang abstrak dihayati melalui bentuk. Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974:10-12). Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta. Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.

a.  Sekte Siwasidhanta
Sekte Siwa memiliki cabang yang banyak. Antara lain Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya. Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan. Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme. Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Brahma, Wisnu dan dewa-dewa lainnya tetap dipuja sesuai dengan tempat dan fungsinya, karena semua dewa-dewa itu tidak lain dari manifestasi Siwa sesuai fungsinya yang berbeda-beda. Siwa Sidhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya.
Siwa Sidhanta adalah filsafat dari Saiwisme bagian Selatan. Ajaran pokok dari filsafat Siwa Sidhanta adalah bahwa Siwa merupakan realitas tertinggi, dan jiwa atau roh pribadi adalah dari intisari yang sama dengan Siwa, tetapi tidak identik. Pati (Tuhan), Pasu (roh) dan Pasa (pengikat) dan 36 Tattwa atau prinsip yang menyusun alam semesta nyata. System filsafat Siwa Siddhanta merupakan intisari saringan dari Wedanta. Sekte Siwa Sidhanta ini merupakan saingan dari aliran filsafat Waisnawisme (Sivananda, 2003:261).
Ajaran sekte Ciwa Sidantha ini termuat dalam lontar Bhuanakosa. Isi lontar Bhuanakosa antara lain adalah sebagai berikut:
a)      Sidhanta adalah singkatan dari sikara yang berarti Rudra, Dhkara yang berarti Iswara dan Antha yang berarti Ciwa. Jadi Sidhanta berarti hakekat beliau yang menguasai dunia yang tiga
b)      Orang yang mendengarkan ajaran Sidhanta akan mendapat pahala yang lebih besar dibandingkan dengan mempelajari semua tattwa maupun yang melakukan persembahan
c)      Sang Hyang sada Ciwa lebih mulia daripada Sang Hyang Siwa. Sang Hyang Parama Ciwa lebih tinggi dari Sang Hyang Sada Ciwa. Beliau tanpa awal dan akhir
d)     Keadaan Sang Hyang Ciwa waktu membuat dunia berwujud Sang Hyang Brahma. Pada waktu memeliharanya berwujud Sang Hyang Wisnu, dan pada waktu meleburnya berwujud Sang Hyang Rudra. Demikian wujud beliau dengan nama yang berbeda
e)      Urutan jenjang pahala yang bisa dicapai dari terndah sampai tertinggi adalah: arcane, mudra, mantra, kuta mantra dan pranawa. Arcane yang dimaksudkan adalah sesaji dan persembahan di pura. Mudra adalaha sikap tangan pada waktu memuja. Mantra adalah pengucapan syair-syair pujaan, yang biasanya juga diikuti dengan doa atau permohonan kepada tuhan. Kuta mantra adalah mantra yang utama, yang merupakan pujaan kepada Ciwa sebagai matahari, yang berbunyi “Om hram, hrim, sah, pramaciwaditya ya namah”. Pranawa adalah pengucapan kata Suci Om, sebagai Mantra yang tertinggi.
f)       Yang menggunakan daun-daunan, tanah, air, dan basma sebagai sarana pembersih dilakahkan oleh menggunakan sarana pembersih dengan ilmu pengetahuan. Hanya pembersihan diri sebagai sarana ilmu pengetahuan yang paling utama diantara semua itu. Dengan ilmu pengetahuan semua mala petaka dapat disirnakan (Mirsha, 1994:41-153) dan (Goris,1974 :13-14)
Sekte Siwa Siddhanta merupakan salah satu sekte pemuja Siwa. Kata Sidhanta merupakan akronim dari kata Sikara  yang berarti Rudra, Dhakara yang berarti Iswara dan Anta yang berarti Siwa. Jadi, Siwa Sidhanta penunggalan dari hakekat Rudra, Iswara dan Siwa. Disamping itu Sikara berarti Prthivi (bumi), Dhakara yang berarti angkasa dan Anta yang berarti sorga. Jadi, Siwa Sidhanta berarti hakekat Siwa yang menguasai ketiga dunia. (Nurkancana, 1997:134). Siwa Siddhanta memiliki cabang yang banyak. Antara lain Pasupata, kalamuka, Bhairawa, Linggayat dan Siwa Siddhanta. Kata Sidhanta berarti intinya dari ajaran Siwaisme. Siwa sidhanta mengutamakan pemujaan kehadapan Tri Purusa, Yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Penganut Hindu dari sekte Siwa Siddhanta meyakini Tuhan adalah Siwa. Salah satu bentuk pemujaan Siwa yang dilakukan oleh pada Pendeta Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut sebagai Mantra Catur Dasa Siwa, yakni empat belas wujud Siwa. Mantra ini digunakan untuk mendapat pengaruh ke-Tuhan yang kuat dan suci serta untuk mendapat kebahagian sekala-niskala. Kaitan Siwa siddhanta dengan panca yajna, yang menggunakan mantra Catur Desa Siwa, pada saat hari raya Siwa ratri, dimana pada saat ini di anggap harinya Siwa.

b.  Sekte Pasupata
Sekte Pasupata juga merupakan sekte pemuja Siwa. Bedanya dengan Siwa Sidhanta tampak jelas dalam cara pemujaannya. Cara pemujaan sekte Pasupata dengan menggunakan Lingga sebagai simbol tempat turunnya/berstananya Dewa Siwa. Jadi penyembahan Lingga sebagai lambang Siwa merupakan ciri khas sekte Pasupata. Perkembangan sekte Pasupata di Bali adalah dengan adanya pemujaan Lingga. Di beberapa tempat terutama pada pura yang tergolong kuno, terdapat lingga dalam jumlah besar. Ada yang dibuat berlandaskan konsepsi yang sempurna dan ada pula yang dibikin sangat sederhana sehingga merupakan lingga semu. Pemujaan Lingga sebagai lambang Dewa Siwa adalah merupakan ciri-ciri khas aliran Pasupata. (Nurkancana, 1997 : 135).

c.  Sekte Waisnawa
Sekte Waisnawa (Sri Sampradaya) yang diperkenalkan oleh Ramanuja Acarya, kira-kira pertengahan abad ke-12. Para pengikut Ramanuja memuliakan Wisnu dan Laksmi beserta inkarnasinya, mereka disebut pengikut Ramanuja atau Sri Sampradayin atau Sri Waisnawa. Para Guru mereka adalah kaum Brahmana dan siswa-siswanya boleh dari golongan manapun. Mereka semua mengulang-ulang Astaksara mantra “Om Namo Narayana”. Mereka menempatkan 2 garis putih dan satu garis merah di tengah pada dahinya.
          Wedanta Desika, seorang pengikut Ramanuja, membuat beberapa perubahan pada kepercayaan Waisnawa. Hal ini menimbulkan formasi dari 2 kelompok ramanuja yang saling bertentangan, yang satu disebut Kelompok Utara (Wedagalai) dan yang lainnya Kelompok Selatan (Tengalai). Para pengikut kelompok Tengalai menganggap Prapatti atau penyerahan diri sebagai satu-satunya cara pembebasan diri. Para pengikut Wedagalai berpendapat bahwa ada satu jalan pembebasan. Menurut mereka, para Bhakti atau pemuja seperti anak kera yang harus mengusahakannya sendiri dan bergantung pada induknya (Markata-Nyaya atau teori kera); sedangkan menurut kelompok Selatan Bhakta atau pemuja adalah seperti anak kucing yang dibawa induknya tanpa suatu usaha bagi dirinya sendiri (Marjara-Nyaya atau teori cengkeraman kucing). Kelompok Utara menerima naskah-naskah Sansekerta yaitu Weda, sedangkan kelompok Selatan sedang menyusun Weda bagi kelompok mereka yang disebut “Nalayira Prabandha” atau Empat Ribu Sloka dalam bahasa Tamil dan menganggap lebih tua dari pada Weda sanskreta. Sesungguhnya ke-4000 sloka mereka didasarkan pada Upanisad, bagian dari Weda.dalam semua pemujaannya mereka mengulang-ulang bagian dari sloka-sloka Tamil mereka.
          Para pengikut Wedanggalai menganggap Laksmi sebagai sakti dari Wisnu dan Laksmi sendiri tak terbatas, tak diciptakan dan layak dipuja sebagai satu cara (upaya) untuk pembebasan. Para pengikut Tengalai menganggap Laksmi sebagai seorang makhluk wanita yang diciptakan, walaupun bersifat Tuhan. Menurut mereka, beliau bertindak sebagai perantara atau menteri (Purusakara) dan bukan sebagai suatu saluran yang layak untuk pembebasan. Kedua sekte ini memiliki tanda-tanda wajah yang berbeda. Para Wadagalai membuat sebuah garis lengkung putih seperti huruf U untuk menyatakan satu-satunya kaki padma Wisnu yang kanan, sebagai sumber dari sugai Gangga. Mereka menambahkan tanda garis merah di tengah sebagai symbol Laksmi. Para Tengalai membuat tanda garis putih seperti huruf Y yang menyatakan kedua kaki padma Wisnu. Mereka menggambar sebuah garis putih separuh, menurun ke hidung.
          Kedua sekte tersebut bercirikan lambang Wisnu, yaitu cakra dan kerang, pada dada, bahu dan lengan mereka. Para pengikut Tengalai melarang para janda diantara mereka dari pencukuran rambut. Nama keluarga dari para Brahmana Ramanuja iasanya adalah Aiyangar, Acarya, Carlu dan acarlu (Sivananda, 2003:145-46).
          Wisnu adalah anggota kedua dari Trimurti yang termasuk di dalamnya adalah Brahma dan Siva. Wisnu juga dikenal dengan nama lain seperti Vasudewa dan Narayana. Sepuluh inkarnasi atau awatara dari Wisnu digambarkan dalam mitologi Hindu kemunculannya memberikan bantuan Tuhan pada berbagai tahap evolusi manusia. Adapun kesepuluh inkarnasi atau awatara dari Wisnu yaitu :
a)     Matsya (ikan); menyelamatkan Rsi Manu dari banjir dan mengembalikan Veda dari raksasa.
b)     Kurma (kura-kura); menjaga bumi di punggungnya.
c)     Varaha (babi hutan); yang membawa Bumi kembali dari dasar lautan di mana ia telah diseret oleh raksasa, yang dikenal dengan nama Hiranyaksa; Varaha yang membunuh raksasa itu.
d)    Narasimha (manusia singa); yang membunuh raja Hiranyakasipu, yang berencana untuk membunuh anaknya sendir, seorang pemuja Wisnu.
e)     Vamana (orang cebol) membunuh raksasa Raja Mahabali, yang mengusir Dewa dari tempat daerah kekuasaanya.
f)      Parasurama (prajurit dengan kapak); yang menyelamatkan Brahma dari tirani ksatria yang arogan.
g)     Rama; membunuh Ravana, Raja raksasa dari Lanka.
h)     Sri Krsna; inkarnasi yang paling terkenal; Krsna memberikan kontribusi selama hidupnya termasuk ajaran Bhagavadgita pada Arjuna.
i)       Buddha: Hindu menganggap bahwa Buddha adalah inkarnasi dari Dewa Wisnu dan menerima ajarannya, tetapi tidak secara langsung memujanya.
j)       Kalkin (manusia yang mengendarai kuda putih); inkarnasi ini belum datang dan akan menandai akhir dari kejahatan di Dunia (Pandit, 2006:206).
Suhardana dalam bukunya Tri Murti berpendapat, peleburan Waisnawa dengan Siwa Sidhanta dapat dilihat dari patung Ardhanareswara dalam bentuk separuh wanita dan separuh pria yang dinamakan Hari Hara. Hari yang artinya Wisnu yang memiliki wanita dan Hara (Siwa) yang memilki pria. Disamping itu, ada pula tokoh Sengguhu yang merupakan golongan pendeta dari kelompok Waisnawa dan mempunyai peranan dalam ritual menjelang Nyepi. (Suharndana, 2008:113). Di sisi lain, sebuah blog yang domainnya bernama Pembelajaran Agama Hindu, menyatakan bahwa peleburan unsur-unsur Sekte Waisnawa ke dalam paham Siwa Sidhanta secara garis besar dapat dilihat dari 2 sisi yaitu: Sisi Upakara dan Sisi Upacara.
a) Sisi Upakara
Dalam upakara dapat dilihat bahwa unsur-unsur Waisnawa ada pada penggunaan:
1)      Sesayut Agung, bentuknya:memakai aled/alas sesayut,tumpeng agung yang dipuncaknya memakai telur itik direbus 1,4 kewangen, 4 bunga yang berwarna hitam, pada saat dihaturkan bertempatkan di utara. Bentuk sesayut ini menggambarkan ciri-ciri dari Wisnu yang merupakan Dewa yang dipuja dalam sekte Waisnawa.
2)      Sesayut Ratu Agung, menggunakan tiga nasi tumpeng dengan puncaknya diisi satu buah telur itik, Bunga cempaka yang ditempatkan pada empat penjuru mengelilingi tumpeng, dua kewangen disandarkan pada tumpeng, dua tulung, sasangahan sarwa galahan, sodan woh, berbagai jenis buah-buahan. Dipersembahkan pada Dewa Wisnu.
3)      Canang Genten, bentuknya: memakai alas yang berupa ceper atau yang berupa reringgitan, disusun dengan plawa (daun), porosan yang berupa sedah berisi apuh dan jambe diikat dengan tali porosan, disusun dengan tempat minyak, bunga dan pandan arum yang bermakna penyatuan pikiran yang suci untuk sujud bhakti kehadapan Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Brahma Wisnu dan Iswara.
4)      Gayah Urip,  mempergunakan seekor babi. Di atas kepala babi tersebut ditancapkan sembilan jenis sate yang berbentuk senjata, yang penempatannya sesuai dengan pengideran nawa dewata. Salah satu dari sate tersebut berbentuk cakra (senjata Dewa Wisnu) dengan puncaknya Amparu ditancapkan disebelah utara (Untram).
5)      Tirta, hampir disetiap upacara menggunakan tirta yang terbuat dari yang telah disucikan. Air merupakan lambang dari Dewa Wisnu.
6)      Banten Catur Rebah: pada banten ini salah satunya menggunakan biyu lurut 4 buah, diletakan di utara sebagai simbol Dewa Wisnu.
7)      Banten Pula Gembal, terdapat beberapa bagian yang mewakili wisnu diantaranya adalah terdapat jajan yang menggambarkan senjata dan salah satunya adalah senjata cakra yang merupakan senjatanya Dewa Wisnu. Adanya unsur Waisnawa dipertegas lagi dalam puja Pula Gembal, yaitu :
Om Ganapati ya namah swaha
Om Ang brahma saraswat Dewaya Namah Swaha
Om Ung Wisnu Sri Dewyo namah swaha
Om Mang Iswara Uma Dewya namah swaha
Om Om Rudra Rudga Dewya namah swaha
Om Sri Guru Byo namah swaha.
b)   Sisi Upacara
Dalam upacara dapat dilihat bahwa unsur-unsur Waisnawa ada pada bentuk upacara seperti dibawah ini:
1)      Upacara Mapag Yeh, dilakukan oleh para krama subak yeh yang ditujukan kepada Dewa Wisnu.
2)      Mabyukukung, upacara ini menggunakan upakara berupa banten dapetan, penyeneng, jerimpen, pangambyan, sodan, canang, raka putih kuning, toya anyar/air bersih baru  di dalam sibuh yang berisi pucuk daun dapdap. Yang dipuja adalah Hyang Sri Laksmi yang merupakan saktinya Dewa Wisnu.
3)      Upacara yang dilakukan pada saat menanam padi, dilaksanakan pada sasih kaulu, kesanga dan kedasa. Dengan menggunakan segehan nasi kepalan (nasi yang di kepal) berwarna hitam, ikan serba hitam, buah yang berwarna hitam, masawen (sawen = penanda) dengan kayu yang berwarna hitam, yang disembah atau dipuja adalah Hyang Guru Wisnu. (Sumber: http://belajaragamahindu.wordpress.com/2010/11/02/unsur-unsur-waisnawa-yang-terdapat-dalam-saiwa-siddhanta/diakses Sabtu, 24 Maret 2012 Pukul 15.05 Wita).
Adanya sekte Waisnawa di Bali dengan jelas diberikan petunjuk dalam konsepsi Agama Hindu di Bali tentang pemujaan Dewi Sri. Dewi Sri dipandang sebagai pemberi rejeki, pemberi kebahagiaan dan kemakmuran. Di kalangan petani di Bali, Dewi Sri dipandang sebagai dewanya padi yang merupakan keperluan hidup yang utama. Bukti berkembangnya sekte Waisnawa di Bali yakni dengan berkembangnya warga Rsi Bujangga.

d.  Sekte Bodha
Adanya sekte Bodha dan Sogatha di Bali dibuktikan dengan adanya penemuan mantra Bhuda tipeyete mentra dalam zeal meterai tanah liat yang tersimpan dalam stupika. Stupika seperti itu banyak diketahui di Pejeng, Gianyar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. W.F. Stutterheim mentra Budha aliran Mahayana diperkirakan sudah ada di Bali sejak abad ke 8 Masehi. Terbukti dengan adanya arca Boddhisatwa di Pura Genuruan, Bedulu, arca Boddhisatwa Padmapani di Pura Galang Sanja, Pejeng, Arca Boddha di Goa Gajah, dan di tempat lain.

e.  Sekte Brahma
Sekte Brahmana menurut Dr. R. Goris seluruhnya telah luluh dengan Siwa Sidhanta. Di India sekte Brahmana disebut Smarta, tetapi sebutan Smarta tidak dikenal di Bali. Kitab-kitab Sasana, Adigama, Purwadigama, Kutara, Manawa yang bersumberkan Manawa Dharmasastra merupakan produk dari sekte Brahmana. Mengenai sekte Rsi di Bali, Goris memberikan uraian yang sumir dengan menunjuk kepada suatu kenyataan, bahwa di Bali, Rsi adalah seorang Dwijati yang bukan berasal dari Wangsa (golongan) Brahmana. Istilah Dewarsi atau Rajarsi pada orang Hindu merupakan orang suci di antara raja-raja dari Wangsa Ksatria.
Sekte Brahmana, adalah  kepercayaan Umat Hindu dengan Dewa Api (Dewa Agni) yang diidentikkan dengan Dewa Brahma, karena perkembangan pemahaman theologi tentang Dewa, Dewa Agni yang pada zaman weda beralih menjadi Dewa Brahma pada zaman upanishad, sama halnya dengan Dewa Waruna menjadi Dewa Wisnu dan beberapa resuffle Dewa yang lainya. Menurut Dr. Goris, Sekte Brahmana seluruhnya telah luluh dengan Siwa Sidhanta. Di India Sekte Brahmana disebut Smarta, tetapi sebutan Smarta tidak dikenal di Bali. Kitab-kitab Sasana, Adigama, parwa digama, kutara, Manawa Dharmasastra yang merupakan produk dari Sekte Brahmana. (Sumber: http://thoriqs.blogspot.com/2011/03/sekte.html diakses Sabtu, 24 Maret 2012 Pukul 14.00 Wita).
Penganut Sekte Brahmana banyak mempersembahkan wujud bhaktinya melalui upacara Dewa Yadnya: mempersembahkan minyak dan biji-bijian kepada Dewa Siwa, Agni (rumusan panca yajna dalam Lontar Agastya Yadnya).  Salah satu upacara yang paling populer dari sekte ini adalah Agni Hotra (Homa Yadnya).Warisan luhur dari Sekte Brahmana berkaitan dengan Panca Yadnya secara riil yang dapat kita lihat sampai sekarang adalah penggunanan api ketika melalukan ritual agama. Penggunaan api dalam ritual agama Hindu bisa berupa dupa, api takep dan dipa.

f.  Sekte Sora
Pemujaan terhadap Surya sebagai Dewa Utama yang dilakukan sekte Sora, merupakan satu bukti sekte Sora itu ada. Sistem pemujaan Dewa Matahari yang disebut Suryasewana dilakukan pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam menjadi ciri penganut sekte Sora. Pustaka Lontar yang membentangkan Suryasewana ini juga terdapat sekarang di Bali. Selain itu yang lebih jelas lagi, setiap upacara agama di Bali selalu dilakukan pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai dewa yang memberikan persaksian bahwa seseorang telah melakukan yajnya. Bukti sekte ini berkembang di Bali dengan adanya mantra dalam kramaning sembah, yang berbunyi
Om Aditiya Syaparam Jyoti,
Rakta teja namo’stute,
Sweta pankaja madhyastha,
Bhaskaraya namo stute.
Terjemahan :
Om sinar suryayang maha hebat, engkau beresinar merah, hormat padamu, engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-Mu pembuat sinar.

g.  Sekte Ganapatya
Sekte Gonapatya adalah kelompok pemuja Dewa Ganesha. Adanya sekte ini dahulu di Bali terbukti dengan banyaknya ditemukan arca Ganesa baik dalam wujud besar maupun kecil. Ada berbahan batu padas atau dai logam yang biasanya tersimpan di beberapa pura. Fungsi arca Ganesa adalah sebagai Wigna, yaitu penghalang gangguan. Oleh karena itu pada dasarnya Ganesa diletakkan pada tempat-tempat yang dianggap bahaya, seperti di lereng gunung, lembah, laut, pada penyebrangan sungai, dan sebagainya. Setelah zaman Gelgel, banyak patung ganesha dipindahkan dari tempatnya yang terpencil ke dalam salah satu tempat pemujaan. Akibatnya, patung Ganesa itu tak lagi mendapat pemujaan secara khusus, melainkan dianggap sama dengan patung-patung dewa lain.
Namun dalam pemikiran Hindu dinyatakan bahwa dengan memuja Ganesa untuk dapat mencapai keberhasilan yang diinginkan dalam dunia fisik dan juga untuk selanjutnya mencapai kesempurnaan. Karena keberhasilan sempurna dalam semua tindakan yang religius sama haknya dengan hubungan di dunia yang merupakan tujuan dari semua manusia. Hindu memuja Ganesa untuk mencari berkah Tuhan sebelum memulai sebuah kegiatan. Untuk alasan inilah, Ganesha dipuja terlebih dahulu sebelum melakukan perayaan atau fungsi keagamaan lainnya. Dalam mitologi Hindu, dewa Ganesa adalah putra dari Dewa Siva dan Dewi Parvati (Pandit, 2006:198).
Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa konsepsi pelinggih Jero Gede mengadopsi konsep Dewa Ganesha. Di Bali aliran Ganapati ini mempengaruhi dalam yajna, misalnya dalam  yajna Resi Gana. Rsi Gana itu bukanlah caru, melainkan suatu bentuk pemujaan kepada Gana Pati/Ganesha (Penguasa/Pemimpin para Gana) sebagai Vignesvara (raja atas halangan). Upacara ini diselenggarakan dengan tujuan supaya manusia terhindar dari berbagai halangan. Namun dalam penyelenggaraan upacara Rsi Gana memang tidak pernah terlepas dari penggunaan caru sebagai landasan upacaranya, sehingga seolah-olah Rsi Gana itu sama dengan caru (kebanyakan orang menyebut dengan istilah Caru Rsi Gana). Upacara Rsi Gana bisa diikuti berbagai macam caru. Adapun jenis caru yang mengikuti upacara Rsi Gana ini tergantung tingkatan Rsi Gana bersangkutan. Rsi Gana Alit diikuti dengan caru ekasata yang lazim dikenal dengan sebutan ayam abrumbunan (seekor ayam dengan bulu lima jenis warna). Rsi Gana Madya diikuti dengan caru pancasata (lima ekor ayam dengan bulu berbeda). Rsi Gana Agung diikuti dengan caru pancakelud ditambah seekor bebek putih, menggunakan seekor kambing sebagai dasar kurban caru. (Sumber: http://cakepane.blogspot.com/2010/06/apakah-caru-segehan-dan-tawur.html, diakses Sabtu, 24 Maret 2012 Pukul 14.30 Wita).

h.  Sekte Bhairawa
Sekte Bhairawa adalah sekte yang memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaan terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di tiap desa pakaman di Bali merupakan pengaruh dari sekte ini. Begitu pula pemujaan terhadap Ratu Ayu (Rangda) juga merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa. Sekte ini menjadi satu sekte wacamara (sekte aliran kiri) yang mendambakan kekuatan (magic) yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi. Ajaran Sadcakra, yaitu enam lingkungan dalam badan dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia juga bersumber dari sekte ini (Nurkancana, 1997 : 136)
Sumber lain menyatakan Bhairawi yaitu dewi sebagai fenomena spiritual selalu melibatkan 2 kategori eksklusif; keindahan/kecantikan (beaut) disatu sisi dan kemurkaan/ketakutan (dangerous) pada sisi lainnya. Kecantikan/keindahan spiritual adalah pesona yang menarik kita untuk mendekatinya. Kemurkaan/ketakutan adalah bahaya yang membuat kita cepat-cepat menyingkir dan menjauh. Bhairawi adalah penampilan murka ilahi yang powerful dan energetic. Ia mewakil unsur tejas/agni (api, panas/cahaya) sebuah energi pembakar yang apabila murka akan mengancam segala sesuatu. Api yang berkobar dalam spirit Bhairawi akan membakar dan menghanguskan rasa kakuan kita. Karena itu Bhairawi digambarkan sebagai Dewi yang berwajah seram dan menakutkan. Ia sangat mengerikan bagi orang yang mencintai kesenangan material dan mereka yang terikat kecenderungan egoistiknya (egsentric existence). Pengaruh ego didalam diri kita identik dengan kekaburan batin/kekotoran (mala) seperti “gumpalan sampah” dari negative force pikiran kita. Bhairawi dengan api spiritualnya yang dahsyat menolong para aspiran spiritual mengobarkan api kesucian hati untuk menyingkikan energi negative. Inilah pesona beauty tersembunyi yang ditampilkan Sang Ibu yang penampilannya menyeramkan (Yudhiantara, 2003:55-56).
Menurut R. Goris, ada bentuk tertinggi dari kemoksaan atau kelepasan menurut sekte Bhairava dengan praktek yang disebut Panca Tattwa atau lazim disebut dengan istilah Panca-Ma (kara), yaitu Madya (alkohol), Mangsa/Mamsa (daging), Matsya (ikan), Mudra (sikap tangan), dan Maithuna (persetubuhan) yang pada penggunaan ritual menyebabkan ekstase yang tertinggi. Namun kini praktek keseluruhan ajaran ini tidak ditemukan lagi di Indonesia. Walaupun tidak semua Panca tattwa ini terlaksana, ada bagian-bagian lain msih tetap menggunakannya, misalnya daging dan darah sebagai persembahan Bhuta yajna, masih relepan ditemukan di bali, terutama saat mecaru. Mecaru merupakan persembahan kepada sang bhuta kala agar dapat menyeimbangkan semua mahluk yang tercita di Dunia.

2.  Kristalisasi Sekte-sekte dalam Sivasiddhanta
Pada tahun Saka 910 (988 M), Bali diperintah raja Dharma Udayana. Permaisurinya berasal dari Jawa Timur bernama Gunapria Dharmapatni (putri Makutawangsa Whardana). Pemerintahan Dharma Udayana dibantu beberapa pendeta yang didatangkan dari Jawa Timur. Antara lain Mpu Kuturan. Mpu Kuturan diserahi tugas sebagai ketua majelis tinggi penasehat raja dengan pangkat senapati, sehingga dikenal sebagai Senapati Kuturan.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, sebelum pemerintahan suami istri Dharma Udayana/Gunapria Dharmapatni (sejak awal abad ke 10), di Bali telah berkembang berbagai sekte. Pada mulanya sekte-sekte tersebut hidup berdampingan secara damai. Lama-kelamaan justru sering terjadi persaingan. Bahkan tak jarang terjadi bentrok secara fisik. Hal ini dengan sendirinya sangat menganggu ketentraman Pulau Bali. Sehubungan dengan hal tersebut, raja lalu menugaskan kepada Senapati Kuturan untuk mengatasi kekacauan itu. Atas dasar tugas tersebut, Mpu Kuturan mengundang semua pimpinan sekte dalam suatu pertemuan yang dilakukan di Bataanyar (Samuan Tiga). Pertemuan ini mencapai kata sepakat dengan keputusan Tri Sadaka dan Kahyangan Tiga.
Ada tujuh Maha Rsi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekta-sekta yang jumlahnya ratusan.  Sekta-sekta yang terbanyak pengikutnya antara lain: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Sidhanta. Sekta Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India tengah) kemudian menyebar ke Indonesia. Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini yang berasal dari pasraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain: Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu.  Yang populer di Bali adalah nama Trinawindu atau Bhatara Guru, begitu disebut-sebut dalam lontar kuno seperti Eka Pratama.
Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekta Siwa yang lain. Sidhanta artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidanta artinya kesimpulan dari Siwaisme.  Kenapa dibuat kesimpulan ajaran Siwa? Karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas. Bagi penganut Siwa Sidhanta kitab suci Weda-pun dipelajari yang pokok-pokok/intinya saja; resume Weda itu dinamakan Weda Sirah (sirah artinya kepala atau pokok-pokok). Lontar yang sangat populer bagi penganut Siwa Sidhanta di Bali antara lain Wrhaspati Tattwa. Pemantapan paham Siwa Sidhanta di Bali dilakukan oleh dua tokoh  terkemuka yaitu Mpu Kuturan dan Mpu/Danghyang Nirartha.
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.  Seperti disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan keagamaan yang bersifat sektarian. Ada sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Diantara sekte-sekte tersebut Siwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan (Ardhana 1989:56). Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa Istadewatalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah. Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa didalam tubuh masyarakat Bali Aga.
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negative pada hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Akibat yang bersifat negative ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya Dharmapatni sudah dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur.  Oleh karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersekepatan untuk mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:
a) Mpu Semeru, dari sekte Ciwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, bertepatan dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka yaitu tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.
b) Mpu Ghana, penganut aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku Kuningan tanggal 7 tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgel
c) Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padang)
d) Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku Dungulan, bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis (Lempuyang)
Sebenarnya keempat orang Brahmana ini di Jawa Timur bersaudara 5 orang yaitu adiknya yang bungsu bernama Mpu Bharadah ditinggalkan di Jawa Timur dengan berparhyangan di Lemahtulis, Pajarakan.  Kelima orang Brahmana ini lazim disebut Panca Pandita atau “Panca Tirtha” karena beliau telah melaksanakan upacara “dwijati” yaitu menjalankan dharma “Kabrahmanan”.  Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bata Anyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu, yaitu:
a)      Dari pihak Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidang
b)      Dari pihak Ciwa diwakili oleh Mpu Semeru
c)      Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga
Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali, yang terdiri dari berbagai aliran.  Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa. Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut “Siwa Budha” sebagai persenyawaan Siwa dan Budha. Semenjak itu penganut Siwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (Pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama:
a)      Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)
b)      Pura Puseh untuk memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa
c)      Pura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Siwa sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa (Soeka, 1993:8).
Ketiga pura tersebut disebut Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Siwa Budha di Bali.  Dalam Samuan Tiga juga dilahirkan suatu organisasi “Desa Pakraman” yang lebih dikenal sebagai “Desa Adat”. Dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, sosial, dan spiritual.  Jika sebelum keempat Brahmana tersebut semua prasasti ditulis dengan menggunakan huruf Bali Kuna, maka sesudah itu mulai ditulis dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). Akhirnya di bekas tempat rapat itu dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Samuan Tiga.
Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih. Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider). Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra. Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.
Mpu Jiwaya, Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9). Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll. Danghyang Dwijendra Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Atas wahyu Hyang Widhi di Purancak, Jembrana, Beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa.  Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana. Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal. Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat Pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.
Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.  Karya sastra beliau yang terkenal antara lain: Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll. Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana. Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-Pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya: Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.
Ke-enam tokoh suci tersebut telah memberi ciri yang khas pada kehidupan beragama Hindu di Bali sehingga terwujudlah tattwa dan ritual yang khusus yang membedakan Hindu-Bali dengan Hindu di luar Bali. Di bidang tattwa misalnya, ciri khas yang paling menonjol adalah penyembahan Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Trimurti dan Tripurusa dalam bentuk palinggih Kemulan Rong Tiga dan Padmasana yang dikembangkan masing-masing oleh Mpu Kuturan dan Mpu/Danghyang Nirartha.
Di bidang ritual ciri khas Hindu-Bali yang terpenting adalah adanya bebali atau banten yang dikembangkan oleh Danghyang Markandeya dan Mpu Sangkulputih. Sejarah kemudian membuktikan bahwa walaupun di Nusantara telah berkembang Agama lain seperti Islam dan Kristen, Bali tetap dapat bertahan pada Hindu karena agama Hindu telah membudaya mewujudkan jati diri orang-orang Bali yang mengagumkan Dunia. Zaman sudah globalisasi, dunia yang tanpa batas, pengaruh budaya luar terus menerus menghantam ketahanan orang-orang Hindu. Bermula dari perubahan nama Agama di era Orde Baru, di mana Agama Hindu-Bali dirubah menjadi Agama Hindu Dharma. Ini merupakan tonggak bagi sebagian kecil penduduk dari suku-suku: Batak Karo, Dayak, Banten, Jawa, dll. mendapat pengakuan pada keyakinan spiritualnya di luar Agama yang sudah ada, menjadi tertampung dalam Hindu Dharma.
Dengan demikian Hindu Dharma akan mampu memberikan acuan yang lengkap mengenai Tattwa, Susila dan Upacara kepada saudara-saudara se-dharma di luar Bali, karena sudah ratusan generasi meninggalkan Hindu atau tidak bersentuhan dengan Hinduan seperti yang berkembang di Bali Hindu Dharma harus mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh ke enam tokoh suci yang disebutkan di atas. Karena Bali saat ini banyak sekali aliran-aliran bermunculan dan saling bertentangan seperti abad ke 10 sebelum kedatangan Mpu Kuturan di Bali. Dalam perkembangan globalisasi saat ini Hindu Dharma sudah melakukan reformasi kelembagaan yaitu:
a.       Parisadha Hindu Dharma secara khusus sebagai lembaga umat yang menangani masalah-masalah agama sehingga Tattwa, Susila dan Upacara menjadi sesuatu yang utuh sebagai manifestasi hubungan vertical (hubungan religius)
b.      Lembaga Adat (Majelis Desa Pekraman untuk di Bali) secara khusus menangani masalah-masalah Adat sebagai manifestasi hubungan Horisontal.(hubungan social) Hindu Dharma adalah agama SIWA BUDHA yang social religius. Semoga atas wahyu Hyang Widhi pemikiran-pemikiran cemerlang datang dari segala arah

3.  Panca Yajna bentuk Kristalisasi Sekte-Sekte dalam Sivasiddhanta
Ada beberapa sastra yang menekankan akan pentingnya melaksanakan panca Yajna yaitu Manawadarmasastra IV sloka 21 “bahwa hendaknya jangan lupa, jika mampu melaksanakan Rsi Yajna, Deva Yajna, Manusa Yajna, Pitra Yajna dan Bhuta Yajna” dan Agastya parwa 35.b “adapun perincian panca Yajna yaitu Dewa Yajna, Rsi Yajna, Pitra Yajna, Manusa Yajna dan Bhuta Yajna”. Melakukan upacara Yajna adalah merupakan langkah yang di yakini sebagai kegiatan beragama Hindu yang amat penting. Karena Yajna adalah salah satu penyangga Bumi. Demikian disebutkan dalam kitab Atharwa Weda. Pemeliharaan kehidupan di Dunia ini dapat berlangsung terus sepanjang Yajna terus-menerus dapat dilakukan oleh umat manusia. Demikian pula Yajna adalah pusat tercitanya alam semesta atau Bhuana Agung sebagai diuraikan dalam kitab Yajur Weda. Disamping sebagai pusat terciptanya alam semesta, Yajna juga merupakan sumber berlangsungnya perputaran kehidupan yang dalam kitab Bhagawadgita di subut cakra Yajna. Jika cakra Yajna ini tidak berputar maka kehidupan ini akan mengalami kehancuran. Upacara agama adalah salah satu bagian dari pelaksanaan Yajna sebagai dasar pengembalian Tri Rna. Weda mengajarkan Tuhan menciptakan alam semesta ini berdasarkan Yajna, karena itu manusia yang bermoral akan merasa berhutang kepada Tuhan. Untuk menyampaikan rasa berhutang itu umat Hindu melakukan panca Yajna diantaranya Dewa Yajna, Bhuta Yajna, pitra Yajna, Manusa Yajna, Resi Yajna.
Panca Yajna wajib dilakukan oleh setiap orang sebagai kepala keluarga untuk menembus dosa-dosanya yang ditimbulkan oleh pemakai lima alat penyemblihan. (Manawa Dharma Sastra III 69.71). liama alat penyemblihan itu yaitu: dapur, tempat air, lumpang, talenan, dan tempat menumbuk bumbu masak. Ada lima unsur penyucian yang dikandung dalam upacara agama:
1)      Mantra yaitu doa-doa yang harus diucapkan oleh umat kebanyakan, pinandita, dan pendeta sesuai dengan tingkatannya.
2)      Yantra yaitu alat atau simbol-simbol keagamaan yang diyakini mempunyai kekuatan spiritual untuk meningkatkan kesucian.
3)      Tantra yaitu kekuatan suci dalam diri yang dibangkitkan dengan cara-cara yang ditetapkan dalam kitab suci.
4)      Yajna yaitu pengabdian yang tulus iklas atas dasar kesadaran untuk dipersembahkan. Ketulusikhasan ini akan dapat meningkatkan kesucian.
5)       Yoga artinya mengendalikan gelombang-gelombang pikiran dalam alam pikiran untuk dapat berhubungan dengan Tuhan.  Pengendalian dalam yoga ada delapan tahapan yang disebut: asta yoga, yang meliputu: yama, nyama, asana, pranayama, darana, dhiyana, dan samadhi. 
Dalam manawa Dharma sastra sloka 81 menyebutkan bahwa rumusan panca Yajna antara lain :
1)      Swadyaya Yajna: mengabdi kepada guru suci, sembahyang kepada Resi dengan mengucapkan Veda.
2)      Dewa Yajna: menghaturkan persembahan buah-buahan yang telah masak
3)      Pitra Yajna: menghaturkan persembahan upacara sradha kepada leluhur
4)      Nara Yajna: memberikan makanan kepada masyarakat.
5)      Butha Yajna: menghaturkan upacara bali karma kepada butha
Dalam sloka 74 Manawa Dhrama Sastra, panca yadnya diuraikan dengan istilah yang amat berbeda yaitu sebagai berikut:
1)      Ahuta: mengucapkan doa-doa suci Weda
2)      Huta: persembahan dengan api homa
3)      Prahuta: upacara bali yang ditujukan kepada butha
4)      Brahmahuta: menghormati para Brahmana
5)      Prasita: persembahan kepada para pitara
Di dalam Gautama Dharma Sastra, panca yadnya dirumuskan hanya tiga Yajna dan amat berbeda dengan yang termuat dalam kitab-kitab lain. Tiga Yajna itu yakni:
1)             Dewa Yajna: persembahan kepada hyang Agni dan Dewa Samodaya
2)             Butha Yajna: persembahan kepada loka pala (Dewa Pelindung) dan para Dewa penjaga pintu pekarangan (penungun karang).
3)             Brahma Yajna: pembacaan ayat-ayat suci Weda.
Sumber-sumber di Indinesia yang lebih sesuai dengan kenyatan-kenyataan yang dilaksanakan oleh umat Hindu Di Indonesia. Sumber-sumber di Indonesia itu adalah Lontar Korawa Srama, Lontar Singalanghyala dan Lontar Agastya Parwa.  Dalam Korawa Srama Panca yadnya disebutkan sebagai berikut :
1)             Dewa Yajna: sembah dengan sesajen dan mengucapkan sruti dan stawa pada waktu bulan purnama.
2)             Resi Yajna: mempersembahkan punia, buah-buahan, makanan dan barang-barang yang tidak mudah rusak kepada para Resi.
3)             Butha Yajna: mempersembahkan puja dan caru
4)             Manusa Yajna: memberi makanan kepada masyarakat
5)             Pitra Yajna; mempersembahkan puja dan Bali atau bebanten
Adapun rumusan panca Yajna dalam Lontar Agastya Yadnya antara lain:
1)             Dewa Yajna: mempersembahkan minya dan biji-bijian kepada Dewa Siwa, Agni, di tempat pemujaan Dewa.
2)             Resi Yajna: menghormati pendeta dan membaca kitab suci
3)             Pitra Yajna: upacara kematian agar Roh mencapai Siva
4)             Butha Yajna: mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelengarakan upacara tawur dan panca wali krama.
5)             Manusa Yajna: memberi makanan pada masyarakat.




a. Deva Yajna
Dewa Yajna adalah yajna yang dipertuntuhkan atas rasa bhakti kepada Tuhan (Beberapa Kegiatan upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada hari-hari raya tertentu yang akan ditengahkan berikut ini berdasarkam pada lontar Sundarigama antara lain:
a) Hari Purnama dan Tilem
Pada hari purnama maupun tilem (bulan mati) adalah hari beryoganya sanghyang wulan (bulan) dan matahari. Pada hari ini sepatutnya melaksanakan upacara bersuci diri lahir bathin dengan jalan menghaturkan canang burat wangi, lenga wangi dan sejenisnya, dihaturkan di tempat pemujaan masing-masing kelurga yang dilanjutkan dengan mohon tirta.
b) Hari raya yang berdasarkan pawokun
1.         Hari senin pon, wuku sinta (soma ribek): Hari pemujaan terhadap Dewi Sri(sekte waisnawa), menghaturkan upacara di lumbung serta peyimpanan beras. Upakaranya berupa : nyahnyah geringsing, geti-geti, pisang mas serta wangi-wangian
2.         Hari selasa wage wuku sinta (sabug mas): Hari penyucian terhada Dewa Mahadewa, menghaturkan upakara pada kekayaan berupa mas, permata, dll. Upakaranya berupa: suci 1, pras penyeneng, sesayut merta sari lenga wangi burat wangi dan pesucian.
3.         Hari rabo kliwon wuku sinta (buda kliwon pagerwesi): Hari payoganya Sang Hyang Siwa (sekte Siwa) dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pranesti guru. Upakaranya berupa :suci 1, 1 daksina, 1 pras penyeneng, sesayut panca lingga, penek, ajuman, serta buah-buahan, menghaturkan segehan yang lengkap dengan tetabuhan: arak, tuak, berem dan air putih (sekte Bhairawa).
4.         Hari sabtu kliwon wuku landep, disebut Tumpek landep: Hari payoganya Bhatara Siwa (sekte siwa) serta manifestasinya Hyang Pasupati. Upakara yang dihaturkan kepada Bhatara Siwa berupa: tumpeng putih kuning satu dulang, daging-dagingan ayam (sekte bhairawa), ikan asin, terasi warna merah, sedah who 25 biji. Dan upakara dihaturkan kepada Hyang Pasupati berupa: sesayut pasupati, sesayut jayeng perang, 1 suci, daksina, peras, canang wangi, pesucian. Upakara ini berfungsi untuk memohon pentajaman pikiran kepada Hyang Pasupati.
5.         Hari selasa kliwon wuku kulantir: Hari puja walinya Bhatara Maha Dewa. Upakaranya berupa :serba kuning terdiri dari nasi pangkonan kuning, daging ayam warna putih (ayam siungan) diolah berupa betutu (Sekte Bhairawa), sedah who 22, pemujaan dilaksanakan pada kemulan.
6.         Hari sabtu kliwon wuku wariga (tumpek pengaduh): Pemujaan dilaksanakan pada Sang Hyang Sangkara (Dewa Siwa) sebagai bentuk melestarikan tumbuh-tumbuhan. Upakaranya berupa: pras, tulung, sesayut pangambeyan, bubur suyuk, tumpeng agung, dagingnya babi guling atau guling itik (sekte Bhairawa), buah-buahan, penyeneng dan tatebus, pemujaannya kepada sarwa tumbuh-tumbuhan.
7.         Hari kamis wage wuku sungsang (sugihan jawa): Hari in adalah hari pembersihan alam semesta dan segala isinya guna menyambuut hari raya galungan(sekte Ganesha).
8.         Hari jumat kliwon wuku sungsang (sugihan bali): Hari ini adalah hari pembersihan diri dengan melaksanakan tirtha gocara.
9.         Hari selasa wage wuku dungulan (penampahan): Prakteknya pada hari ini dilaksanak pemotongan hewan untuk persiapan hari raya galungan (sekte Bhairawa) pada sore harinya umat memasang penjor, pacanigaan dan gantungan di palinggih-palinggih.
10.     Hari rebo kliwon wuku dungulan (galungan): Melaksanakan persembahyangan kepada para leluhur dan para Dewa dan tempat-tempat lain seperti tempat tidur, air, tempat suci, lesung dll. Upakara dipersembahkan di pagi hari sebelum matahari condong ke barat, diikuti dengan persembahyangan dan memohon tirta (sekte Waisnawa) dan bija (Sekte waisnawa).
11.     Hari sabtu kliwon wuku kuningan (kuningan): Hari ini adalah hari pujawali Bhatara Wisnu (sekte waisnawa). Upakaranya berupa: sedah ingapon, putih ijo, jambe, 26 ireng tumpeng upakara ini dihaturkan di Sanggah dan yang diakhiri dengan persembahyangan.
12.     Hari buda wage wuku kelawu: Hari pujawalinya Bhatara Rambut Sedana, upakaranya berupa: suci, ajuman, pras penyeneng, sodan putih kuning. Upakara ini dipersembahkan kepada Bhatara Rambut Sedana.
13.     Saniscara kliwon wuku uye (tumpek kandang): Pelaksanakan upakaranya dilakukan melalui binatang-binatang besar berkaki empat. Jenis upakara di Sanggar yang dipersembahkan kepada Siwa dalam manifestasinya sebagai Rare Anggon berupa: suci, peras, daksina, penyeneng, canang lenga burat wangi dan pasucian. Upakara jenis binatang besar berupa: tumpeng tatebasan, pareresikan, penyeneng dan jarimpen. Upakara jenis babi berupa: canang raka, anaman, balekok dan blayag. Upakara jenis burung berupa : penyeneng tetebus dan kembang pahyas.
14.     Hari sabtu kliwon wuku wayang (tumpek wayang): Hari ini merupakan pujawalinya dewa iswara, dengan jenid upakara berupa: suci, peras, ajengan, dagingnya itik putih (sekte waisnwa), sedah woh, canang raka, pesucian. Adapun makna simbolisnya adalah Sang Hyang Iswara sebagai dalang, dan perbuaatn adalah sebagai penguntapannya.
15.     Saaniscara wuku umanis wuku watugunung (hari Saraswati): Hari raya saraswati dalah hari peringatan turunnya ilmu pengetahuan yang merupakan sakti dari dewa Brahma. Dengan menggunakan upakara tingkat kanista (sederhana) berupa banten saraswati, canang burat wangi lenga wangi dan kumkuman air bunga. Tingkat lebih besar banten saraswati, ajuman, peras, daksina, dan rayuan putih kuning. Atau juga tingkat utama (besar) berupa: suci, peras, daksina, kembang pahyas, canang biasa, sesayut saraswati, segara gunung, rayuan, prangkatan putih kuning, buah-buahan dan wangian selengkapnya.
16.     Hari minggu pon wuku sinta (banyu pinaruh): Pelaksanaan dengan jalan berbersih diri di sumber mata air saat matahari terbit di ufuk timur, berkeramas dan berkumkuman (air bunga). Setelah pagi makan nasi kuning bersama-sama keluarga
c)  Hari raya yang berdasarkan pada panca wara
1.      Hari kliwon: Pemujaan terhadap Bhatara Siwa, dan bentuk upakara berupa segehan.
2.      Hari selasa kliwon (anggra kasih): Hari ini beryoganya bhatara Rudra, beliau beryoga untuk menghilangkan mala petaka. Upakara yang dipersembahkan canang, lenga wangi burat wangi, dipersambahkan di sanggar dan plangkiran
3.      Hari rebo kliwon: Hari pesucian Sang Hyang Bayu. Upakaranya berupa: wangi-wangi, canang yasa, kembang phayas, dipersambahkan di sanggar dan plangkiran.
4.      Hari rebo wage (buda cemeng): Hari payoganya Bhatari Manik Galih, menurunkan sumber kehidupan di Dunia. Upakaranya berupa: canang lenga wangi, dipersembahkan ke Hyang Sri Nini.
5.      Hari sabtu kliwon (tumpek): Hari ini peyogannya Hyang Maha Wisesa (Tuhan maha pencipta).
d) Upacara pada hari-hari tertentu
1.      Pada waktu gerhana bulan: Upakaranya berupa: canang lenga wangi burat wangi, buah-buahan, bubur biaung, penek putih kuning adananan, beserta bunga yang berbau harum, rujak rantasan putih dan dupa astanggi.
2.      Pada waktu gerhana matahari: Upakaranya sama dengan upacara pada gerhana bulan (sekte sora).

b. Rsi Yajna
Rsi Yajna adalah pengorbanan suci kepada para Rsi. Rsi Yajna berarti kurban suci keagamaan dari umat demi kesejahteraan para Rsi atau punia bagi para rsi sebagai pemuka agama yang mengamalkan ajarannya. Tujuan dari Rsi Yajna ini adalah untuk menyucikan diri sesseorang secara lahir bhatin sehingga menjadi sulinggih serta dapat meningkatkan kesejahteraan. Pelaksanaan Rsi Yajna yaitu:
a.       Mawinten adalah upacara penobatan sebagai pandita
b.      Madiksa adalah upacara madwijati dari seorang walaka untuk dinobatkan menjadi sulinggih
c.       Membangun tempat pemujaan untuk beliau
d.      Menghaturkan dana punia kepada para Sulinggih
e.       Mentaati dan mengamalkan ajaran-ajaran para Sulinggih
f.       Membantu pendidikan agama bagi calon sulinggih
Rangkaian upacara diksa, yaitu sebagai berikut:
1.      Upacara majamuan
2.      Sembah pamit kepada keluarga
3.      Upacara mapinton yaitu upacara membersirkan diri asucilaksana
4.      Upacara puncak yang terdiri dari upacara mati raga atau penyekeban, upacara mandi, dan upacara puncak
5.      Loka Pala Sraya, upacara ini terdiri dari upacara ngalinggihang weda dan upacara Matirtayatra
Dalam melaksanakan suatu upacara yang besar seperti Tawur Kesangga, Panca walikrama, Eka Dasa Rudra biasanya yang muput adalah Sang Tri Sadaka. Sang Tri Sadaka yang dimaksud adalah sulinggih Siwa, Buddha, atau sering juga diucapkan Sang Resi, Siwa dan Sogata. Ketika sulinggih ini mempunyai wewenang khusus sebagai berikut:
1)      Sang sulinggih Siwa: sebagaipembersih atau menyucikan alam atas yaitu akasa. Melalui pujanya Sang Sulinggih Siwa berwenang menghaturkan munggah ke sanggar surya yang maksudnya mempersembahkan yadnya dari alam atas ke bawah. Sulinggih Siwa berasal dari mazab Siwa. Artinya sulinggih Siwa memiliki keahlian menyucikan alam atas dan menurunkan kekuatan dari Sang Hyang Widhi.
2)      Sang sulinggih Buddha: mempersembahkan atau menghaturkan yadnya pada alam tengah atau awing-awing. Sang Sulinggih Buddha berasal dari mazab Buddha yang memiliki keahlian menyucikan alam tengah dan mempertemukan kekuatan suci Hyang Widhi dengan kekuatan Bhuta kala yang telah di somya di alam bawah.
3)      Sang Sulinggih Resi, Bujangga, Sengghu: beliau mempunyai wewenang sebagai pembersih atau menyucikan alam bawah (bumi sapuh jagat). Beliau mempunyai keahlian menyucikan alam bawah dan untuk nyupat Bhuta Kala atau menetralisir kekuatan-kekuatan Bhuta kala sehingga menjadi somya

c. Manusa Yajna
Manusa Yajna adalah korban suci yang bertujuan untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir bathin manusia mulai dari sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai pada akhir hidup manusia itu. Pembersihan lahir bathin manusia sangat perlu di lakukan selama hidupnya, karena kebersihan itu dapat menimbulkan adanya kesucian. Kebersihan (kesucian) secara lahir bathin ini dapat menghindarkan manusia itu sendiri dari jalan yang sesat. Dengan kebersihan tersebut, manusia akan dapat berpikir, berkata dan berbuat yang benar sehingga dapat meningkatkan dirinya ke taraf hidup yang lebih sempurna. Unsur-unsur pembersihan di dalam Upacara Manusa Yajna dapat di ketahui dengan adanya upakara-upakara seperti tirtha panglukatan atau tirtha pembersihan dan lain sebagainya. Tirtha-tirtha ini adalah air suci yang telah di berkati oleh sang sulinggih pandita (pendeta), sehingga air suci tersebut mempunyai “twah“ (wasiat), yang secara spiritual dapat menimbulkan adanya kebersihan (kesucian) itu. Di dalam Manusa Yajna, pada dasarnya terdapat empat rangkaian upacara yang satu dengan yang lainnya tidak dapat di pisahkan. Adapun upacara-upacara tersebut antara lain adalah Upacara Mabhyakala (Mabhyakaonan), Upacara Melukat (Mejaya-jaya), Upacara Natab (Ngayab), dan Upacara Muspa. Masing-masing upacara ini mempunyai maksud dan tujuan-tujuan tertentu. Sedangkan untuk jenis-jenis Upacara Manusa Yajna, di antaranya yaitu :
a.   Upacara Pagedong-gedongan
(Garbha Wedana atau Upacara Bayi dalam Kandungan) Upacara ini bertujuan memohon kehadapan Hyang Widhi agar bayi yang ada di dalam kandungan itu di berkahi kebersihan secara lahir bathin. Demikian pula ibu beserta bayinya ada dalam keadaan selamat dan dikemudian setelah lahir dan dewasa dapat berguna di masyarakat serta dapat memenuhi harapan orang tua. Di samping perlu adanya upacara semasih bayi ada di dalam kan-dungan, agar harapan tersebut dapat berhasil, maka si ibu yang sedang hammil perlu melakukan pantangan-pantangan terhadap perbuatan atau perkataan-perkataan yang kurang baik dan sebaliknya mendengarkan nasehat-nasehat serta membaca membaca buku-buku wiracarita atau buku lain yang mengandung pendidikan yang bersifat positif. Sebab tingkah laku dan kegemaran si ibu di waktu hamil akan mempengaruhi sifat si anak yangmasih di dalam kandungan.
b.   Upacara Bayi Lahir.
Upacara ini merupakan cetusan rasa gembira dan terima kasih serta angayu Bagia atas kelahirannya si bayi kedunia dan mendoakan agar bayi tetap selamat serta sehat walafiat. Pada saat bayi lahir, yang perlu juga di perhatikan adalah upacara perawatan Ari-ari. Ari-ari ini di cuci dengan air bersih atau air kumkuman, kemudian di masukkan ke dalam sebutir kelapa yang di belah dua dengan Ongkara (pada bagian atas) dan Ahkara pada bagian bawah. Kelapa tersebut di bungkus dengan kain putih kemudian di pendam (di tanam) di muka pintu rumah (yang laki di sebelah kanan dan yang perempuan di sebelah kiri). Setelah di tanam pada bagian atasnya hendaknya di isi daun pandan yang berduri dengan tujuan untuk menolak gangguan dari kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif.
c.   Upacara Kepus Puser
Upacara ini juga di sebut Upacara Mapanelahan. Setelah puser itu putus maka puser tersebut di bungkus dengan secarik kain, lalu di masukkan ke dalam sebuah tipat kukur yang di sertai dengan bumbu-bumbu dan kemudian tipat tersebut di gantungkan di atas tempat tidur si bayi. Mulai saat inilah si bayi di buatkan Kumara, yaitu tempat memuja Dewa Kumara sebagai pelindung anak-anak.
d.   Upacara Bayi berumur 42 hari.
 Upacara ini disebut juga upacara tutug kambuhan. Pada usia 42 hari bayi di buatkan upacara Macolongan. Tujuannya adalah memohon pembersihan dari segala keletehan (kekotoran dan noda), terutama si ibu dan bayinya di beri tirtha pangklutan pabersihan, sehingga si ibu dapat memasuki tempat tempat suci seperti Pura, Merajan dan sebagainya.
e,   Upacara Nyambutin
Upacara Nyambutin ini diadakan setelah bayi tersebut berumur 105 hari. Pada umur ini si bayi telah di anggap suatu permulaan untuk belajar duduk, sehingga di adakan upacara Nyambuitn di sertai dengan upacara “Tuwun di pane“ dan mandi sebagai penyucian atas kelahirannya di Dunia. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar jiwatman si bayi benar-benar kembali kepada raganya.
f.       Upacara Satu Otonan
Upacara satu oton atau yang di sebut dengan Otonan ini di lakukan setelah bayi berumur 210 hari, dengan mempergunakan perhitungan pawukon. Upacara ini bertujuan agar segala keburukan dan kesalahan-kesalahan yang mungkin di bawa oleh si bayi dan semasa hidupnya terdahulu dapat di kurangi atau di tebus, sehingga kehidupan yang sekarang benar-benar merupakan kesempatan untuk memperbaiki serta meningkatkan diri untuk mencapai kehidupan yang sempurna. Serangkaian pula dengan Upacara Otonan ini adalah upacara pemotongan rambut yang pertama kali, yang bertujuan untuk membersihkan ubun-ubun (Siwa Dwara). Pelaksanaan upacara satu oton ini juga di maksudkan untuk memohon kehadapan Ibu Pertiwi agar ikut mengasuh si bayi sehingga si bayi tidak mendapatkan kesulitan, selamat dan tumbuh dengan sempurna. Untuk ini di adakan pula upacara turun tanah yang di injakkan untuk pertama kalinya di beri gambar bedawang nala sebagai lambang dasar dunia, sedangkan si bayi di tutupi dengan sangkar yang di sebut sudamala.
g.      Upacara Meningkat Dewasa (Munggah Daa).
Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar yang bersangkutan di berikan petunjuk atau bimbingan secara gaib sehingga ia dapat mengendalikan diri dalam menghadapi masa pancaroba. Upacara ini pada umumnya di titikberatkan pada anak perempuan. Hal ini mungkin di sebabkan karena wanita di anggap kaum yang lemah serta lebih banyak menanggung akibat pertimbangan-pertimbangan. Di samping itu, menurut Hindu bahwa kaum wanita dapat di anggap sebagai barometer tingi rendah atau baik dan buruknya martabat dari suatu keluarga dan lain-lain.
h.   Upacara Potong Gigi
Upacara ini dapat di lakukan baik terhadap anak laki-laki maupun anak perempuan yang sudah menginjak dewasa. Dalam Upacara potong gigi ini, maka gigi yang di potong ada 6 (enam) buah, yaitu empat buah gigi atas dan dua buah lagi gigi taring atas. Secara rohaniah pemotongan terhadap ke enam gigi tersebut merupakan simbolis untuk mengurangi ke enam sifat Sad Ripu yang sering menyesatkan dam menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan atau kesengsaraan. Sifat-sifat Sad Ripu yang di maksud adalah nafsu birahi, kemarahan, keserakahan, kemabukkan, kebingungan dan sifat iri hati. Tetapi secara lahiriah, pemotongan gigi itu dapat pula di anggap untuk memperoleh keindahan, kecantikan dan lain sebagainya. Pelaksanaan Upacara Potong gigi ini bertujuan, di samping agar yang bersangkutan kelak nanti setelah mati dapat bertemu dengan para leluhurnya dan bersatu dengan Hyang Widhi, juga agar yang bersangkutan selalu sukses dalam segala usaha, terhindar dari segala penyakit serta dapat mengendalikan diri dan mengusir kejahatan.
a.       Upacara Perkawinan.
Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian, baik kehadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas, bahwa kedua mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri yang sah. Di samping itu, di tinju dari segi rohaniah, upacara perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang mempelai, terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun perempuan (Sukla dan Swanita), apabila bertemu agar bebas dari pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna. Upacara perkawinan, pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian, yaitu Upacara Makala-kalaan dan Natab. Upacara Makala-kalaan sebagai rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan tersendiri, karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas upacara yang di laksanakan. Sedangkan upacara Natab bertujuan untuk meningkatkan pembersihan, memberi bimbingan hidup dan menentukan status kedua mempelai.

d. Pitra Yajna
Pitra Yajna berarti penyaluran (tenaga, sikap, tingkah laku, dan perbuatan) atas dasar suci yang ditujukan kepada leluhur, untuk keselamatan bersama. Tata cara Pitra Yajna adalah dengan menjaga beliau semasih hidup dan wewenang yang mesti dilakukan setelah beliau meninggal adalah:
1)      Hembusan nafas terakhir
2)      Nyiramang Layon (memandikan mayat): Perlengkapan yang dibutuhkan adalah: pepaga (tandu), ulap-ulap, daun pinang, air penyiraman (air tawar, air asem, air kumkuman), alat-alat pangrinkes. Pelaksanaan pemandian mayat adalah sebagai berikut: Menurunkan mayat dari balai, Memasang reramuan, Bablonyoh, Eteh-eteh ,Bebek, Lengawangi, Kewangen-kewangen, Mewastra, Maktiang ke surya (sekte Sora), Banten arepan, Mapegat dan malelet.
3)      Mendem Sawa: Sebelum pelaksanaan mendem sawa mayat dibuka baik tikar dll. Kemudian diperciki tirta penglukatan oleh pelaksana upacara, lalu tirta pangentas dan terakhir tirta kawitan (sekte Waisnawa dan Sekte Ganesha). Mayat kembali dibungkus dan dimasukkan ke dalam peti.
4)      Maktiang: Ngeseng ada tiga proses yaitu Sawa wedana (ngeseng sawa secara langsung dengan segala upacaranya, Asti wedana (ngeseng yang dibakar kembali dari bangbang (ngangkid) dengan segala upacaranya dan Swasta (upacara atiwa-tiwa terhadap mayat yang tidak dijumpai badan kasarnya. (a) Sawa Wedana jenis upakara sebelum mayat itu digeseng yaitu: bubur pirata putih kunin 2 tanding, canang 7 tanding, beras catur warna masing-masing 1 ceper (merah, putih, kuning, hitam), selanjutnya ngeseng saang. Setelah sawa menjadi abu di atasnya ditutup air secukupnya dan air penyeeb lalu dilakukan ngereka badan dengan abu. Kemudian disiapkan pejati selengkapnya, untuk dihaturkan di Mrajapati, pengulun setra. Pelaksaan menglantunkan doa dan diakhiri dengan persembahyangan. Selanjutnya rerekayan dibungkus dan dihanyutkkan ke laut. (b) Asti Wedana tata cara pelaksanaannya yaitu: ngaturang iuning di Pura dalem, Mgulapin di Mrajapati, Ngangkid, Ngulapin di setra, ngringkes, ngeseng dan nganyut upacara sama dengan (Sawa wedana). (c) Swasta sawa diganti dengan simbul tirta (Toya Carira), kemudian pelaksanaannya sama dengan tahap Asti wedana hanya saja tidak terdapat upacara ngrinkes dan ngangkid. (d) Nglungah bayi yang meninggal berumur 42 atau sebelum tanggal gigi. Tata cara pelaksanaannya yaitu : piuning ke Pura dalem, piuning ke Mrajapati, piuning ke sedahan setra, roh bayi dan tirta (tirta pengerampuh yang dimohon di pura Mrajapati)

e. Bhuta Yajna
Bhuta Yajna adalah suatu korban suci yang bertujuan untuk membersihkan tempat (alam semesta beserta isinya) dan memelihara serta memberi penyupatan kepada para bhuta kala dan mahkluk-mahkluk yang dianggap lebih rendah dari manusia. Seperti diketahui bahwa bentuk upakara Bhuta Yajna di Bali khususnya, mempergunakan banyak jenis hewan. Makin tinggi upacaranya makin banyak hewan yang dipotong. Upakara-upakara dalam Bhuta Yajna itu digolongkan menjadi dua golongan yaitu:
1)      Upakara yang berfungsi sebagai pembersihan misalnya byakala, prayascita, durmangala, caru resigana, panca kelud dll.
2)      Upakara yang berfungsi untuk pemeliharaan dan penyupatan terhadap Bhuta kala dan mahkluk-mahkluk tersebut, misalnya segehan kepel, segehan cacahan segehan agung, gelar sangga, dan beberapa jenis caru.
Pada umunya untuk melaksanakan yadnya akan diperlukan air (sekte waisnawa) dan api (sekte Brahmana), baik itu dalam Manusia Yajna, Dewa Yajna, Rsi Yajna dan Pitra Yajna. Namun dalam Bhuta yadnya sedapat mungkin menggunakan api takep dan tetabuhan. Api takep ini taruh bersilangan seperti swastika yang bermakna lambing keseimbangan. Sedangkan tetabuhan adalah 5 jenis zat cair yaitu arak, tuak, berem, air dan darah (sekte Bhairawa). Pengunaan darah ini berfungsi sebagai sabuh rah. Dalam penggunaan zat cair ini harus terciprat tiga kali, begitu juga halnya dengan sabuh rah. Secara sederhana tetabuhan ini adalah minuman dari bhuta kala, peri, jin, setan, dll. Menurut kepercayaan lauk pauk yang disukainya oleh para Bhuta kala tersebut adalah yang berbau amis, seperti berambang, jae, jejeroan yang mentah (sekte Bhairawa) dll
      Berdasarkan fungsi nomor dua di atas upakara sebagai penyupatan bhuta kala, ada beberapa jenis macam segehan (segehan kepel, segehan cacahan penggunaannya misalnya saat purnama tilem, kliwon, piodalan Bhatara Saraswati, dan segehan agung segehan ini biasanya digunakan dalam upacara-upacara besar) serta jenis caru (caru manca warna, caru panca sata, caru ayam brumbun dll) (sekte Bhhairawa).


4. Pelaksanaan Panca Yajna Bentuk Kristalisasi Sekte-Sekte di Bali

Panca Yajna adalah lima macam korban suci yang patut dipersembahkan oleh umat Hindu ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasinya. Tujuannya adalah untuk mewujudkan sradha atau keyakinan, menyampaikan rasa hormat, memohon kesucian, perlindungan dan menyampaikan rasa syukur atas rahmat, memohon kesucian, perlindungan dan menyampaikan rasa syukur atas rahmat yang dianugrahkan-Nya. Pelaksanaan Panca Yajna merupakan realisasi dari ajaran Tri Rna yaitu tiga macam hutang yang kita miliki dalam hidup dan kehidupan ini. Umat manusia akan merasa berdosa dalam hidup ini wajib kita bayar. Cara atau upaya untuk membayar Rna (hutang-hutang) tersebut dirumuskan dalam Panca Yajna (Sudirga, 2004:97). Dewa Yajna adalah Yajna yang ditujukan kepada Tuhan dan manifestasi-Nya. Pitra Yajna adalah Yajna yang ditujukan kepada orang tua atau leluhur secara sekala dan niskala. Rsi Yajna adalah Yajna yang ditujukan kepada orang suci atau Mahaguru. Bhuta Yajna adalah Yajna yang ditujukan kepada semua makhluk ciptaan Tuhan. Manusia Yajna yaitu Yajna kepada sesama manusia (Surayin, 1993:3).
            Kristalisasi sekte Brahmana di Bali  adalah seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa di Bali, Rsi adalah seorang Dwijati yang berasal dari golongan Brahmana. Setiap pelaksanaan upacara Panca Yajna di Bali memerlukan seorang Brahmana yang sering disebut dengan pemangku, pandita, pinandita, sri mpu, sulinggih. Dimana kewajiban seorang sulinggih terhadap masyarakat yaitu memimpin dan memuput upacara Yajna atau upacara keagamaan, memberikan dewasa (menunjukkan hari-hari baik) untuk melaksanakan upacara Yajna (Sukartha, 2002:24).
          Kemudian pada sekte Sora dimana pemujaannya terhadap Dewa Surya yang disimbolisasikan sebagai penguasa Matahari. Dimana matahari menyinari Dunia beserta isinya, merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di dunia. Karena hal inilah di Bali di setiap rumah kepala keluarga dibuatkan Sanggah Surya sebagai saksi bahwa seseorang sudah melakukan upacara Yajna.
          Pada Sekte Waisnawa, karena pemujaannya terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi di mana disimbolisasikan bahwa Dewa Wisnu itu sebagai penguasa air dan Dewi Laksmi sebagai penguasa padi/beras. Apabila dikaitkan dengan setiap pelaksanaan Panca Yajna selalu menggunakan air dan beras yang kemudian dijadikan tirtha dan bija. Tirtha atau air suci dibedakan menjadi 2 jenis. Yaitu tirtha yang didapat dengan cara memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasinya, dan tirtha yang dibuat oleh para sulinggih melalui pujanya.
          Menurut ajaran agama Hindu tirtha memiliki fungsi sebagai sarana untuk membersihkan menyucikan lahir dan bathin umat manusia dari kotoran maupun kecemaran atau leteh. Adapun cara penggunaannya adalah dipercikkan di kepala diminum dan diraupkan pada muka, masing-masing tiga kali. Hal ini merupakan simbolis pembersihan dan peyucian dari sabda, bayu, dan idep yang ada pada diri umat manusia. Selain menggunakan tirtha sebagai sarana peyucian dalam persembahyangan juga digunakan wija atau bija dan bhasma yang juga disebut gandhaksta. Bija adalah biji beras yang direndam dengan air cendana. Cara penggunaannya adalah ditempelkan diantara kedua kening (tengahing lelata) dan pada tempat lainnya. Bija adalah simbol atau lambang kehidupan sebagai benih dari Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan bhasma adalah lambang peleburan dosa atau kekotoran yang terdapat pada tubuh manusia.
          Adapun jenis-jenis tirtha berdasarkan fungsinya dalam pelaksanaan upacara Panca Yajna secara umum dapat dibedakan sebagai berikut:
a)   Tirtha Pembersihan: Merupakan tirtha yang difungsikan untuk membersihkan dan menyucikan para umat yang akan melaksanakan persembahyangan dan juga membersihkan serta menyucikan berbagai macam upakara persembahan.
b)   Tirtha Pengelukatan: Merupakan tirtha yang difungsikan untuk membersihkan dan menyucikan para umat yang akan sembahyang dan upakara yang akan dipersembahkan, agar segala kotoran dan letehnya menjadi suci.
c)   Tirtha Wangsuhpada: Merupakan tirtha sebagai lambang amartha yang merupakan anugerah dari Tuhan dan Para Dewata, yang dapat dimohon oleh umat. Pada saat menerima tirtha wangsuhpada sikap tangan tengadah dengan telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri, siap untuk menerima tirtha yang dipercikkan tiga kali di ubun-ubun, diminum tiga kali dan diraupkan tiga kali. Dengan tujuan untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan yang disebabkan oleh sthula, suksma dan antahkarana sarira.
d)   Tirtha Pemanah: Merupakan tirtha yang dimohon oleh umat pada sumber mata air, seperti campuhan, yang biasanya dipergunakan dalam rangka upacara Pitra Yajna.
e)   Tirtha Penembak: Merupakan tirtha yang dibuat oleh Sang Sulinggih, Pendeta atau Sang Dwijati yang difungsikan dalam rangka upacara Pitra Yajna.
f)   Tirtha Pengentas: Merupakan tirtha yang dibuat oleh para Sulinggih yang difungsikan dalam rangka upacara kematian, Pitra Yajna.
          Jenis-jenis tirtha sebagai lambang atau simbol upacara agama dapat dibedakan, sebagai berikut:
a)   Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan
          Upacara atau banten yang akan dipersembahkan dalam rangka upacara agama, seperti panca yadnya sebelum dipersembahkan hendaknya dibershkan dan disucikan dengan memergunakan tirtha pembersihan dan penyucian ebagai lambang atau simbol yang dibuat oleh pendeta atau sulinggih. Kewajiban untuk menyucikan upakara atau banten yang akan dipersembahkan kehadpan Tuhan beserta manifestasinya. Disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa Gong Wesi,
          “Salwir bebanten yajna matirtha karyan
          Pedanda Putus tan katampi aturannya”.
Artinya :
          Segala sajian atau bebanten bila tidak disuckan dengan tirtha yang dibuat oleh Pendeta utama, tidak akan diterima persembahannya.
b)   Tirtha yang berfungsi sebagai Pengurip atau Pencipta
          Tirtha yang dipergunakan untuk membersihkan dan menyucikan upakara atau bebanten juga berfungsi sebagai sarana untuk menjiwai upakara yang akan dipersembahkan oleh umat ke hadapan Tuhan beserta manifestasinya. Dengan demikian banten yang dibuat dari kumpulan rangkaian bunga, buah, daun dan jajan setelah diperciki tirtha pengurip secara resmi menjadi sarana agama yang bernilai sakral dan memiliki jiwa secara spiritual. Tirtha penguripbiasanya juga dipergunakan oleh para undagi atau tukang bangunan untuk melaspas atau menghidupkan bangunan yang sudah selesai dibangun. Tirtha pengurip ini adalah permohonan ke hadapan sang Hyang Paramasiwa agar sudi menjiwai secara spiritual banten atau bangunan yang baru selesai dibuat.
c)   Tirtha yang berfungsi sebagai Pemelihara
          Tirtha juga befungsi sebagai pemelhara. Dalam pelaksanaan Yadnya tirtha berfungsi sebagai lambang berkah uci atau anugrah dari Ia Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya kepada umatNya. Pada saat dilaksanakannya upacara Puja Wali atau Patithan di suatu tempat suci setelah dilangsungkannya persembahyangan dilanjutkan engan pemercikan tirtha, untuk diminum an diraupkan pada wajah masing-masing umat. Tirtha dam hal ini dijiwai oleh Dewa Wisnu sebagai lambang sthiti atau kehidupan (Sudirga, 2004:73-77). Jadi sudah jelas, bahwa penyatuan dari sekte Waisnawa dalam pelaksanaan Panca Yajna di Bali ditandai dengan ada tirtha dan bija di setiap pelaksanaannya.
          Kemudian Sekte Bhairawa seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa sekte ini memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaannya terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di setiap desa pakraman di Bali. Kalau di dalam Panca Yajna pengaruh dari sekte bhairawa ini adalah dilaksanakannya Bhuta Yajna. Oleh masyarakat Hindu butha kala sering dibayangkan sebagai makhluk halus dengan rupa yang menakutkan dan sering menimbulkan gangguan serta bencana, tetapi bila dierhatikan (diberi korban) mereka akan membantu serta melindungi.
          Di dalam kitab Purwaka Bumi Kemulan djelaskan bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa telah menciptakan:
a)   Sang Kursika berwarna putih, kemudian menjadi Bhuta Dengen berwujud Yaksa bertempat di Timur.
b)   Sang Garga berwarna merah kmudian menjadi Bhuta Abang berwujud Mong bertempat di Selatan.
c)   Sang Metri berwarna kuning, menjadi Bhuta Kuning berwujud ular bertempat di Barat.
d)   Sang Kurusya berwarna hitam, menjadi Bhuta Hireng, erwujud buaya bertempat di Utara.
e)   Sang Pretanjala berwarna brumbun (wiswa warna) bertempat di arah tengah bersama dengan Bhatari Uma dan berwujud bhuta disebut Durga Dewi.
Sarana yang biasa digunakan dalam upacara Bhuta Yajna yaitu banten caru dan juga api. Api ini memiliki banyak fungsi. Tidak hanya digunakan dalam upacara bhuta Yajna  tetapi digunakan dalam semua jenis Yajna. Adapun jenis-jenis upacara Bhuta Yajna diantaranya:
a.   Segehan serta banten yang setingkat
1)   Segehan kepelan dan segehan cacahan:  Kedua jenis segehan ini dapat digunakan untuk menyertai upacara Panca Yajna seperti Kliwon, Saraswati, Galungan, Kuningan, Otonan memujung ke setra dan upacara-upacara bhuta Yajna.
2)   Segehan Agung: Segehan ini digunakan agak khusus misalnya memendak membuka tanah baru baik untuk perumahan maupun untuk pura dan digunakan pula dalam upacara-upacara besar seperti caru dan tawur.
3)   Gelar Sanga: Banten ini selalu ditaruh dibawah sanggar pesaksi dalam upacara caru atau tawur, misalnya untuk memendak, ngelebar dan lainnya.
4)   Banten Prayascita: Banten ini berfungsi sebagai pembersihan terhadap tempat atau bangunan terutama yang baru diperbaiki, pada diri seorang yang sehabis kecuntakaan, dan lainnya.
b.   Caru
          Adapun beberapa jenis caru yang biasa digunakan oleh umat Hindu dalam pelaksanaan yadnya, diantaranya:
1)   Caru Ayam Brumbun: Caru ini disebut pula caru pengruak dan caru ini dipergunakan ada waktu piodalan di pura serta merajan baik sebagai pendahuluan, sebelum mulai bekerja maupun menyertai piodalan tersebut. Adapun tujuan dari caru ayam brumbun ini adalah untuk menyucikan tempat-tempat dalam arti membebaskan dari pengaruh buruk yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan para Bhuta Kala sehingga keharmonisan dapat diwujudkan.
2)   Caru Panca Sata: Caru ini adalah caru yang menggunakan lima ekor ayam yang disesuaikan dengan arah pengider-ider (arah mata angin). Penggunaan caru Panca Sata ini adalah untuk upacara melaspas di pura atau di sanggar perumahan serta sebagai dasar dalam penggunaan biatang-binatang lainnya seperti penggunaan itik, asu bang bungkem, kerbau, kambing dan lainnya sehingga cara Panca Sata ini dianggap sebagai dasar caru berikutnya.
3)   Caru Panca Kelud: Caru ini mempergunakan lima ekor ayam ditambah dengan seekor itik belang kalung dan seekor asu bang bungkem. Caru ini dipergunakan sebagai dasar dalam upacara-upacara Mapedanan, ngenteg linggih, odalan, baik disanggar perumahan, di kahyangan bila terjadi hal-hal yang dianggap kurang baik ada tempat-tempat tersebut.
4)   Caru Rsi Gana: Caru ini tidak digunakan secara umum melainkan pada tempat-tempat dan bila ada kejadian-kejadian tertentu misalnya, tempat dianggap angker, sering menimbulkan bencana, penyakit, dan lainnya.
c.   Tawur / Caru Kesanga (untuk Menyambut Tahun Baru Caka)
          salah satu contoh Tawur adalah Tawur ke Sanga. Tawur ke Sanga adalah upacara Bhuta Yajna yang bertujuan untuk menyucikan buana agung (alam semesta) dengan sarana utama api (ngerupuk) dan tirtha. Sedangkan hari Nyepi adalah penyucian buana alit (diri manusia) dengan pengendalian diri dan pemusatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Widhi (Supartha, 1994:66-69).
          Dalam persembahyangan api itu diwujudkan dengan dhupa (dupa) dan dipa. Dupa adalah sejenis ramuan yang dibakar sehingga berbau wangi. Dupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi sebagai pendeta pemimpin upacara, sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dan yang dipuja, sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jaha dan sebagai saksi upacara yadnya. Penggunaan api dalam kehidupan beragama Hindu memiliki dasar yang bersumber dari kitab-kitab suci Wedangga yang terdiri dari kitab Siksa, Wyakarana, Chandra, Nirukta, Jyotisa dan Kalpa. Api dalam istilah agama Hindu disebut Apuy, Agni, Wahn. Api sebagai sumber kehidupan dewanya Brahma. Sifat api adalah menerangi atau menyinari dan “dharmanya” membakar. Adapun fungsi api di dalam pelaksanaan upacara yadnya di Bali:
a)   Api sebagai pendeta pemimpin upacara
          Dhupa dan dipa adalah sarana pendeta dalam memimpin upacara. Dhupa adalah wangi-wangian yang dipakai dalam upacara. Sarana ini disamping dpakai oleh pendeta, umat yang akan mengikuti persembahyangan pun harus menyiapkan dhupa. Sedangkan dipa adalah lampu yang memakai minyak kelapa dengan bentuk tertentu, di masyarakat oleh umat sering disebut Pedamaran Ida Pendanda. Sarana ini hanya boleh dipakai oleh Pendeta dalam memimpin upacara. Dhupa adalah lambang akasa tattwa dan dipa merupakan lambang sakti tattwa.
b)   Api sebagai perantara pemuja dan yang dipuja
          Fungsi api sebagai perantara yang meghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja yang dipentingkan adalah asap yang berbau harum itu berhembus ke atas, terus luluh beersatu dengan angkasa.
c)   Api sebagai pembasmi kotoran dan pengusir roh jahat
          Karena sifat api yang sarwa bhaksa yaitu memakan segala macam benda, dalam upacara-upacara agama Hindu di Bali digunakan sebagai lambang pengusir atau pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat. Dalam hal ini api diwujudkan dalam beberapa upacara agama dengan berbagai bentuk diantaranya:
(a)  Api Takep: Dibuat dari dua belahan serabut kelapa bagian luar dari kulit kelapa, dibentuk bertumpuk menyilang seperti bentuk tamda tambah atau bentuk dasar dari swastika, di dalamnya diisi api. Api ini digunakan untuk menghantarkan upacara segehan di lebuh atau di pintu gerbang rumah. Dihaturkan di bawah pada pintu keluar masuk rumah. Api ini merupakan lambang dari swastika yaitu lambang keseimbangan, sedangkan api yang didalamya adalah lambang kekuatan jiwatman yang dapat menumbuhkan ketahanan diri dalam menghadapi godaan-godaan yang bersifat negatif.
(b)  Api Prakpak: Api ini yaitu beberapa helai daun janur yang sudah kering (danyuh) diikat pada ujungnya, kemudian dibakar sehingga berupa obor. Api digunakan pada hari “Hari Tawur Kesanga” pada sore harinya setelah menghaturkan upacara segehan di halaman “sanggah atau merajan” dan dipintu halaman masuk pekarangan rumah lalu dilanjutkan dengan mengelilingi rumah tiga kali dengan membawa api obor dari daun kelapa yang kering itu.
(c)  Api Tetimpug: Api ini dibuat dari tiga potong bambu yang masih muda dan hijau lalu diikat menjadi satu diisi “sampaian sasap” yaitu sampaian yang dibuat dari sepotong janur yang bentuknya sedemikian rupa, sehingga berisi mata dua. Sampaian ini bermaksud untuk memberikan jiwa secara simbolis kepada ketiga potong bambu itu. Lalu bambu itu diletakkan dibawah masing-masing ujungnya dialasi dengan batu atau bata dan dibawahnya lalu dibakar. Api ini digunakan pada upacara perkawinan tahap pertama yaitu waktu upacara “mabia kawon” atau “pekala-kalaan”, upacara “makekelud” upacara ini adalah upacara bhuta yadnya untuk menghilangkan “cuntaka atau sebel” akibat kematian salah satu anggota keluarga. Biasanya dilangsungkan setelah penguburan jenasah sudah lewat 12 hari. Fungsinya adalah untuk melenyapkan rasa duka atau bela sungkawa atas kematian salah satu anggota keluarga.
(d)  Api Tabunan: Bentuknya mirip dengan api unggun. Apabila ada umat Hindu yang tertimpa kecelakaan sampai ada darah yang tercecer di tanah atau di jalan, maka darah yang tercecer itu dapat mendatangkan roh jahat. Darah yang tercecer itu harus disucikan. Api ini juga berfungsi untuk melepaskan ikatan roh atau jiwa orang yang mengalami kecelakaan itu, pada darah yang merupakan bagian tubuhnya yang amat penting. Karena keterikatan roh orang yang kcelakaan itu, baik orangnya masih hidup maupun meninggal, diyakini akan membawa pengaruh buruk pada orang tersebut.
5)   Api Citagni: Api juga berfungsi pada upacara Ngaben dimana unsur-unsur Panca Maha Bhuta dibakar oleh api. Menurut kepercayaan Hindu api ini berfungsi untuk mengembalikan unsur-unsur Panca Maha Bhuta pada asalnya di Bhuwan Agung, agar Sang Hyang Atma semakin dekat dengan penciptanya.
          Kemudian dalam upacara Manusa Yajna, ketika bayi baru lahir, ari-arinya (placenta) ditanam di atas gundukan tanaman. Di atas gundukan itu setiap sore diisi dengan api dalam bentuk lilin atau lampu tradisinal. Maka api dalam upacara penanaman ari-ari (placenta) tersebut adalah untuk melindungi ari-ari itu dari gangguan roh jahat. Penggunaan api sebagai pembasmi kotoran dalam upacara Manusa Yajna juga lihat pada upacara si bayi berumur tiga bulan wuku atau 105 hari. Bentuk api dalam upacara ini adalah berbentuk linting.
d)   Api sebagai saksi upacara dalam kehidupan
          Dupalah yang berfungsi sebagai saksi persembahyangan. Api dupa lambang api saksi, sedangkan asapnya lambang gerakan rohani menuju angkasa, lambang stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Dewa-Dewa manifestasi-Nya. Api dupa adalah angga sarira Hyang Agni. Api dengan sinarnya adalah penerangan dalam alam ini. Ini berarti bahwa Hyang Agni adalah maha melihat atau saksi dari segala perbuatan manusia (Wiana, 2005:69)
          Dari kedua sarana upacara bhuta Yajna yaitu banten caru dan juga api di sini menunjukkan bahwa sarana-sarana tersebut saling melengkapi satu sama lain. Dipembahasan di atas dinyatakan bahwa sekte Bhairawa ini identik dengan kekuatan magic. Biasanya sarana yang digunakan adalah menyukai darah atau daging mentah. Hal ini masih diwarisi dalam masyarakat Bali sekarang di mana biasanya disetiap akan melaksanakan suatu Yajna masyarakat biasa ngelawar. Ngelawar ini adalah realisasi dari sekte Bhairawa.
          Selain sarana upacara yang telah disebutkan diatas di dalam melaksanakan upacara Panca Yajna juga tidak terlepas dengan menggunakan sarana bunga. Bunga sebagai simbol Siwa atau Tuhan dalam sembahyang, bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua telapak tangan disaat sembahyang. Setelah selesai sembahyang, bunga tadi biasanya diselipkan di atas kepala atau disumpangkan pada kedua daun telinga. Bunga berfungsi sebagai sarana persembahan sehingga bunga dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewata, Bhatara-Bhatari, dan roh suci leluhur. Bunga merupakan simbol persembahan yang tulus dan ikhlas, kesucian dan sifat maha kasih.
          Dalam sarana sembahyang bunga dirangkai dalam bentuk canang yang di dalamnya terdiri dari:
1)   Porosan: Merupakan unsur sarana pokok dalam canang. Posoran dibuat dengan sarana sirih, kapur, dan buah yang dijepit atau dibungkus dengan bentuk lancip dari potongan janur. Lontar Yajna Prakerti menyebutkan bahwa porosan adalah lambang untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Tri Murti. Pinang atau buah sebagai lambang pemujaan kepada Dewa Brahma, siri sebagai lambang pemujaan kepada Dewa Wisnu, dan kapur sebagai lambang pemujaan kepada Dewa Siwa.
2)   Plawa: Plawa juga disebut daun-daunan. Berdasarkan penjelasan lontar Yajna Prakerti, plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci. Umat Hindu di dalam memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Sang Tri Murti hendaknya berusaha menumbuhkan pikiran yang suci dan hening. Pikiran yang tumbuh dengan suci dan hening akan dapat menangkal atau mengendalikan umat manusia dari pengaruh-pengaruh yang buruk atau jahat. Tuhan Yang Maha Esa akan menganugrahkan rahmatNya kepada umatNya yang berpikiran suci dan hening.
3)   Bunga: Bunga yang terdapat dalam canang melambangkan keikhlasan.
4)   Tetuwasan, reringgitan dan jejahitan: Tetuwasan, reringggitan dan jejahitan merupakan lambang keteguhan atau kelanggengan umat manusia. Pada zaman modern seperti ini, banyak sekali unsur-unsur yang dapat menggoyahkan pikrian umat manusia. Keteguhan dan kelanggengan pikiran hendaknya tetap dipertahankan untuk menuju kebaikan dan kebenaran. Pikiran yang teguh dan langgeng tetap dibutuhkan untuk menuju jalan suci dan kebenaran Tuhan karena godaan-godaan akan silih berganti datang menggoyahkan cita-cita suci tersebut.
5)   Urassari: Dibuat dari garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu sebagai bentuk sederhana dari Swastka. Hiasan urassari dalam bentuk lingkaran menjadikanya menyerupai bentuk cakra. Urassari yang tersusun dengan jejahitan tetuwasan dan reringgitan tertata sedemikian rupa menjadikan bentuk lingkaran menyerupai bentuk Padma Astadala. Ini merupakan lambang sthana Ida Sang Hyang Widhi Wasa degan delapan penjuru mata anginnya. Berdasarkan ajaran Hindu alam semesta ini tercipta oleh Tuhan melalui tiga proses, antara lain: pertama, Srati adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua unsur seperti purusa dan predana. Kedua, Swastika adalah proses ketika alam mencapai puncak keseimbangan yang bersifat dinamis. Kondisi seperti ini yang dilambangkan dengan jejahitan urassari. Dasar pembuatan dari garis silang atau tampak dara adalah ujung-ujung dari urassari menunjukkan arah catur loka pala dan hiasan yang melingkar menjadi bentuk swastika serta menjadi bentuk Padma Astadala. Padma Astadala adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber kehidupan menuju kebahagiaan. Ketiga, Pralaya adalah proses alam semesta lebur kembali menuju asalnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa sebagai Pencipta (Sudirga, 2005:59-62).
           
5. Tokoh Penyebar Ajaran Sivasiddhanta
Pengawi dan ahli Weda I Gusti Bagus Sugriwa dalam bukunya: Dwijendra Tattwa, Upada Sastra, 1991 menyiratkan bahwa di Bali wahyu Hyang Widhi diterima setidak-tidaknya oleh enam Maha Rsi. Wahyu-wahyu itu memantapkan pemahaman Siwa Sidhanta meliputi tiga kerangka Agama Hindu yaitu Tattwa, Susila, dan Upacara. Wahyu-wahyu itu berupa pemikiran-pemikiran cemerlang dan wangsit yang diterima oleh orang-orang suci di Bali sekitar abad ke delapan sampai ke-empat belas yaitu:

a. Danghyang Markandeya
Pada abad ke-8 beliau mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah. Setelah menetap di Taro, Tegal lalang Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten. Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu: Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.
Beliau juga mendapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll. Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.

b. Mpu Sangkulputih
Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak. Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.
Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi. Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya: Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll. Abatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

c. Mpu Kuturan
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana Buddha dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali. Pada saat itu beliau mampu menyatukan berbagai macam aliran atau sekte yang berkembang di Bali. Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih. Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).
Seperti disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan keagamaan yang bersifat sektarian. Ada sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya.  Diantara sekte-sekte tersebut Siwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan (Ardhana 1989:56).  Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa Istadewatalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah. Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa didalam tubuh masyarakat Bali Aga.
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.  Akibat yang bersifat negatif ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya Dharmapatni sudah dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur.  Oleh karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersekepatan untuk mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:
a) Mpu Semeru, dari sekte Siwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, bertepatan dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka yaitu tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.
b) Mpu Ghana, penganut aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku Kuningan tanggal 7 tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgel
c) Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padang)
d) Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku Dungulan, bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis (Lempuyang)

d. Mpu Manik Angkeran
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra. Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.

e. Mpu Jiwaya
Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9). Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.

f. Danghyang Dwijendra
Datang di Bali pada abad ke-14 dari desa keling di jawa, beliau adalah keturunan Brahmana Buddha tetapi beralih menjadi Brahmana Siwa, ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.
Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal. Danghyang Dwijendra mempunyai Bhiseka lain: Mpu/Danghyang Nirarta, dan dijuluki: Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.
Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin. Karya sastra beliau yang terkenal antara lain: Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll. Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.
Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya: Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll. Ke-enam tokoh suci tersebut telah memberi ciri yang khas pada kehidupan beragama Hindu di Bali sehingga terwujudlah tattwa dan ritual yang khusus yang membedakan Hindu-Bali dengan Hindu di luar Bali, karena di bali sesungguhnya Siwa Sidhanta dan Buddha kasogatan menjadi satu dalam keseharian hidup dan ritual orang Bali.



AJARAN-AJARAN
DALAM SIVASIDDHANTA


1. Sivasiddhanta Dualis
Saivasiddanta Dualis yang diuraikan disini merupakan suatu aspek dari aliran Siddantha Saivaisme, yang mengakui Autoritas 28 Saivagama, seperti yang diuraikan di depan dan apabila kita bandingkan dasar-dasarnya dengan sisitem fisafat India lainnya, kita mendapatkan bahwa ia memiliki dasar yang berbeda dengan Vaisesika, Nyaya, Samkhya dan Vedanta.
a.       Teori metafisika dari Saivasidanta dualis berbeda dengan teori dari Vaisesika dan ia menerima teori evolusi yang sama seperti dalam sistem filsafat Samkhya. Ia memandang bahwa maya berkembang meninggalkan keadaan yang pertama untuk memasuki keadaan yang berikutnya, seperti susu yang memasuki keadaan dadih susu. Ini  merupakan Satkaryavada, yang berpendapat bahwa dadih susu menjadi berwujud (abhivyajyate). Karena itu ia menyatakan bahwa maya berkembang menjadi kala, dsb, seperti susu menjadi dadih susu. Tetapi maya tidak mengeluarkan dirinya sendiri dalam evolusinya seperti yang dilakukan susu pada dadih susu, evolusinya adalah sebagaian, seperti perubahan dalam Ghee (mentega), karena dari jatuhnya seekor serangga kedalamnya, hanya merupakan suatu jumlah yang kecil dari padanya (ghrtakitanyaya); jadi ini merupakan Satkaryavada, sebagai lawan dari Asatkaryavada, sebagai lawan dari Asatkaryavada Vaisesika.
b.      Karma menurut Saiva Siddhanta Dualis merupakan sifat dari Budhi dan bukan sifat dari atman seperti pendapat dari Vaisiseka; karena mengakui karma sebagai sifat dari atman merupakan pengakuan bahwa atma tidak abadi, karena adanya perubahan, yang disebabkan oleh perubahan karma.
c.       Demikianlah pula halnya dengan Kala, yang menurut Saiva Sidhanta  dualis tidak abadi, karena ia tak berjiwa dan banyak, seperti waktu yang lalu, sekarang dan yang akan datang; namun vaisiseka mengakui bahwa “waktu itu adalah kekal
d.      Ia berbeda dengan vaisiseka, dalam anggapan tentang asaka menjadi ruang dimana semua materi ada dan  dalam uraian tentang Sabda (suara) yang bukan hanya sifat dari akasa saja seperti seperti pendapat dari Vaisiseka, tetapi juga sifat dari tanah, udara, air dan api, karena suara-suara tertentu benar-benar diketemukan pada materi-materi tersebut. Sambil lalu dapat diketengahkan di sisni bahwa disebabkan konsep tentang Akasa yang dikatakan di depan, maka Saiva Siddhanta Dualisis berbeda (a) dengan sistem carvaka yang menolak keberadaan Akasa, (b) dari Mimamsaka, yang berpendapat bahwa hal itu tak dapat diamati dan (c) dengan Naiyayika, yang menyatakan bahwa Akasa itu kekal sepanjang ia memiliki keberadaan kekal dan tidak menjadi  tanmatra.
e.       Ia tidak mengakui adanya atom-atom abadi, seperti yang dilakukan oleh vaisesika dan nyaya; karena menurut saiva Sidantha Dualis, semua yang memiliki kejamakan dan tidak memiliki jiwa merupakan hal yang tidak kekal.
f.       Ia berpendapat bahwa roh pribadi itu sesungguhnya dapat merasakan (cit) atau mengetahui sendiri (jnanasvarupa); karena itu jnana bukanlah sifat dari sang diri seperti yang dinyatakan oleh Vaisesika Perbedaan  antara Saiva Sidhanta Dualis dengan sistem filsafat samkya adalah sebagai berikut:
1). Saiva Saidantha Dualis yang mengakui bahwa purusa atau pribadi merupakan keberadaan murni asli (puspakarapalasa-vannirlepah) seperti yang dipakai oleh filsafat Samkhya. Ia menyatakan bahwa diri pribadi memiliki ketidak murnian yang tanpa awal, karena dengan caralian pengalaman empiris yang disebabkan kecendrungan untuk menikmati,  tak dapat dijelaskani. Tetapi apabila kecendrunagn tersebut dikatakan ada di dalam sang diri, hal itu sukar untuk menjelaskan mengapa pembebasan tidak memilikinya. Sistem samkya tak dapat megatakan bahwa kecendrungan untuk menikmati disebabkan oleh raga atau keterikatan, karena keterikatakan (raga) itu dapat berfungsi dalam hubungan terhadap sang diri saja yang tidak murni.
2) Konsepsinya tentang Bhoga juga berbeda dengan Samkya yang dapat dinyatakan sebagai berikut:
            Bhoga melibatkan 4 hal berikut, yaitu:
a.       Purusa, yang dipersamakan dengan refleksinya, jatuh apad budhi
b.       Budhi yang menerima pantulan dari purusa dari dalam serta pantulan benda dari luar.
c.       Pantulan benda pada budhi
d.      Ahamkara merupakan yang bertanggungjawab seperti Guna penyatuan dua pantulan daro subjek dan objek, guna menidentifikasikan pantulan dari subjek dengan subjek itu sendiri, guna mencapai penyatuan subjek dan objek untuk tujuan praktis, dan guna memunculkan kesadaran “aku mengetahui ini”. (Maswinara, 1999:230).
Adapun prosesnya adalah yang pertama Budhi menerima pantulan dari objek yang berasal dari luar dan  pantulan dari subjek (purusa) berasal dari dalam selanjutnya Ahamkara mempersatukannya sehingga kedua pantualn tersebut menjadi satu maka objek menjadi bersinar yang disebabkan oleh pantulan subjek yang merupakan titik puncak dari proses tersebut yang disebut Jnana.
Sivasiddhanta Dualis menolak penyamaan roh pribadi dengan sang diri semesta bahwa roh pribadi jumlahnya tidak terhitung. Dengan demikian terdapat tiga kategori sivasiddhanta dualis yaitu Maya atau mahamaya, purusa dan Siva yang juga dapat dikatakan sebagai pati, pasu dan pasa dimana pati sebagai penganti siva, pasu sebagai penganti purusa dan pasa sebagai penganti maya atau mahamaya. Pati terbagi menjadi siva, sakti, mantra-mahesa, mantresa dan mantra. Sedangkan pasu terbagi menjadi Vijnanakala, pralayakala dan sakala. Sedangkan pasa terbagai menjadi Mala, rodhasakti, karma, maya dan bindu.
Daya-daya dari Siva (pati) meliputi; daya pengetahuan (jnana sakti) yang berhubungan dengan bindu yang abadi, daya kegiatan (kriya sakti), kehendak (iccha sakti), pencipta (srsti sakti), pemelihara (sthiti sakti), penghancur (samhara sakti), pengaburan atau menyelubungi (tirobhava sakti) dan pemberi anugrah (anugrah sakti). Sedangkan pasa  memiliki pembagian yaitu; mala sebagai belengu yang pertama yang tidak memiliki awal, maya yaitu kekeliruan, karma yaitu nasib masa lalu atau perbuatan masa lalu, nirodhasakti yaitu ketergantugan, dan bindu yaitu ketidak murnian.
Siwa Siddhanta Dualis juga di bedakan dengan Pasupata Dualis di mana Pasupata Dualis menerima 5 katagori awal, yaitu: (1). Karana (2). Karya, (3). Yoga, (4). Widhi, (5). Duhkhantar, tetapi Saiva siddhanta dualis hanya menerima 3 katagori saja, yaitu: (1). Pati, (2). Pasu, dan (3). Pasa. Tampak bahwa Saivasiddhanta dualis dan yang lebih awal yaitu siva dualis keduanya dipengaruhi oleh pasupata yang tampaknya lebih awal adanya karena Saiva Siddhanta dualis tampaknya meminjam konsep karana sebagai “pati”, karena tidak ada perbedaan konsepsual antara karana dan pati di mana yang membedakan hanya dalam masalah kata saja dan juga karena didalam pasupata sutra oleh lakulisa kita menemukan kata “pati” yang dipergunakan untuk menyebut karana.
Penjelasan tentang pasupata yang didasarkan pada referensi Sankara tentang hal itu, kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya menjadi konsep dari penyebab material, yang diakui oleh Pasupata. Tetapi, apabila kita mengikuti Ranta Prabha, kita dituntun untuk berpikir bahwa hal itu adalah “pradhana” (karanam pradhanam isvarasca), ia menyatakan tujuan dari pengemukakan 5 katagori secara nyata mengatakan bahwa hal itu menyebabkan pembebasan diri pribadi (pasu) dari pasa (ikatan)-(pasupasawimoksanaya). Oleh karena itu tampaknya Saivasiddhanta Dualis dipengaruhi oleh pasupata dualis konsepsi tentang 2 katagori, yaitu pasu dan pasa.
Saivasiddhanta dualis menerima teori metafisika dari Pasupata, yakni bahwa penyebab material berbeda dengan penyebab efisien tetapi ia mengadakan perbaikan pada konsepsi tentang pembebasan, karena sementara terjadi pembebasan menurut pasupata yang mengandung akhir dari segala penderitaan, saiva sidanta dualis berpendapat bahwa hal itu merupakan pencapaian kesamaan, yang berkaitan dengan daya-daya pengetahuan dan kegiatan dengan jiwa.  Filsafat tentang tata bahasa yang mengandung bermcam-macam aspek pembicaraan seperti para, pasyanti, madhyama dan vaikhari serta masalah-masalah yang bersangkutan dengannya ditelusuri terhadap alur Veda seperti:
1). Catvari vakparimita padanr
2). Catvari srngastrayo asya pada
Karya terkenal tentang masalah itu adalah Vakyapadiyam dari Bhatari, tetapi ia sendiri menyatakan bahwa apa yang dihadirkan itu didasarkan pada sebuah tradisi kuno. Ia menelusuri tradisi tersebut kembali pada Panini ia mengemukakan suatu karya yang terdiri dari 100.000 grantha yang ditulis oleh Vyadi untuk menguraikan sistem dari Panini tetapi sayang karya ini telah hilang, disebabkan oleh kelalaian para pelajar gramatika, akibat dari ukuranya yang besar. Oleh karena itu, patanjali menulis mahabhasya, untuk menjaga tradisi “vyakaranagama smrti” agar tidak hancur yang secara dekat mengikuti karya dari vyadi, namun karena karya tersebut juga jarang yang menyentuhnya, maka dikhawatirkan karya tersebut juga akan hilang. Selanjutnya seorang Brahmawaksaa membawa Vyakaranagama asli yang di tulis oleh rawana dari suatu tempat pada trilingga di pegunungan trikuta kepada candracarya dan vasurata yang setelah memahaminya secara layak menguraikanya dalam berbagai cara kepada para muridnya. Vasurata guru dari Bhartrhari menulis suatu ikhtisar dari apa yang dikatakan oleh Wyakaranagama yang terdiri dari 5 bab yaitu (1). Brahmakanda, (2). Vakyakanda, (3.padakanda
Bharthrhari dan kritikusnya yaitu somananda, pendiri sari sistem Pratyabhijna dari Saiva Kasmir, keduanya menghadirkan tradisi monoistik dari filsafat gramatika tetapi Sivasiddhanta dualis, katagori awal adalah Siva, yang juga disebut para bindhu dan masalah tentang filsafat Gramatika, yang berkaitan dengan 4 aspek pembicaraan didiskusikan dalam konteks katagori ini. Hal ini akan kit bicarakan pada permasalahan tentang Bindu. Rama kantha II dalam nada karikanya dan srikantha dalam ratna trayanya berurusan tentang masalah ini dari sudut pandang dualistik.
Konsep Saivasiddhanta Dualis tentang katagori sangat dekat sekali hubunganya dengan konsepsinya tentang pemusnahan semesta dan ia berpendapat bahwa satu katagori adalah sesuatu yang ada meskipun terjadi pemusnahan semesta dan merupakan suatu kondisi, langsung maupun tidak langsung, dari segala pengalaman empiris maupun non-empiris. Dan pemusnahan semesta adalah dimana segala suatu yang merupakan hasil dari maya atau mahamaya bergabung kembali kedalam penyebab materialnya dan memiliki keberadaan disana dalam keadaadn yang tak terbedakan baik kestuannya yang merupakan kmungkinan saja dari keanekaragaman ini. Ia mengakui bahwa penciptaan itu ada 2 macam, yaitu: (1). Yang murni (suddha), (2). Yang tidak murni (asuddha), dan maya juga ada 2 macam yaitu: satu yang merupakan hasil, berupa kondisi yang diperlukan dari pengalaman empiris dan disebut maya saja: sedang yang lain hasil berupa kondisi yang sama yang diperlukan bagi pengalaman transendetal yang merupakan subjek transedental seperti mantra mantresa dan manta mahesa dan hal ini disebut sebagai mahamaya karena itu ia berpendapat bahwa para pemusnahan semesta semua yang menyusun kondisi material dari suatu pengalaman, bergabung kembali kedalam sakti, yang merupakan salah satu katagori yang bebas, di mana kita akan menulis dalam konteks yang sesuai, yaitu: sakti bergabung kedalam konteks yang sesuai yaitu bergabung kedalam mahamaya. Jadi, Saivasiddhanta Dualis berpendapat bahwa hanya terdapat 3 katagoti awal, yaitu 4 Maya atau mahamaya, 2 purusa dan 3 siva. Yang juga dapat dikatakan sebagai pati, pasu, dan pasa, di mana dalam hal ini pati sebagai pengaganti Siva, pasu sebagai pengganti purusa dan pasa sebagai pengganti maya atau mahamaya meskipun tidak begitu tepat karena pasa sebagai sebuah katagori awal memiliki 5 katagori bebas yaitu, (1) mala, (2) rodhasakti, (3) karma, (4) maya, (5) bindu yang juga disebut sebagai mahamaya.
Selanjutnya aliran Sivasiddhanta Dualis mengakui 3 katagori utama di atas, namun membicarakan tentang 36 katagori yang bergantung kepada ke-3 katagori utama tersebut. Katagori pertma yaitu: pati dibagi menjadi 5, yaitu: (1) Siva, (2) sakti, (3) mantra mahesa, (4) mantresa, (5) mantra. Pati atau Siva sebagai katagori pertama yang bebas merupakan penguasa ternak, yang maksudnya adalah penguasa segala mahluk hidup atau penguasaha segala sesuatunya sehingga dapat dikatakan sebagai mahakuasa, ia meresapi segalanya abadi tanpa awal dan tanpa akhir, bebas dari segala kekotoran terbatas dari sebab dan akibat yang tetap tak berubah meskipun ia menciptakan alam semesta ini, seperti matahari yang menyebabkan mekarnya kuncup-kuncup kembang teratai. Ia menciptakan dunia obyektif yang terbatas ini yang berasal dari penyebab material, yaitu maya, dengan kekuatanya yang disebut sakti sebagai penyebab instrument.
Daya-daya dari siva (pati) meliputi berbagai macam kekuatan antara lain:
(1)   Daya pengetahuan (jnana sakti) yang berhubungan dengan bindu yang abadi
(2)   Daya kegiatan (kriya sakti)
(3)   Daya kehendak (iccha sakti)
(4)   Daya penciptaan (srsti sakti)
(5)   Daya pemeliharaan (sthiti sakti)
(6)   Daya pengahancuran (samhara sakti)
(7)   Daya pengaburan atau menyelubungi (tirobhawa sakti)
(8)   Daya pemberi anugrah ( anugraha sakti)
Lima kegiatan tuhan (panca kriya) yaitu, srsti, sthiti, samhara, tirobhawa dan anugraha, yang secara terpisah dianggap sebagai kegiatan dari Brahman, Visnu, Rudra, Maheswara, Sadasiva. Alam semesta mengalami evolusi demi kebaikan roh-roh dan kseluruhan proses pencipta adalah demi untuk pelepasan roh-roh tersebut. Alam semesta adalah nyata dan abadi, di mana alam materi dan roh membentuk badan Tuhan. Pasa, sebagai salah satu katagori awal dari sistem filsafat ini adalah belenggu yang mengikat roh-roh dan bertanggung jawab atas perbedaan pasu dari pati. Pasa seperti telah diuraikan di depan memiliki 5 sub katagori yaitu: (1) Mala, (2) Maya, (3) Karma, (4) Nirodhasakti, (5) Bindu. Katagori yang bergantung dari pasa secara sangat dekat dikaitkan dengan konsepsi pembebasan di mana karma dan maya adalah 2 belenggu yang juga diakui oleh para Vedantin yang menunjukan bahwa pembebasan adalah lepasnya dari ikatan 2 belenggu tersebut tetapi sistem ini berpendapat bahwa pembebasan yang demikian itu merupakan pembebasan tipe yang lebih rendah atau merupakan pembebasan sebagaian karena terbelenggu yang lain, yaitu mala, yang juga disebut sebagai pasupata mala masih tetap ada.
Saivasiddhata Dualis mengakui 36 katagori yang saling bergantung yang saling bergantung satu sama lainya, dimana bindu atau siva sebagai katagori pertama yang juga disebut sebagai pati. Katagori ini jangan dibingungkan dengan Siva transedental, karena akan terjadi kekacaun evolusi, di mana Parama Siva akan mengikutinya. Ia tidak bersatu padu dalam jiwa tansedental seperti halnya sakti. Ia menjadi penyebab material dikaitkan kepadanya sebagai tanah liat terhadap seseorang pengerajin gerabah. Ia juga dikatakan sebagai kundalini yang merupakan tenaga luar dari Tuhan (parigraha sakti). Ia tidak bebas, karena tanpa perasaan dan bekerjanya dibawah pengendalian daya-daya dari Parama Siva seperti iccha dan sebagainya. Alasan-alasan mengakui bindu sebagai penyebab material dari ciptaan murni adalah sebagai berikut: siva dan sakti keduanya berperasaan tetapi keduanya tidak mengalami perubahan sehingga bindu diperlukan sebagai penyebab material dari Dunia murni. Sistem filsafat ini mengakui bahwa ciptaan ada 2 jenis, yaitu yang murni dan yang tidak murni. Dunia tidak murni diciptakan oleh ananta dan sebagainya, di mana daya tersebut diberikan pati kepadanya sedangkan penyebab materialnya adalah maya. Sivasiddhata Dualism mengemukakan bahwa ada suatu bunyi halus (sabda) yang berkembangan dari Bindu yang disebut vidya atau nada, sebagai akibat dari gerakan tuhan yang menyusun badan dari ananta dan menentukan demikiana pada pemikirannya agar memungkinkannya untuk melanjutkan penciptaan yang tidak murni.
Nada sebagai suatu kondisi dari subjek pribadi, merupakan evolusi dari bindu yang jumlahnya tak terhitung seperti halnya roh-roh yang masing-masing kondisinya terbatas dan masing-masing membentuk keterpisahan. Ia seperti sebuah benih dari keseluruhan pengetahuan yang ditandai dengan kata-kata pada tingkatan empiris. Daya pengetahuan dari setiap diri pribadi dikaitkan dari sebuah nada dan dengan demikian ia memperoleh objek-objek yang ketentuanya pada tingkatan maya. Keaneka ragaman bentuk pengetahuan adalah wujud dari nada dan sang roh bersinar aneka warna bukan disebabkan oleh suatu perubahan dalam dirinya tetapi disebabkan oleh perubahan formal pada kondisi terbatasnya yaitu nada. Pertumbuhan dan kemerosostan dalam pengetahuan tidak menyebabka perubahan pada roh, kemudian bukan berarti bahwa ia tak abadi. Karena itu bindu diakuai sebagai penyebab kebadian dan tanpa perubahan dari jiwa kendatipun pengetahuan berubah.
Sivasiddhanta Dualis mengemukakan bahwa pengetahuan tertentu tak dapat dijelasakan dalam istilah buddhi karena penentuan juga dijumpai pada tingkatan itu, yang mengatasi maya. Ananta misalnya milik pada tingkatan Isvara tetapi ia juga memiliki sejenis pengetahuan tertentu, karena kalau tidak demikian ciptaan dari dunia emperis tak akan mungkin terjadi. Selanjutnya fungsi dari budhi adalah untuk menimbang atau memutuskan (adhyavsaya). Oleh karena itu buddhi mempergunakan kata-kata dan mengandaikan kehadiranya. Oleh karena itu bindu sebagi penyebab kata-kata melalui nada dan bindu yang lebih rendah diperlukan. Beberapa berpendapat bahwa bindu keberadaanya bersatu padu dalam Siva seperti daya pengetahuan. Mereka menunjukan bahwa ia merupakan daya kegiatan (krya sakti) yang tidak memiliki keberadaan yang terpisah darinya seperti maya dan merupakan para kundalini. Mereka berpendapat bahwa  daya bersatu padu dalam siva yaitu, pengetahuan (samvid atau vijana) dan kegiatan (para kundalini). Melalui yang pertama ia mengetahui dan melalui yang kedua ia menciptakan. Kedunya tak terpisah, sehingga pada akhirnya segala sesuatu berada dalam bindu atau dalam siva.
Siva transedental atau pati berpropesi pada mahamaya memakai daya-dayanya yaitu iccha jnana dan kriya. Evolusi pertama dari mahamaya di bawah pengearahan daya kehendak (iccha sakti) adalah dalam bentuk nada  dan Dunia damai (santyadi bhuvanatmaka). Ini disebut sebagai sakti tattva, yang tanpa bagi-bagian (niravayava), yang merupakan akibat dari bindu atau mahamaya.
Katagori sadasiva merupakan evolusi kedua dari bindu di bawah pengendalian daya pengetahuan dan kegiatan dalam keseimbangan yang sempurna dan merupakan katagori tidak bebas yang ketiga. Isvara tattva asalah evolusi ketiga dari bindu, apabila ia di bawah pengendalian daya kegitan dengan daya pengethuan yang menempti posisi bawahan terhadapnya. Ananta, dsb. Termasuk dalam katagori ini yang tersebut vidyeyas dan merupakan katagori tidak bebas yang ke empat. Vidya tattva merupakan evolusi keempat, apabila bindu berkembang di bawah pengendalian atau pengarahan daya pengetahuan, dengan daya kegiatan sebagai bawahannya. Mahluk-mahluk yang termasuk katagori ini, maha mengetahui dan disebut vidya karena disini kemahatauan sang roh diperlihatkan untuk pertama kalinya. Lima katagori ini merupakan milik dari ciptaan murni, dimana tak ada pembatasan pengetahuan sama halnya dengan 5 katagori yang diakuai siva monistik, sebagai Siva, sakti, sadasiva, isvara dan vidya. Perbedaan yang terjadi pada penyimpulan dasar dari monoisme dan dualis adalah penyamaan atau perbedaan dari penyebab efesien dan penyebab material. Sang roh pribadi (pasu) dengan pengalaman yang panjang, belajar bahwa samsara ini penuh dengan penderitaan dan bersifat sementara dan bahwa ia dapat mencapai kebahagian dan kekekalan hanya dengan pencapaian sivatva atau hakikat Siva atau realisasi Tuhan. Ia mengembangkan vairagya (ketidak terikatan) dan Viveka (pembedaan antara yang nyata dan yang tidak nyata yang tetap dan tidak berubah.
Saivasiddhanta Dualis juga membagi jiva atau pasu menjadi tiga keadaan yaitu: vijnanakala, pralayakala, dan sakala,. Pada vijnanakala sang roh hanya memiliki anavamala (keakuan) di mana maya dan karma telah terlepaskan. Pada pralayakala mereka hanya terbatas dari maya saja pada tahapan pralaya sedangkan sakala semua cacat atau ketidak murnian masih ada. Mala-mala tersebut berpengaruh pada jiva (roh) dan bukan pada Siva. Ketiga belenggu dapat dilepskan hanya melalui tapas yang ketat disiplin yang kerasa bantuan seorang guru diatas semuanya adalah karunia dari Siva. Carya (penyelidikan), kriya (upacara), dan yoga menyusun disiplin tersebut dan dengan pelaksanaan yang sungguh-sungguh ia mendapatkan karunia dari siva, sehingga roh dapat mewujudkan hakekatnya sebagai Siva (jnana).
Disiplin dan karunia memuncak dalam jnana yang merupakan pelepasan tertinggi atau pencapaian kebahagian akhir karma dan cara-cara lainya hanya merupakan tambahan atau pembantu. Pencapaian sivatva atau hakekat jiwa bukan dimaksudkan penggabunga sepenuhnya antara roh dengan siva karena roh yang terbrbas tidak kehilangan kepribadianya sivatva merupakan realisasi dari identitas inti kedatipun berbeda. Roh mencapai hakekat Siva atau Tuhan, tetapi dirinya bukanlah Siva atau Tuhan. Konsep moksa yang diakuai Sivasiddhanta Dualis, ada 2 yaitu seperti diuraikan didepan yaitu para moksa dan apara moksa atau pembebasan yang lebih tinggi dan pembebasan lebih rendah.
Jadi Saivasiddanta Dualis berpendapat bahwa hanya terdapat tiga kategori awal yaitu Maya (mahamaya), Purusa, dan Siva yang juga dapat dikatakan sebagai pati, pasu dan pasa, di mana dalam hal ini pati sebagai pengganti Siva, Pasu sebagai pengganti Purusa dan Pasa sebagai pengganti Maya atau mahamaya, meskipun tidak begitu tepat karena pasa sebagai sebuah kategotri awal memiliki lima kategori bebas. Pati atau Siva sebagai kategori pertama yang bebas merupakan penguasa ternak, yang maksudnya adalah penguasa segala makhluk hidup atau segala sesuatunya sehingga dapat dikatakan sebagai maha kuasa. Ia meresapi segalanya, abadi. Tanpa awal dan akhir. Bebas dari segala kekotoran, terbebas dari sebab dan akibat, yang tetap tak berubah meskipun Ia menciptakan alam semesta ini, seperti matahari yang menyebabkan mekarnya kuncup-kuncup kembang teratai. Ia menciptakan dunia objektif yang terbatas ini, yang berasal dari penyebab material, yaitu maya, dengan daya kekuatannya yang disebut sakti, sebagai penyebab instrument.

2. Lakulisa Pasupata
Sistem nilai filsafat Lakulisa Pasupata berbeda dengan pasupata yang bersifat Dualis, walaupun keduanya mengakui adanya  kategori utama yaitu: (1) Karana, (2) Karya, (3) Yoga, (4) Vidhi, (5) Duhkhanta.  Perbedaan sistem ini dengan Pasupata dualis tampaknya telah ditunjukkan dalam ulasan yang disebut Ratna Tika pada Gana Karika dari Bhasarvajna, ketika ia membahas tentang perbedaan Lakulisa Pasupata dengan sistem filsafat lainnya (Sastrantare). Pernyataan tentang gambaran yang berbeda itu kelihatanya menjadi sangat perlu, karena hal itu dikutip oleh Madhva dalam Sarva Darsana Samgraha-nya. Hal ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
1)      Pada sistem filsafat lain, masalah pembebasan tiada lain merupakan akhir dari segala kesengsaraan, tetapi menurut sistem filsafat Lakulisa Pasupata, pembebasan merupakan pencapaian keunggulan atau kesempurnaan illahi. Di sini perbedaan Lakulisa Pasupata dengan pasupata dualis dinyatakan; karena Lakulisa tampaknya mengawali Pasupata Sutra nya dengan objek tentang pernyataan perbedaan dari sistem filsafatnya dengan Pasupata lebih awal, karena tujuan karya tersebut, seperti yang dinyatakan dalam sutra pertamanya, adalah untuk menghadirkan disipln spiritual yang berguna dalam penyatuan dengan Tuhan, seperti yang dikemukakan oleh Tuhan sendiri (athatah pasupateh pasupatem yogavidhim vyakhasyamah). Kita mengetahui bahwa konsepsi Pasupata tentang pembebasan dipakai oleh Nyaya dan Vaisesika, karena Nyaya Sutra dari rsi Gautama secara jelas menunjukkannya dalam sutra yang kedua dan rsi Vatsyayana dalam ulasannya memperjelas hal itu ketika ia mengatakan :”kathan buddhiman sarva duhkhocchedam sarvaduhkha samvidam apavargam na rocayet” yang artinya “Bagaimana seorang bijak dapat tidak menyukai pembebasan (apavarga) ini, yang dicirikan dengan penghentian total dari segala kesengsaraan”.
2)      Sistem filsafat lain mengakui akibat (Karya) tak akan terjadi sebelum terjadi, tetapi menurut sistem filsafat Lakulisa Pasupata, akibat (Karya) yang terbagi menjadi 3 kategori, yaitu: Kala, Vidya dan Pasu, adalah abadi. Pada keadaan kehadiran pengetahuan kita tentang sistem Pasupata yang kita peroleh dari refrensi tentang hal tersebut oleh Sankara dari para pengulasnya, kita tak dapat mengatakan secara tegas sejauh mana masalah ini menyebutkan tentang sistem Pasupata. Tetapi apabila kita mengetahui bahwa pandangan Vaisesika tentang ketiadaan akibat sebelum ada kejadian (asat karyavada) diambil dari Pasupata, seperti konsepsi tentang pembahasan sebagai akhir dari segala kesengsaraan, kita dapat mengatakan bahwa hal ini merupakan masalah perbedaan lain dari Lakulisa Pasupata terhadap Pasupata dualis; karena yang pertama berpendapat bahwa semua akibat ada dan sepertinya sama dengan daya (sakti) Tuhan, dari mana ia mewujudkannya seketika.
3)      Menurut sistem filsafat lain, Isvara dan Pradhana, yang merupakan 2 penyebab, yaitu penyebab efesien dan penyebab material, tidak bebas, karena penciptaan tak akan dapat mulai ketidakhadiran salah satunya. Tetapi menurut Lakulisa Pasupata, Tuhan adalah bebas, karena seperti yang akan kita saksikan secara metafisika sistem ini merupakan kebebasan yang rasionalistik. Masalah ini secara jelas ditunjukkan dalam sistem Pasupata, karena seperti yang kita nyatakan sebelumnya mengenai authoritas dari Ratna Prabha, Pasupata mengakui 2 penyebab, yaitu Isvara dan Pradhana. Dua titik perbedaan yang dinyatakan disana tampaknya untuk menunjukkannya terhadap sistem yoga dan Mimamsa.
Tradisi tentang sistem filsafat Lakulisa Pasupatai, tidak hanya diketemukan dalam berjeninis-jenis bagian dari Taittiriya Aranyaka pada anuvakah 5, sloka 17 sampai 21, tetapi juga dalam bagian terbesar dari buku tersebut, pada anuvakah, 5 dari sloka 43 sampai sloka 47. Mantra-mantra yang menyusun naskah anuvakah ini telah diambil oleh Lakulisa dalam Pasupata Sutra-nya, dengan sedikit sekali perubahan untuk menggambarkan Brahman atau Siva, karena ia direnungkan pada berbagai tahap dari jalan pembebasan. Sayana, dalam ulasannya tentang Taittriya Aranyaka menunjukkan hal-hal berikut, yang merupakan gambaran yang penting tentang sistem filsafat Lakulisa Pasupata.
Tampak bahwa pada saat munculnya sistem filsafat Lakulisa Pasupata, kata “Brahman” tidak secara ekslusif berarti realistis tertinggi bagi konsep Vedantin, karena dalam Pasupata Sutra dari Lakulisa, kita menemukan kata “Brahman” dipergunakan untuk realitas sebagai objek perenungan pada tingkatan yang berbeda. Apabila kita membaca ulasan Sayana, kita menemukan bahwa apa yang dikatakan tentang Brahman, kebanyakan seperti yang dinyatakan pada sistem Lakulisa Pasupata, sebagai Pati, yaitu kategori pertama.
Jadi dengan demikian Taittirya Aranyaka, menurut sayana mengakui hal-hal berikut:
a)        Bahwa Brahman merupakan penyebab dari dunia obyektif dan yang merupakan penyebab material sepanjang sebagai Maya yang merupakan daya yang tak terpisahkan dengan Brahman. Oleh karena itu, ia merupakan Mayin yang Saguna dan Mayavisista.
b)        Babwa seperti sifat dari Nirguna Brahman yang menjadi kesatuan dari Saccidananda, demikianlah ia merupakan Saguna Brahman untuk menciptakan, memelihara dan menghancurkan alam semesta ini (svabhava)
c)        Bahwa Isvara lah yang memberikan buah kegiatan dan bukan Karma itu sendiri.
d)       Bahwa, dunia objektif dan sang diri yang terbatas merupakan akibat dari Brahman yang dibatasi oleh Maya.
e)        Bahwa akibat tak dapat terjadi di luar dari penyebab, karena itu Brahman merupakan penyerap segalanya dan Ananta.
f)         Bahwa Brahman adalah Sat, yang menciptakan dunia dan kemudian memasukinya, seperti seseorang yang membangun sebuah rumah, kemudian masuk ke dalamnya dan berdiam di sana. Brahman sebelah menciptakan semuanya, dari Akasa sampai Purusa masuk ke dalamnya, karena Ia didapatkan sebagai yang menerima dan yang mengetahui di dalam Buddhi, dalam teratai hati.
g)        Bahwa Brahman menjadi segala sesuatu yang dapat diamati dan yang tak dapat diamati, yang tetap dan yang tidak tetap, yang berjiwa dan yang tak berjiwa, yang benar dan yang tidak benar.
h)        Bahwa Brahman adalah Sukrta, karena ia menciptakan segala sesuatu secara bebas. Pemikiran ini dinyatakan melalui kata “Svatantra” dalam Pasupata Sutra.
i)          Bahwa Rudra adalah segala sesuatu; Ia merupakan diri dari semua mahluk hidup; Ia adalah ‘keberadaan; Ia adalah yang mengatasi segalanya; Ia adalah semua yang telah ada, yang sekarang ada dan yang bakal nantinya; Ia adalah Umapati, yaitu penguasa ajaran
j)          Bahwa Brahman adalah penyebab sumber, pemantap dan kehancuran dari dunia objektif.
k)        Bahwa Brahman berbeda dengan kelima Kosa, yaitu Anna, Prana, Manas, Vijnana dan Ananda.
l)          Bahwa Brahman memiliki bermacam-macam wujud Jyestha, dsb yang jumlahnya 9 dan penguasa dari 9 daya, Vama, dsb.
m)      Bahwa Brahman memiliki 3 wujud sehubungan dengan 3 sifat dari Sattva, Rajas dan Tamas, yaitu (1) yang lebih banyak sattvanya menjadi tenang (santa) disebut aghora, (2) yang lebih banyak rajasnya menjadi menakutkan, disebut Ghora, (3) yang lebih banyak tamasnya, menjadi sungguh-sungguh mengerikan, disebut Ghoratara.
Konsepsi tentang Moksa, menurut Sayana, Taittiriya Aranyaka mengakui hal-hal berikut :
a)      Bahwa Moksa terkandung dalam Jivai yang memiliki Pratistha dalam Brahman yang tak dapat diamati.
b)      Bahwa Pratistha tersebut artinya kemantapan pemikiran mengenai identitas pribadi yang semesta atau realisasi bahwa Brahman merupakan diri sejati dari diri seseorang.
c)      Bahwa seseorang yang mengetahui identitas dari Anandai yang merupakan perseorangan yang ada pada Brahman, secara perlahan-lahan mendapatkan penyatuan dengan Brahman (upasankramati), tanpa meninggalkan kepribadiannya. Yang bebas termasuk kategori tertinggi, sehingga pembebasan terkandung dalam perembesan jiva ke dalam Brahman sehingga daya Brahman lolos ke dalamnya, persis seperti darah dari suatu organism hidup yang lolos ke dalam perut seekor lintah. Naskah-naskah ini tampaknya telah menjadi dasar dari persepsi tentang Sayujya Moksa dalam sistem filsafat Lakulisa Pasupata, tetapi authoritas yang lebih awal di bawah pengaruh Vedanta monistik, seperti yang dinyatakan oleh sayana berpendapat bahwa kata “Sankramati” di dalam naskah dipergunakan dalam pengertian yang kedua dari buah pengetahuan, yang menghancurkan khayalan.
d)     Bahwa yang terbebas (mukta)pergi kedunia Brahman.
e)      Bahwa objek perenungan mungkin Brahman atau suatu aspek dari pada-Nya, yang dapat membuat perenungan menjadi kuat atau lemah. Karena itu, apabila perenungan menjadi kuat dan objeknya menjadi Brahman, sang perenung mendapatkan penyatuan (sayujya) dengan Brahman. Tetapi apabila menjadi lemah, ia mendapatkan dunia Brahman (salokata). Demikian pula apabila objek perenungan menjadi suatu aspek dari Brahman dan perenungan menjadi kuat, menengah atau lemah, si perenung mendapatkan penyatuan dengan daya yang sama (sarstika-samanaisvaryata) atau dunia ke-Ilahian (samalokata)
f)       Bahwa pembebasan akhir dicapai melalui bermacam-macam tahapan dan pada tahapan akhir yang terbebas mencapai keagungan Brahman (mahima).
Beberapa hal yang senada bagi filsafat Lakulisa Pasupata dari Taittiriya Aranyaka, menurut penafsiran Sayana, adalah sebagai berikut :
a)        Bahwa sang diri di dalam Guha, terbuat dari lima kosa, yang utamanya identik dengan Brahman dan orang yang mewujudkan hal ini, mengalami keseluruhan objektifitas secara terus menerus
b)        Bahwa Purusa merupakan suatu akibat (annat purusah)
c)        Bahwa, Akasa adalah ruang dan bahan, di mana suara ada di dalam atau bersamanya.
d)       Bahwa, penciptaan memungkinkan bagi subyek yang terbatas untuk menikmati dan menderita buah karma.
e)        Bahwa, tak ada pertentangan yang mendasar antara identitas dan perbedaan; di mana identitas menunjukkan intisari, yaitu Brahman dan perbedaan terhadap wujud saja (akara) brahmakarena advaitam, bhoktrbhogyakarena dvaitam.

Jadi dengan demikian Taittiriya Aranyaka menghadirkan dasar-dasar pengertian Dvaitadvaita atau  Bhedabheda.
Kita telah merujuk pada 5 anuvakah dalam Taittiriya Aranyaka, yang merupakan dasar dari sistem filsafat Lakulisa Pasupata. Sayana dalam penafsirannya tentang naskah ini setuju bahwa mereka mengemukakan tentang Saivaisme secara umum, baik sebagai sebuah agama (aliran) maupun sebagai sebuah filsafat. Jadi, ia menyatakan bahwa 5 mantra, yaitu: Sadyojatam, Vamadevaya, Aghrebhyah, Tatpurusaya, dan Isanah, menghadirkan 5 muka (vaktra) dari Mahadeva atau Siva, di mana empat yang pertama, menghadap keempat arah dan yang kelima menghadap ke atas (urdhva).
Penafsirannya dapat di ketengahkan sebagai berikut :
1)          “Hamba mendekati Sadyojata, yang mengarah ke Barat, penguasa dalam wujud tersebut; hamba bersujud pada Sadyojata. Ya Tuhan! doronglah hamba, bukan kepada keberadaan yang berpindah-pindah, tetapi untuk mengatasinya. Hamba bersujud kepada mereka yang bebas dari siklus kelahiran dan kematian.
2)        Hamba bersujud kepada Vamadeva yang menghadap utara, yang memiliki 9 aspek, yang dilengkapi 9 daya, yaitu: (1) Jyestha, (2) Srestha, (3) Rudra, (4) Kala, (5) Kalavikarana, (6) Balavikarana, (7) Balapramathana, (8) Sarvabhutadamana, dan (9) Manonmana.
3)        Hamba bersujud kepada Aghora, yang menghadap ke selatan, yang memiliki 3 macam wujud, sesuai dengan Guna yang lebih banyak mempengaruhinya.
4)        Hamba bersujud kepada Tatpurusa, yang menghadap ke Timur, hamba merenungkan Tuhan yang agung (Mahadeva); semoga Rudra mendorong hamba untuk mengetahui pengetahuan dan perenungan.
5)        Isana, yang menghadap ke atas (urdhva-vaktra) merupakan penguasa pengetahuan, pengendali semua mahluk, pelindung Veda. Sang diri yang mengatasi segalanya lebih tinggi dari pada Hiranyagarbha Brahman sekalipun; semoga Ia berkenan mewujudkan aspek yang penuh kedamaian kepada hamba. Hamba adalah sadasiva.
Kita akan menunjukkan perbedaan antara penafsiran dari Sayana mengenai mantra ini dengan yang diberikan Lakulisa dalam Pasupata Sutra-nya dan perbedaan antara teks-teks (naskah) dari mantra ini, seperti yang dijumpai dalam Taittiriya Aranyaka, dengan yang dipergunakan oleh Lakulisa.
1)      Menurut Lakulisa Pasupata, Moksa tak terkandung dalam penghentian dari semua kemalangan (duhkhanta) saja, seperti yang dinyatakan oleh Nyaya, tetapi juga dalam pencapaiannya daya-daya pengetahuan dan kegiatan.
2)      Akibat, menurut beberapa sistem lain, misalnya Vaisesika, adalah yang tidak dapat sebulan hal itu terjadi (asatkaryavada); tetapi menurut sistem ini, akibat tersebut sifatnya abadi, sehingga Kala, Vidya dan Pasu semuanya abadi.
3)      Menurut beberapa sistem lain, penyebab efesien tergantung pada sesuatu diluar, berkenaan dengan masalah penciptaan dan akibat. Misalnya Nyaya dan Vaisesika tentang Isvara yang tergantung pada atom dan Karma, tetapi menurut sistem ini, penyebab itu selamanya bebas sama sekali.
4)      Upacara-upacara, yang diuraikan oleh beberapa sistem lain membawa menuju surga, dsb, dari mana dapat dipastikan akan jatuh kembali dan setelah habis menikmati pahala; tetapi upacara Pasupata membawa pada tahap samipya, di mana mereka yang telah mencapai tahapan ini tak akan kembali ke dalam keberadaan yang berpindah-pindah.
5)      Lakulisa Pasupata menolak konsepsi Moksa seperti yang dikemukakan oleh Ramanuja dan Ananda Tirtha yang secara teknis disebut “perbudakan” (dasatva), karena perbudakan bukanlah akhir dari segala kesengsaraan. Oleh karena itu ia menyatakan bahwa pembebasan adalah pencapaian atribut dari yang tertinggi.

Perbedaan antara Saiva Dualis dengan Lakulisa Pasupata adalah sebagai berikut :
1)    Menurut Lakulisa Pasupata Tuhan terlepas (bebas) dari Karma dalam kegiatan penciptaan-Nya, tetapi menurut Saiva Dualis, Dia tergantung pada karma.
2)    Menurut Lakulisa Pasupata, daya pengetahuan dan kegiatan lolos dalam pembebasan (sankranti), tetapi menurut saiva Dualis daya-daya tersebut berwujud (abhivyakti). yang satu berpendapat bahwa daya-daya tersebut bukan milik dari Pasu, sedang yang lain berpendapat bahwa daya-daya tesebut adalah milik Pasu, tetapi diselubungi (di kaburkan).
3)    Saiva Dualis Siva sebagai si pencipta berdasarkan penyimpulan, sehingga argumentasinya merupakan kosmologi. Ia berpendapat bahwa ketergantungan pada cara, seperti karma misalnya, tidak bertentangan dengan kebebasan si pencipta, karena kebebasan seorang raja memberi hadiah tak terpengaruh walaupun ia melakukannya lewat harta benda. Kebebasan si pencipta terkandung dan tak membiarkannya untuk mendorong-Nya berbuat serta dalam penggunaan peralatan dan bukan menjadi bebas dari padanya. Namun, Lakulisa Pasupata berpendapat bahwa Tuhan bebas dari karma pada kegiatan penciptaan-Nya dan bahwa objek penciptaan terjadi dalam diri-Nya sebagai daya-daya-Nya. Karena itu Dia terbebas dari segala sesuatu secara abadi dalam kegiatan penciptaan (svatantra). Ia mewujudkan akibat atas kehendak-Nya.
Lakulisa Pasupata tidak mengakui materi yang menjadi hakekat pikiran, menjadi sifat dari pemikiran, tetapi bukan pemikiran yang tetap di dalam dari apa yang sesungguhnya merupakan sifat dari pikiran (cit). Materi terjadi dalam kemampuan (sakti) dari Tuhan, yang tidak berbeda dari-Nya dan merupakan aspek dari-Nya seperti panas yang merupakan aspek dari api. Dengan demikian ia merupakan dvaitadvaita (bhedabhedavada); karena walaupun ia mengakui perbedaan pokok antara pikiran dan materi, antar yang pribadi dan yang semesta, namun ia berpendapat bahwa materi bukan berada di luar (cit), atau Tuhan, tetapi di dalam-Nya, yang merupakan Saguna Brahmavada. ia mengakui bahwa para dewa dan makhluk-makhluk surgawi juga merupakan keberadaan yang berasal daridaya Rudra sebagai objek kegiatan penciptaan dan penghancuran-Nya.
Komentar atau ulasan mengenai Pasupata Sutra-Nya oleh Lakulisa oleh Kaundiya, disebut Pancartha Bhasya, ­karena ia berkaitan dengan lima kategori utama dari sistem filsafat Lakulisa Pasupata, di mana 2 kategori berdasarkan metafisika dan 3 kategori berdasarkan agamis sehingga dalam sistem ini tak dikenal pencabangan antara filsafat dan agama. Kelima kategori tersebut adalah: (1) Karana (Pati); (2) Karya (Pasu); (3) Yoga; (4) Vidhi dan (5) Duhkantha, atau Tuhan (penyebab), Akibat, Pensatuan, Ritual dan Pembebasan.
Tampak bahwa ketika sistem filsafat Lakulisa Pasupata muncul, tak banyak pertentangannya dengan sistem Vedanta. Dalam Pasupata Sutra, perkataan ‘Brahman’ digunakan sebagai objek perenungan dan kata Pati, Karana dan Brahman artinya sama; karena sutra “Atredam Brahma Japet” di ulang-ulang lima kali pada permulaan dari pengenalan Brahman atau pati pada dasar dari setiap mantra dari kelima mantra, “Sadyojatam” dsb.
Pati atau Brahman adalah Sat (keberadaan), yang berbeda dengan Asat (bukan keberadaan). Sifatnya yang abadi berbeda dengan pembebasan, karena Lakulisa Pasupata berpendapat bahwa keabadian ada dua jenis, yaitu: yang tidak memiliki awal dan akhir, serta yang memiliki awal tetapi tidak memiliki akhir. dan jenis yang pertama merupakan milik dari penyebab atau Pati dan jenis yang kedua merupakan milik dari yang terbebaskan atau Moksa, karena ia memiliki awal tetapi tidak memiliki akhir. Pati merupakan penyebab tanpa sebab yang abadi, yang tanpa awal-Nya berbeda dengan Purusa, seperti yang dinyatakan oleh Samkhya dan Yoga. Purusa merupakan subyek kelahiran dan kematian, tetapi Pati bebas dari hal-hal semacam itu.
Uraian di atas tadi merupakan penafsiran Kaundiya tentang kata “sadyojatam”. Tetapi, menurut Sayana, kata ini hanya merupakan satu nama dari Siva yang menghadap ke Barat, yang secara artistik diterima oleh pikiran keagamaan sebagai lima muka (pancavaktra).
Sadyojata ini harus dicapai secara mental  untuk pengecualian dari segala sesuatu lainnya dan si perenung harus mempersembahkan seluruh keberadaannya kepadanya. Objek persembahan ini melampaui ciptaan, akibat, yang merupakan landasan di bawah kategori yang secara teknis disebut ‘Karya’ dan yang patut mendapat “Anugerah”.
Pati meresapi diri pribadi melalui daya pengetahuan (jnana sakti) dank arena kehendak-Nya lah maka pribadi dihubungkan dengan kepribadian dan hubugan pribadi dengan badan, kegiatan dengan tanpa kegiatan dsb. Bergantung kepada kehendak-Nya. Pati bertanggung jawab terhadap penceraian serta penggabungan alam dunia, yang terdiri dari 14 macam keberadaan, objek-objek serta tempat kediamannya. Ia mengendalikan semua daya yang bertanggung jawab terhadap keterkaitan yang timbul terhadap badan, indra, obyek-obyeknya serta rumah, dalam segala makhluk yang terbatas, kecuali para Siddha. Ia tidak dibatasi oleh Manas, yaitu semua yang berada di bawah Kala, seperti 13 indriya, 5 tanmatra, dan 5 unsur. Ia merupakan si pengendali, si pengaruh dari semua akibat dan cara (Karya dan  Karana dalam pengertian  Samkhya). Oleh karena itu, ia dikatakan sebagai sakala, hanya oleh pemindahan dari sifat; tetapi sesungguhnya ia melampaui dan mengatasi semuanya, sehingga dikatakan sebagai Akala atau Amanas. Ia merupakan penyebab dari berbagai-bagai obyek dari sifat yang berlawanan, oleh karena itu Ia digambarkan menjadi berbagai-bagai wujud, baik yang menakutkan maupun yang penuh kedamaian dan merupakan tempat bagi semua yang berada di bawah kategori “Karya”, yaitu: Vidya, Kala dan Pasu.
Pati juga dikatakan sebagai Mahadeva, penguasa para dewa dan kejenakaan merupakan sifat utama-Nya. Ia lebih tinggi dan jauh lebih kuasa dari pada makhluk apapun. Ia berada dengan diri-diri pribadi dan Ia menciptakan semua sifat dari akibat, yaitu Kala, Vidya dan Pasu, karena kejenakaan-Nya. Ia merupakan penyebab penciptaan, pemeliharan dan penghancuran, pengaburan serta anugerah. Ia cuma satu-satunya walaupun secara berbeda dikatakan sebagai Pati dan Adya, karena berbagai atribut dan fungís-Nya. Ia disebut Pati, karena Ia memiliki daya-daya pengetahuan dan kegiatan yang mengatasi segalanya (niratisaya drkkriyasaktimattvam), yang tanpa awal dan tanpa akhir.
Daya-daya-Nya terwujud dalam semua yang terbatas, yang tak terbatas atau terbatas pada satu aspek dan tak terbatas pada aspek lainnya, baik yang indah maupun yang buruk. Ia merupakan deva Rudra, lautan, matahari, ether, sang diri, Brahman dan tak satupun yang dapat dipandang sebagai berbeda dengan-Nya (na sakyam bhedadarsanam).
Tuhan dikatakan sebagai tanpa awal dan tanpa penyebab yang menyebabkan, yang pada pokoknya merupakan sifat (hakekat) dari “keberadaan”, dalam bab pertama sutra 58, 40, 44. Ia juga dikatakan sebagai banyak, karena keberadaan-Nya yang memiliki banyak atribut dan melakukan fungsi yang bermacam-macam seperti yang dinyatakan dalam bab 2, sutra 1, 4, 5, 20, 23, sampai 27. Ia juga diakui memiliki sifat-sifat yang berlawanan seperta Ghora, Aghora dan Ghoratara. Karena itu timbul satu pertanyaan: “Apakah menurut sistem realitas terakhir merupakan kejamakan?”. Jawabnya adalah: Tuhan itu satu dengan wujud yang banyak, yaitu realitas terakhir itu merupakan kesatuan dalam kejamakan (tatpurusa). Ia dikatakan rsi karena ia mengendalikan semua yang merupakan sifat dari akibat (karya). Ia disebut “Vipra”, karena Ia mahatahu. Daya pengetahuan-Nya berlanjut mengatasi segenap medan pengetahuan.. Ia merupakan yang agung (mahan) karena daya-daya pengetahuan dan kegiatan-Nya alamiah dan tak terjangkau serta jauh melampaui yang dimiliki keberadaan lainnya, yang merpakan milik-Nya sebagai sifat-sifat-Nya. Dalam kenyataanya Ia disebut Isvara, karena sifat-sifat ini berada di dalam-Nya (aisvaryam tad gunasadbhavah). Ia mengamati sesuatu yang dapat diamati dan lebih tinggi dari Purusa. Ialah yang menjadi sasaran meditasi yang berasal dari perkataan dan Manas, karena Ia mengatasi pencapaian kata-kata dan Manas. Ia adalah Niskala, namun berbeda dengan Pralayakala. Walaupun Niskala, Ia memiliki sifat mahatahu dan mahakuasa.
Ia adalah penguasa segala ajaran yang membawa pada pencapaian empat tujuan umat manusia yang dikenal. Ia merupakan penguasa semua makhluk hidup kecuali para Siddha dan Isvara. Ia disebut Brahman karena Ia bertanggung jawab terhadap pengkasaran dari Vidya, Kala, dan Butha, namun Ia tetap mengatasinya. Ia adalah penguasa dari Brahma, makhluk pertama yang berbeda dengan semua subyek yang terbatas yang dikatakan sebagai Virinci. Ia disebut Siva karena ia bebas dari segala kemalangan dan dengan demikian menyatakan pengalaman bebas yang abadi (nitya).
Konsepsi tentang akibat atau Karya, menurut Lakulisa Pasupata, sangat berbeda dengan sistem filsafat lainnya. Ia bukanlah Vikrti, sebagai lawan dari Prakrti menurut sistem Samkhya, karena di dalamnya bukan saja “Vikrti” tetapi juga Purusa atau subyek, yang bukan Prakrti (penyebab) maupun Vikrti (perubahan). Selanjutnya, Ia tidak mengakui teori evolusi bahwa Mahan berasal dari Prakrti dsb, sebaliknya ia berpendapat bahwa segala sesuatunya ada dalam sakti (daya) Tuhan dan penciptaan tidak lebih dari pengkasaran dari apa yang ada dan penyelenggaraan dari apa yang terpisah adanya menjadi keseluruhan ini, sesuai dengan kehendak-Nya.
Akibat juga bukanlah cuma sifat dari “pemikiran” dalam Pikiran Universal, seperti pandangan dari Monistik Kasmir, karena Lakulisa Pasupata menemukan perbedaan antara yang berjiwa dengan yang tak berjiwa (Cit dan Acit) walaupun mereka ada dalam daya Tuhan. Akibat juga bukan Cuma khayalan seperti yang dikemukakan oleh para Vedantin, karena Lakulisa pasupata bukanlah monistik, tetapi dualisme yang monistik. Ia mengakui bahwa realitas bukanlah kesatuan yang murn tetapi kesatuan dalam kejamakan, sehingga menurutnya kejamakan ada dalam kesatuan seperta yang dilakukan bintang-bintang di surga. Akibat juga bukannya tak terjadi sebelum sesuatunya terjadi seperti asatkaryavadin-Nya Nyaya dan Vaisesika, karena akibat sebagai sebuah kategori menurut Pasupata Lakulisa, adalah abadi.
Tampak bahwa Lakulisa Pasupata dipengaruhi dalam konsepsi tentang kategori utama yang kedua, yaitu akibat, oleh konsepsinya tentang kategori utama yang pertama, yaitu Pati, yang kemungkinan hanya pada suatu tahapan yang berikutnya dalam pengembangan sistem, yang disebut penyebab (Karana), karena “Pati” hanya kata yang dipergunakan sebagai kategori pertama dalam Pasupata Sutra, pada sutra pertama; demikian pula kata “Pasu” dipergunakan untuk kategori kedua yang tampaknya menjadi apa yang dikendalikan oleh Tuhan (pasanat pasuh). Dan kemuadian dua yang pertama, yang hany merupakan kategori metafisika yang diberi nama yang lebih bersifat filsafat yaitu penyebab (karana) dan akibat (karya). Kata Karya sebagai nama dari kategori yang kedua dalam filsafat ini, bukan berarti“ yang diakibatkan atau hasil yang belum ada sebelum dihasilkan”; tetapi yang merupakan obyek dari kehendak Tuhan yang bebas, yaitu yang “tidak bebas” (asvatantra) sebagai lawan dari Tuhan (Tuhan).

3. Siva Nandhi
Siva sebagai Mahadeva, yaitu Siva sebagai dewa tertinggi menurut kitab Silparatna dalam perwujudannya digambarkan bertangan empat, delapan, sepuluh dan enam belas. Bermata tiga (trinetra), berpakaian kulit harimau, memakai tali kasta (upavita) ular, mengenakan hiasan telinga (kundala) dan hiasan kepala (jatamakuta), kadang-kadang digambarkan berkendaraan sapi (Nandi) (Dubreuil 1937:18-22, Rao 1968:114-115). Di Jawa Siva Mahadewa digambarkan dalam sikap duduk atau berdiri di atas padmasana atau asana polos, bertangan dua atau empat.
Siva memiliki binatang kesayangan yang menjadi kendaraannya, yaitu seekor lembu bernama Nandini. Siva juga memiliki pakaian kulit harimau, melambangkan instink atau sifat binatang yang ada dalam diri manusia, yang telah mampu ditaklukkan oleh Siva. Kata sandi bagi Siva adalah "HARA" dan untuk Visnu adalah "HARI". Senjata Siva adalah trisula, atau tombak pendek bermata tiga. Ketiga mata trisula itu diartikan dengan berbagai makna mewakili tiga phase waktu (dulu, sekarang, masa yang akan datang); ketiga aspek yaitu penciptaan, pemeliharaan dan peleburan, ketiga guna (tiga sifat dasar suatu benda), yaitu satvam (kesucian), rajas (sifat yang aktif), tamas (sifat bodoh dan dungu). Ketiga guna inilah yang membuat wujud-wujud baru dari suatu bentuk. Dan untuk mencapai persatuan dengan Siva maka seseorang harus membakar habis semua sifat-sifat yang diwakili oleh ketiga guna itu. Semua konsep ini telah membentuk satu wujud yang maha memenuhi, universal dari Siva, yang merupakan penguasa hidup dan mati, baru dan yang lama, baik instink binatang maupun manusia. Keberadaan Siva yang bersifat abadi dinyatakan dalam istilah atau gelar Sadasiva.
Nandini (Sansekerta "yang menyenangkan") adalah seekor lembu betina. Lembu ini dipakai sebagai wahana Batara Siwa. Nandini juga melambangkan sebagai lembu kekayaan, milik Bagawan Wasista, konon terlahir dari Surabhi, sang lembu kemakmuran yang muncul ketika samudra diaduk. Nama lain Nandini yang dikenal di Indonesia adalah Andini dan Handini. Patungnya ada di Candi Prambanan. Lembu Nandini dikenal mempunyai sifat tak kenal takut. Nama Nandini juga umum dipakai untuk nama perempuan di India dengan harapan agar yang diberi nama akan menjadi kuat. Semakin giat  Dewa Nandi melayanani Dewa Siwa, semakin gembiralah dia. Estasi dalam tugas pelayanan selalu saja diperolehnya secara akumulatif. Kekuatan dewanya mulai dirasakan tiada cukup lagi untuk menopang tugas yang dicintainya, Nandi merubah tubuhnya menjadi seekor lembu yang luar biasa, dengan keempat kaki sekokoh sari keempat kitab Weda, bergerak, berjalan bahkan menari-nari kecil  seiring Tandava Sang  Nataraja. Bicaranya disampaikan dengan lafal jelas dan mencerahkan. Improvisasi adalah bagian dari keindahan yang selalu dinanti nanti Iswara. Lembu Nandi sungguh jugalah sastrawan, sejarawan, seniman, dan penghibur, ia membawa pendengarnya untuk melihat, menyelami dan merasuki sampai ke inti samudera semesta, sambil mengagungkan Brihaspati, dan lidahnya digerak gerakan oleh Dewi Saraswati. Ritme suaranya bagai kicau  burung Kalavinka di telinga Shambu,  membuat Sadyojata tak tahan ikut berbagi; tentang dharma, karakter, etika dan estetika. Tentang yang rasional dan yang empiristis, penciptaan dan pemeliharaan, perubahan yang seharusnya, tentang kesejahteraan lahir dan ketentraman batin. Lembu Nandi mengerti tuannya adalah sang Anugerah Murti, dan lewat pelayanan, pada diri sendiri juga yang dilayani, seisi semesta. Vocasional Lembu Nandi tidak sebatas penutur, tenaga fisik dan terlebih pikiran, berada didalam satu kesatuan peran profesionalisme. Sang pelayan yang selalu ingin membuat senang hati tuannya. Dan tak hendak membuat Bethara Guru menjadi Samhara Murti. Lembu Nandi siap bekerja siang malam, dengan dikawal  Surya dan Chandra.
Nandi atau Nandiswara adalah lembu yang menjadi kendaraan dari dewa Siwa dalam mitologi Hindu. Candi yang mempunyai arca Nandi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa.Candi yang mempunyai arca Nandi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa. Nandhi adalah lembu putih kendaraan Ciwa (Siwa) sehingga dalam satu perwujudannya siwa disebut Nandiswara. Candi yang mempunyai arca Nandhi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu aliran Siwa.
Melintas dihadapan Lembu Nandi yang sedang rebahan. Tempatnya tepat di ujung lapangan hijau yang luas terbuka. Di hadapannya ada kolam besar yang dipenuhi bunga teratai. Begitu anggun seperti yang selama ini digambarkan orang-orang. Konon kabarnya Lembu Nandi adalah penjaga gerbang dan kendaraan Siwa. Disebut sebagai binatang suci walaupun ada juga bangsa yang menyebutnya sebagai berhala.(Google: 18 Maret 2011:19.30)
NANDI atau Nanda merupakan nama lembu gumarang (lembu yang mempunyai dasar warna bulunya putih bertaburkan merah kuning keemasan). Dalam cerita pewayangan, Nandhi dikenal pula dengan nama Nandini atau Handini. Nandhi adalah anak raja jin bernama Prabu Patanam di negara Dahulagiri, sebelah timur laut Pegunungan Tengguru/Himalaya. Ia mempunyai saudara sekandung yang dilahirkan kembar berwujud raksasa masing-masing bernama Cingkarabala dan Balakupata, yang menjadi penjaga pintu gapura Selamatangkep di kahyangan Jonggringsaloka.
Nandi sangat sakti, kuat dan bengal. Karena kesaktiannya itu ia menobatkan diri sebagai penguasa jagad raya, disanjung dan dipuja rakyat di jasirah Dahulagiri. Mendengar pemujaan Nandi yang berkebihan itu, Sanghyang Manikmaya/Bathara Guru menjadi sangat murka. Karena di seluruh Tribuana (jagad Mayapada, Madyapada dan Arcapada) seharusnya tidak ada yang pantas dipuja dan disembah kecuali dirinya sebagai raja Dewata.  Nandi sang lembu, wahana Dewa Siwa, melambangkan kekuatan dan kejantanan.
Bathara Guru kemudian datang ke Dahulagiri untuk memerangi Nandi. Peperangan pun tejadilah. Dengan Aji Kamayan, Bathara Guru berhasil menundukkan Nandi. Ia menyerah dan mohon pengampunan. Oleh Bathara Guru, Nandi diampuni dan diboyong ke Suralaya, dijadikan tunggangan pribadi Bathara Guru. Nandi pernah dipinjam oleh Prabu Pandu, raja negara Astina, memenuhi permintaan Dewi Madrim, istrinya yang waktu itu sedang mengandung Nakula dan Sadewa, untuk dinaiki terbang berputar-putar di atas taman Kadilengleng negara Astina.
Sapi dalam Agama Hindu adalah binatang suci “Nandini” sebagai palinggihan Ida Bhatara Siwa oleh karenanya disakralkan, bukan diharamkan seperti babi dalam Agama Islam. Pantangan menyakiti, membunuh, memakan dagingnya adalah dalam kaitan sujud bhakti kita ke hadapan Ida Bhatara Siwa (Tuhan Yang Maha Esa). Bagaimana mungkin setiap hari kita memuja-Nya, lalu di kesempatan lain kita memakan daging binatang suci kesayangan-Nya? Aturan-aturan mengenai tidak menyakiti, membunuh, dan memakan daging sapi ada dalam Parasara Dharmasastra (Smrti Kaliyuga) Bab IX.
Pasal 37:
Ia yang mendorong seekor sapi ke dalam kolam atau sumur atau menindih punggungnya dengan pohon atau menjualnya kepada penggemar daging sapi dinyatakan berdosa membunuh sapi.
Pasal 62:
Ia yang telah membunuh seekor sapi mencoba menyembunyikan dosanya dalam kehidupan ini setelah mati dicampakkan dalam kepedihan neraka kalasutram.
Pasal 63:
Terlepas dari neraka itu ia dilahirkan sebagai seorang yang dikebiri (wandu?) Atau seorang penderita penyakit kusta (atau aids?) Atau sebagai seorang yang miskin pada tujuh penjelmaan secara berturut-turut.





Bagi seorang Pendeta/ Pandita (Brahmana Dwijati) tercantum dalam Bab XI
Pasal 1:
Setelah (dengan tidak sengaja) makan daging sapi atau nasi seorang candala atau materi organik kotor seperti sperma dsb. Seorang brahmana harus melakukan upacara penebusan dosa candrayana.

Selanjutnya unsur-unsur sapi disakralkan dalam upacara pembebasan dosa antara lain tercantum dalam Bab XI
Pasal 27:
Kesucian dan pembebas dosa adalah pancagavyam, yang merupakan campuran dari air kencing sapi, tahi sapi, susu sapi, susu sapi beku, mentega murni dari susu sapi, dan air cucian rumput kusa.
Dalam lontar-lontar Kusumadewa dan Silakrama dicantumkan bahwa seorang Ekajati (Jero mangku) apalagi seorang Dwijati (Pandita) dilarang untuk: memegang tali sapi, melangkahi tali sapi, menginjak tahi sapi, dan kencing di atas tahi sapi, di samping larangan-larangan dalam Parasara Dharmasastra tersebut di atas. Sikap kita adalah menjalankan swadarma sebagai pemeluk Hindu yang baik antara lain meyakini kebenaran sastra Agama tersebut. Untuk kesehatan dan pertumbuhan badan masih banyak sumber protein selain daging sapi yang bisa dimakan. Susu, mentega, dan keju dari sapi boleh diminum-dimakan. Juga masih ada kambing, bebek, ayam dan hewan lainnya.
Bagi mereka yang sudah mewinten (Ekajati) dan yang sudah madiksa (Dwijati) selain daging sapi juga dilarang memakan daging babi, ayam, binatang melata, dan binatang lain yang tidak wajar dimakan dagingnya seperti anjing, kucing, tikus, dll. Daging yang dimakan mempengaruhi perilaku yang memakannya, misalnya jika memakan daging babi akan menjadi malas seperti babi (tamas); jika makan daging ayam akan suka berkelahi seperti ayam (rajas); jika makan daging anjing akan terjangkit sipilis, dll. Sesungguhnya menjadi vegetarian bagus, selain mencegah penumpukan kolesterol, juga menurut beberapa akhli kedokteran dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk yang tidak memakan daging karena susunan gigi dan sistem pencernaan ususnya tidak sesuai. Yang cocok adalah makan biji-bijian (beras, ketan, injin, tahu, tempe, dll), umbi-umbian (kentang, ubi, wortel, dll), sayur-sayuran, buah-buahan, susu, dan madu.
Arca Nandi adalah pertanda keberadaan agama Hindu Saiwa, Kuil Nandi selalu berada di depan Kuil Maha Dewa dan pemujaan terhadap Nandi merupakan awal pemujaan terhadap Siwa. Penemuan arkeologi arca arca pemujaan dari batu beralih ke perunggu membuktikan bahwa praktek menyembahan terhadap para dewa telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi pengecoran logam pada masanya.
Semakin giat  Dewa Nandi melayanani Dewa Siwa, semakin gembiralah dia. Estasi dalam tugas pelayanan selalu saja diperolehnya secara akumulatif. Kekuatan dewanya mulai dirasakan tiada cukup lagi untuk menopang tugas yang dicintainya, Nandi merubah tubuhnya menjadi seekor lembu yang luar biasa, dengan keempat kaki sekokoh sari keempat kitab Veda, bergerak, berjalan bahkan menari-nari kecil  seiring Tandava Sang  Nataraja. Bicaranya disampaikan dengan lafal jelas dan mencerahkan. Improvisasi adalah bagian dari keindahan yang selalu dinanti nanti Iswara. Lembu Nandi sungguh jugalah sastrawan, sejarawan, seniman, dan penghibur, ia membawa pendengarnya untuk melihat, menyelami dan merasuki sampai ke inti samudera semesta, sambil mengagungkan Brihaspati, dan lidahnya digerak gerakan oleh Dewi Saraswati. Ritme suaranya bagai kicau  burung Kalavinka di telinga Shambu,  membuat Sadyojata tak tahan ikut berbagi; tentang dharma, karakter, etika dan estetika. Tentang yang rasional dan yang empiristis, penciptaan dan pemeliharaan, perubahan yang seharusnya, tentang kesejahteraan lahir dan ketentraman batin. Lembu Nandi mengerti tuannya adalah sang Anugerah Murti, dan lewat pelayanan, pada diri sendiri juga yang dilayani, seisi semesta. Vocasional Lembu Nandi tidak sebatas penutur, tenaga fisik dan terlebih pikiran, berada didalam satu kesatuan peran profesionalisme. Sang pelayan yang selalu ingin membuat senang hati tuannya. Dan tak hendak membuat Bethara Guru menjadi Samhara Murti. Lembu Nandi siap bekerja siang malam, dengan dikawal  Surya dan Chandra. (Google: 27 Maret 2012:18.30)
Candi Nandi. Candi ini mempunyai satu tangga masuk yang menghadap ke barat, yaitu ke Candi Syiwa. Nandi adalah lembu suci tunggangan Dewa Siwa. Jika dibandingkan dengan Candi Garuda dan Candi Angsa yang berada di sebelah kanan dan kirinya, Candi Nandi mempunyai bentuk yang sama, hanya ukurannya sedikit lebih besar dan lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Seperti yang terdapat di Candi Syiwa, pada dinding kaki terdapat dua motif pahatan yang letaknya berselang-seling. Yang pertama merupakan gambar singa yang berdiri di antara dua pohon kalpataru dan yang kedua merupakan gambar sepasang binatang yang berteduh di bawah pohon kalpataru. Di atas pohon bertengger dua ekor burung. Gambar-gambar semacam ini terdapat juga pada candi wahana lainnya. (Google: 27 Maret 2012: 18.30)
Lembu dipandang sebagai penjelmaan dewa, dan dianggap sama dengan kasta Brahmana. Di sorga lembu mendapat penghormatan yang tertinggi, sehingga Sorga Wisnu yang tertinggi, Golaka sebenarnya disebut menurut sebutan Lembu itu. Lembu jantan, Nandi dianggap suci juga, sebab menjadi kendaraan dewa Siwa. (Hadiwijono, 2002:46-47)
Ketika orang-orang Arya menetap di India, sapi adalah satu-satunya binatang yang dapat mereka ternakan. Pada zaman Weda, sapi adalah anugrah yang sangat berharga bagi masyarakat. Sapi menyediakan bagi mereka susu, daging, keju dan yogurt. Kulit sapi yang mati dipergunakan utuk tempat berteduh dan pakaian. Jadi masyarakat dalam zaman Weda sungguh-sungguh berhutang budi dalam banyak hal kepada sapi. Ini kemudian membuat mereka memandang sapi dengan penuh penghormatan. Mythologi berbicara tentang seekor sapi abadi (celestial cow) bernama Kamadhenu yang dapat memberikan dan memenuhi semua keinginan. Krishna adalah pengembala dan dia menghabiskan masa kanak-kanak dan masa mudanya memelihara sapi. Sejalan dengan waktu, sapi dipandang sebagai sebuah simbol ibu. Bahkan dalam tulisan Manu ada referensi khusus kepada sapi, dan melarang pembunuhan sapi. Reg Weda (6:28) mengatakan, "Sapi-sapi adalah Tuhan; mereka tampak bagiku menjadi Indra, Dewa Surga." Masyarakat Hindu diharapkan menjadi vegetarian. Bagi orang-orang Hindu fanatik, sapi masih merupakan segala sesuatu. Tentu saja mayoritas orang Hindu menghindari makan daging. Namun bagaimanapun, diantara massa fanatik di India, membunuh sapi akan merupakan masalah yang sangat kontroversial untuk masa-masa yang akan datang.
Sapi-sapi disebutkan dalam Reg Weda sebagai "aghya," atau tidak untuk dibunuh, adalah sapi yang memberi susu. Rig Weda tidak mengesampingkan pembunuhan banteng dan sapi pada berbagai kesempatan keagamaan. Aitareya Brahmana berbicara mengenai pengorbanan anak sapi kepada para dewa. Dalam Griha Sutra, pengorbanan sapi dikaitkan dengan banyak upacara keagamaan, bahkan Manu, yang dalam berbagai peraturannya melarang makan daging, mengatakan, "Seseorang boleh makan daging bila daging itu sudah diperciki air suci dan dimantrai, ketika seseorang terlibat dalam menyiapkan suatu upakara sesuai hukum, dan bila hidup seseorang dalam bahaya (Manusmriti 5:27).
Dalam Ramayana, Maharesi Agastya memakan kambing jantan sehingga dia mampu menghilangkan raksasa Vatapi. Dalam Mahabharata dikatakan bahwa dalam istana Rantidewa, kurang lebih dua ribu sapi dibunuh tiap hari untuk memberi makan para Brahmin. Segala macam daging disediakan pada perkawinan Panjali (Pancahali, Darupadi, pen) dalam Mahabharata. 
Fungsi petulangan dalam upacara ngaben sangat erat kaitannya de-ngan kepercayaan nenek moyang terhadap binatang-binatang yang dianggap suci, keramat, memiliki kekuatan dan dijadikan lambang-lambang tertentu. Seperti kerbau yang terdapat diseluruh tanah air dipandang sebagai lambang kesuburan, sebagai penolak roh-roh jahat dan sebagai tunggangan roh le-luhur di akhirat (Hoop, 1949:136). Di daerah Toraja, Sulawesi pada waktu peralatan penjenasahan banyak kerbau dipotong, satu di antara kerbau tersebut dianggap sebagai kendaraan orang yang meninggal di akhirat. Hias-an rumah masyarakat Toraja dibuat dari kayu berbentuk kerbau. Hal ini ada persamaan dengan petulangan berbentuk lembu pada upacara ngaben di Ba-li. Binatang kerbau mempunyai arti yang sangat penting dalam upacara penjenasahan (Hoop, 1949:138).
Kepercayaan terhadap binatang menjangan yang disucikan, digam-barkan dalam bangunan bagian muka dari Menjangan Seluang Mospait, ru-mah suci untuk dewa Mojopahit dalam kuil di Pura Desa Singaraja Bali, sua-tu peringatan terhadap perpindahan orang Hindu Jawa ke Bali setelah jatuh-nya Majapahit (Hoop, 1949:156). Di Bali kepercayaan terhadap binatang lembu sebagai binatang yang disucikan. Lembu dipercaya sebagai wahananya Dewa Siwa. Dewa Brahma dipandang sebagai dewa pencipta segala yang ada, wahananya binatang singa. Sedangkan Dewa Wisnu ber-fungsi sebagai pemelihara, wahananya naga. Binatang-binatang tersebut disucikan, dihormati, sebagaimana menghormati Dewa-Dewa dengan manifestasinya masing-masing.
Menurut Drs. Ida Bagus Purwita dari Griya Yang Batu Denpasar, (sekarang sulinggih) meninjau dari segi filosofinya bahwa perwujudan petu-langan dengan motif binatang, mengandung arti sebagai petunjuk jalan ke sorga bagi roh orang yang telah meninggal. Binatang nama lainnyasattwa terdiri dari kata sat dan twaSat berarti inti (esensiil);  twa berarti sifat. Jadi sattwaberarti bersifat esensiil dalam agama ialah Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Dengan menggunakan petulangan berbentuk binatang, mengandung maksud agar roh secepatnya menuju Siwa Loka (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Sedangkan binatang tersebut sebagai perwujudan petu-langan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan umat terhadap kesucian dari binatang tersebut.

4. Cetana Dan Acetana
Wrhaspati Tattwa menyebutkan bahwa ada dua unsur element utama yang menjadi sumber adanya segala sesuatu yang disebut ”Rwa Bhineda tattwa”, yakni terdiri dari ”Cetana” dan ”Acetana”. (Pudja, 1983:7). Kedua elemen pokok inilah yang menjadi pokok pembicaraan dalam ajaran filsafat Wrhaspati Tattwa tersebut. Istilah Cetana adalah kata dalam bahasa sansekerta yang berasal dari kata ”cetas” yang merupakan kata benda netrum yang bearti ”jiwa, kepribadian atau kesadaran (konsciousenss). Sedangkan Acetana bermakna tanpa keperibadian atau kesadara konsciousenss, maka Acetana adalah berupa kata bukan kebendaan yang sifatnya maya (Pudja, 1983:7).
Kedua unsur atau element yang disebut Cetana dan Acetana ini sifatnya seba gaib (suksma) yang menjadi asal mula dari segala sesuatu. Oleh karena itu keduanya tidak dapat terpisahkan. Cetana adalah unsur kesadaran atau kejiwaan atau spritualitas yang mutlak tetap ingat, tidak pernah lupa, tiada berawal dan tiada berakhir, kekal abadi serta menjadi sumber atau benih kesadaran atau kejiwaan yang tertinggi dari alam semsta dan segala mahkluk. Sedangkan Acetana adalah unsur yang tanpa kesadaran atau tanpa jiwa, tetap bersifat lupa dan tiada pernah ingat, serta menjadi benih atau sumber  asal mula material dari pada alam semesta dengan segala isinya dan sebala mahkluk.
Cetana sebagai sumber kejiwaan atau spiritual atau kesaran yang suci murni maka sifatnya adalah mutlak dan kekal abadi, sehingga dalam hinduisme cetana disebut denga Siva tattwa. Sedangkan Acetana adalah elemen dasar material yang membentuk berbagai wujud sesuatu beserta dengan sifatnya masng-masng, dari tingkat yang terhalus sampai dengan tingkat yang terbesar yang disebut dengan Maya tattwa.
Istilah Siva berasal dari bahasa sansekerta yang dalam bentuk ajektivenya berarti mulia, dan dalam bentuk noun masculinenya bermakna dewa atau Tuhan (Sumawa, 1996:301). Dari sudut pandang filsafat dengan banyak sedikitnya pengaruh maya terhadap cetana maka ia digolongkan menjadi tiga wujud Tri Purusa yaitu: Parama Siva atau Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman (tidak terpikirkan), Sada Siva atau Saguna Brahma, Tuhan dalam keadaan Sagunam atau berkeinginan dan Siwatma atau Tuhan dalam pengaruh maya yang menjadi jiwa semua mahkluk. Perbedaan wujud seperti di atas bukanlah mengandung arti politheis karena ini pokoknya atau sumbernya tetap satu atau tuggal namun digolongkan menjadi tiga wujud yang didasarkan atas sifat, fungsi, dan aktivitas tertentu sebagai akibat ada tindakan pengaruh maya.
Pada hakekatnya Parama Siva, Sada Siva dan Sivatma itu adalah tunggal dan adanya perbedaan berupa tiga wujud itu semata-mata karena adanya pengaruh maya. Sebagai contoh seorang dosen yang mengajar mata kuliah Sivasiddhanta, jika dalam keadaan mengajar di kampus maka orang tersebut disebut dengan dosen, jika orang tersebut pulang kerumah maka ia menjadi suami bagi istrinya, dan ayah atau bapak bagi anaknya, jika orang itu sedang berbaur bersama-sama dengan warga lainnya disebut anggota masayrakat, jika sedang berada di sawah disebut degan petani, jika sedang berada di laut memancing ikan maka disebut nelayan dan seterusnya. Dari semua sebutan nama tadi sebenarnya oragnya adalah satu tetapi karena pekerjaannya banyak maka orang tersebut mempunyai banyak nama sesuai dengan pekerjaannya, sifatnya, tempatnya dan juga tanggung jawabnya, demikianlah juga dengan Tuhan yang memiliki tiga fungsi yang pada dasarnya Tuhan hanya satu. Untuk lebih jelasnya berikut dijeaskan masing-masing sifat Tuhan dalam bentuk parama Siva, sada Siva dan Sivatma sebagai berikut: Paramasiva yang juga disebut cetana/purusa atau kejiwaan kesadaran tertinggi tetapi belum sama sekali kena pengaruh maya, sadasiva tuhan sudah mulai mengambil fungsi atau kena imbas dari acetana atau maya karena sudah beraktivitas sedangkan Siva yang berasal dari bahasa sansekerta yang dalam bentuk ajektifnya yang berarti mulia, atau Tuhan yang benar-benar terpengaruh atau berada di dalam maya itu sendiri.

5. Siwa Kasmir
Para praktisi dari Shaivism nondualistik Kashmir sistematis ajaran Shaivite kuno. Mereka datang untuk melihat dunia sebagai Kesadaran mutlak, yang mereka sebut Siwa. Kesadaran ini, menjadi satu baik dan bebas, kreatif dan self-reflektif, terungkap sebagai saya fundamental, atau Diri Ilahi. Dengan demikian, Kashmir Shaivism menekankan Diri batin. Pertumbuhan sistematis Kashmir Shaivism dilipat sebagai praktisi tercermin pada sifat realitas tertinggi, menggambarkannya sebagai kesadaran murni. Kesadaran ini murni dipahami sebagai tidak inert, tetapi dinamis, dengan dinamisme menjadi kualitas yang tidak terpisah dari Kesadaran itu. Penegasan filosofis mendasar dari Kashmir Shaivism adalah bahwa keberadaan kita tidak lain adalah energi tak terbatas Kesadaran. Ini adalah perayaan kekuatan kreatif dalam setiap individu dan pengakuan kekuasaan setiap orang pilihan bebas.
Ketika awal Trika master mencari cara untuk berbicara tentang pengalaman mereka Kesadaran, mereka menunjuk pertemuan yang berbeda dengan Dunia di sekitar mereka untuk menggambarkannya. Wawasan mereka yang paling dasar adalah bahwa tak terbatas bukan hanya energi, tetapi energi sadar. Ini adalah dasar dari semua realitas yang kita kenal. Hal ini, mereka melanjutkan dengan mengatakan, kesadaran murni yang sama sekali diam. Pada saat yang sama, ini sadar energi adalah dinamis. Hal ini karena hidup ini tidak hanya keheningan tetapi juga gerakan dan vitalitas. Jadi sejak awal mereka menegaskan sebuah paradoks tentang Yang Mutlak, mengatakan bahwa itu adalah keheningan dan vitalitas yang dinamis. Tuhan, kata mereka, adalah keheningan dinamis.
Diantara berbagai filsafat Hindu, Kashmir Shaivism (Kasmir Saivism) adalah sekolah Saivism terdiri dari Trika dan Pratyabhijña artikulasi filosofisnya. Hal ini dikategorikan oleh berbagai akademisi sebagai monistik idealisme (idealisme absolut, monisme teistik, idealisme realistis, transendental fisikalisme atau monisme beton.  Sikap tertentu adalah Kesadaran bahwa adalah hal yang mendasari alam semesta.  Ini berbeda dari Vedanta Advaita dari Shankara, yang juga memberikan keunggulan untuk Kesadaran Universal (Brahman), tetapi menyatakan bahwa Dunia fenomenal adalah ilusi (maya).  Tidak sebut Dunia nyata yang fenomenal, tetapi melihatnya sebagai permainan Kesadaran, yang berarti bahwa segala sesuatu ada dan memiliki keberadaan dalam Kesadaran. Dengan demikian, filsafat Kashmir Shaivism, juga disebut Trika, bisa dilihat sebagai penyempurnaan atau penyesuaian Shankara yang Advaita.
Tujuan dari Kashmir Shaivism adalah untuk bergabung dalam Kesadaran Shiva atau Universal, atau menyadari satu sudah ada dengan identitas Siwa, melalui kebijaksanaan, yoga dan kasih karunia. "Kashmir Shaivism telah merambah kekedalaman pemikiran yang hidup di mana arus beragam hikmat manusia bersatu dalam sebuah sintesis bercahaya". Kashmir Shaivism muncul selama delapan atau kesembilan abad Masehi.  di Kashmir dan membuat langkah signifikan, baik filosofis dan teologis, sampai akhir abad kedua belas Masehi. Sebuah rumah tangga agama, itu didasarkan pada interpretasi yang monistik yang kuat dari Tantra Bhairava (dan subkategori yang dimiliki oleh Tantra Kaula), yang ditulis oleh tantra Kapalikas. Ada tambahan wahyu dari Sutra Siva untuk Vasugupta. Kashmir Saivism mengaku menggantikan Siwa Siddhanta, tradisi dualistik yang sarjana mempertimbangkan normatif tantra Shaivism. Para Siwa Siddhanta tujuan menjadi sebuah Siwa ontologis yang berbeda (melalui anugerah Siwa)  digantikan dengan mengenali diri sendiri sebagai Siwa yang, di Kashmir monisme Saivism, adalah keseluruhan dari alam semesta. Somananda, teolog pertama Saivism monistik, adalah guru dari Utpaladeva, yang merupakan grand-guru Abhinavagupta , yang pada gilirannya adalah guru dari Ksemaraja. 

 

a. Ikhtisar Filosofis

Titik pandang Kashmir Shaivism dapat diringkas dengan konsep Citi, mala, upaya dan moksha, sebagai berikut.
1.     Citi: Kesadaran Universal (Citi) adalah hal-hal mendasar dari alam semesta. Kesadaran ini adalah salah satu dan termasuk seluruh. Hal ini juga bisa disebut Tuhan atau Siwa.
2.     Mala: kontrak Kesadaran itu sendiri. Yang satu menjadi banyak. Shiva menjadi individu (jiwa). Kontraksi ini disebut mala (kotoran). Ada tiga Malas, maka mala individuasi (anava mala), maka mala dari pikiran terbatas (māyīya mala), dan mala tubuh (karma mala).
3.     Upāya: Seorang individu terjebak dalam penderitaan keberadaan diwujudkan, menderita oleh tiga Malas, akhirnya merindukan untuk kembali ke keadaan primordial nya dari Kesadaran Universal. Untuk mencapai ini, ia melakukan praktek sadhana atau spiritual. Kashmir Shaivism menjelaskan empat metode (upāya-s): ānavopāya, metode tubuh, saktopāya, metode pikiran, sāmbhavopāya, metode Kesadaran, dan anupāya yang 'methodless' metode.
4.     Moksa: Buah dari sadhana individu adalah pencapaian realisasi diri (moksa). Di Kashmir Shaivism, keadaan pembebasan (mukti) disebut Sahaja samadhi dan ditandai dengan pencapaian kebahagiaan teguh kesadaran ketika tinggal kehidupan biasa seseorang.

 

b. Anuttara, Agung

Anuttara adalah prinsip utama di Kashmir Shaivism, dan dengan demikian, itu adalah realitas fundamental bawah seluruh alam semesta . Di antara multitafsir dari Anuttara adalah: "tertinggi", "di atas semua" dan "realitas yang tak tertandingi". Dalam bahasa Sansekerta alfabet Anuttara dikaitkan dengan huruf pertama "A" (Devanagari). Sebagai prinsip utama,  Anuttara diidentifikasi dengan Siva, Sakti (Sakti sebagai identik dengan Siva), kesadaran tertinggi (cit), cahaya tidak diciptakan (Prakasa), tertinggi subjek (aham) dan getaran temporal (spanda). Praktisi yang menyadariAnuttara melalui cara apapun, baik dengan usaha sendiri atau dengan transmisi langsung oleh Rahmat Siwa/shakti, dibebaskan dan merasakan sekali tidak ada perbedaan antara dirinya dan tubuh semesta. Menjadi dan makhluk menjadi satu dan sama berdasarkan dari "gesekan erotis", dimana subjek memandang objek dan yang bertindak persepsi diisi dengan nondual menjadi/kesadaran/kebahagiaan. Anuttara berbeda dari konsep transendensi dalam hal itu, meskipun itu adalah di atas segalanya, tidak berarti keadaan pemisahan dari Universe.  Aham adalah konsep realitas tertinggi sebagai jantung. Hal ini dianggap menjadi ruang non-dual interior Siwa, dukungan untuk manifestasi keseluruhan,  mantra tertinggi dan identik dengan Sakti.
Pratyabhijña adalah artikulasi filosofis Kashmir Saivism. Pratyabhijña secara harfiah berarti "pengakuan spontan", karena tidak memiliki upāyas (berarti), yaitu, tidak ada yang praktek; satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah mengenali siapa Anda . Ini "berarti" benar-benar bisa disebut anupāya, bahasa Sansekerta untuk "tanpa berarti". Ksemaraja, mahasiswa dari Abhinavagupta, menggunakan analogi cermin untuk menjelaskan Pratyabhijña. Meskipun peliharaan ke dalam tradisi rumah tangga, Kashmir Saivism merekomendasikan kinerja rahasia praktek Kaula sesuai dengan warisan. Hal ini harus dilakukan dalam pengasingan dari mata publik, karena itu memungkinkan seseorang untuk menjaga penampilan seorang perumah tangga khas.
Konsep kehendak bebas memainkan peran sentral di Kashmir Shaivism. Dikenal dengan nama teknis svātantrya itu adalah penyebab dari penciptaan alam semesta kekuatan primordial yang membangkitkan mutlak dan memanifestasikan Dunia di dalam kesadaran tertinggi dari Dewa Siwa. Svātantrya adalah satu-satunya milik Allah, semua sisa subyek sadar menjadi rekan peserta dalam berbagai derajat pada kedaulatan ilahi. Manusia memiliki tingkat yang terbatas kehendak bebas berdasarkan tingkat kesadaran. Pada akhirnya, Shaivism Kashmir sebagai monistik idealis sistem filsafat memandang semua mata pelajaran menjadi identik "semua adalah satu" dan yang satu adalah Siva, kesadaran tertinggi. Dengan demikian, semua mata pelajaran memiliki kehendak bebas tetapi mereka bisa tahu tentang kekuatan ini. Ketidaktahuan juga adalah kekuatan yang diproyeksikan oleh svātantrya dirinya pada penciptaan dan hanya dapat dihapus oleh svātantrya.
Sebuah fungsi dari svātantrya adalah bahwa pemberian rahmat ilahi  śaktipāt . Dalam sistem filsafat pembebasan spiritual tidak dapat diakses oleh usaha belaka, tapi tergantung hanya pada kehendak Allah. Dengan demikian, murid hanya bisa menyerahkan diri dan menunggu rahmat ilahi untuk turun dan menghilangkan keterbatasan yang memenjarakan kesadarannya. Kausalitas di Kashmir Shaivism dianggap diciptakan oleh Svātantrya bersama dengan alam semesta. Dengan demikian tidak ada kontradiksi, pembatasan atau aturan untuk memaksa Siva bertindak salah satu cara atau yang lain Svātantrya selalu ada di luar perisai membatasi ilusi kosmis,. maya . Para inisiat besar pertama tercatat dalam sejarah ini jalan spiritual adalah Vasugupta (c. 875-925). Vasugupta dirumuskan untuk pertama kalinya dalam menulis prinsip-prinsip dan doktrin-doktrin utama dari sistem ini. Sebuah karya fundamental Shaivism, secara tradisional dikaitkan dengan Vasugupta, adalah Shiva Sutras dari Vasugupta . Secara tradisional, ini sutra dianggap telah diwahyukan kepada Vasugupta oleh Siwa. Menurut mitos, Vasugupta memiliki mimpi dimana Siwa menyuruhnya pergi ke gunung Mahadeva di Kashmir. Di gunung ini dia dikatakan telah menemukan ayat-ayat tertulis di batu, Shiva Sutras, yang menguraikan ajaran monisme Siwa. Teks ini adalah salah satu sumber utama bagi Kashmir Shaivism. Pekerjaan adalah kumpulan kata-kata mutiara . Sutra-sutra menjelaskan sebuah (murni non-dual advaita ) metafisika. Ini sutra, yang diklasifikasikan sebagai jenis Sastra Hindu dikenal sebagai agamas , juga dikenal sebagai Siwa Upanishad Samgraha (Sansekerta: śivopaniad sangraha)  atau  Shivarahasyagama Samgraha.
Para krama istilah berarti 'kemajuan', 'gradasi' atau 'suksesi' masing-masing 'perkembangan spiritual' arti  atau 'bertahap penyempurnaan dari proses mental'  (vikalpa), atau 'berturut penyingkapan yang terjadi di tingkat akhir', dalam Kesadaran Agung (cit). Bahkan jika sekolah Krama merupakan bagian integral dari Kashmir Shaivism, juga sistem independen baik secara filosofis dan historis.  Krama adalah signifikan sebagai sintesis dari Tantra dan Śākta tradisi berdasarkan monistik Saivism.  Sebagai Tantra dan Sakti berorientasi sistem dari mistik rasa,  Krama mirip dalam beberapa hal Spanda baik sebagai pusat pada aktivitas Sakti, dan juga mirip dengan Kula dalam pendekatan Tantra mereka. Di dalam keluarga Kashmir Shaivism, sekolah Pratyabhijñā adalah Krama bentuk yang paling berbeda.
Fitur yang paling khas dari Krama  adalah monistik-dualistiknya  (bhedābhedopāya)  disiplin dalam tahap mendahului untuk realisasi rohani. Bahkan jika Kashmir Shaivism adalah monisme idealistik, masih ada tempat untuk aspek dualistik sebagai tahap mendahului pada jalan spiritual. Jadi dikatakan bahwa dalam praktek Krama mempekerjakan dualistik-cum-nondualistik metode, namun dalam filsafat yang mendasari tetap nondualistik. Krama memiliki bias epistemis positif, ditujukan untuk membentuk sebuah sintesis dari kenikmatan (bhoga) dan penerangan (moksa).
Sistem Spanda, diperkenalkan oleh Vasugupta (c. 800 AD), biasanya digambarkan sebagai "getaran/gerakan kesadaran". Abhinavagupta menggunakan ungkapan "semacam gerakan" untuk menyiratkan perbedaan dari gerakan fisik, melainkan lebih merupakan getaran atau suara di dalam Ilahi, sebuah berdenyut. Inti dari getaran ini adalah kesadaran diri berulang gembira.  Prinsip utama dari sistem ini adalah "semuanya Spanda", baik realitas eksterior obyektif dan dunia subyektif.  Tidak ada tanpa gerakan, namun gerakan utama terjadi tidak dalam ruang atau waktu, tetapi di dalam Kesadaran Agung (cit). Jadi, ini adalah siklus dari internalisasi dan eksternalisasi dari kesadaran itu sendiri,  yang berhubungan dengan pesawat paling tinggi dalam penciptaan (Siva Sakti Tattva).
Kashmir Shaivism bergerak di bawah tanah selama beberapa abad. Sementara mungkin ada yogi dan praktisi diam-diam mengikuti ajaran, tidak ada penulis besar atau publikasi mungkin setelah abad ke-14. Pada abad ke-20 Lakshmanjoo Swami, dirinya Brahmana Kashmir, membantu menghidupkan kembali baik aliran ilmiah dan yoga Kashmir Shaivism. Kontribusinya sangat besar. Dia mengilhami generasi ulama yang membuat Kashmir Shaivism lapangan penyelidikan yang sah dalam akademi.  Jangan pula kontribusi Swami Muktananda diabaikan. Sementara dirinya tidak termasuk dalam garis keturunan langsung dari Kashmir Shaivism, Muktananda merasakan hubungan yang besar bagi ajaran yang divalidasi oleh pengalaman langsungnya. Dia didorong dan didukung Motilal Banarsidass untuk menerbitkan terjemahan Jaideva Singh dari Shiva Sutras, Pratyabhijnahrdayam, Spanda Karikas dan Vijnana Bhairava.  Dia juga memperkenalkan Shaivism Kashmir kepada khalayak luas meditator barat melalui tulisannya dan ceramah pada subjek.

6. Virasaiva
Seperti diketahui bahwa ajaran Vira Saiva merupakan sistem yang memandang tentang identitas roh (jiva) dan Siva berjenjang sesuai dengan tingkat kemajuan spiritual penganutnya. Pada tahap awal, dimana seseorang masih dalam tahapan bhakta (penyembah), ia merasakan adanya perbedaan (bheda) antara si penyembah (bhakta) dengan yang disembah (Siva) dan dengan semakin majunya tingkat perkembangan spiritual seseorang, maka akan tercapailah abiheda (tiada perbedaan) antara si penyembah (roh) dengan yang disembah (Siva).
Kata “Vira Saiva” tampaknya memiliki makna historis yang menunjukkan sikap kepahlawanan dari para pengikut Saivaisme dalam mempertahankan keyakinannya (vira= kegigihan, keperwiraan). Dalam Siddhanta Sikhamani, terdapat suatu percakapan antara Renuka atau Revana dengan Agastya tentang arti kata “Vira” tersebut, yaitu:
1). “Vi” artinya pengetahuan (vidya) yang menyatakan bahwa subyek pribadi (Jiva) identik dengan Siva dan para pengikut Saivaisme yang menemukan kepuasan dalam pengetahuan semacam itu adalah “Vira Saiva”.
2). Pengetahuan yang diperoleh seseorang dari belajar Vedanta, yang ditunjukkan oleh kata “Vi” dan “Vira” adalah yang menemukan kedamaian pikiran di dalamnya. Kriyasara memberikan arti tambahan terhadap kata “Vira” tersebut, yaitu sebagai berikut :
3). “Vi” artinya “keragu-raguan” (vikalpa); “Ra” artinya “tanpa” Jadi, Vira Saiva artinya “keyakinan dan filsafat Saiva yang bebas dari keragu-raguan”.
Jadi Vira Saiva disini merupakan suatu ajaran yang mampu menghentikan hasutan mental (pikiran), sehingga memungkinkan untuk dapat mencapai unutk dapat mencapai mukti (pembebasan) (Maswinara, 2006:280).  Vira Saiva juga disebut Lingayata atau Lingavanta, karena salah satu sraddha-nya adalah kepercayaan akan Linga, yang tiada lain adalah Siva dan mereka yang sudah di inisiasi oleh guru spiritual menjadi sadar bahwa pada dirinya bersemayam Linga atau Siva.
Vira Saiva mencela pandangan Sankara mengenai Vedanta tentang teori pelapisan (adhyasa), kenyataan praktis (vyavaharikasatya), sifat khayal dari alam semesta dan teori tentang refleksi atau pantulan. Menurut Vira Saiva, sesuai dengan pandangan dari Sripati Panditaradhya, teori pelapisan yang dinyatakan oleh Sankara bertentangan dengan pernyataan naskah suci, yang membicarakan tentang penyebab hubungan antara Brahman dan alam semesta, Sehubungan dengan masalah kenyataan praktis, Sripati mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1). Apakah itu berarti bahwa sesuatu yang hanya kenyataan praktis semacam itu tidak berlanjut melalui hal-hal yang akan terjadi ( kalantaranavasthaytiva ), atau
2). Bahwa demikian itu berbeda dengan “keberadaan” dan “bukan keberadaan”, atau
3). Bahwa yang semacam itu tak dapat dikatakan sebagai “keberadaan” atau sebagai “bukan keberadaan”.
Menurut Sripati, pandangan yang demikian itu tak dapat dipertahankan, karena perbedaan dapat ditarik hanya tentang Brahman dan Prakrti dan argumentasi tentang hal ini sangatlah halus, sulit dan sangat dalam artinya, sehingga memerlukan ruang pembahasan yang lebih luas.
Sripati membicarakan tentang Sankara sebagai seorang Bauddha dalam pakaian seorang Vedantin (pracchana bauddha). Ia menyebut Sankara Vednta “nirvisesadvaitamata”, karena ia berpendapat bahwa Tuhan, alam semesta dan subyek pribadi, sebagai khayalan. Ia berpendapat bahwa sistemnya Sankara disalahkan oleh Badarayana dalam “abhavadhikarana”nya Vedanta Sutra. Ia bertanya: “Apakah penolakan (abhava) tentang Tuhan, alam semesta dan subyek pribadi berarti bahwa mereka tidak memiliki keberadaan apapun, seperti tanduk dari seekor kelinci (truwelu) atau anak dari seorang wanita mandul; atau merupakan khayalan seperti kejamakan yang dialami dalam mimpi? Ia menunjukkan bahwa penolakan jenis pertama itu bertentangan dengan kenyataan pengalaman, karena kita secara aktual menerima kejamakan obyektif pada tingkat empiris, tetapi tanduk dari seekor kelinci tak dapat diamati dan tidak tepat. Subyek pribadi juga secara jelas dialami pada saat munculnya fenomena pengetahuan yang berbeda dengan obyek dan caranya. Oleh karena itu, hanya memandang pengetahuan (jnana) saja yang ada, tanpa perbedaan subyek-obyek dan caranya, membuat diri seseorang menjadi suatu obyek cemohan. Dan Tuhan juga merupakan obyek pengalaman keagamaan atau mistik. Oleh karena itu, penolakan tentang dunia obyektif dan Tuhan, tak dapat diamati.
Atau, dapatkah dunia obyektif dinyatakan khayalan (mithya) seperti sebuah mimpi, karena dunia obyektif pada keadaan jaga sangat berbeda dengan yang kita lihat dalam mimpi. Mimpi dipertentangkan dengan pengalaman jaga, karena kita tidak menemukan apa yang kita alami dalam mimpi, ketika kita terbangun. Tetapi obyek yang kita alami dalam keadaan terjaga, akan kita ketemukan, walaupun setelah bermimpi. Selanjutnya perbuatan buruk dan dosa yang dilakukan dalam mimpi, tak menghasilkan pahala atau ganjaran terhadap hal yang sama dalam mimpi; tetapi perbuatan-perbuatan yang sama, yang dilakukan dalam keadaan terjaga, akan menghasilkan pahala dan ganjaran.
Karenanya penolakan terhadap realitas dunia empiris, pada dasar perkiraan yang sama dengan dunia mimpi, adalah tidak logis; sehingga salah untuk menyatakan bahwa pengalaman keadaan terjaga tanpa menunjuk kepada kenyataan obyektif, sebagai di dalam mimpi. Selanjutnya, apabila semua pengetahuan diskui tanpa adanya penunjukkan obyektif (jnananam arthasunyatva), masalah yang hendak dibuktikan oleh para Vedantin tak dapat dibuktikan; karena Advaita Vedantin berusaha untuk membuktikan keberadaan Brahman dengan penyimpulan. Tetapi penyimpulan itu sendiri juga merupakan sejenis pengetahuan. Sehingga tak dapat menunjukkan terhadap apa sebenarnya keberadaan itu.
Tetapi Advaita Vedantin dapat mengatakan bahwa keberadaan Dunia obyektif yang sesungguhnya ditolak hanya karena ia dipertentangkan oleh pengalaman mistik (brahmajnana baddhyatvam). Terhadap hal ini, Sripati menjawab bahwa pengalaman dari Dunia obyektif bukan berarti penolakan atau pertentangan dari keberadaannya; karena hal itu disebabkan oleh munculnya subyek yang mengatasi tingkatan kelekatan obyektif. Ketiadaan pengalaman objektifitas pada tingkatan mistik sama dengan ketiadaan pengalaman pada tingkatan tidur lelap tanpa mimpi (Maswinara, 2006:284). Sripati secara tegas menyalahkan konsepsi tentang pembebasan (moksa) sebagai pencapaian penyamaan dengan Siva dan menyatakan bahwa pembebasan adalah penyatuan dengan Siva (sayujya).
a. Konsepsi Tentang Tuhan
Konsepsi tentang Tuhan dalam sistem Vira Saiva, adalah berjenjang (sthala), sesuai dengan pengembangan spiritual dari Jiva dan dalam sistem Vira Saiva terdapat 6 jenjang (satsthala), yaitu: (1). Bhaktasthala, (2). Mahesvarasthala, (3). Prasadisthala, (4). Pranalingisthala, (5). Saranasthala, dan (6). Aikyasthala. Setiap bagian memiliki sejumlah sub bagian lagi, yang disebut dengan nama yang berbeda, yang jumlahnya 44 buah dan dikaitkan dengan Siddhanta Sikhamapi, yaitu suatu ku mpulan percakapan antara Renuka dan Agastya. Dengan naskah yang sama, berbagai jenis Linga, cara pemujaan dan perenungan juga diberikan secara rinci, dan Sripati, dalam Srikara Bhasya, jilid II, 95, 96, 105, 106 dsb, juga menunjukkan Linga semacam itu.
Pada tahapan awal sebagai seorang bhakta (bhaktasthala) terdapat perbedaan yang jelas antara Jiva dengan Tuhan, dan pada tahapan akhir atau Aikkyasthala, tercapai kesatuan diantara keduanya pada tingkatan bhaktisthala, sang Jiva merupakan seorang bhakta yang melayani Guru, Linga dan Jangama sehingga konsepsi tentang Tuhan sama seperti pada sistem Saiva Siddhanta, dimana selamanya bertindak selaku pelayan jiwa, walaupun sudah mencapai Mukti. Bagaimana penghayatan dualis berkembang menjadi non dualis, akan diuraikan secara ringkas berikut ini.
Pada tahap awal kepercayaan terhadap Tuhan adalah Satu tiada duanya. Penganut Vira Saiva sangat teguh keyakinannya terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mengatasi semuanya dan yang diidentifikasikan sebagai Siva. Akka Mahadevi, seorang rsi wanita yang sangat dihormati, yang hidup pada abad ke 12 Masehi mengatakan sebagai berikut; “Siapakah yang memberi rasa asam pada jeruk mangga dan buah asam? Siapakah yang memberi rasa manis pada batang tebu, tanam-tanaman, kelapa dsb? Siapakah yang memberi zat-zat penghidup pada padi-padian, gandum, jagung, dsb? Siapakah yang memberikan keharuman pada bunga-bunga sedap malam, mawar, melati dsb. Itu? Air adalah satu, tanah juga satu, langitpun satu adanya. Air yang satu dalam persatuannya dengan obyek lain menghasilkan sifat-sifat yang berbeda, demikian pula halnya dengan Tuhanku ‘cennamallikarjunayya’, meskipun bersatu dengan Dunia yang tak terbatas ini, memiliki hakekatnya sendiri”.
Vira Saiva tidak sependapat dengan ajaran polytheisme, dan menolak keTuhanan Brahma, Visnu dan Rudra (trimurti), seperti halnya Sivasiddhanta yang menggolong-golongkan Jiva. Vira Saiva menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan, keberadaan yang paling berkuasa, yaitu Siva yang pemurah (Maswinara, 2006:290).
Seperti telah dikatakan di depan, apabila jiwa seseorang mencapai bhaktasthala, sebagai jenjang yang pertama, yang merupakan titik awal dari filsafat Vira Saiva, keyakinan terhadap Tuhan sebagai pribadi secara perlahan-lahan menjadi subyek pengkajian hakekat sebenarnya dari Kasunyataan, yang berlanjut sampai jiwa mencapai tahap kemajuan hingga jenjang ke 5 (saranasthala), dimana pada periode ini sang jiwa mencapai kesimpulan yang mirip sama dengan ajaran Siva Siddhanta, mengenai penafsiran filosofis terhadap jiwa. Kekhususan ajaran Vira Saiva yang lain, bukan saja pada pencapaian kesimpulan itu saja, tetapi dalam pencapaian apa yang dijelaskan didalam pengkajian selanjutnya.
Dari jenjang pertama smapai jenjang terakhir, wahyu tentang kebenaran dan pencapaiannya bergerak dari pengkajian jenjang awal kejenjang berikutnya. Dengan kata lain, Vira Saiva dengan jelas membedakan pengertian pencapaian dengan berjenjang, sementara Siva Siddhanta dan aliran lainnya menyatukannya. Tuhan tidak memiliki wujud atau pun berwujud dan dalam kenyataannya, Ia tanpa wujud yang tak dipahami, tak dapat diamati, tak dapat dibayang-bayangkan dsb. Sehingga Ia dikatakan sebagai intisari kemuliaan dari kecemerlangan dalam semua kecemerlangan. Ia bukan dari dunia ini maupun dari dunia sana. Dalam pengkajiannya para rsi Vira Saiva secara perlahan-lahan masuk ke dalam rahasia alam semesta. Ia mencirikan bahwa rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa mencerminkan kepercayaan akan keberadaan-Nya, yang menempatkan bumi dilautan tanpa menjadikannya cair dan menempatkan langit tanpa penopang. Di sini terdapat kesamaan pendapat dengan Saiva Siddhanta.
Siva meresapi segalanya dan mengatasi segalanya. Ia ada di alam semesta, meresapi alam semesta sepenuhnya tanpa meninggalkan suatu celah yang tak teresapi oleh-Nya, dalam wujud alam semesta itu sendiri dan mengatasinya. Meskipun Siva meresapi semua hal dan tampak pada semua benda, tetapi semua benda itu bukanlah Siva. Seperti seorang petani yang menebarkan benih, dapatkah npanenan disebut sebagai seorang petani? Demikian pula pengrajin periuk, dimana periuk yang dihasilkannya tak dapat dikatakan menjadi si tukang pembuat periuk; dan keduanya merupakan kesatuan yang berbeda yang tak terpengaruh oleh akibat-akibat dalam alam semesta. Dalam hal ini Vira Saiva sependapat dengan Siva Siddhanta, namun bukan merupakan kebenaran akhir. Untuk mencapai kebenaran akhir, Jiva harus mencapai jenjang spiritual akhir, yang akan memberikan cahaya kebenaran yang paling cerah, dimana pada tahapan ini bukan saja tercapainya perwujudan bahwa dirinya adalah Siva, tetapi juga alam semesta ini adalah Siva.

b. Sakti atau Maya
Menurut Saiva Siddhanta, sakti bukanlah Maya, tetapi faktor abadi yang penting, yang bekerja sama dengan Siva, dimana tanpa ada kerja sama dengannya, Siva tidak memiliki daya dan tak mampu menghasilkan keberadaan alam semesta yang tersembunyi dalam diri-Nya. Menurut Trika, sakti tidak berbeda dengan Siva, bersumber didalam diri Siva dan merupakan daya kekuatan dari Siva dan juga menjadi sumber Maya atau materi kosmos. Dalam Pancaratra, Sakti atau Laksmi, memunculkan Kriya Sakti dan Bhuti Sakti, yang sesungguhnya merupakan bagian kecil dari Kriya sakti dan merupakan sumber dari materi, sehingga materi bermula dari Laksmi atau sakti. Vira Saiva juga percaya akan perlunya Sakti guna mewujudkan alam semesta ini dan sependapat dengan Trika dan Pancaratra dalam menelusuri sumber materi tersebut dan sependapat pula mengenai asal sakti di dalam Siva; dimana Havinahala Kallayya secara jelas mengatakan bahwa sakti berasal dari dalam Siva.
“Bagaikan partikel air yang tak dapat diamati di langit dirubah menjadi butiran-butiran es, demikianlah pemikiran Siva yang mengenakan wujud Sakti dan merupakan langkah pertama dalam pemunculan alam semesta”. Menurut Maggeya Mayideva, sakti tak terbandingkan dan dijelmakan dengan semua ciri-ciri (dharma) dari Siva, karena ia disatukan secara abadi dengan Siva. Ia penyaksi segala sesuatu (sarvasaksini) yang merupakan kebenaran sepenuhnya (satya-sampurna), yang terbebas dari perubahan (nirvikalpa) dan merupakan Isvari yang agung.
Melalui daya kekuatannya sendiri yang bebas, ia (sakti) menjadi dua dan dinamakan Kalasakti dan Bhaktisakti. Kalasakti yang terikayt dengan Linga (para-brahman), merupakan potensi (kala) dan membangun alam semesta. Dalam bentuk pemikiran atau buah pikiran (vasana rupa), ia merupakan cara dari aktivitas (pravrtti), sehingga dari sakti ini, prapanca atau alam semesta dengan segala permasalahannya ini terwujud. Bhaktisakti mengikatkan dirinya dengan Anga, yang tiada lain adalah roh (jiva) dan menghancurkan segala keberadaan (bhava), yaitu belenggu yang disebabkan oleh pepermasalahan alam semesta. Bagaikan sinar universal tersembunyi yang tampak dalam wujud sebuah lampu dan mengusir kegelapan di depan mata kita, demikian pula Mahesvari sakti, yang terbagi menjadi Bhaktisakti, yang merupakan wujud dari Saccidananda yang lebih besar, murni, sangat halus, menguntungkan dan tertinggi, serta pemberi karunia dari buah kenikmatan (bhukti) dan pembebasan (mukti).
Bhakti yang tanpa vasana, keinginan, dll merupakan cara dari penghentian (nivrtti), sehingga bhakti membantu Jiva untuk melepaskan belenggu dalam wujud keberadaan duniawi, menuntunnya untuk menuju Moksa, terserap ke dalam Siva. Sesungguhnya Bhakti dan (Kala) Sakti adalah satu dan sama, yang berbeda hanyalah pada akibatnya saja. Sakti menekan Jiva kebawah dan melepaskan belenggu dari jiwa. Dengan kata lain, menurut Vira Saiva, kedua aspek Sakti ini merupakan daya-daya yang mengarah keatas dan kebawah. Penafsiran tentang Tirodhana sakti menurut Meykandadeva,  Umapati dan Srikumara, yang mempersamakannya dengan Prakrti, memiliki 2 fungsi, yaitu membelenggu dan membebaskan roh, tampaknya benar-benar sependapat dengan pemikiran Vira Saiva tentang Sakti.
Dari Kala sakti muncul 6 sub sakti, yaitu: Cicchakti, Parasakti, Adi sakti, Iccha Sakti, Jnana sakti dan Kriya sakti; jadi bukan 5 seperti yang dinyatakan Trika, atau 3 seperti yang dinyatakan dalam Saiva Siddhanta, tetapi mereka memasukkan semuanya. Pembagian ini disesuaikan dengan 6 sthala, yang masing-masing satu diperuntukkan bagi sebuah Linga.
Dari Bhakti sakti muncul 6 sub sakti juga, yaitu: Samarasa bhakti, anandabhakti, Anubhava bhakti, Avadhana bhakti, Naisthiki bhakti dan Sad bhakti, yang mengikatkan dirinya pada 6 Anga dari Angasthala. Menurut Vira Saiva, Kalasakti tampaknya menjadi Maya, yang juga disebut Avidya, yang merupakan jurang pemisah antara Siva dan Jiva. Nisthura Nanjanacarya tampaknya menganggap Maya sebagai Kriya sakti, yaitu sub sakti ke 6 dari Kalasakti. Dalam Vacanasastra banyak hal-hal yang tampaknya sama-sama mempersamakan Kala sakti dengan Maya, sedangkan menurut Vira Saiva, Kala bukan hanya seni bangunan, seperti yang disarankan oleh Caterji, tetapi juga merupakan potensi kosmis, Kalasakti tampaknya memasukkan semua fungsi dari Maya dan hasil-hasilnya dari sistem Saiva Siddhanta dan Trika, dimana Kala dinyatakan hanya satu produk penting dari Maya. Didalam Saiva Siddhanta, Maya merupakan pemberi penerangan (prakasavarupa) dan membantu sang roh untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman belenggu; sedangkan Vira Saiva menganggap Maya mengikat Jiva terus menerus. Dalam Siva Siddhanta Maya juga merupakan kesatuan yang bersifat abadi, yang tak bersumber pada Siva sedang dalam Vira Saiva, yang merupakan kesatuan yang abadi hanyalah Siva, dan segala sesuatunya bersumber pada Siva juga.
Umumnya, kata Maya dipergunakan dalam vacana sastra, dengan pengertian “keterikatan duniawi”, “yang menyebabkan keterikatan dengan obyek duniawi”, “yang ada pada setiap roh laksana minyak dalam biji wijen, ujung lancip dari duri dan keharuman pada bunga”, “kelupaan yang disebabkan oleh samsara”dsb. Maya dalam Advaita Vedanta merupakan enerji dari Isvara yaitu daya yang bersatu padu denganNya, dengan mana ia merubah potensinya menjadi 2 ragam, keinginan (kama) dan penentuan (sankalpa); yang merupakan daya penciptaan dari Tuhan yang abadi, sehingga ia (maya) juga bersifat abadi. Maya tidak memiliki tempat yang terpisah, dan ia ada dalam Isvara, seperti panas dari api. Peniadaan Maya dengan pengetahuan dan realisasi diri, dengan sendirinya diperoleh dari pelaksanaan Satsthala.

c. Penampakan dan Realitas
Menurut Saiva Siddhanta, alam dunia berasal dari Maya (materi, yang tidak murni, potensi alam semesta) yang merupakan kesatuan nyata yang abadi, diakui sebagai nyata adanya. Tetapi Meykandadeva menyatakan bahwa hal itu tidak nyata (asattu) dan ketidaknyataannya ditafsirkan sebagai tidak sama dengan “khayalan” semacam teori tali ular (rajjusarpa-nyaya) dari Advaita Cvedanta, tetapi mengandung arti “tidak abadi” atau “subjek penciptaan dan penghancuran”. Trika, walaupun sifatnya Advaita mengakui realitas alam dunia dalam pengertian bahwa Maya sebagai sumber alam dunia ini di akui nyata, disebabkan asalnya dari Paramasiva Yang Nyata. Vira Saiva yang tampil sebagai suatu Advaita khusus, tampaknya mulai dengan kepercayaan pada realitas alam dunia, tetapi realitas ini berangsur-angsur lenyap sejalan dengan kemajuan spiritual dari roh pribadi tersebut.
Hal penting lainnya yang perlu dicatat adalah tentang penjelasan mengapa dunia (alam semesta) ini diadakan. Menurut Saiva Siddhanta, alam dunia ini diciptakan untuk membersihkan ketidakmurnian awal yang dimiliki Jiva, yang berarti bahwa apabila jiwa seluruhnya telah menjadi murni, maka alam dunia ini tak perlu ada sehingga tak ada penciptaan maupun peleburan. Pemikiran ini sejalan dengan “Samkhya Karika”, dimana Prakrti akan berakhir seperti pada akhir permainan dari seorang artis panggung. Menurut Trika, penciptaan alam semsta adalah disebabkan oleh kehendak parama Siva itu sendiri, sebagai sport (lila)-Nya, sehingga tidak ada awal dan akhir dari keberadaan alam semesta dan setiap saat terdapat penciptaan serta peleburan (pengembalian). Pendapat Vira Saiva sesuai denganpendapat dari Trika, yang beranggapan bahwa senuanya ini beremanasi (berasal) dari Siva, dan Jiva tiada lain dari parama Siva dibawah pembatasan (kancuka).

d. Alam Semesta dan Jiva
Tentang proses evolusi dari alam semesta dan susunan badan fisik mahluk hidup, Vira Saiva tampaknya memiliki pandangan yang berbeda dan bebas dibandingkan dengan Saiva Siddhanta dan Trika dan keduanya mempertahankan ajaran tentang 36 tattva, yang merupakan faktor utama dalam membentuk alam semesta ini. Paling tidak pada abad ke 12 Masehi, ketika Vira Saiva ditegakkan kembali, konsep tentang 36 tattva tidak mempenagruhi ajaran Vira Saiva.
Pada awalnya secara logika dan bukan mengenai waktu terdapat ketiadaan, yang merupakan suatu ketiadaan sepenuhnya (sunya), yang tak terbayangkan dan tak dapat ditelusuri (sarva-sunya); tidak sesuatupun yang ditopang (niralamba). Sunya ini dikenal sebagai Niralamba-Brahma (Brahma tanpa penunjang) dan selanjutnya menjadi Niranjana-Brahma, yaitu Brahma tanpa noda, murni dan sederhana, tanpa emosi dan nafsu. Pemikiran (nenahu) dari Brahma ini dikenal sebagai Niranjana-Omkara-sakti, yaitu daya yang hanya merupakan huruf murni “Om” yang tanpa emosi. Penamapakan dari pemikiran ini dalam Niranjana Brahma mewujudkan Sunya-Linga, yaitu Linga dari ketiadaan yang semata-mata merupakan sifat dari Pranava “om” Linga ini memiliki Maha-jnana-Citta, yaitu pemikiran dalam wujud pengetahuan tertinggi sebagai Anga atau badanya. Sebagai hasil dari pemikiran ini, muncullah Niskala-Brahma, yaitu Brahma tanpa bagian-bagian, yang memiliki Jnana-Cittu, yakni pemikiran dalam wujud pengetahuan sebagai badan (Anga) nya. Brahma ini, melalui kerjasama Jnana-Cittu menghasilkan Cinnada, Cidbindu dan Cit Kala, yaitu Cit sebagai suara, Cit sebagai potensialitas dan Cit sebagai seni membangun (kala), tetapi dalam semua hal tampaknya kata Cit dipergunakan bukan hanya dalam pengertian pemikiran saja, tetapi juga dalam pengertian tentang sesuatu seperti Caitanya.
Kemudian Cinnada, Cidbindu dan Cit-Kala secara bersama-sama dengan sumbernya, yaitu Jnana-Cit, kesemuanya mengenakan bentuk padat, menjadi Mahalinga (linga yang agung) yang keseluruhannya sempurna dan tertinggi dalam kesemarakan, dalam wujud suatu tiang bulat menyala dengan aksara “Om” sebagai landasannya. Selanjutnya Mahalinga merubah dirinya kedalam wujud yang setelah mewujudkan lima linga, bersatu pada 5 Sadakhya, atau kemegahan dari 5 linga, yaitu:
1.  Karma-Sadakhya, atau kemegahan dari Acara-linga.
2.  Kartr-Sadakhya, atau kemegahan dari Guru-linga.
3.  Murti-Sadakhya, atau kemegahan dari Sivalinga.
4.  Amurti-Sadakhya, atau kemegahan dari Jangama-linga.
5.  Siva-Sadakhya, atau kemegahan dari Prasada-linga.
Kemegahan dari lima linga ini menjadi: Sadyojata, Vamadewa, Aghora, Tatpurusa dan Isana, yaitu lima muka dari wujud yang dikenakan oleh Mahalingga yang kemudian menjadi Sadasiva-murti. Dari kelima muka ini muncul 5 aksara, yaitu: Na, Ma, Si, Va,dan Ya, yang dalam gilirannya merupakan sumber dari Nivrtti, Pratistha, Vidya, Santi dan Santyatita. Kelima Kala ini selanjutnya dikenal sebagai lima sakti, yaitu: Kriya, Jnana, Iccha, Adi dan Para, dari muka rahasia Sadasiva Murti muncullah Atma.
Kemudian dari lima muka, mata dan pikiran Sadasiva-murti dihasilkan 5 unsur utama, matahari, dan bulan; yang menjadi sumber alam semesta, yang terdiri dari obyek-obyek yang bergerak maupun yang tak bergerak. Unsur-unsur ini diterima bukan sebagai hasil tetapi sebagai emanasi (proyeksi), yang kesemuanya, yaitu matahari bulan dan sang Diri (Atma) adalah jiwa dalam bentuk ini; sehingga digambarkan sebagai 8 wujud dari Siva atau Sadasiva. Dari sini selanjutnya muncul Dunia, lautan, bintang-bintang, pegunungan dsb, yang disebut Brahmanda atau Ajanda, yaitu telur Brahman.
Menurut Saiva Siddhanta, jumlah jiva adalah tak terbatas dan dikelompokkan menjadi 3 golongan, yaitu: Sakala, Pralayakala dan Vijnanakala, sesuai dengan pengaruh dari 3, 2 atau satu Kala masing-masing. Ia merupakan kesatuan abadi yang berbeda dengan Tuhan (Siva). Menurut Trika, Parama Siva merupakan roh dibawah pembatasan oleh kancuka (selubung) dan menjadi banyak sesuai dengan teori abhasa dan tampaknya Vira Saiva lebih mendekati pada pemikiran Trika ketimbang pemikiran Saiva Siddhanta. Seperti Trika, Vira Saiva menelusuri asal mula dari Jiva pada Yang Maha Kuasa, dimana Parama Siva memproyeksikan kehendaknya kehendaknya menjadi alam semesta termasuk Jiva dan karena dibungkus oleh kancuka, tidak menyadari dirinya yang sebenarnya, ibarat seorang bayi yang ditutupi dengan pakaian pembebat, yang secara utuh merubahnya menjadi Purusa atau Jiva, yang oleh abhasa menjadi tak terhitung banyaknya. Vira Saiva tidak menelusuri asal. Jiva persis seperti pemikiran Trika ini, tetapi menganggap Jiva identik dengan Atman yang dihasilkan langsung dari Sadasiva-murti, dengan panca mahabutha, matahari dan bulan dan disini disebut sebagai Anga, yang menjadi Jiva apabila diproyeksikan pada avidya dan merupakan satu aspek dari Para Brahman, yang hakekatnya adalah Saccidananda, sedang aspek lainnya adalah Linga.

e. Jenjang Spiritual (Satsthala)
Sthala, adalah “tempat” dimana seluruh alam semesta, dengan obyek bergerak maupun tak bergerak berasal, ditunjang dan dipelihara, serta kemana nantinya ia dikembalikan. Ia adalah ‘Aksara’, tattva, intisari, yang tak terhancurkan dan tempat tertinggi bagi mereka yang mencapai Nirvana, yaitu relisasi diri sepenuhnya. Ia adalah Sivatattva yang tiada lain adalah Para-Brahman, yang memiliki karakteristik Sat, Cit dan Ananda, (Maswinara, 2006:303).
Sthala pada umumnya dipergunakan dalam pengertian “tahapan”, “jenjang” atau tempat penghentian bagai sang roh dalam perjalan spiritualnya dan setiap Sthala merupakan suatu persiapan untuk menuju jenjang berikutnya yang lebih tinggi. Kehidupan spiritual dari penganut Vira Saiva diatur dalam 6 jenjang. Jiva, karena diselubungi oleh Avidya hanya mengamati obyek material atau “bhoga” yang dianggapnya mendatangkan segala kebahagiaan; tetapi pada suatu saat, secara ajaib timbul pemikiran bahwa material bukanlah segalnya dan ia mengamati bahwa terdapat bebrapa tujuan didalamnya dan kekuatan misterius berada dibelakangnya. Pemikiran ini meningkat secara perlahan-lahan dalam keyakinannya terhadap kekuatan Yang Maha Kuasa dan ia ingin mengetahuinya. Keadaan ini merupakan titik awal didalam pengkajian spiritual dan berkaitan dengan awal dari Bhaktasthala, yaiut suatu tahapan dalam kehidupan spiritual manusia dimana ia mempercayai akan keberadaan Tuhan dan mempersembahkan rasa bhaktinya kepada-Nya.
Vira Saiva mengakui 6 jalan menuju penyatuan akhir, dimana yang satu melampaui lainnya, yang disebut sebagai:Varna, Pada, Mantra, Kala, Bhuvana dan Tattva. Ia juga mengakui adanya 6 bentuk anugerah atau karunia Siva, yaitu: (1) Mahesvaratatvavirbhava, yaitu kesadaran intelektual atau pencapaian Tuhan sebagai kebahagiaan abadi dan transendental yang diperoleh melalui mendengarkan naskah-naskah suci, perenungan terhadapnya dan visualisasi arti maksudnya. (2) Sadasiva tattva, yaitu realisasi dari kategori ketiga, yang disebut Sadasiva, yang merupakan suatu tingkatan spiritual, di mana objektifitas dan subjektifitas, atau “Aku“ dan “ini“, terbebas dari segala unsur pribadi dan sama-sama bersinar. (3) Siva sakti samyoga, yaitu kontak dengan daya Tuhan, yang disebabkan pelaksanaan Yoga, seperti yang diberikan dalam Saivagama dan disebut sebagai Siva-Yoga. (4) Sarva-bhuvana-gamana paroksa darsana, yaitu kemampuan untuk pergi ke semua alam dunia dan untuk melihat yang tak dapat di amati. (5) Animadyaisvarya, yaitu pencapaian daya menjadi lembut atau meresapi segalanya, yang disebabkan pertemuan dua udara vital, yaitu Prana dan Apana; yang berakibat pada pencapaian daya yang menguntungkan (kalyana vibhuti), yang tiada lain merupakan satu bagian dari Kesadaran Semesta (citkalamaya) dan mencerahi alur tengah, yaitu susumna nadi. (6) Unmanyavasthaprapti, yaitu pencapaian keadaan transendental yang merupakan tingkatan yang tak terpastikan, karena Manas tidak berfungsi atau terserap.




TEMPAT SUCI PENYATUAN
SIVASIDDHANTA DI BALI


Ajaran Sivasiddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama yaitu Tattwa, Susila dan Acara keagamaan. Tatwa atau filosofi yang mendasarinya adalah ajaran Siwa Tattwa. Di dalam Siwa Tattwa, Sang Hyang Widhi adalah Ida Bhatara Siwa. Dalam Lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Siwa adalah Esa yang bermanifestasi beraneka menjadi Bhatara-Bhatari.
Demikian juga misalnya saat Bhatara Siwa sebagai Dewata Nawa Sanga diwujudkan dalam banten caru, belia disimbulkan pada banten Bagia Pula Kerti, beliau dipuja pada puja Asta Mahabhaya, Nawa Ratna dan pada kidung beliau dipuja pada kidung Aji Kembang. Bhatara Siwa sebagai Panca Dewata dipuja dalam berbagai Puja, Mantra ditulis dalam aksara pada rerajahan dan juga disimbulkan pada alat upacara serta aspek kehidupan beragama lainnya. Tempat-tempat pemujaan menunjukkan tempat memuja Bhatara Siwa dalam manifestasi beliau. Belia dipuja sebagai Siwa Raditya di Padmasana, dipuja sebagai Tri Murti di sanggah, paibon, Kahyanga Desa dan kahyangan jagat. Pemujaan Tuhan pada berbagai tempat sebagai Ista Dewata sesuai dengan ajaran Tuhan berada dimana-mana. Demikinalah orang Bali menyembah Tuhan disemua tempat, di Pura Dalem, Pura Desa, Pura Puseh, Bale Agung, Pempatan Agung, Peteula, Setra, Segara, Gunung, Sawah, Dapur dan sebagainya. Disamping itu diberbagai tempat Tuhan dipuja sebagai Dewa yang "Ngiyangin" atau yang memberkati daerah pada berbagai aspek kehidupan, seperti Dewa Pasar, Peternakan, Kekayaan, Kesehatan, Kesenian, Ilmu Pengetahuan dan sebagainya.
Dengan demikian hampir tidak ada aspek kehidupan orang Bali yang lepas dari Agama Hindu. Dalam pemujaan ini Tuhan dipuja sebagai Ista Dewata, Dewa yang dimohon kehadirannya pada pemujaannya, sehingga yang dipuja bukanlah Tuhan yang absolut sebagai Brahman dalam Upanisad atau Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa, namun Tuhan yang bersifat pribadi yang menjadi junjungan yang disembah oleh penyembahnya. Ista Dewata ini dipandang sebagai tamu yang dimohon kehadirannya oleh hambanya pada waktu dipuja untuk menyaksikan sembah bakti umatnya. Oleh karena itu Tuhan dipuja sebagai "Hyang" dari aspek-aspek kehidupan yang rasa kehadiran-Nya sangat dihayati oleh hambanya sama seperti penghayatan umat terhadapap aspek kehidupan tersebut. Pemujaan dilakukan dalam suasana, tempat cara dan bahan yang paling tepat dan paling dihayati oleh para pemuja-Nya. Terdapat persembahan Banten, pakaian, hiasan yang semuanya dipersembahkan dengan begitu serasi dengan penghayatan, perasaan dan cita rasa dari penyembah-Nya sehingga penghayatan menyusup kedalam lubuk hati yang terdalam. Apapun yang dipersembahkan, maka itu adalah sesuatu yang terbaik menurut para penyembah-Nya. Akibat dari semua itu adalah adanya variasai dan pelaksanaan hidup beragama di Bali. Namun inti dari prinsip ajaran agama Hindu adalah sama, yaitu Tuhan yang ada dimana-mana sama dengan Tuhan Yang Maha Esa yang menampakkan diri dalam berbagai wujud dan pandangan penyembah-Nya, yang abstrak dihayati melalui bentuk.

1. Pura Luhur Uluwatu 

Pura Luhur Uluwatu ini berada di Desa Pecatu Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Pura Luhur Uluwatu dalam pangeder-ider Hindu Sivasidhanta di Bali berada di arah barat daya sebagai pura untuk memuja Tuhan sebagai Batara Rudra. Kedudukan Pura Luhur Uluwatu tersebut berhadap-hadapan dengan Pura Andakasa, Pura Batur dan Pura Besakih. Karena di Pura Luhur Uluwatu itu terfokus daya wisesa atau kekuatan spiritual dan tiga Dewa yaitu Dewa Brahma memancar dari Pura Andakasa, Dewa Wisnu dari Pura Batur dan Dewa Siwa dari Pura Besakih. Tiga daya wisesa yang disebut Tri Kona itulah yang dibutuhkan dalam hidup ini. Dinamika hidup akan mencapai sukses apabila adanya keseimbangan Utpati, Stithi dan Pralina secara benar, tepat dan seimbang. Menurut Lontar Kusuma Dewa, pura ini didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sekitar abad kesebelas. Pura ini salah satu dari enam Pura Sad Kahyangan yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura yang disebut Pura Sad Kahyangan ada enam yaitu Pura Besakih, Pura Lempuhyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Luhur Batukaru dan Pura Pusering Jagat.
Berhubung banyak lontar yang menyebutkan Sad Kahyangan, maka tahun 1979-1980 Institute Hindu Dharma (sekarang Unhi) atas penugasan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat mengadakan penelitian secara mendalam. Akhirnya disimpulkan bahwa Pura Sad Kahyangan menurut Lontar Kusuma Dewa itulah yang ditetapkan sebagai Pura Sad Kahyangan, karena saat Bali belum pecah menjadi sembilan kerajaan. Lontar tersebut dibuat tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927. Hal ini didasarkan pada adanya pintu masuk di Pura Luhur Uluwatu menggunakan Candi Paduraksa yang bersayap. Candi tersebut sama dengan candi masuk di Pura Sakenan di Pulau Serangan Kabupaten Badung. Di Candi Pura Sakenan tersebut terdapat Candra Sangkala dalam bentuk Resi Apit Lawang yaitu dua orang pandita berada di sebelah menyebelah pintu masuk. Hal ini menunjukkan angka tahun yaitu 927 Saka, ternyata tahun yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa sangat tepat. Dalam Lontar Padma Bhuwana disebutkan juga tentang pendirian Pura Luhur Uluwatu sebagai Pura Padma Bhuwana oleh Mpu Kuturan pada abad kesebelas. Candi bersayap seperti di Pura Luhur Uluwatu terdapat juga di Lamongan, Jatim.
Pura Luhur Uluwatu berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa Rudra dan terletak di barat daya Pulau Bali. Pura Luhur Uluwatu didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Sebagai pura yang didirikan dengan konsepsi Sad Winayaka Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan untuk melestarikan Sad Kertih (Atma Kerti, Samudra Kerti, Danu Kerti, Wana Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti). Sementara sebagai pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Padma Bhuwana Pura Luhur Uluwatu didirikan sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya. Pemujaan Dewa Siwa Rudra adalah pemujaan Tuhan dalam memberi energi kepada ciptaannya. Ida Pedanda Punyatmaja Pidada saat masih walaka pernah beberapa kali menjabat ketua Parisada Hindu Dharma Pusat menyatakan bahwa di Pura Luhur Uluwatu memancar energi spiritual tiga dewa. Kekuatan suci ketiga Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa) menyatu di Pura Luhur Uluwatu.
Karena itu, umat yang membutuhkan dorongan spiritual untuk menciptakan, memelihara dan meniadakan sesuatu yang patut diadakan, dipelihara dan dihilangkan sering sangat khusyuk memuja Dewa Siwa Rudra di Pura Luhur Uluwatu. Salah satu ciri hidup yang ideal menurut pandangan Hindu adalah menciptakan segala sesuatu yang patut diciptakan. Memelihara sesuatu yang patut dipelihara dan menghilangkan sesuatu yang sepatutnya dihilangkan. Menciptakan, memelihara dan menghilangkan sesuatu yang patut itu tidaklah mudah. Berbagai hambatan akan selalu menghadang. Dalam menghadapi berbagai kesukaran itulah umat sangat membutuhkan kekuatan moral dan daya tahan mental yang tangguh. Untuk mendapatkan keluhuran moral dan ketahanan mental, salah satu caranya dengan jalan memuja Tuhan dengan tiga manifestasinya. Untuk menumbuhkan daya cipta yang kreatif pujalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma. Untuk memiliki ketetapan hati memelihara sesuatu yang patut dipelihara pujalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Untuk mendapatkan kekuatan menghilangkan sesuatu yang patut dihilangkan pujalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa.
Energi spiritual ketiga manifestasi Tuhan itu menyatu dalam Dewa Siwa Rudra yang dipuja di Pura Luhur Uluwatu. Pura Luhur Uluwatu ini tergolong Pura Kahyangan Jagat. Karena Pura Sad Kahyangan dan Pura Padma Bhuwana itu adalah tergolong Pura Kahyangan Jagat. Di Pura Luhur Uluwatu ini Batara Rudra dipuja di Meru Tumpang Tiga. Di sebelah kanan dari jaba Pura Luhur Uluwatu ada Pura Dalem Jurit sebagai pengembangan Pura Luhur Uluwatu pada zaman kedatangan Danghyang Dwijendra pada abad ke-16 Masehi. Di Pura Dalem Jurit ini terdapat tiga patung yaitu Patung Brahma, Patung Ratu Bagus Dalem Jurit dan Patung Wisnu. Ratu Bagus Dalem Jurit itulah sesungguhnya Dewa Siwa Rudra dalam wujud Murti Puja. Pemujaan energi Tri Murti dengan sarana patung ini merupakan peninggalan sistem pemujaan Tuhan dengan sarana patung dikembangkan dengan sistem pelinggih. Karena saat beliau datang ke Pura Dalem Jurit itu sistem pemujaan di Pura Luhur Uluwatu masih sangat sederhana karena kebutuhan umat memang juga masih sederhana saat itu.
Pura Luhur Uluwatu juga memiliki beberapa Pura Prasanak atau Jajar Kemini. Pura Prasanak tersebut antara lain Pura Parerepan di Desa Pecatu, Pura Dalem Kulat, Pura Karang Boma, Pura Dalem Selonding, Pura Pangeleburan, Pura Batu Metandal dan Pura Goa Tengah. Semua Pura Prasanak tersebut berada di sekitar wilayah Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu. Umumnya Pura Kahyangan Jagat memiliki Pura Prasanak. Pura Prasanak ini merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pura Luhur Uluwatu. Pura Prasanak tersebut berada dalam radius sekitar lima kilometer Pura Luhur Uluwatu. Karena itu dalam radius lima kilometer tersebut hendaknya jangan ada bangunan atau fasilitas yang tidak ada hubungannya dengan keberadaan Pura Luhur Uluwatu beserta dengan Pura Prasanak-Nya. Dapat saja beberapa hal diadakan dalam radius kesucian pura tersebut sepanjang keberadaan bangunan tersebut dalam rangka memperkuat eksistensi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filosofi Pura Luhur Uluwatu.

2. Padma Tiga Di Besakih
Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Parama Siwa. Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988. Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Parama Siwa. Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan bahwa keberadan Tuhan Yang Maha Esa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha-ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa.
 Siwa Tattwa ngaranya sukha tanpa wali duhkha. Sadasiwa Tattwa ngaranya tanpa wwit tanpa tungtung ikang sukha. Paramasiwa Tattwa ngaranya niskala tan wenang winastwan ikang sukha. (Dikutip Dari Wrehaspati Tattwa. 50)
Maksudnya:
Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak akhirnya. Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.
Busana hitam Padma Tiga yang berada di kanan atau yang mengarah ke Pura Batu Madeg itu bukan lambang pemujaan Wisnu. Tetapi pemujaan untuk Parama Siwa yang berada di luar alam semesta. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman artinya tanpa sifat atau manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol dalam Tuhan keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan.
 Sedangkan busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri atau yang mengarah pada Pura Kiduling Kreteg bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah dalam Pelinggih Padma Tiga yang di bagian kiri memang arahnya ke Pura Kiduling Kreteg. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti. Untuk di kompleks Pura Besakih sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg. Sebagai Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan sebagai Batara Iswara di Pura Gelap. Di tingkat Pura Padma Bhuwana sebagai Batara Wisnu dipuja di Pura Batur simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Dipuja sebagai Bhatara Iswara di Pura Lempuhyang Luhur di arah timur dan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan.
Sementara untuk di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Kahyangan Tiga. Mengapa ajaran agama Hindu demikian serius mengajarkan umatnya untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa itu dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Salah satu ciri hidup manusia melakukan dinamika hidup. Memuja Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat manusia agar dalam hidupnya ini selalu berdinamika yang mampu memberikan kontribusi pada kemajuan hidup menuju hidup yang semakin baik, benar dan tepat. Pemujaan pada Dewa Tri Murti itu agar dinamika hidup manusia itu berada di koridor Utpati, Stithi dan Pralina. Maksudnya menciptakan sesuatu yang patut diciptakan disebut Utpati, memelihara serta melindungi sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan dilindungi disebut Stithi, serta meniadakan sesuatu yang sudah usang yang memang sudah sepatutnya dihilangkan yang disebut Pralina.
Demikianlah keberadaan Pelinggih Padma Tiga yang berada di Mandala kedua dari Pura Penataran Agung Besakih. Di Mandala kedua ini sebagai simbol bertemunya antara bhakti dan sweca. Bhakti adalah upaya umat manusia atau para bhakta untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan sweca dalam bahasa Bali maksudnya suatu anugerah Tuhan kepada para bhakta-nya. Sweca itu akan diterima oleh manusia atau para bhakta sesuai dengan tingkatan bhaktinya pada Tuhan. Bentuk bhakti pada Tuhan di samping secara langsung juga seyogianya dilakukan dalam wujud asih dan punia. Asih adalah bentuk bhakti pada Tuhan dengan menjaga kelestarian alam lingkungan dengan penuh kasih sayang, karena alam semesta ini adalah badan nyata dari Tuhan. Sedangkan punia adalah bentuk bhakti pada Tuhan dalam wujud pengabdian pada sesama umat manusia sesuai dengan swadharma kita masing-masing. Tuhan telah menciptakan Rta sebagai pedoman atau norma untuk memelihara dan melindungi alam ini dengan konsep asih.
Tuhan juga menciptakan dharma sebagai pedoman untuk melakukan pengabdian pada sesama manusia. Dengan konsep asih, punia dan bhakti itulah umat manusia meraih sweca-Nya Tuhan yang dilambangkan di Pura Besakih di Mandala kedua ini. Di Mandala kektiga ini tepatnya di sebelah kanan Padma Tiga itu ada bangunan suci yang disebut Bale Kembang Sirang. Di Bale Kembang Sirang inilah upacara padanaan dilangsungkan saat ada upacara besar di Besakih seperti saat ada upacara Bhatara Turun Kabeh, upacara Ngusaba Kapat maupun upacara Manca Walikrama, apalagi upacara Eka Dasa Ludra.Upacara Padanaan yang dipusatkan di Bale Kembang Sirang inilah sebagai simbol bahwa antara bhakti umat dan sweca-nya Hyang Widhi bertemu. Di Pura Penataran Agung Besakih sebagai simbol Sapta Loka tergolong Pura Luhuring Ambal-ambal. Ini dilukiskan bagaimana umat seyogianya melakukan bhakti kepada Tuhan dan bagaimana Tuhan menurunkan sweca kepada umat yang dapat melakukan bhakti dengan baik dan benar. Semuanya dilukiskan dengan sangat menarik di Pura Penataran Agung Besakih dan amat sesuai dengan konsep Weda kitab suci agama Hindu.
Pura Pesimpangan berada kurang lebih 2 km di sebelah barat Pura Penataran Agung Besakih. Bangunan suci atau Pelinggih yang utama di Pura Pesimpangan ini adalah bangunan suci yang disebut Gedong Limas Catu. Di samping itu ada satu bangunan yang disebut pepelik untuk menempatkan sesajen sebagai sarana persembahan umat. Ada juga bangunan yang disebut bebaturan dan balai yang disebut piyasan tempat menempatkan sesajen persembahan yang lebih besar. Di samping itu, ada juga beberapa peninggalan batu yang sulit dinyatakan bentuknya karena sudah rusak. Batu itu mungkin bentuk-bentuk sarana pemujaan pada zaman megalitikum atau peninggalan sarana pemujaan saat Sekte Siwa Pasupata yang lebih eksis sebelum muncul dan semakin kuatnya Sekte Siwa Sidanta. Meskipun sekte Siwa Pasupata tidak eksis lagi tetapi para penganut Siwa Sidanta tidak menghilangkan sarana peninggalan Siwa Pasupata, justru tetap dibuatkan tempat seperti yang kita jumpai di beberapa bebaturan di berbagai kompleks Pura Besakih.
Meskipun sarana pemujaan Sekte atau Sampradaya Siwa Pasupata tidak menjadi unsur utama dalam sistem pemujaan Sivasiddanta, tetapi hal itu tetap dihormati tidak dimusnahkan atau tidak diperlakukan semena-mena saja. Gedong Limas Catu sebagai pelinggih utama di Pura Pesimpangan berfungsi sebagai ''pesimpangan'' atau stana sementara Ida Batara di Besakih. Mengapa ada stana sementara? Dalam kegiatan ritual keagamaan yang bersifat rutin di Pura Besakih ada kegiatan yang disebut Melasti. Upacara Melasti simbol perjalanan para dewa manifestasi Tuhan Yang Maha Esa itu dilakukan di Besakih umumnya ke Pura Batu Klotok di pantai selatan Kabupaten Klungkung, ke Tegal Suci dan ke Toya Sah. Ketiga tempat inilah setiap tahun dilakukan upacara Melasti. Saat iring-iringan Melasti itu kembali ke Pura Besakih atau ke Penataran Agung Besakih tidak langsung menuju Pura Besakih. Iring-iringan Melasti itu berhenti untuk beberapa jam lamanya di Pura Pesimpangan ini. Saat berhenti itulah Pelinggih Gedong Limas Catu di Pura Pesimpangan itu disimbolkan sebagai stana sementara Ida Batara di Besakih. Kata ''simpang'' berasal dari bahasa Bali yang artinya singgah.
Jadi, Pura Pesimpangan itu sebagai tempat singgah sementara dari Ida Batara simbol Tuhan Yang Maha Esa yang dipuja di Pura Penataran Agung Besakih. Iring-iringan Melasti itu saat kembali ke pelinggih semula umumnya dipersembahkan beberapa sesaji. Besar kecilnya sesaji itu tergantung tingkatan upacaranya. Kalau upacaranya besar maka sesaji untuk kembali berstana di pelinggih asal lebih besar lagi. Untuk mempersiapkan sesaji itu membutuhkan waktu yang lama. Karena itulah iring-iringan Melasti yang kembali itu membutuhkan singgah untuk berhenti sejenak di Pura Pesimpangan.
Zaman dahulu belum ada alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih seperti sekarang. Sehingga sulit untuk mengetahui siap dan tidaknya penyambutan iring-iringan Melasti itu di Pura Besakih. Yang menjadi tanda bahwa iring-iringan itu sudah dekat dengan Pura Penataran Agung Besakih adalah suara gong atau gamelan. Konon iring-iringan Melasti itu kalau sudah sampai di Pura Pesimpangan suara gongnya sudah kedengaran dengan jelas dari Penataran Agung. Kalau suara gong sudah terdengar maka segala sesuatu menyangkut ritual sakral penyambutan kedatangan iring-iringan Melasti itu sudah dapat mulai dipersiapkan. Setelah berhenti beberapa jam lamanya di Pura Penataran barulah iring-iringan Melasti itu berangkat lagi menuju Penataran Agung Besakih. Begitu iring-iringan itu sampai di Penataran Agung segala sarana upacara penyambutan sudah siap dilangsungkan.
Yang sangat menarik di Pura Pesimpangan ini adalah bentuk Pelinggih Limas Catu ini. Di setiap Merajan Gede yang disebut di Gedong Pertiwi tempat pemujaan leluhur umat Hindu di seluruh Bali umumnya pada Pelinggih Limas Catu yang dibangun di sebelah kanan Gedong Pertiwi. Limas Catu itu pun juga sebagai pesimpangan Batara Gunung Agung di Besakih. Sedangkan sebelah kirinya ada Gedong Limas Mujung sebagai pesimpangan Ida Batara di Gunung Batur. Limas Catu dan Limas Mujung wujud umumnya sama tetapi yang berbeda tutup atapnya di puncak dari bangunan tersebut. Kalau Limas Catu puncaknya berbentuk kerucut semakin ke atas semakin mengecil yang dibuat dari ijuk. Sedangkan Limas Mujung puncak atapnya ditutup dengan topi yang dibuat dari tanah liat beserta hiasannya yang ada ukirannya.
Pura Besakih dan Pura Batur adalah Pura Kahyangan Jagat yang tergolong Pura Rwa Bhineda. Fungsi Pura Rwa Bhineda sebagai media memuja Tuhan untuk memohon keseimbangan hidup lahir dan batin. Pura Besakih memohon kebahagiaan hidup rohaniah, sedangkan Pura Batur untuk memohon kesejahteraan hidup lahiriah. Jadinya tujuan pemujaan leluhur di Merajan Gedong Pertiwi adalah untuk memuja memohon kepada leluhur agar ikut serta memperkuat pemujaan umat pada Tuhan untuk membangun kehidupan yang sejahtera lahir batin. Karena itulah ada Pelinggih Pesimpangan Besakih dan Batur dalam wujud Limas Catu dan Limas Mujung. Memperhatikan konsep pemujaan pada Ida Batara di Besakih dapat dibuat dalam wujud besar, megah dan luas. Pemujaan seperti itu kedudukannya sebagai pemujaan jagat masyarakat umat Hindu umumnya tetapi untuk memuja Ida Batara di Besakih dalam keluarga yang lebih kecil dapat dilakukan dengan cara yang amat sederhana. Di Merajan Gede di sebelah kanan Gedong Pertiwi umumnya ada Pelinggih Limas Catu namanya. Pelinggih inilah sebagai Pelinggih Pesimpangan Ida Batara di Besakih sebagai Tuhan dalam manifestasi sebagai Batara Siwa. Sarana pemujaan Tuhan yang ada di mana-mana itu dapat dilakukan dengan berbagai bentuk seperti dinyatakan dalam petikan Kekawin Dharma Sunia di atas (Google, 2012:13:3)

3. Pura Goa Gajah
Pura Goa Gajah terdapat ceruk di mana di dalam salah satu ceruknya di arah timur goa terdapat tiga buah Lingga berjejer dalam satu lapik. Masing-masing Lingga di kelilingi oleh delapan Lingga kecil-kecil. Dalam tradisi Hindu Lingga itu adalah bangunan suci simbol pemujaan pada Dewa Siwa sebagai salah satu manifestasi Tuhan. Tiga Lingga ini mungkin sebagai salah satu peninggalan Hindu dari sekte Siwa Pasupata. Tiga Lingga itu sebagai simbol sakral sebagai sarana pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Purusa. Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusa itu dalam fungsinya sebagai jiwa agung alam semesta. Siwa sebagai jiwa Bhur Loka. Sada Siwa sebagai jiwa agung Bhuwah Loka dan Parama Siwa sebagai jiwa Swah Loka. Tujuan pemujaan Tuhan sebagai Siwa jiwa agung Bhur Loka adalah untuk mencapai suka tanpa wali duhkha. Sebagai Sada Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tiada berpangkal dan tiada berujung. Sebagai Parama Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang bersifat niskala yang tidak dapat dibayangkan dalam wujud nyata dan tidak mungkin diberikan ciri-cirinya. Demikian dinyatakan dalam pustaka suci Wrehaspati Tattwa.
Masing-masing Lingga dikelilingi oleh delapan Lingga kecil-kecil itu sebagai simbol delapan Dewa di delapan penjuru dari masing-masing bhuwana tersebut. Delapan Dewa itu disebut Astadipalaka, artinya delapan kemahakuasaan Tuhan sebagai pelindung seluruh penjuru alam. Memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Purusa bertujuan untuk menguatkan jiwa untuk mencapai kesuksesan hidup di Tri Bhuwana. Delapan Dewa di masing-masing bhuwana itu adalah sebagai Dewa manifestasi dari Siwa. Dalam buku ”Penuntun ke Objek-objek Purbakala” oleh Ardana dinyatakan tiga Lingga di Pura Goa Gajah itu ada yang menduga sebagai simbol pemujaan Tri Murti. Dugaan itu sepertinya kurang nyambung dengan konsep pantheon Hindu.
Pura Goa Gajah itu terletak di Desa Bedaulu Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Pura ini memiliki banyak peninggalan purbakala. Karena itu pura ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan asing maupun domestik. Pura ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Ada bangunan-bangunan suci Hindu yang amat tua sekitar abad ke-10 Masehi. Ada bangunan suci Hindu berupa pelinggih-pelinggih yang dibangun setelah abad tersebut. Sedangkan yang ketiga ada bangunan peninggalan agama Buddha yang diperkirakan oleh para ahli sudah ada sekitar abad ke-8 Masehi sezaman dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Di ceruk bagian timur goa terdapat tiga Lingga besar berjejer di atas satu lapik, sedangkan di bagian baratnya terdapat arca Ganesa di goa berbentuk T. Jadinya di bagian hulu atau keluwan goa ada tiga Lingga simbol Siwa atau Sang Hyang Tri Purusa. Sedangkan di bagian teben adalah arca Ganesa yaitu putra Siwa dalam sistem pantheon Hindu. Karena adanya arca Ganesa inilah menurut Miguel Covarrubias goa ini bernama Goa Gajah.
Siwa Tattwa ngaranya sukha tanpa wali duhka.
Sadasiwa Tattwa ngaranya tan pawwit tanpa tungtung.
Paramasiwa Tattwa ngaranya niskala tan tan wenang
winastwan ikang sukha, salah linaksanan. (Wrehaspati Tattwa.50).
Maksudnya:
Tujuan Siwa Tattwa mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Paramasiwa Tattwa adalah kebahagiaan yang bersifat niskala, tidak dapat dibayangkan dalam wujud nyata dan tidak benar bila diberi ciri-ciri.
Fungsi Dewa Ganesa dalam sistem pemujaan Hindu adalah sebagai Wighna-ghna Dewa dan sebagai Dewa Winayaka. Wighna artinya halangan atau tantangan. Pemujaan Tuhan sebagai Dewa Ganesa adalah pemujaan untuk mendapatkan tuntunan spiritual agar memiliki ketahanan diri dalam menghadapi berbagai halangan atau tantangan hidup. Ganesa dipuja sebagai Dewa Winayaka adalah untuk mendapatkan tuntunan Tuhan dalam mengembangkan hidup yang bijaksana. Kemampuan menghadapi tantangan dan mengembangkan kebijaksanaan ini sebagai langkah awal untuk meraih hidup yang damai dan sejahtera di bumi ini. Di depan goa terdapat arca Pancuran dalam sebuah kolam permandian sakral yang karena zaman tertimbun tanah. Saat Kriygsman menjabat kepala kantor Prbakala di Bali, maka tahun 1954 permandian itu digali. Di permandian itu terdapat arca Widyadara dan Widyadhari. Arca pancuran ini ada enam buah. Tiga berjejer di bagian utara dan tiga di bagian selatan. Arca bidadari ini diletakkan di atas lapik teratai atau padma.
 Padma adalah simbol alam semesta stana Hyang Widhi. Di tengahnya ada arca laki simbol Widyadhara. Enam arca Widyadhari ini mengalirkan air dari pusat arca dan ada yang dari susu arca. Air yang mengalir di kolam itu sebagai simbol kesuburan. Tujuan pemujaan Tuhan dengan simbol Lingga sebagai media untuk memotivasi munculnya kesuburan. Lingga itu dibagi menjadi dua bagian yaitu alasnya disebut Yoni simbol Predana dan yang berdiri tegak di atas yoni itu disebut Lingga. Bagian bawah lingga berbentuk segi empat simbol Brahma Bhaga, di atasnya berbentuk segi delapan simbol Wisnu Bhaga.
Di atas segi delapan berbentuk bulat panjang. Inilah puncaknya sebagai Siwa Bhaga. Dalam upacara pemujaan Lingga ini disiram air atau dengan susu. Air atau susu itu ditampung melalui saluran yoni. Air itulah yang dipercikan ke sawah ladang memohon kesuburan pertanian dan perkebunan. Arca pancuran itu lambang air mengalir untuk membangun kesuburan pertanian dalam arti luas. Dalam Canakya Nitisastra, air itu dinyatakan salah satu dari tiga Ratna Permata Bumi. Tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan serta kata-kata bijak sebagai dua Ratna Permata lainnya. Bangunan suci Hindu di Pura Goa Gajah di samping ada bangunan peninggalan Hindu pada zaman eksisnya Hindu Siwa Pasupata pada zaman berikutnya ada pura sebagai pemujaan Hindu pada zaman Hindu Siwa Siddhanta telah berkembang.
 Karena itu di sebelah timur agak ke selatan Goa Gajah itu ada beberapa pelinggih. Ada Pelinggih Limas Catu dan Limas Mujung sebagai Pelinggih Pesimpangan Batara di Gunung Agung dan Gunung Batur. Ada Pelinggih Gedong sebagai pelinggih leluhur para gusti di Bedaulu. Ada pelinggih Ratu Taman sebagai pemujaan Batara Wisnu sebagai dewanya air. Sebagaimana pura pada umumnya terdapat juga beberapa bangunan pelengkap. Seperti pelinggih Pengaruman sebagai tempat sesaji untuk persembahan saat ada upacara, baik upacara piodalan maupun karena ada hari raya Hindu lainnya. Peninggalan yang lebih kuno dari peninggalan Hindu di Pura Goa Gajah adalah adanya peninggalan agama Buddha. Di luar goa di sebelah baratnya ada arca Buddhis yaitu Dewi Hariti di Bali disebut arca Men Brayut. Arca ini dilukiskan sebagai seorang wanita yang memangku banyak anak.
 Dalam mitologi agama Buddha, Hariti ini pada mulanya seorang wanita pemakan daging manusia terutama daging anak-anak. Setelah Hariti ini mempelajari ajaran Sang Budsha, Hariti akhirnya menjadi seorang yang sangat religius dan penyayang anak-anak. Di sebelah selatan Goa Gajah melalui parit diketemukan arca Buddha dalam sikap Dhyani Buddha Amitaba. Buddha dalam sikap Dhyani Buddha Amitaba ini dalam sistem pantheon Buddha Mahayana sebagai Buddha pelindung arah barat alam semesta. Demikian tiga wajud bangunan keagamaan Hindu dan Buddha di Pura Goa Gajah.
Toleransi Beragama di Pura Goa Gajah Di Pura Goa Gajah ada tiga tipe bangunan keagamaan yang berbeda-beda. Ada bangunan keagamaan Hindu pada saat berkembangnya Hindu Siwa Pasupati. Dengan bukti-bukti adanya Arca Tiga Lingga yang masing-masing Lingga dikelilingi oleh delapan Lingga kecil-kecil. Ada bangunan keagamaan yang bercorak Sivasiddhanta dengan adanya pelinggih-pelinggih di sebelah timur agak keselatan dari Goa Gajah. Di samping itu ada bangunan keagamaan Buddha yang bercorak Buddha Mahayana. Apa dan bagaimana konsep dan misi pembangunan Pura Goa Gajah tersebut?.
  Tiga bentuk bangunan keagamaan di Pura Goa Gajah ini sungguh sangat menarik untuk dijadikan bahan renungan di zaman modern dengan teknologi hidup yang serba canggih. Yang patut dikaji adalah sikap toleransi leluhur orang Bali pada zaman lampau itu. Agama Hindu sekte Siwa Pasupati memang ada perbedaannya dengan agama Hindu Siwa Siddhanta. Tetapi substansi keagamaan Hindu tersebut adalah sama bersumber pada Weda. Hakikat sejarah munculnya agama Buddha pun berasal dari proses pengamalan ajaran suci Weda. Ajaran Hindu Siwa Pasupata menekankan pada arah beragama ke dalam diri sendiri. Arah beragama Hindu itu ada dua yaitu Niwrti Marga dan Prawrti Marga. Niwrti Marga adalah arah beragama dengan memprioritaskan penguatan hati nurani, sedangkan Hindu Siwa Siddhanta lebih menekankan pada Prawrti Marga dengan orientasi beragama ke luar diri. Namun bukan berarti tidak menggunakan cara Niwrti. Hanya perbedaan pada penekanannya saja.
Cara Niwrti ditempuh untuk mencapai keadaan yang ”Pasupata”. Pasu artinya hawa nafsu kebinatangan. Sedangkan kata Pata berasal dari kata Pati artinya Raja atau penguasa. Pasupata atau Pasupati artinya proses pemujaan Tuhan untuk dapat menguasai nafsu yang identik dengan sifat-sifat hewan. Barang siapa yang mampu menguasai nafsu yang identik dengan sifat-sifat hewan itu dialah yang akan dapat mencapai Siwa secara bertahap seperti yang dinyatakan dalam Wrehaspati Tattwa 50. Kalau sudah dapat menguasai diri sendiri maka proses hidup selanjutnya akan lebih lancar dalam menempuh cara Prawrti Marga.
Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata itu. Bedanya hanya penekanannya saja. Kata Sivasiddhanta berarti sukses mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. Jadinya dalam satu sekte saja agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya. Di Pura Goa Gajah, kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak dipaksa harus ikut ini atau itu. Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua cara tersebut. Ini artinya penganut Sivasiddhanta tidak menganggap penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Mereka menyadari substansi ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda.
Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap penganut Sivasiddanta sebagai orang lain. Ini artinya umat Hindu pada zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi. Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno yang lainnya di Indonesia. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang berbeda sistem penekanan beragamanya. Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan. Karena perbedaan itu merupakan suatu kenyataan yang universal. Artinya, perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa, di mana pun dan kapan pun. Akan menjadi sesuatu yang tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. Menyikapi perbedaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal yang dianut oleh dunia dewasa ini.
Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. Munculnya Sidharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas dan Carwakas. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut. Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indah-indah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang.
Kedua aliran itu membuat umat menderita. Dalam keadaan seperti itulah muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan pentunjuk praktis beragama. Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi. Sila berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Suara hati nurani adalah suara Atman. Atman adalah bagian dari Brahman. Teknis berbuat baik itu didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Dalam berbuat baik hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima. Itulah Samadhi. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu. Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka. Jadinya keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Sivasiddhanta. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja. Substansi ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan sejahtera di Dunia dan mencapai alam ketuhanan di Dunia niskala.(Google:2012:14:3)




LINGGA SIVA

Lingga merupakan lambang Dewa Siwa atau Tuhan Siwa, yang pada hakekatnya mempunyai arti, peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau, khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat. Di Indonesia khususnya Bali, walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak, akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti Lingga yang sebenarnya. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga, yang sudah tentu bersifat umum.Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000:601). Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali, bahwa lingga diidentikkan dengan : linggih, yang artinya tempat duduk, pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali, dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu, malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog Dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-Weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. (Agastia, 2002:2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu, lingga merupakan lambang kesuburan. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap Lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore, menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao, 1916:69). Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang Dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra, 1975:104).
Mengenai pemujaan lingga di Indonesia, yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono, 1973:40). Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan, sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa, maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme), di Indonesia. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa. Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di Kanjuruhan, Jawa Timur. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. (Soekmono. 1973:41-42). Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers, 1959:102).
Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga, yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan, kesuburan dan sebagainya. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih, Pura-pura di Pejeng, di Bedahulu dan di Goa Gajah. Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai berikut:
”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Gandhawarna rasairhinam sabdasparsadi warjitam”.
Artinya:
Lingga awal yang mula-mula tanpa bau, warna, rasa, pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam).
Jadi dalam Lingga Purana, lingga merupakan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa Lingga). Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah Lingga dan Dewa Siwa. Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:
”Bhatara Siwalingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.
Artinya:
Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa.
Jadi Lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Siwa.

1. Bentuk Lingga
Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai  ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Jnana Siddhanta disebutkan:
“Pranalo Brahma visnus ca Lingotpadah Siwarcayet”.
Artinya:
Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan Lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa.
Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air, pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. Dengan istilah Lingga Pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan Lingga, jadi Lingga dan Yoni. Kemudian Lingga Yoni, berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma, dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. Sebuah lingga berdiri. Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar Lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga, sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi, segi empat panjang, segi enam, segi delapan, segi dua belas, bulat, bulat telur, setengah bulatan, persegi enam belas dan yang lainnya. Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao, 1916 :99). Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain: berbentuk payung (chhatrakara), berbentuk telur (kukkutandakara), berbentuk buah mentimun (tripusha kara), berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara), berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao, 1916 : 93).

2. Jenis-Jenis Lingga
Berdasarkan penelitian dan TA. Gopinatha Rao, yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain: (1) Chalalingga dan (2) Achalalingga. Chalalingga adalah Lingga-Lingga yang dapat bergerak, artinya Lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah:
a. Mrinmaya Lingga: Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat, baik yang sudah dibakar. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu, tepung, gandum, serbuk cendana, menjadi adonan setelah beberapa lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama.
b. Lohaja Lingga: Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam, seperti: emas, perak, tembaga, logam besi, timah dan kuningan.
c. Ratmaja Lingga: Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti, permata, mutiara, kristal, jamrud, waidurya, kwarsa
d. Daruja Lingga: Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami, tinduka, karnikara, madhuka, arjuna, pippala dan udumbara. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira, chandana, sala, bilva, badara, dan dewadara.
e. Kshanika Lingga: Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam, beras, nasi, tanah pekat, rumput kurcha, janggery dan tepung, bunga dan rudrasha. Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga, lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul: “Cudamani, kumpulan kuliah-kuliah agama jilid I”, menjelaskan bagian Lingga atas bahan yang digunakan. Beliau mengatakan Lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika Lingga, Lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya Lingga, lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi, lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T.A. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. II part I” dapat dijelaskan, sebagai berikut:
(a) Svayambhuva lingga. Dalam mitologi, Lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di Bumi, sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan Lingga yang paling utama (uttamottama).
(b) Ganapatya lingga. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa, Ganapatya Lingga yaitu Lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun, sitrun atau apel hutan.
(c) Arsha lingga. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas.
(d) Daivika lingga. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya Lingga dan arsha Lingga hanya saja tidak memiliki Brahma Sutra (selempang tali atau benang suci, dipakai oleh Brahman).
(e) Manusa lingga. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci, karena langsung dibuat oleh tangan manusia, sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar), Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama.
f. Lingachala, berdasarkan cara pembuatannya terdiri dari 2 macam, yaitu Lingga yang bukan dibuat manusia (tumbuh secara alami), dan linga yang dibuat manusia. Lingga yang bukan dibuat manusia terdiri dari:
a)      Svayambhuva,”terjadi dengan sendirinya”
b)      Daivika,”dibuat oleh Dewa”, umumnya berbentuk seperti api, tangan dalam sikap anjali (menyembah)
c)      Ganapa,”menyerupai makhluk gana”, umumnya berbentuk seperti ketimun, jeruk, apel dan palem
d)     Arsa, dibuat para Rsi, umumnya berbentuk lonjong dengan ketentuan bagian atas lebih kecil daripada bawahnya.
Lingga yang dibuat manusia (Manusalinga) Berdasarkan cara pembuatanya manusalinga terdiri dari beberapa bentuk, di antaranya adalah:
a)           Sarvadesika Lingga jenis ini panjangnya ditentukan oleh perbandingan dengan sisi ruangan dalam candi. Lingga jenis ini ada 3 macam sesuai dengan besarnya. Pembagian terdiri atas uttama, yaitu 3/5 sisi ruangan, madhyama 5/9 sisi ruangan, dan adhama ½  sisi ruangan.
b)      Sarvasama, jenis linga yang perbandingan antara Rudrabhaga, Visnubhaga, dan Brahmabhaga sama tinggi
c)      Saivadhika, jenis lingga ini mempunyai perbandingan panjang, 2 bagian bawah sama panjang dan 1 bagian (atas) lebih panjang. Perbandingan yang umum adalah 7:7:8,5:5:6 dan 4:4:5
d)     Svastika, jenis Lingga ini yang mempunyai proporsi semakin ke atas semakin panjang (bagian atas terpanjang) dengan perbandingan 2:3:4.
e)      Varddhamana, jenis Lingga dengan proporsi makin ke atas makin panjang dengan perbandingan 4:5:6,5:6:7, dan 7:8:9.
f)       Trairasika, jenis Lingga yang mempunyai proporsi tinggi keseluruhan linga dibagi 9, dengan ketentuan perbandingan antara Rudrabhaga: Visnubhaga: Brahmàbhaga, 6:7:8.
Manusalinga terbagi atas 3 bagian., yaitu 1. Rudrabhaga (Lingga bagian atas) berpenampang garis lengkung, 2. Visnubhaga (Lingga bagian tengah) mempunyai bentuk segi-8 (octagonal), 3. Brahmabhaga (linga bagian bawah) mempunyai bentuk persegi.
Puncak Lingga (sirovartthana) jenis ini mempunyai beberapa macam bentuk, di antaranya bentuk chattrakara (bentuk payung), tripusakara (bentuk ketimun), kukkutaudakara (bentuk telur), ardhacandrakara (bentuk bulan sabit), budolasadrisa (bentuk menggelembung). Pada puncak linga ditemukan 2 garis vertikal yang bertemu dengan 2 garis melengkung. Garis-garis tersebut dinamakan garis Brahmasutra. Jenis-jenis manusalinga yaitu:
a)      Astotarasata”108 Lingga kecil”. Manusalinga jenis ini adalah linga yang pujabhaga (permukaan Lingga) nya dibagi atas garis-garis vertikal dan horizontal, sehingga terlihat seperti dihiasi linga-linga kecil.
b)      Dhara, adalah Lingga yang bagian pujabhaga-nya dihiasi garis-garis vertikal yang memanjang (fluted vertikal) sebanyak 50-60 buah. Kitab Suprabhedagama menjelaskan garis vertikal tersebut dapat saja berjumlah 5,7,9,12,16,20,24, maupun 28, sedangkan kitab Karanagama memberi ketentuan 16 buah garis
c)      Sahasra, linga jenis ini pujabhaga-nya dihiasi garis-garis vertikal dan horizontal. Bedanya dengan astottarasata, pada sahasra garis-garis horizontal dan vertikal itu tidak membentuk linga-linga kecil.
g. Mukhalingga
Mukhalingga adalah salah satu bentuk linga yang diberi hiasan berbentuk muka dewa. Hiasan muka tersebut bisa berjumlah 1,2,3,4, atau 5 buah muka. Hiasan muka yang berjumlah 5 itu mengandung arti simbolik dari kelima aspek Siva, yaitu Sadyojata, Vamadeva, Aghoramsrti, Tatpurusa dan Isana (Margaret Stutley, 1985:94). Kelima aspek Siva itu juga berkaitan erat dengan lima unsur (pancamahàbhuta), yaitu tanah, air, api, angin, dan udara (akasa). Kelima aspek Siva itu mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Sadyojata aspek Siva sebagai pencipta (dunia), Vamadeva aspek Siva sebagai pemelihara (Dunia), Aghoramsrti aspek Siva sebagai pemelihara (Dunia), Tatpurusa aspek Siva sebagai pembasmi samsara, dan Sadasiva aspek Siva yang erat hubungannya dengan tujuan hidup, yaitu untuk mencapai moksa (Margaret Stutley, 1985:107). Sebaliknya Gopinatha Rao (1968) menghubungkan kelima aspek Siva itu dengan 1 Samharamsrti sebagai perusak, Anugrahamsrti sebagai pemberi anugrah, Nrttamsrti sebagai ahli tari, Daksinamsrti sebagai ahli musik, filsafat dan samadhi, dan Bhiksatamsrti sebagai ”pengemis”. Selanjutnya kitab Skanda Purana menyebutkan warna masing-masing aspek Siva tersebut, yaitu Sadyojata berwarna putih seperti kulit kerang atau bulan, Aghoramsrti memiliki warna yang menyerupai awan hitam, Vamadeva mempunyai warna kuning keemasan, Tatpurusa mempunyai warna kemilau, dan Sadasiva mempunyai warna putih (Margaret Stutley, 1985:107). Lingodhavamsrti
Salah satu bentuk perwujudan Siva yang sangat menonjol di India adalah linga dalam perwujudannya sebagai Lingodhavamsrti. Dalam perwujudannya ini Siva digambarkan ke luar dari dalam sebuah linga yang terbuka. Dalam bentuk relief umumnya digambarkan sebagai sebuah linga dengan seekor angsa terbang di atas Lingga agak ke bawah terpahat arca manusia berwajah babi hutan sedang mencaricari (linga) di bawah tanah. Bentuk lain penggambaran lingodhavamsrti berupa wujud Siva sedang ke luar dari dalam Lingga yang terbuka. Di depannya digambarkan Visnu dan Brahma berdiri dalam sikap memberi hormat dalam sikap anjali. Gambaran pada relief ini didasarkan pada kitab-kitab Purana, di antaranya kitab Vayu Purana, Brahmanda Purana, Siva Purana (rudrasamhita), dan Lingga Purana serta Skanda Purana.Dalam Lingga Purana diceritakan bahwa para dewa datang bertanya pada Brahma awal mula lahirnya Lingga, dan bagaimana Mahesvara dapat berada dalamnya. Brahma kemudian bercerita bahwa linga adalah pradhana (= alam), dan pemilik linga adalah Dewa Tertinggi, Paramesvara. Kemudian Brahma juga menceritakan pertemuannya dengan Visnu serta kedatangan api linga yang mempesona. Ia (Brahma) dan Visnu berusaha mencari ujung dan pangkal linga, namun tidak berhasil. Dalam usaha pencarian itu Visnu berubah menjadi babi hutan dan ia sendiri (Brahma) berubah menjadi seekor hamsa.
Kitab Amsumadbhedagama menjelaskan salah satu penerapan kisah timbulnya linga dalam pahatan, yaitu dengan cara memahat tokoh Siva dalam bentuk Chandrasekhamsrti di bagian depan (permukaan) sebuah lingga. Keterangan ini diperjelas oleh kitab Karanagama. Menurut kitab ini seperlima ujung dan dasar linga sebaiknya dibiarkan polos, tanpa pahatan. Kaki di bawah lutut tokoh Siva tidak ada. Sebelah kanan Lingga dekat ujung (puncak) linga dipahat Brahma dalam bentuk seekor angsa, sementara Visnu dalam bentuk seekor babi hutan dipahat pada bagian kiri kaki Lingga. Dapat pula tokoh Brahma dan Visnu dipahat di atas kanan dan kiri menghadap linga dengan tangan dalam sikap anjali. Tokoh-tokoh ini dapat pula diberi warna, warna untuk tokoh Siva merah, Visnu hitam, dan Brahma kuning keemasan. Keterangan yang lebih rinci kita dapatkan dalam kitab Kamikagama. Menurut kitab ini ukuran angsa ditetapkan sama panjang dengan wajah Siva, sedangkan babi hutan dua kali panjang wajah Siva. Tokoh babi hutan digambarkan sedang menggali dan masuk ke dalam bumi. Tokoh Visnu dan Brahmà dalam bentuk kedewaan tidak perlu dipahatkan, sedangkan angsa dan babi hutan harus dipahatkan. Kita Silparatna menambahkan bahwa Siva membawa trisula pada salah satu tangannya. Kitab Karanagama mengharuskan memahat tokoh Siva dalam bentuk caturbhuja dengan ketentuan salah satu tangannya digambarkan dalam sikap abhaya, dan salah satu tangan lainnya dalam sikap varadahasta. Tangan ketiga membawa parasu dan tangan keempat memegang krsnamrga (seekor rusa jantan berwarna hitam). Siva dipahat dengan hiasan mahkotanya berbentuk hiasan bulan sabit. Beberapa bentuk perwujudan Lingodbhavamsrti yang ada di India telah ditelaah Gopinatha Rao dalam bukunya Elementa of Hindu Iconography, di antaranya 1. Lingodbhavamsrti yang ditemukan dalam candi Kailàsanathasvami di Conjeevaram yang umurnya lebih dari 1200 tahun lalu. Tokoh Siva digambarkan dalam bentuk Siva Candrase kharamurti bertangan delapan. Beberapa dari kedelapan tangan digambarkan membawa parasu, sula, aksamala, dalam sikap abhaya, dan katyavalambita. Keterangan selanjutnya, bahwa seperlima bagian ujung linga sebelah kiri tidak ada pahatan, demikian juga dari lutut ke bawah tokoh Siva.
Siva digambarkan mengenakan hiasan bulan sabit pada mahkotanya. Babi hutan sebagai avatara Visnu digambarkan bertangan empat, dua buah tangan sedang menggali bumi, dua tangan lainnya digambarkan membawa sankhadan cakra. Menurut  kitab Agama, babi hutan dapat juga dipahatkan seakan ke luar dari dasar ruang panil. Brahmà digambarkan terbang di udara di ujung lingga dalam bentuknya sebagai seekor angsa. Tokoh Visnu dan Brahma juga dipahatkan dalam bentuk caturbhuja di kanan kiri linga. Visnu dan Brahmà digambarkan dalam sikap memuja (sebuah tangan dalam sikap memuja, sebuah diletakkan di atas pinggul masing-masing, dan tangan-tangan yang lain membawa laksana masing-masing). Pada puncak relung dipahatkan makara-torana. Selain di candi Kailasanathasvami, relief lingodbhavamurti kita temukan juga di dalam candi Siva Ambar Magalam. Di sini lingga, digambarkan dengan untaian bunga berbentuk lingkaran ke luar dari atas puncak linga. Tokoh Siva digambarkan dalam bentuk caturbhuja, sebuah tangan dalam sikap abhaya, tangan lainnya dalam sikap katyavalambita, membawa parasu dan rusa jantan hitam. Kaki-kaki tokoh Siva di bawah lutut dan di atas pergelangan kaki dipahatkan bertentangan dengan peraturan yang ditetapkan dalam kitab Agama, yaitu sebuah kaki disembunyikan di dalam lingga. Di atas lingga tergambar angsa dengan paruh yang sangat menonjol. Di bawah sebelah kiri lingga babi hutan yang diwujudkan dalam bentuk setengah manusia dan setengah binatang sedang menggali liang di bumi. Menurut perkiraan relief lingodbhavamurti ini berasal dari abad 11 atau 12 Masehi, yaitu periode pertengahan Chola.

3. Puja Terhadap Sivalingga
Upacara puja lingga atau lebih dikenal sebagai nitya-puja dapat berupa abhiseka, yaitu membasahi linga dengan cairan berupa air kelapa, madu, air gula, susu dan sebagainya. Pujaan terhadap lingga dapat pula dilakukan dengan memberi dupa, membakar kayu wangi, lepa dan sebagainya. Selain memberi dupa dapat pula berupa persembahan naivedya, yaitu upacara pemberian aneka makanan bagi sang lingga. Usai upacara semua makanan dibagikan pada yang hadir untuk disantap bersama. Puja terhadap linga dapat pula dilakukan di dalam garbhagrha dengan meletakkan lampu dan untaian bunga atau bunga-bunga lepas. Dalam upacara besar selain menggunakan bunga dan lampu, juga dipersembahkan musik dan tari. Penarinya seorang devadasis (deva = dewa ; dasi = abdi), yaitu seorang wanita cantik yang telah mendapat latihan menari sesuai dengan aturan-aturan puja.
Dalam kitab Manasara disebutkan bahwa di India lingga atau phalli mempunyai banyak sebutan, diantaranya Siva, Pasupata, Kalamukha, Mahàvrata, Vama, dan Bhairava (Manasara, LII :2-3). Untuk kumpulan linga mendapat sebutan Samakarmna, Vardhamamana, Sivanka, dan Svastika yang masing-masing merupakan media pemujaan untuk kaum Brahmana, Ksatrya, Vaisya, dan Sudra (Manasara, LII :4-5). Sebagai simbol Siva, lingga merupakan aspek sekunder dari lambang kelaki-lakian Siva yang baru akan menimbulkan tenaga atau energi setelah bersatu dengan yoni, yaitu lambang kewanitaan, sakti Siva, yaitu Parvatì. Lingga  merupakan lambang api, sebagai manifestasi dari kekuatan atau kekuasaan, sedangkan yoni merupakan lambang bumi. Kedua sifat itu saling bertolak belakang, namun bila keduanya bersatu akan melahirkan kekuatan atau energi. Itulah makna pertemuan antara lingga dan  dan yoni.


 


FILOSOFIS NAMA SIVA

1. Arti dan Makna Nama Siva
Kata Siva berarti yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan sejenisnya (Monier, 1990:1074). Sang Hyang Siva di dalam menggerakkan hukum kemahakuasaan-Nya didukung oleh sakti-Nya Durga atau Parvatì. Hyang Siva adalah Tuhan Yang  Maha Esa sebagai pelebur kembali (aspek pralaya atau pralina dari alam semesta dan segala isinya). Siva yang sangat ditakuti disebut Rudra (yang suaranya menggelegar dan menakutkan). Siva yang belum kena pengaruh Maya (berbagai sifat seperti Guna, Sakti dan Svabhava) disebut Parama Siva, dalam keadaan ini, disebut juga Acintyarupa atau Niskala dan Tidak berwujud (Impersonal God).
Pada awal kalpa, ketika Brahma bermeditasi untuk kelahiran seorang putra yang sama dengan dirinya sendiri, tiba-tiba seorang anak dengan warna kulit kebiru-biruan muncul dan duduk dipangkuannya, dan anak tersebut mulai menangis. Brahma bertanya kepada anak tersebut, mengapa menangis, dan anak itu meminta kepada Brahma supaya diberikan sebuah nama. Brahma memberi nama Rudra dan meminta supaya berhenti menangis, malahan ia menjerit 7 kali sesudah diberi tahu. Kemudian Brahma memberinya 7 nama lagi, sehingga keseluruhannya berjumlah 8, sebagai 8 wujud (astamurti), berikut dengan sakti dan putra-putranya masing-mamsing,  yaitu: Sarva, Isana, Pasupati, bhima, Ugra dan Mahadeva, yakni 7 nama, dan matahari, air, tanah, angin, api, angkasa, bulan dan pandita (Dvijati). Para dewi yang mengikuti devata tersebut, adalah: Suvarcala, Usa, Vikesì, Siva, Svaha, Disa, Diksa dan Rohiì. Bumi penuh dengan keturunannya. Sanaiscara, Sukra, Lohitànga, Manojava, Skanda, Sarga, santana dan Budha adalah putra-putra dari 8 dewi, úakti para devata tersebut. rudra mengawini Satì, putri Daksprajapati (Visnu Purana 1.8).
Dari Brahma dengan sifat Guna Rajas lahir dari pusar Mahavisnu, dan dari antara ke dua kening Brahma Sivarudra dengan sifat Guna Tamasika. Brahma  melalui Tapanya memiliki kemampuan untuk menciptakan alam semesta dan menciptakan bumi ini berwarna kemerahan, diwarnai oleh sifat Rajas, demikian pula pada akhir Kalpa, alam semesta dilenyapkan kembali oleh Rudra diwarnai kegelapan (Devi Bhagavata Sakndha 7).
Dari kemarahan muncullah Rudra, dari pahanya muncul Narada, dari jarinya muncul Daksa, dari pikirannya muncul Sanaka dan lain-lain dan dari jari kirinya muncul seorang putri bernama Vìranì (Devì Bhsvata Skandha 7). Empat putra mental Brahma adalah: Sanaka, Sanandana, Sanatana dan Sanatkumara menunjukkan kesegannya untuk melahirkan keturunannya. Brahma marah sangat marah dengan sikap ke empat putra-putranya itu, dari antara ke dua keningnya lahir mahluk yang berwarna putih-kebiru-biruan, dan ia menangis meminta kepada Brahma untuk diberi nama. Dengan rakhmatnya, ia diberi nama ‘ma ruda’ (jangan menangis) oleh Brahma, kemudian terkenal dengan nama Rudra.selanjutnya diberikan 111 lagi nama tambahan oleh Brahma, masing-masing: Manyu, Manu, Mahinasa, Mahàn, Siva, Rtudhvaja, Ugrareta, Bhava, Ksma, Vsmadeva dan Dhrtavrata. Nama-nama tersebut sebaliknya juga dikenal dengan nama-nama berikut: Aja, Ekapada, Ahirbudhya, Tvasta, Rudra, Hara, Sambhu, Trayambaka, Aparsjita, Ìsana dan Tribhuvana. Sebelas Rudra (Ekadasarudra) juga masing-masing diberikan kekuasaan oleh Brahma, yakni: jantung, panca indria, pràna (energi) angin, api, air, tanah, matahari, dan bulan. Rudra memiliki 11 sakti, masing-masing: Dhì, Vrtti, Usana, Uma, Niyuta, Sarpis, ila, Ambika, Iravatì, Sudha dan Diksa. Rudra dengan nama Sva disebut sebagai bagian dari Trimurti. Ajaran ini nyata sepanjang pengertian waktu peleburan atau pemusnahan. Oleh karena itu, Rudrasamhaara (pemusnahan oleh Rudra) dapat berarti dalam pengertian awal penciptaan.
Pada permulaan Yuga (era) Brahma lahir dari pusarnya Sang Hyang Visnu. Dua raksasa bernama Madhu dan Kaitbha berusaha untuk membunuh Brahma, dan dari kening Sang Hyang Visnu yang marah saat itu muncul Sang Hyang Siva membawa senjara Triúula (Vanaparva 12).  
 Makna dari simbol-simbol atau atribut yang digunakan oleh Dewa Siva. Dewa Siva digambarkan berwarna putih salju, yang benar-benar selaras dengan tempat kediamannya, yaitu Himalaya. Putih menyatakan sinar yang mengusir kegelapan, pengetahuan yang melenyapkan kebodohan. Ia merupakan personifikasi dari kesadaran kosmis. Tampaknya aneh bahwa siva yang menyatakan sifat tamas (daya kegelapan dan penghancur) di gambarkan putih, sedangkan Visnu yang menyatakan sifat sattva (daya sinar dan pencerahan) digambarkan sebagai gelap (hitam). Sebenarnya tidak ada yang aneh dalam hal ini karena guna yang saling berlawanan itu tak dapat dipisahkan. Karena itu Siva digambarkan putih diluar dan gelap di dalam, sementara Visnu sebaliknya.
Tiga mata dari Siva menyatakan matahari, bulan dan api, tiga sumber sinar, kehidupan dan panas. Mata ketiga juga dapat menyatakan mata pengetahuan dan kebijaksanaan, dari kemahatauann-Nya. Bila matahari dan bulan membentuk dua matanya seperti apa adanya, lalu seluruh langit termasuk angin perkasa yang berhembus disana membentuk rambutnya. Itulah sebabnya ia disebut Vyomakesa (yang menggunakan langit atau ruang angkasa sebagai rambutnya). Siva mengenakan kulit harimau sebagai pakaiannya menunjukan, bahwa Ia penguasaannya yang sempurna terhadap keinginan. Harimau sebagai binatang yang sangat kuat, dan dengan mengenakan kulitnya sebagai pakaian menandakan bahwa Siva telah sepenuhnya menundukan kecenderungan hewani.
Rangkaian tengkorak kepala (Mundamala) yang dikenakannya  yang bermakna menyatakan revolusi jaman dan penampakan serta pelenyapan berturut-turut dari ras manusia. Abu pembakaran mayat yang digunakan untuk melumuri badannya menandakan bahwa ia merupakan penguasa pemusnahan. Air dari sungai ganga menyatakan, jnana pengetahuan. Karena sungai Ganga sangat dipuji sebagai pemurni utama, yang berlangsung tanpa mengatakan bahwa dialah yang dipuju, merupakan personifikasi dari yang pemurni atau penebus dosa.
Bulan sabit menyatakan waktu, karena ukuran waktu seperti hari atau bulan. Dengan mengenakan sebagai mahkota, Siva menunjukan kepada kita bahwa waktu yang maha-kuasa itu pun hanyalah perhiasan saja baginya. Ular Kobra beracun yang melambangkan kematian. Dan ular-ular melingkar juga dapat menyatakan siklus waktu pada makrokosmos dan energy dasar yang sama dengan energy seksual dari makhluk hidup dalam mikrokosmos. Dengan demikian, Siva merupakan penguasa waktu dan energy.
Secara ikonografi, Siva mungkin digambarkan dengan dua, tiga, empat, delapan, sepuluh atau bahkan tigapuluh dua lengan. Beberapa jenis benda yang tampak ditangannya adalah: Trisula, cakra, parasu (kapak perang), Damaru (kendang kecil), Aksamala (tasbih), Mrga (menjangan), Pasa(jerat), Danda (tongkat), Pinaka atau Ajagava (busur), Khatvanga (tongkat wasiat), Pasupata (tombak), Padma (kembang teratai), Kapala (tengkorak kepala), Darpana (cermin), Khadga (pedang) dan lain sebagainya. Agak sulit untuk menemukan makna untuk masing-masing benda tersebut. Namun usaha dilakukan untuk menjelaskan beberapa buah diantaranya.
Trisula yang menjadi senjata penting dalam menyerang dan bertahan, menyatakan Siva merupakan penguasa utama. Secara filosofis itu dapat menyatakan triguna atau tiga proses penciptaan, pemeliharaan dan penyerapan. Karena itu Siva pembawa trisula merupakan penguasa guna dan dari padanya berawal proses kosmis ini.
Dikatakan bahwa sementara menarikan Tandavanrtya, Siva membunyikan Damaru-Nya empat belas kali, sehingga menghasilkan suara seperti a-i-u-r-lr-k dan seterusnya, yang kini dikenal sebagai mahesvarasutra, empatbelas rumusan dasar yang mengandung segala huruf yang tersusun dengan cara yang sangan mahir, yang memfasilitasikan proses gramatika yang sangat banyak. Karena Damaru menyatakan alphabet, gramatika (ilmu bahasa) atau bahasa itu sendiri. Dengan kata lain, ia menyatakan segala kata-kata yang diucapkan atau ditulis, ataupun yang diungkapkan dengan cara lainnya sehingga dimaksudkan bagi seluruh tangga nada dari semua seni dan ilmu pengetahuan, suci maupun secular. Itu juga menyatakan suara sebagai logos, asal mula segenap ciptaan ini. Dengan mengenggamnya Siva memperlihatkan kenyataan bahwa segenap penciptaan, termasuk berbagai macam seni dan ilmu pengetahuan, berawal dari kehendak sebagai permainannnya.
Bila Aksamala (tasbih) menunjukan bahwa ia merupakan penguasa ilmu pengetahuan spiritual, khatvanga (tongkat wasiat, dengan sebuah tengkorak kepala di ujungnya) yang dipakai wadah darah yang diminumnya, merupakan lambang lain yang menunjukan daya pemusnah segalanya. Darpana (cermin) menyatakan bahwa segenap ciptaan hanyalah pantulan dari wujud kosmisnya (Maswinara, 2007:38-48)
               Abu pada badan dewa Siwa  melambangkan bahwa intisari dari semua benda dan makluk di Dunia. Dan abu pada tubuh Dewa Siwa melambangkan bahwa ia sumber dari seluruh penciptaan yang berasal dari dalam dirinya. Dewa Siwa memiliki tiga mata. Dua mata pada bagian kiri dan kanan melambangkan aktifitasfisiknya. Dan mata yang ketiga melambangkan kebijaksanaan dan menghancurkan kejahatan.
              Ular yang ada di sekeliling lehernya melambangkan Kekuatan. Tri Sula yang memiliki tiga ujung melambangkan tiga sifat alam yaitu Sattwam, Rajas, Dan Tamas. Dan Tri Sula melambangkan bahwa Dewa jauh dari ketiga sifat itu. Damaru atau kendang kecil yang menghasilkan suara bergetar seperti Om. Damaru pada Dewa Siwa berarti ia menyangga seluluh ciptaanya ditangan. Kulit Harimau yang jadi tempat duduk Dewa Siwa melambangkan kekuatan yang pasti dan ia kendalikan sesuia dengan keinginnanya.  Bulan Sabit yang ada pada kepalanya sebagai hiasan dan melambangkan siklus waktu. Dewa Siwa digambarkan duduk di kuburan, yang melambangkan kemutlakan untuk mengendalikan kelahiran dan kematian.  Seekor sapi jantan putih yang sebagai kendaraan Dewa Siwa. Sapi putih jantan melambangkan kekuatan dan keperdualian.
              Dewa Siwa dikatakan memiliki banyak tarian yang disebut dengan Nataraja. Dalam Tarian Siwanataraja digambarkan Dewa Siwa menari di atas Raksasa Apasmara, yang disimbulkan yang kelihatan dari ritme alam semesta. dengan api yang melingkara melambangkan proses hidup dari penciptaan semesta. Mudra, gerak tangan yang lainnya melambangkan kegiatan yang berbeda. Dalam satu tangan Nataraja memegang gedang, dan tangannya yang kedua menunjukkan abhaya mudra. Dalam telap tangannya ketiga dia memiliki lidah api sebagai simbol dari penghancuran, dan tangan yang ke empat menunjuk kepada kepada kakinya yang terangkat. Ini melambangkan keselamatan bagi pemujaannya.   (Visvanathan.Ed. 2005:170-171)

2. Penampilan Siva.
Siva memiliki rambut ikal yang digelung, berwarna merah. Siva dikenal dengan nama Kapardì, karena memiliki rambut merah yang ikal dan digelung tersebut. Siva juga dinyatakan sebagai Agni. Memiliki 3 mata (Trinetra), Phalanetra, Agnilocana, Trilokana dan lain-lain, karena fakta-fakta tersebut di atas. Siva disebut yang dapat menghancurkan segala sesuatu yang bekaitan dengan Agni. Siva menghancurkan segalanya, membawa Trisula. Senjatanya yang lain disebut Pinaka, oleh karena itu Siva disebut juga dengan nama Pinàkapani (yang memegang Pinaka ditangannya). Baik Siva maupun kendaraannya, Nandini berwarna putih. Warna putih menunjukkan kekuasaan untuk mengawasi proses peleburan kembali. Siva digambarkan memiliki 2, 6, 8 dan 10 tangan. Di samping memegang Pinaka, juga membawa tongkat yang dinamakan Khatvànga, busur bernama Ajagava, seekor menjangan, tasbih, tengkorak, damaru (gendang kecil) dan benda-benda suci lainnya. Ganga (Dewi Ganga) dan Ardhacandra (bulan sabit) bertengger pada kepalanya, oleh karena itu disebut juga Gangadhara dan Candracsda. Kalungan bunga yang terbuat dari untaian tengkorak manusia melingkar di lehernrya. Siva mengenakan busana (kain) darri kulit macan dan kulit gajah untuk selimut (blanket)nya. Di lengannya bergelayutan beberapa ekor ular sebagai hiasan. Di dalam kitab-kitab Purana kita mendapatkan informasi tentang Sang Hyang Siva memperoleh berbagai hiasan tersebut. Istri para rsi terpikat kepada Siva, yang sekali waktu tampil dengan mengenakan pakaian seperti peminta-minta. Para rsi sangat marah terhadap Siva atas penampilannya itu dan ingin membunuhnya. dari lobang yang digali, muncul seekor harimau. Siva membunuh harimau itu dan mengambil kulitnya. Seekor menjangan mengikuti harimau muncul di lubang itu. Siva memegang binang itu dengan tangan kirinya. Selanjutnya muncul dari lobang itu tongkat besi panas berwarna merah. Siva mengambil tongkat itu dan menjadikan senjatanya. Terakhir dari lubang muncul beberapa ekor ular kobra dan Siva mengambil ular dan mengenakannya sebagai hiasannya. Suatu hari raksasa bernama Gaya menyamar dalam wujud seekor gajah dan menangkap seorang pandita yang melarikan diri dan memohon perlindungan di sebuah pura Siva. Siva muncul dan membunuh gajah tersebut, kemudian mengambil kulitnya dikenakan di badannya. Suatu hari Siva mengenakan beberapa ekor ular sebagai anting-antingnya, oleh karena itu ia dikenal dengan nama Nagakundala. Brahma meminta kepada Rudra untuk menciptakan manusia, dan permintaan itu dipenuhinya, tetapi manusia ciptaanya menjadi manusia yang sangat bengis. Brahma khawatir terhadap mahluk itu akan memakan mahluk-mahluk lainnya. Brahma yang gemetar karena ketakutan meminta kepada Rudra untuk menghentikan penciptaan manusia itu dan meminta menciptakan yang lain. Selanjutnya Rudra mulai mempraktekkan tapa.

3. Pemujaan Kepada Siva.
Tidak terbilang jumlahnya umat Hindu di seluruh dunia memuja Sang Hyang Siva dan mereka mengikuti berbagai cara untuk memuja-Nya. Mereka ada yang memuja dengan mengikuti tata cara kitab suci Veda dan ada juga yang tidak, seperti juga bentuk yang Sattvik dan juga yang lain. Bentuk pemujaan yang tertua disebut Parasupadam (Pasupatam?). Hal itu dipercaya bahwa Parasupadam suatu hari menghormati dan pada kesempatan yang lain menentang kitab suci Veda. Sivalinga di suatu tempat bernama Gsdamillam diyakini sebagai yang sudah sangat tua, berasal dari abad ke-2 Sebelum Masehi. Salah satu simbol di antara demikian banyak simbol-simbol Siva adalah Sivalinga, simbol yang sangat penting. Terdapat dua jenis Linga, yakni yang bergerak dan yang tidak bergerak. Linga yang tidak bergerak adalah linga yang dibuat permanen di suatu pura atau yang ada demikian rupa dengan sendirinya. Linga yang dapat dibawa kemana-mana, dibuat dari tanah, batu, kayu, permata, dan lain-lain. Terdapat juga Linga yang sifanya sementara, yang ditempatkan di suatu tempat, dibuat dalam berbagai bentuk. Linga dibuat dari batu sebagai bagian laki-laki (purusa) dan sebagai bagian wanita (yoni). Terdapat berbagai variasi tipe Linga yang menjukkan berbagai perbedaan atribut Siva, seperti misalnya Lingodbhava, Candrasekhara, Raudra, Umasahits dan lain-lain. Kamantaka, gajari, Kalari, tripuradahaka, dan lain-lain menunjukkan Tuhan yang Maha Esa dalam a speknya yang dahsyat.  Siva juga dalam sikapnya memberikan rakhmat kepada Candesa, Visnu, Nandìsvara, Vighnesvara dan arjuna. Ia juga tampil dalam berbagai pose menari, Daksinàmùrti  yang digambarkan dengan 4 wujud, yaitu: Vyakhyana, Jnana, yoga dan Vìnadhara. Bhiksataka, Kapaladharì, Gangadhara, Ardhanaresvara, Vrbhavahana dan Visakhaksaka adalah bentuk yang lain dari Siva. Jarang digambarkan dalam bentuknya sebagai Sadàsiva, Mahesvara, Ekadasarudra, Vidyesvara dan Mstyasþaka. bentuk-bentuk itu adalah bentuk-bentuk dari Saivagama.
Ganapati menempati posisi terkemuka di antara Para Dewa yang berhubungan dengan Siva. Ganapati mulai dipuja mulai abad ke 6-7 Sebelum Masehi. Bentuk arcanya yang sekarang barangkali setelah periode ini. Banyak pura yang didedikasikan kepada Ganapati utamanya di India Selatan. Yang terpenting di antara berbagai arca Ganapati adalah Itampiri (belalai menjulur di sebelah kiri badan) dan Valampiri (belalai menjulur di sebelah kanan badan). Ganapati adalah aspek fisik dari Sang Hyang Siva, sebagai devata yang mengusir atau melenyapkan segala rintangan di jalan bhakti (bagi pemujanya). Ganapati disebut Vighnesvara. Alam semesta masuk dalam kandungan perutnya yang besar. Setelah Ganapati, devatà lainnya adalah Subrahmanya. Ia hanya dipuja di India Selatan saja. Kumara, Muruka (Muruga), Kartikeya, Skanda, Arumukha, Guha dan lain-lain adalah nama-nama lain Subrahmanya. Cukup banyak pura yang didedikasikan untuk Subrahmanya di Tamil Nadu, banyak di antaranya dibangun di puncak-puncak bukit. Di India Utara pura untuk Subrahmanya  sangat jarang. Buku yang ditulis pada masa Sangha menunjukkan bukti bahwa Subrahmanya telah dipuja sejak masa yang amat tua. Ia digambarkan dalam berbagai postur, duduk, dengan 6 wajah, hanya dengan satu wajah, dengan 2 tangan, 4 tangan, dengan istrinya, menggunakan benang suci, dan lain-lain.
Di samping itu adalah arca-arca Sakti. Sakti adalah dewi yang sangat dekat dengan Siva. Di India Selatan ada sebuah pura yang istimewa ditujukan untuk memuja Sakti bernama Saktipìthalaya. Durga adalah yang terpenting sebagai manifestasi Sakti. Umumnya arca Durga berdiri di atas padma, dan juga ada yang mengendarai Singa. Kitab-kitab Agama menyebutkan adanya 9 macam wujud dari dewi Durga, yaitu: Nìlakanthì, Ksemankarì, Harasiddhi, Raudra, Vana, Agni, Jaya, Vindhyasnì, dan Ripunasinì.Wujud Durga yang sangat menakutkan adalah sebagai Mahhisàsuramardini, dapat dijumpai di Mahabalipuram, Ellora dan tempat-tempat lainnya, termasuk di Indonesia (Jawa, dan Bali (pura Bukit Dharma Kutri, Gianyar). Durga disebut juga Candika dan Katyayani. Durga dipuja  sebagai Nanda, Bhadrakalì, Amba, Rajamaatangì, dan lain-lain.
Masa Siva. Ribuan Caturyuga merupakan satu hari Brahma. Menurut berbagai kitab Purana, 14 Indra jatuh dari sorga selama satu hari Brahma. Dua hari Brahma sama dengan satu hari Visnu, pada masa akhir dari periode itu, ia juga ingin memperpanjangnya. Satu hari Siva sama dengan dua hari Visnu (Devì Bhagavata Skandha 5).  Sivasarasranama. Seribu nama Siva pada dasarnya disebutkan dalam Mahàbhàrata, yakni Sàntiparva 285 dan Anusasanaparva 17. Terdapat perbedaan beberapa nama dalam kedua daftar dari dua kitab tersebut.
Kitab-kitab Puràna mengandung berbagai referensi tentang kekuatan yang agung dari Sivabhasma atau Vibhuti atau abu Siva. Ceritra berikut bahkan menyebutkan Dewa Visnupun akhirnya menjadi penyembah Siva karena kesucian dari Sivabhasma, seperti disebutkan di dalam Padma Purana, Patalakhanda 101. Pada awalnya atau ketika Brahmapralaya (kehancuran alam semesta), Mahavisnu terlentang di atas air besar kehancuran. Pada kedua sisi Sang Hyang Visnu terdapat ratsàn alam semesta (tatasurya/galaksi) dan pada kedua sisi kakinya dan di tengah-tengah kepalanya, masing-masing 20 alam semesta melekat padanya. Satu alam semesta rangkaian permata bercahaya pada hidung Sang Hyang Visnu. Maharsi seperti Lomasa melakukan Tapa dengan duduk pada pusarnya. sementara itu Mahàvisnu melakukan Tapa yang khusuk untuk mempersapkan penciptaan. Tetapi, ia tidak menemukan sesuatu papapun dan mulai, oleh karenanya sangat sedih gulana. Selanjutnya muncul cahaya luar biasa keduniawiannya yang mengakibatkan ia takut dan menutup matanya. 
Siva memutar kedua tangannya, bagaikan rangkaian bunga (garland) berupa satu karor alam semesta muncul di hadapan Sang Hyang Visnu. Ia kemudian berdiri dan memerikasa, siapa yang datang itu. Siva memperlihatkan wujudnya. Siva berkata kepada Visnu, bahwa ia tidak memiliki kebijaksananan yang cukup untuk penciptaan dan juga menasehatkan untuk memperoleh pengetahuan yang cukup dengan jalan mandi Varuna dan kemudian mandi dengan Bhasma. Atas permintaan ini Visnu menjawab dengan mengatakan bahwa tidak ada air yang cukup untuknya mandi, dan yang secara dekat di kelilingi oleh alam semesta, duduk di air. Ternyata hal itu hanya sampai kepahanya. Selanjutnya Siva seperti menertawakan, sesungguhnya cukup air untuk Visnu yang digunakan untuk mandi dan menyaksikan sepintas kepadanya dengan mata Siva di atas kedua keningnya, dan juga mata kirinya. dan tiba-tiba saja  badan dewa Visnu menjadi sangat kecil dan hal itu menjadikan mulai menggigil. Selanjutnya Siva berkata, sebagai berikut: “Wahai Visnu! Di sini air dalam, engkau dapat mandi di sini!”. Namun Visnu tidak bersedia mandi di kolam yang hebat yang diciptakan melalui paha Siva. Kemudian, ia memohon kepada Siva supaya diberikan jalan untuk mendapatkan kolam. Siva: “Wahai Visnu! sebelum kejadian ini meskipun anda duduk di air, satu karor Yojana dalamnya, ternyata hanya sampai pada paha anda. Tetapi, kini walaupun anda berdiri di air, anda berdiri di atas kaki anda, anda mengatakan bahwa kaki anda belum mencapai air. Anda bisa turun ke tempat itu. Saya akan melihat langkah anda di air. Mantra Veda mengatakan, saya merapalkan mantra, akan berjalan langkah demi langkah. Viûóu berkata: “Tidak seorangpun mampu berjalan di atas suara. Seseorang mungkin naik di atas benda-benda material, yaitu dengan mengambil bentuk sesuatu, tetapi, bagaimana seseorang bisa melangkah bila ia tanpa badan atau bentuk”. Siva menjawab: “Kenapa anda tidak dapat memegang sesuatu yang akan naik itu? Apakah anda tidak menerima keagungan Veda”. Visnu menerima hal itu, tetapi memandang tanganya tidak kuat memegang hal itu. Siva tersenyum melihat ketidak mampuan Visnu dan memintanya untuk turun ke dalam air, melangkah seperti disebutkan dalam Veda, dan ketika Visnu turun melangkah ke dalam air, air hanya sampai di pahanya. Ia mandi dan bertanya kepada Siva, apa yang kana dikerjakan nantinya. Siva: “Apa yang anda rasakan dalam pikiran anda? Apakah anda tidak merasakan sesuatu? Visnu: “Saya tidak merasakan apa-apa”. Siva: “Apa bila anda memperoleh kesucian dengan Bhasmasnana, anda akan memperoleh pengetahuan yang tertinggi. Aku akan memberi anda Bhasma!”.
Siva mengambil sejumput Bhasma dari dadanya dan mengucapkan Gayatrì dan Pañcàksaramantra (Om nama Sivàya), dan memercikkan (melumurkan) Bhasma tersebut ke seluruh badan Visnu. Ia juga berkata kepada Visnu, “Anda hidup, anda bermeditasi, sekarang apa yang anda rasakan dalam pikiran anda?” Visnu bermeditasi dan melihat sesuatu yang memancarkan cahaya berkilauan di dalam hatinya. Ketika ia mengatakan kepada Siva, bahwa yang dilihat adalah cahaya, Siva mengatakan bahwa pengetahuannya belum cukup matang, dan memintanya untuk menelannya sedikit karenanya ia akan menjadi sempurna. Visnu mengikuti petunjuk Siva menelan Bhasma, dan ia, yang tadinya  berwarna merah kebiru-biruan, menjadi berwarna putih seperti mutiara. Ia mulai disebut Suklavarna (berwarna putih) sejak saat itu dan seterusnya. Mahàvisnu merasakan bahagia dan puas menyaksikan Siva,  yang sebelumnya meminta sesuatu, kemuadian melihatnya di dalam hatinya dan hal itu menjadi kenyataan. Atas jawaban bahwa ia melihat wujud Siva yang penuh kebahagiaan dihadapannya, Visnu memberikan penghormatan dengan bersujud di kaki Siva. Terhadap pertanyaan Siva tentang anugrah apa yang diinginkan, Visnu menjawab bahwa ia ingin menjadi abdi dan penyembah Siva dan karena keagungan dari Sivabhasma, Visnu seterusnya menjadi penyembah Siva.

4. Siva Natharaja
Siva Natharaja menggambarkan Dewa Siva yang menari ketika menciptakan dan menghancurkan alam semesta. Siva digambarkan berdiri di atas padmasana segi empat. Ia digambarkan bertangan empat, masing-masing dalam sikap abhaya hasta, membawa damaru atau dhaka, memegang agni, sebuah tangan direntangkan melintasi dada dalam sikap gaja hasata atau danda hasta. Siva digambarkan mengenakan jatamakuta yang diikat seekor ular kobra dengan hiasan candrakapala pada jatamakutanya. Mata ketiga Siva terlihat menghiasi dahinya. Dalam perwujudannya ini umumnya Siva digambarkan mengenakan kain dari kulit harimau, mengenakan yajnopavita, usnisa bhusana, nakra kuniala pada telinga kanan dan makara kunîala di telinga kiri, hara menghiasi lehernya, dan keyura pada pangkal lengannya, serta kankana dan  sarpavalaya menghiasi pergelangan tangannya dengan cincin pada jarinya. Kaki Siva juga terlihat mengenakan kankana. Hiasan lain yang dipakai Siva adalah udara bandha, katibandha, nupusa (=gelang kaki). Dalam perwujudannya ini kaki Siva digambarkan berdiri dalam sikap menari di atas seorang cebol yang digambarkan terbaring sambil memegang seekor ular di tangan kirinya dalam ketinggian kunci pada (=satu kaki). Prabhamandala berbentuk lingkaran api (jvalaprabhamandala) digambarkan melingkari Siva (Ratnaesih, 1997: 85).
Penggambaran Sivanatharaja mengingatkan kita dengan gambar atau wujud Achitya yang ditempatkan pada Ulon bangunan suci Padmasana dan simbol ini sangat umum menunjukkan tentang proses penciptaan alam semesta oleh Sang Hyang Siva. Dalam kitab suci Veda, walaupun nama Siva sendiri tidak pernah dicantumkan (Winternitz 1927:50, Ajarananda 1951:24), namun sebenarnya benih-benih perwujudan tokoh Siva itu sendiri telah ada, yaitu Rudra (Dowson 1879:296, Thomas t.t: 21).
Dalam kitab Mahabharata, Siva lebih sering disebut sebagai Mahadewa, yaitu dewa tertinggi di antara para dewa (Fausboll 1903:147-148). Kitab tersebut juga menjelaskan asal mula Siva mendapat sebutan demikian. Pada suatu waktu para Dewa menyuruh Siva membinasakan mahluk-mahluk jahat yang tinggal di Tripura. Untuk menghadapi mahluk-mahluk tersebut Siva diberi setengah kekuatan dari masing-masing Dewa, dan setelah dapat memusnahkan mahluk-mahluk tersebut, Siva dianggap sebagai dewa tertinggi (Wilkins 1882: 274-275, Rao 1968:447, Thomas t.t.:23). Menurut Dowson (1879:269), untuk pertama kalinya Siva atau Rudra disebut Mahàdeva terdapat dalam Yajurveda putih. Dalam Mahabharata bagian Bhìsmaparva (sloka 6, 219b-222a), Siva yang digambarkan berada di gunung Meru, dikelilingi Uma beserta pengikut-pengikutnya itu disebut Pasupati (sloka 219b), sedangkan sebutan Mahesara terdapat dalam Mahabharata sloka 222a (Adiceam 1971:24). Sebutan lain ntuk Siva adalah Trinetra, yang artinya bermata tiga. Sebutan ini didapatkan Siva ketika dari keningnya “muncul” mata ketiga untuk “mengembalikan” keadaan dunia seperti keadaan semula, yang “terganggu” karena kedua mata Siva tertutup oleh kedua tangan Parvati, yang ketika itu tengah asik bercengkrama dengan Siva. Untuk mengembalikan keadaan dunia, Siva menciptakan mata ketiga pada keningnya (Wilkins 1882:277, Fausboll 1903:149, Nivedita dan Coomaraswamy 1918:299, Rao:49, Thomas t.t.:23). Uraian mengenai Siva Trinetra juga dijumpai dalam kitab Mahabharata (Wilkins 1882:276-277). Kitab Linga-Purana (Rao: 147) menjelaskan timbulnya mata ketiga Siva. Satì, putri Daksa istri pertama Siva bunuh diri dengan cara terjun ke dalam api karena ayahnya, Daksa tidak menghiraukan Siva, suaminya. Karena peristiwa tersebut di atas, Siva pergi bertapa di atas gunung Himalaya. Parvatì, putri Himawan yang jatuh cinta kepada Siva sebenarnya adalah Satì “yang lahir kembali”.
Sementara itu, mahluk jahat asura Tataka mulai mengganggu para dewa. Menurut ramalan, yang dapat membinasakan mahluk jahat tersebut hanyalah putra Siva. Dalam kebingungannya, para dewa memutuskan untuk “membangunkan” Siva. Mereka sepakat akan meminta pertolongan Dewa Kama. Dengan upayanya berangkatlah para dewa disertai Parvatì ke tempat Siva bertapa. Karena keampuhan panah Dewa Kama, Siva “terbangun”. Siva yang terusik oleh perbuatan Kama, membuka mata ketiganya yang menyemburkan api. Api tersebut membakar Kama hingga menjadi abu. Pada saat yang bersamaan karena keampuhan panah Kama, Siva ‘jatuh cinta’ pada Parvatì. Ratì, istri dewa Kama yang mendengar kematian suaminya datang menghadap Siva dan mohon untuk menghidupkan kembali Kama. Untuk menghibur Ratì, Siva berjanji bahwa Kama kelak akan lahir kembali sebagai Pradhyumna. Kisahnya diakhiri dengan pernikahan Siva dan Parvatì, serta kelahiran Kumara atau Subrahmanya yang dapat membunuh Tataka (Wilkins 1882:256-257), Fausboll 1903:164-165, Nivedita dan Coomaraswamy 1918: 147).
Siva disebut juga Nìlakantha, karena mempunyai leher yang berwarna biru (Coleman 1832:72). Pada waktu diadakan pengadukan lautan susu untuk mendapatkan amrta turut ke luar racun yang dapat membinasakan para Dewa. Untuk menyelamatkan para dewa, Siva meminum racun tersebut. Parvatì yang khawatir suaminya binasa menekan leher Siva agar racun tidak menjalar ke bawah. Akibatnya racun terhenti di tenggorokan dan meninggalkan warna biru pada kulit lehernya. Sejak itulah Siva mendapat sebutan baru, Nìlakantha (Nivedita dan Coomaraswamy 1918:314-315, Jauveau-Dubreuil 1937:20, Rao 1968: 48, Liebert 1976:196, Thomas t.t: 22).
Kitab Suprabhedagama menguraikan mengapa Siva mengenakan pakaian kulit harimau, hiasan berupa ular, kijang dan parasu (Rao 1968:113) serta memakai hiasan bulan sabit dan tengkorak pada mahkotanya (Jouveau-Dubreuil 1937:19). Pada suatu waktu, Siva pergi ke hutan dengan menyamar sebagai pengemis. Istri para pendeta yang kebetulan melihatnya jatuh cinta, sehingga para pendeta marah. Dengan kekuatan magisnya mereka menciptakan seekor harimau yang diperintahkan untuk menyerang Siva, namun dapat dibinasakan, dan kulitnya oleh Siva dijadikan pakaiannya (Ziegenbalg 1869:43, Dowson 1879:2.99, Nivedita dan Coomaraswamy 1918:310-311, Jouveau-Dubreuil 1937:21, Rao 1968:113-114). Menyaksikan Siva dapat mengalahkan harimau ciptaannya, mereka makin marah dan menciptakan seekor ular. Ular berhasil ditangkap Siva dan dibuat perhiasan (Nivedita dan Coomaraswamy 1918: 311, Rao 1968:113). Uraian mengenai hiasan berupa ular, kita dapatkan dalam kitab Suprabhedàgama dan kitab Matsya Purana (Bhattacharya 1921: 20).
Setelah kedua usaha itu gagal, mereka menciptakan kijang dan parasu, namun kali inipun Siva dapat melumpuhkan serangan para pendeta tersebut. Sejak kejadian tersebut kijang dan parasu menjadi dua di antara sekian laksana Siva (Ziegenbalg 1869:43, Jouveau-Dubreuil 1937:21, Rao 1968:114). Kitab Kurma Purana menjelaskan asal mula Siva mendapat julukan Gajasura-samharamsrti. Tersebutlah beberapa orang pendeta sedang bertapa diganggu mahluk jahat yang menjelma sebagai gajah. Siva yang diminta pertolongannya dapat membunuh gajah jelmaan tersebut. Siva yang mengenakan pakaian kulit gajah yang dibunuhnya itu kemudian dikenal sebagai “Gajasura-samharamsrti (Dowson 1879:299, Dureuil 1937:30, Rao 1968:149-150).
Kitab Kamikagama mengungkapkan mengapa dalam pengarcaannya: Datohan, salah seorang putra Brahmà, menikahkan keduapuluhtujuh (=konstelasi bintang) anak perempuannya pada Santiran, dewa bulan. Dia minta pada menantunya agar memperlakukan semua istrinya sama dan mencintai mereka tanpa membeda-bedakan. Selama beberapa waktu, Santiran hidup bahagia bersama istri-istrinya, tanpa membeda-bedakan mereka. Dua di antara keduapuluh tujuh istrinya, Kartikai dan Rogini adalah yang tercantik. Lama-kelamaan tanpa disadarinya Santiran lebih memperhatikan keduanya, dan mengabaikan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak diperhatikan mereka mengadu pada ayah mereka. Datohan, mencoba menasehati menantunya agar mengubah sikap, namun tidak berhasil. Setelah berulangkali Santiran diingatkan dan tidak mengindahkan, Datohan menjadi marah dan mengutuk menantunya: Keenambelas bagian tubuhnya akan hilang satu persatu sampai akhirnya dia akan hilang, mati. Karena kutukan itu, Santiran mulai kehilangan bagian-bagian tubuhnya satu-persatu. Ketika bagian tubuhnya tinggal seperenambelas bagian, Santiran menjadi panik dan pergi minta bantuan serta perlindungan Intiran. Intiran tidak dapat menolong. Dalam keadaan putus asa Santiran menghadap Brahma yang menasehatinya agar pergi menghadap Siva. Santiran langsung menuju gunung Kailasa dan mengadakan pemujaan untuk Siva. Siva yang berbelas kasihan kemudian mengambil bagian tubuh santiran itu dan diletakkan di dalam rambutnya sambil berkata: “Jangan khawatir anda akan mendapatkan kembali bagian-bagian tubuh anda, namun itu akan kembali hilang satu persatu. Perubahan itu akan berlangsung terus. Demikianlah dalam pengarcaannya rambut Siva dihiasi bagian tubuh Santiran yang berbentuk bulan sabit, disamping tengkorak (Pattabiramin 1959:23-26). Selain mata ketiga dan hiasan candrakapala (tengkorak dan bulan sabit) dalam pengarcaannya Siva dikenal mempunyai kendaraan banteng atau sapi jantan. Kitab Mahabharata (Adiceam 1969:86-87) menguraikan asal mula sapi jantan atau banteng menjadi kendaraan Siva dalam dua versi.


SUMBER-SUMBER AJARAN SIVASIDDHANTA
1.      Bhuvanakosa
            Di antara kitab-kitab Tattva yang diwarisi di Bali, rupanya Bhuvanakosa merupakan yang tertua. Kitab ini terdiri dari 11 patala atau adhyaya dan terdiri dari 406 sloka berbahasa Sanskerta yang masing-masing diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Subagiasta (2007:58) menyatakan bahwa isi kitab ini menekankan paham ketuhanan yang dalam naskah diistilahkan Brahma Rahasyam (rahasia atau kegaiban Tuhan dalam wujud-Nya sebagai Siva). Tentang keagungan Tuhan di dalam naskah disebut pula sebagai Jnana Siddhanta, Bhasmamantra, Jnanasamksepa. Berikut 11 topik dalam 11 patala di atas. (1) Brahma Rahasyam, Prathama Patala (Rahasia Brahma yang Pertama) yang menjelaskan rahasya Tuhan Yang Maha Esa yang disebut sebagai Siva yang bersemayam dalam hati yang dapat dilihat oleh seorang Yogisvara (1.4). Beliau diikuti oleh para Dewa dan tidak berwujud dan merupakan jiwa setiap makhluk
(1.9). Beliau disebut Aghora, Tatpurusa, Sadya, Bamadewa, dan Ìsana (1.17) serta penjelasan lainnya berkenaan dengan kegaiban Tuhan Yang Maha Esa. (2) Brahma Rahasyam, Dvitiya Patala (Rahasia Brahma yang Kedua) yang menjelaskan rahasya Tuhan Yang Maha Esa menciptalan alam semesta, saptaloka, dan makhluk hidup lainnya serta sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa yang Nirguna. (3) Brahma Rahasyam, Tritiya Patala (Rahasia Brahma yang Ketiga) yang menjelaskan rahasya Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sang Hyang Rudra yang bersatu dengan  Sang Hyang Siva (3.2). Berbagai gelar atau abhiseka devata, nama-nama planet di jagat raya serta posisi para dewa di dalam tubuh manusia (micro kosmos). (4) Bhuwanakosa Caturta Patala (Bhuvanakosa yang Keempat) yang menjelaskan unsur-unsur jagat raya dari yang halus (Pañca Tan Matra) dan yang lebih kasar (Panca Maha Bhuta), Buddhi, Manas Ahamkara dan Triguna. (5) Brahma Rahasyam, Pancama Patala (Rahasia Brahma yang Kelima) yang menjelaskan rahasya Tuhan Yang Maha Esa tentang alam Kaivalya, Jagrapada, Supta, dan Svapana serta perjalan roh meninggalkan badan menuju alam yang murni yang menjadi tujuan para pandita. (6) Jnana Siddhanta Sastram Prathama Patala (Pengetahuan Jnana Siddhanta yang Pertama) yang menyatakan seorang pandita hendaknya memahami Siddhanta. Pandita itu bukan karena kumisnya panjang, bukan orang yang tua renta, bukan orang yang rambutnya panjang, bukan pula yang rambutnya digundul bersih, bukan keturunan yang tinggi yang disebut tua (6.2). (7) Bhasma Mantra sakala vidhi sastram Dvitiya Patala (Pengetahuan tentang mantra abu suci yang Kedua) menjelaskan tentang manifestasi-Nya yang utama, yakni Brahmà, Visnu, dan Siva, aksara yang berkaitan dengan Dewa-dewa tersebut serta posisinya dala tubuh manusia. Seorang pandita harus menguasai cara membuat abu suci dengan memuja Sang Hyang Agni, Sang Hyang Omkara dan Sang Hyang Svaha sebagai apinya. Selanjutnya penempatan Bhasma di lima penjuru dengan memuja Dewatanya masing-masing.
(8) Jnana Samksepa  (Simpulan Ajaran) menjelaskan tentang pahala penyucian diri, terutama dengan Bhasma pahalanya ratusa juta, sedang yang tak ternilai adalah penyucian dengan pengetahuan (8.2-3). (9) Bhuvana Kosa Nava Patala (Bhuvana Kosa yang Kesembilan) menjelaskan tentang mudra (sikap tangan) dan arcana (tata cara pemujaan), dan orang yang menekuni Yoga jika melaksanakan mudra dan arcana akan kembali ke alam Sang Hyang Parama Siva (9.3). Menjelaskan tentang Jnanadan Vijnana, yajna, tapa, brata, dharma dan Vidhikrama. Demikian pula mantra, kuþamantra, dan Pranava. (10) Siddhanta Sastra, Dasama Patala (Pengetahuan Siddhanta yang Kesepuluh) menjelaskan bagaimana seorang pandita menghadapi kematian sehingga menuju Sang Hyang Siva. Dijelaskan pula tentang Yoga Sandhi, lepasnya atma melalui ubun-ubun (Sivadvara). Demikian pula tentang Moksa. Seorangopandita yang memahami Yoga akan mengetahui datangnya kematian, dalam keadaan moksa, seorang Yogi seperti air sungai menyatu dengan air lautan. (10.34). (11) Bhuvana Kosa, Sivopadesa Samapta (Bhuvana Kosa, Ajaran Siva yang terakhir). Merupakan bagian akhir dari Bhuvana Kosa ajaran Siva menjelaskan aksara suci perwujudan Tuhan Yang Maha Esa (Pranava) dan prosesnya menjadi berbagai aksara dalam alam semesta serta tubuh manusia, kemudian dari berbagai aksara itu kembali kepada asalnya, yakni Pranava, dan pandita yang menguasai pengetahuan ini sebenarnya telah menguasai ajaran Siva Siddhanta. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka ajaran teologi yang terdapat di dalam kitab Bhuvana Kosa adalah teologi Nirguna Brahma yang merupakan ajaran Saiva Siddhanta di Bali.

2.      Jnana Siddanta
            Kitab ini telah dikaji dalam bentuk disertasi oleh Haryati Subadio (The Hague- Martinus Nijhoff - 1971). Isinya terdiri dari  (1) Catur Viphala (empat perbuatan yang tidak membuahkan hasil, dalam arti menuju moksa, dan semuanya akan dapat dicapai bila telah melaksanakan dìksa-vidhi-vidhàna, yakni upacara penobatan menjadi pandita. (2) Prayogasandhi, yakni keadaan tidur seorang pandita, tidak mimpi, tidak gelisah, ia mencapai Moksa dalam tidurnya. (3) Sang Hyang Jnana Pranava Kamoksaan menjelaskan berbagai nama Omkara seperti Pranava, Visvam, Ghosa, Ekàksara, Tumburu-Tryaksraga, dan posisi dalam tubuh serta 12 Angula tingginya rambut di kepala diikat. (4) Sang Hyang Praónava Tridevì terdiri dari Upmapati, Srì Devì  dan Sarasvatì. (5) Sang Hyang Kawuwusan Jati Wisesa, menjelaskan tentang 3 jalan menuju kematian: Niûþha di ubun-ubun, Madha di ujung hidung, dan Uttama di mulut, serta menjelaskan tentang Sang Hyang Siva yang tinggal di pusat sukla (kesucian). (6) Nirmala-jnana-sastra (ajaran tentang kesucian pengetahuan) menjelaskan melenyapkan kotoran bathin (klesa). Menyebutkan ajaran Catur Paramartha: Adhisthana (kalepasan/ moksa), Pratissa), Pratia adalah kamoksaan, Santi bernama kamuktan (kebebasan). Santyatìta berarti kanirbanan (pemusnahan).
(7) Panca Paramartha (lima keutamaan) jalan untuk menjelma kembali sebagai manusia, yakni tempat orang-orang bijaksana mencapai kebebasan saat kematian terdiri dari 5 tempat bagi Parama Visesa, yakni: pusar,  hati,  leher, bibir, dan ujung hidung, dan menjadi Sad Paramartha bila ditambah kadalì-puspa (bunga jantung pisang). (8) Sang Hyang Naisthika-Jnana (Pengetahuan Yang Sempurna) menjelaskan pengetahuan tentang Siva merupakan rahasia yang sangat tinggi, dan Pengetahuan tentang Siva (Sivajnana) tanpa banding. Sangat sulit mencarikan padanannya karena menyebabkan Moksa (Kebebasan). Dan lakukan ini juga, sunya tanpa bentuknya yang abadi disebut tanpa bentuk, tinggalkan, pengetahuan tentang subhàsubha tinggalkan, juga perbuatan tentang dharma dan adharma tinggalkan. (9) Sang Hyang Mahàvindu (Rahasya Mahàvindhu). Mahavindu diangap Satu, terbagi menjadi dua para-apara, dan juga sakala-niskala. Kembali vindu menjadi lima, mereka adalah pancasakti, yang Satu adalah niskala-vindu, empat yang lainnya adalah sakala-vindu. (10) Sang Hyang Sapta Omkara. Saptatma adalah Sang Yajamana (pelaksana yajna), tujuh suara Om adalah api upacara korban, badan adalah kundagni, ia korbankan semua keinginnya. (11) Sang Hyang Pancavimsati  (25 yang Suci, objek Suara Om), Suara A memiliki 10 matra, U 10 matra, MA 3 màtra, dan 2 sebagai kaki di angkasa. (12) Sang Hyang  Dasatma Sang Hyang Vindu Prakriya (10 roh upacara Vindu). Aksara suci Om memiliki 4 wujud, yaitu: Dvipana, Brahmanga, Sivanga, dan Amrta-kundalinì. (13) Panca (Lima Roh). Pancabayu dikenal dengan Pancatma, juga Pancaksara: prana, apana, samana, udana, dan juga byana, atma, paratma, antaratma, dan niratma (dalam aksara suci) VYO-MA-VYA-PI-NE. (14) Sang Hyang Upadesa-samsha (Semua Ajaran Suci). Svàsa, niásasa dan samyoga disebut Tryatma, juga disebut Trisiva dan Tripurusa, ekatma dan sunya.
(15) Sad-anga-yoga (Enam tingkatan Yoga): Pratyàhàra dan Dhyana, Pranayama dan Dharana, Tàrka dan juga Samadhi, disebut Sad-anga-yoga. (16) Sang Hyang Ātmalinga, Lingodbhava (Rahasia Ātmalinga dan penampilan Linga). Ujung bunga teratai adalah akar dari hati, pahit dan hitam diikat, hal itu sangat pekat, Ia adalah raja alam semesta, dan itulah sthana Sang Hyang Siva. (17) Utpati-Sthiti-Pralìna Sang Hyang Pranava (Kemunculan, Pemeliharaan, dan Kembalinya aksara suci Om). Dari yang Tidak Berwujud (Niskala) muncul nada (resonansi), dari nada muncul vindu, dari vindu muncul ardhacandra, dari ardhacandra muncul viúva (suara Om) dan berulang muncul kembali. (18) Caturdasàksara-pinda, Utpati-Sthiti-Pralìna (Wujud 14 Aksara suci, Kemunculan, Pemeliharaan, dan Peleburan Kembali). Dari Siva muncul Ātma, dari Ātma muncul Prakrti, dari Prakrti muncul matahari, dari matahari muncul api.  Lebih jauh dijelaskan asal dan kembalinya 14 aksara suci. (19) Sang Hyang Bhedajnana. Diajarkan tentang rahasia ajaran bhedajnana, tinggi dan suci. Siapa yang memiliki pengetahuan ini, menguaai dunia dan badannya dan akan mencapai Siva. (20) Sang Hyang Mahajnana (Pengetahuann Yang Agung dan Suci) menjelaskan pengetahuan tentang Sang Hyang Siva yang suci. (21) Sang Hyang Benem Wunkal (Abu dan tulang suci). Menjelaskan usaha pembebasan seperti cahaya nyala lampu, terang seperti busur (pelangi) Dewa Indra, membebaskan diri dari keterikatan. (22) Pranayama, Samksipta-puja (Pengendalian nafas, Pemujaan yang Singkat) menjelaskan tentang keutamaan pernafasan bagi seorang yang tekun mengabdi Dharma, mengikuti semua perintah guru. Dijelaskan pula jalannya nafas dari lubang hidung kiri, kanan dan sebagainya. (23) Sang Hyang Kaka-Hamsa, menjelaskan tujuh perbedaan karakter dari ajaran yang disebut Siddhanta. (24) Sang Hyang Tìrtha Sapta Samudra Sapta Patala (Tujuh Air Suci, Tujuh Samudra, dan Tujuh Neraka) menjelaskan masing-masing tersebut dan posisinya dalam tubuh manusia.
(25) Sang Hyang Saiva Siddhanta merupakan ajaran suci dianggap warnanya putih bagi mereka yang tidak ingin aneka warna. Disebut meresapi segala, seperti halnya mentega cair yang jernih dari susu. (26) Utpatti-Sthiti-Ptalìnna Sang Hyang Vindu-Abhysntara. Sang Hyang Siva menjelaskan rahasia ajaran Siddhsnta kepada Dewi Ums dan Kumsra tentang hal tersebut di atas. Aksara suci perwujudan dewata serta posisinya di alam semesta dan di tubuh manusia, dan (27) Jnana Siddhanta menjelaskan rahasia dan siapa saja yang menguasai ilmu ini, apakah anak-anak, orang yang telah berumur, dan bahkan para pertapa. Bila mempelajarinya dengan baik pada saatnya nanti akan bersatu dengan Sang Hyang Siva.

3.      Vrhaspatitattva
            Kitab Vrhaspatitattva ini telah dikaji  oleh Sudarshana Devi Singhal dalam disertasi di Utrecht dan diterbitkan oleh International Academy of Indian Culture, Nagpur, India (1957). Isinya berbentuk dialog antara Sang Hyang Isvara dengan seorang sisya (muridnya) bernama Bhagavan Vrhaspati. Dialog berlangsung di puncak Gunung Kailasa membahas kenyataan tertinggi, yakni Cetana (unsur kesadaran) dan Acetana (unsur ketidaksadaran), keduanya bersifat halus dan menjadi sumber penciptaan semua yang ada. Cetana terdiri dari Paramasiva Tattva, Sadasiva Tattva, dan Siva Tattva yang disebut catana Telu (tiga tingkat kesadaran). Ketiganya tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi) yang berbeda tingkat kesadarannya. Dibedakan Cetana itu menjadi tiga didasarkan atas tingkat kesadaran yang dimiliki oleh masing-masing Cetana tersebut. Paramaúiva memiliki tingkat kesadaran tertinggi, Sadasiva menengah dan Siva terendah. Tinggi rendahnya tingkat kesadaran itu tergantung darikuat tidaknya pengaruh Maya. Dengan demikian Paramasiva Tattva adalah bebas dari pengauh Maya, Sadaúiva Tattva mendapat pengaruh sedang-sedang saja, sedangkan Siva Tattva mendapat pengaruh Maya yang paling kuat.

Ndah lwir nikan tattva kavruhanta, cetana lavan acetana, cetana naranya jñànasvabhava vruh tan kenen lupa, nityomiden sadakala, tan kavarnan, ya sinangguh cetana naranya, acetana naranya ikan tanpa jñàna, kadyanga nin vatu, ya sinaòguh acetana naranya (Vrhaspatitattva 5).

Inilah tattwa itu ketahuilah olehmu (yaitu) Cetana dan Acetana. Cetana bersifat tahu, mengetahui dengan tidak terkena lupa, tenang senantiasa (dan) tetap selamanya, tak terhalang. Itulah yang disebut Cetana. Acetana artinya tanpa pengetahuan seperti wujudnya batu. Itulah yang disebut

            Sang Hyang Widhi Paramasiva adalah kesadaran tertinggi yang sama sekali tidak terjamah oleh belenggu Maya, karena itu ia diberi gelar Nirguna Brahman. Ia adalah perwujudan sepi, suci murni, kekal abadi, tanpa aktivitas. Kemudian Paramasiva kesadarannya mulai tersentuh oleh Maya, ia terpengaruh oleh guna, sakti, dan svabhava yang merupakan hukum kemahakuasaan-Nya ia disebut Sang Hyang Sadasiva. Ia memiliki kemampuan nuntuk memenuhi segala kehendak-Nya, yang dilukiskan sebagai sekuntum bunga teraytai (padmasana) berdaun bunga delapan sebagai sthana-Nya. Ia digambarkan sebagai perwujudan mantra, yakni Omkara (OM) dengan Isana (I) sebagai kepala, Tatpuruûa (TA) sebagai muka, Aghora (A) sebagai hati, Bamadeva (BA) sebagai alat-alat rahasia. Sadyojata (SA) sebagai badan. Dengan Guna, Sakti, Svabhava-Nya, ia aktif dengan segala ciptaan-Nya, oleh karena itu Ia disebut Saguna Brahman.
            Pada tingkatan Sivatma Tattva, Guna, Sakti, dan Svabhava-Nya sudah berkurang karena sudah sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur Maya, oleh karena itu Sivatma Tattva. Berdasarkan tingkat pengaruh Maya terhadap Sivatma Tattva, maka Sivatma Tattva dibedakan atas delapan yang disebut Astavidyasana. Bilamana pengaruh Maya sudah demikian besarnya terhadap Sivatma menyebabkan kesadaran asli Sivatma menjadi hilang dan sifatnya menjadi Avidya. Dan apabila kesadarannya terpecah-pecah dan menjiwai semua makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia, maka ia disebut Atma atau Jivatman.
      Kendatipun Àtma mderupakan bagian dari Sang Widhi (Siva) namun ia tidak lagi menyadari asalnya karena adanya belenggu Avidya yang ditimbulkan oleh adanya pengaruh Maya (Pradhana Tattva). Adanya pengaruh Maya terhadap Ātma menyebabkan Ātma dalam lingkaran sorga-neraka-samsara secara berulang-ulang. Ātma akan dapat bersatu kembali kepada asalnya, apabila semua karmanya selaras dengan Catur Isvarya, Panca Yama Brata, Panca Niyama Brata, dan Astasiddhi. Bilamana dalam segala karmanya bertentangan dengan  ajaran-ajaran di atas, maka Ātma akan tetap berada dalam lingkaran reinkarnasi. Bentuk atau wujud reinkarnasi Ātma sangat banyak terantung pada karma vasana (bekas-bekas peruatan) Ātma pada saat penjelmaannya terdahulu. Salah satu bentuk reinkarnasi adalah stavara-jangama” atau tumbuh-tumbuhan dan binatang yang disebut sebagai penjelmaan yang paling rendah (Vrhaspatitattva 240. Bentuk reinkarnasi itu adalah suatu penderitaan yang harus diakhiri.
            Untuk mengakhiri lingkaran reinkarnasi itu, Vrhaspatiattva menyarankan setiap orang harus menyadari hakikat ketuhanan dalam dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mempelajari segala “Tattva” atau “Jnanabhyudreka”, tidak tenggelam dalam kesenangan hawa nafsu “Indriyayogamarga” dan tidak terikat kepada pahala-paha baik dan buruk “Trsnadosaksaya” sebagai persyaratan untuk memperoleh kalepasan (Moksa). Di samping itu, Vrhaspatitattva juga mengajarkan jalan lain untuk mencapai Sang Hyang Widhi (Sang Hyang Visesa) yaitu dengan selalu memusatkan pikiran pada Dia (melalui praktek Yoga) dengan enam tahapannya yang disebut “Sadangyoga”. Yoga dilandasi ajaran Dasasìla yang merupakan ajaran etika dan moralitas (Vrhaspatitattva) (Mirsha, dkk, 1994:i-iii).
            Berdasarkan uraian tentang isi Vrhaspatitattva di atas, maka ajaran teologi dalam kitab ini  adalah teologi Impersonal God, Tuhan Yang Maha Esa tidak berpribadi, Ia disebut Sang Hyang Siva sebagai pencipta pemelihara, dan pelebur kembali seluruh alam semesta dan segala isinya, yang dapat didekati melalui jalan Yoga atau Yogamarga.



4.      Ganapatitattva
            Kitab Ganapatitattva ini telah dikaji  oleh Sudarshana Devi Singhal dan diterbitkan dalam Satapitaka Series No.4 oleh International Academy of Indian Culture, Nagpur, India (1958) terdiri dari 60 Sloka dalam Chabda Anustubh Sanskerta. Isinya merupakan dialog antara Sang Hyang Siva dengan Sang Hyang Ganapati, putranya sendiri. Secara ringkas isinya dapat diuraikan sebagai berikut. Omkara adalah wujud sabda sunya, nada Brahman, asal mula Pancadaivatma, Brahma, Visnu, Isvara, rudra, dan Sang Hyang Sadasiva. Pancadaivatma merupakan asal Pañca Tan Màtra yang terdiri dari Rupa (unsur bentuk), Gandha (unsur bau), Rasa (unsur rasa/kenikmatan), Sparsa (unsur sentuhan), dan sabda (unsur suar). Dari Panca Tan Matra muncul Pañca Mahabhuta yang merupakan unsur materi (elemen alam semesta) yang terdiri dari: Apah (air/benda cair), Teja (panas), Vayu (angin), Prthivì (tanah) dan Ākasa (ether). Dari Pañca Mahabhuta ini  alam semesta beserta segala isinya diciptakan, dan Sang Hyang Sivatma menjadi sumber hidup yang menggerakkan segala ciptaannya (Ganapatitattva 1-2, 25-39).
            Dijelaskan pula ajaran Sadanga Yoga yang terdiri dari: Pratyaharayoga, Dhyanayoga, Pranayamayoga, Dharanayoga, Tarkayoga, dan juga Samadhi sebagai jalan spritual untuk mencapai Moksa (Ganapatitattva 3-9). Juga diuraikan tentang eksistensi Padmahrdaya (Padmahati) sebagai Sang Hyang Sivalinga, Beliau harus direnungkan. Hanya ia yang bijaksana, berhati suci, dan penuh keyakinan yang dapat mengetahui Beliau. Beliau hendaknya setiap saat dipuja dengan sarana Sang Hyang Caturdasaksara (14 buah huruf suci). Dilanjutkan dengan uraian tentang berbagai jenis Linga (Ganapatitattva 10, 11, 17, 18, 19, 22-24).
            Pada bagian lain diuraikan tentang anggapan orang bodoh dan sombong yang tidak memahami Ātma (Ganapatitattva 20), juga uraian tentang sthana Bhatara Brahma, Visnu dan Siva dalam tubuh manusia (Ganapatitattva 21). Sang Hyang Bhedajnana adalah ajaran yang sangat rahasia tentang manusia. Yang berhak menerima ajaran rahasia ini adalah ia yang sungguh-sungguh melaksanakan Dharma (Ganapatitattva 40-42). Berikutnya diuraikan tentang Moksa (kalepasan) dan orang-orang yang mencapai hal tersebut, yakni yang mengutamakan pengetahuan yang suci, kebebasan, dan mengejar penyatuan dengan Sang Hyang Siva (Ganapatitattva 43-55). Bagian terakhir menjelaskan upacara ruwatan (panglukatan) Ganapati, sarana upakara yang diperlukan, mantra yang digunakan, dan manfaat dari upacara ritual tersebut. Kitab ini ditutup dengan mantra pemujaan ditujukan kepada Sang Hyang Ganapati dan Dewi Sarasvatì  (Ganapatitattva 56-60) (Mirsha, 1994:ii).

5.      Tattvajnana
            Kitab Tattvajnana ini telah dikaji oleh Sudarshana Devi Singhal dengan topik Tattvajñàna and Mahajnana, diterbitkan dalam  Satapitaka Series No. 23 oleh International Academy of Indian Culture, Nagpur, India (1962). Sesuai dengan topiknya maka buku ini membahasa dua naskah yang berbeda, yakni naskah Tattvajnana dan Mahajnana. Mengingat kedua isinya tidak jauh berbeda, maka yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah kitab Tattvajnana sebagai berikut.
            Sesuai dengan nama kitab ini adalah Tattvajnana maka isinya adalah pengetahuan tentang Tattva yang dimulai dengan membahas  Cetana, yakni kesadaran dan Acetana atau tidak sadar. Cetana adalah Sivatattva, sedangkan Acetana adalah Mayatattva. Sivatattva terdiri dari Paramasivatattva, Sadasivatattva, dan Ātmikatattva. Paramavatattva adalah Bhatara Siva yang Niskala, Tuhan Yang Serba Tidak: tidak terikat oleh ruang dan waktu, memenuhi alam semesta. Sadasivatattva adalah Bhatara Siva yang Vyapara (aktif, terpengaruh oleh Maya), memiliki aktivitas Sarvajnana (yang serba tahu) dan Sarvakaryakarta (serba kerja). Ada empat kemahakuasaan-Nya yang disebut Cadusakti, yaitu: Jnanasakti (mahamengetahui), Vibhusakti (mahaada), Prabhusakti (mahakuasa) dan Kriyasakti (mahakarya/mahapencipta). Jnanasakti dibedakan atas: Dsradarsana (melihat jauh/mahamelihat), Dsrasavana (maha-mendengar), Dsràtmaka (berpribadi jauh).
            Bhatàra Sadasiva bergelar Bhatàra Ādipramana, Bhatara Jagatnatha, Bhatara Guru, dan sebagainya. Ātmikatattva adalah Bhatara Sadasivatattva yang mempunyai sifat  utaprota”. Uta (terjalin bagaikan tenunan) ialah Bhatara Sadasiva yang menyusupi Mayatattva. Prota (terangkat bagaikan tenunan) ialah Bhatara Sadasiva yang memenuhi Mayatattva, melekat dan diliputi oleh Mayatattva itu, sehingga tidak tampak wujud yang sebenarnya. Sebagai Ātmikatttva, Bhatara Siva adalah Sang Hyang Ātmavisesa, Sang Hyang Dharma.
            Anak Mayatattva adalah Pradhanatattva yang mempunyai sifat-sifat lupa yang berlainan dengan sifat-sifat Sang Hyang Ātmà yang sadar.Bila sifat sadar bertemu dengan sifat lupa, maka hal itu disebut Pradhana-Purusa yang melahirkan citta dan guna. Citta adalah bentuk kasarnya Purusa, sedangkan guna adalah penjelmaan Pradhanatattva. Ada tiga guna, yaitu sattva, rajah, dan tamah. Triguóaini menentukan kondisi Ātmà apakah akan mencapai Moksa, Svarga, Naraka, atau lahir menjadi manusia kembali. Pertemuan Triguna dengan Citta melahirkan Buddhi. Buddhi itu adalah bentuk kasar dari Triguna yang diberi kesadaran oleh Citta. Dari Buddhi lahirlah Ahamkara.
            Bhatara yang dijunjung memberi kesadaran pada Sang Hyang Ātma, Sang Hyang Ātma pada Citta, Citta pada Ahamkàra. Ahamkara yang sifatnya mengaku-aku tiga macamnya, yaitu: Vaikrta, Taijasa, dan Bhstadi. Vaikrta adalah Buddhi Sattva yang menimbulkan adanya Manah dan Dasendriya. Taijasa adalah Buddhi Rajas. Bhstadi adalah Buddhi Tamah yang menimbulkan adanya Panca Tan Matra. Dari Panca Tan Matra timbullah Panca Maha Bhuta. Dengan berpadu dengan Guna, Panca Maha Bhuta membentuk Andabhuvana, yaitu: Bhurloka, Bhuvahloka, Svahloka, tapaloka, Janaloka, Mahaloka, dan Satyaloka. Di samping alam atas, juga terdapat alam bawah, yaitu: Patala, Vaitala, Mahatala, Sutala, Tàla-tala, dan Rasatala. Di bawah Sapta Patala ini terdapat Balagardaba Mahanaraka, di bawahnya terdapat Kalagnirudra.
            Taijasa adalah Buddhi Rajah, membantu kerja Vaikrta dan Bhutadi. Bhatara junjungan manusia, menyusupi alam semesta, menciptakan manusia dengan perantaraan Kriyasakti. Ātma berada di Turiyapada, Jagrapada, dan Suptapada. Ātma mengalami sengsara. Suatu wujud Ātma adalah Ātma yang berhubungan dengan Ahamkara yang menimbulkan adanya Panca Tan Matra, Panca Maha Bhuta, dan Manah. Manah direflesikan pada Ātma sehingga Ātma menjadi Panca Ātma. Orang yang ditempati oleh Bhatara Siva memiliki Ātma Visesa. Walaupun Ātma seseorang adalah Ātma Visesa, ia harus melaksanakan Tapa, brata, samadhi. Pada waktu Samadhi Bhatara Siva akan menyatakan diri-Nya. Pada binatang tidak ada Ātma Visesa. Ia lebih banyak digerakan oleh Vàyu, Idep, dan Sabda. Sabda, Vayu,  dan Idep itu meresapi seluruh tubuh manusia yang diberi kesadaran oleh Ātma dalam kadar yang berbeda-beda. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan itu adalah subhasubhakarma”. Ātma yang berada di Jagrapada dan Turiyapada adalah Ātma yang luput dari subhasubhakarma” karena kesuciannya, sedangkan Ātma yang berada di Suptapada adalah Ātmà yang sengsara karena terus menerus lahir menjadi Dewata, manusia, dan binatang. Ia selalu diombang-ambingkan oleh pikiran berupa angan-angan. Adapun Turiyapada dan Turiyantapada itu sukar dijangkau oleh pikiran karena halusnya. Untuk dapat menentukan sesuatu itu dapat menggunakan Tripramana, yaitu Pratyaksa, Anumana, dan Āgamapramana. Turiyantapada hanya dapat dibayangkan dengan Āgamapramana. Ātma-atma itulah yang lahir sebagai manusia, tinggal dalam badan manusia, meresap dalam Sad Rasa, yang membangun tubuh manusia. Namun tubuh itu dasarnya dibangun dari Panca Maha Bhuta. Sebenarnya tubuh itu merupakan tiruan alam semesta, karena bagian-bagian tubuh itu bagaikan bagian-bagian besar. Demikian tubuh itu dapat dibandingkan dengan Sapta Bhuwana, Sapta Patala, Sapta Parvata, Sapta Arnava, Sapta Dvipa. Bila di alam besar terdapat banyak sungai, maka dalam tubuh manusia terdapat semacam sungai yang disebut nadì.  Tenaga gerak tubuh itu disebut Vayu yang jumlahnya sepuluh disebut Dasavayu. Semuanya itu dihidupkan oleh Sang Hyang Ātma yang membagi-bagi dirinya yang menghidupi bagian-bagian tubuh itu. Akibat dari pembagian itu, maka Ātma membagi dirinya menjadi Pancatma.
            Dunia dialami oleh Ātma melalui Dasendriya dan Manah. Kemudian Para Dewa dan Para Rsi juga menempati bagian-bagian tubuh, seperti Bhattara Brahma menempati hati, Bhatara Visnu menempati empedu, dan sebagainya, dan Triguna menjadi Gandharva, daitya, Bhuta, Paisaca, dan sebagainya yang menimbulkan sifat-sifat tertentu pada diri seseorang. Badan Sang Hyang Ātma adalah Pradhanatattva yang disebut Ambek. Ambek dan tubuh disebut Angarapradhana. Dari Ambeklah timbul suka, duka, baik, dan buruk. Ambeklah yang menikmati objek kenikmatan itu melalui Dasendriya. Maka harus ditarik dari objek kenikmatannya, kembalikan ke dalam Ambek, Ambek ke alam Pramana, Pramana ke Dharma Visesa, Dharmavisesa ke dalam Antavisesa, Antavisesa ke dalam Anantavisesa.
            Cara mengembalikan semuanya itu dengan jalan Prayogasandhi yang dapat dilaksanakan dengan tuntunan Samyagjnana. Samyagjnana hanya akan diperoleh melalui Tapa, Yoga, dan Samadhi. Yang dimaksud dengan Prayogasandhi adalah Āsana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, dan Samadhi. Bila Sang Yogisvara telah menemukan Samahi itu, ia dikatakan telah memiliki ka-Astaisvarya. Astaisvarya itu meliputi: Anima (mahakecil), Laghima (maharingan), Mahima (mahabesar), Prapti (seketika ada ditempat), Prakamya (tercapai yang diinginkan), Isittva (menguasai segalanya), Vasittva (meliputi segalanya), yatrakamavasayittva (apa yang diinginkan segera terwujud dan berkuasa). Bila endapan Sattva sudah tidak ada lagi, maka pada saat itulah Sang Yogìsvara berpisah dengan Panca Maha Bhuta dan kembali bersatu dengan Bhatara Paramesvara (Mirsha, 1994:iii).
            Ajaran teologi dari kitab-kitab Bhuvanakosa, Jnana Siddhanta, Vrhaspatitattva, Ganaptitattva, dan Tattvajnana tampak ada kesamaan, yakni sama-sama menjelaskan tentang proses penciptaan alam semesta dan makhluk hidup, utamanya manusia, mengagungkan Sang Hyang Siva, dan menjelaskan tujuan hidup manusia yang tertinggi yakni Moksa atau Kalepasan yang dapat dicapai melalui Yogamarga, khususnya Sadangayoga atau Prayogasandhi yang terdiri dari: Āsana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, dan Samadhi.


            Kitab Purvabhumikamulan telah dikaji oleh C. Hoykaas, dengan judul buku Cosmogony and Creation in Balinese Tradition, The Hague Martinus Nijhoff (1974). Jumlah úloka Sanskertanya sebanyak 126 buah yang masing-masing diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Adapun isi kitab ini adalah tentang penciptaan alam semesta berserta segala isinya. Pada mulanya dinamakan Purvaka Bhumi (awal kejadian). Mulanya Sunya (kosong), awalnya ada Bhatàra dan Bhatàrì, hakikat Sang Hyang Widhi Visesa (Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa). Diceritakan Sang Hyang Widhi berkeinginan mempunyai putra Para Dewa. Pada mulanya dari tulang-Nya lahir Ni Cantin Kunin yang akhirnya bernama Bhatari Uma. Selanjutnya putra laki-laki bernama dari kulit-Nya berwarna putih bernama Kursika, Sadyojata namanya, akhirnya bernama Bhatara Isvara, selanjutnya dari daging-Nya berwarna merah bernama Garga, Sang Bamadeva, akhirnya bernama Bhatàra Brahma. Lagi berputra berwarna kuning Sang Metri namanya, Tatpurusa ama lainnya, akhirnya dinamakan Bhatàra Mahadeva. Putranyan berwarna hitam, diberi nama Sang Kurusya, Aghora juga disebut, kemudian  bernama Bhatara Visnu. Selanjutnya lahir putra bernama Pretanjala, panca warna kulitnya, juga bernama Isa dinamakan Bhatara Siva. Sang Hyang Widhi memerintahkan putra-putra-Nya menciptakan alam semesta. Diceritakan empat putranya menolak, yang kemudian dikutuk oleh-Nya, Kursika menjadi  Bhuta Denen berwujud Yaksa, Garga menjadi harimau, Metri menjadi naga, Kurusya menjelma menjadi buaya. Mereka menuju empat penjuru dan tidak kembali lagi. Tinggal dua putra-Nya, yakni Cantin Kunin dan Pretanjala, sama-sama sakti disebut Nini Patuk dan Kaki Patuk. Selanjutnya menjelaskan tentang Panca Aksara (SA, BA, TA, A, I) dan Panca Brahma (NA, MA, SI, VA, YA). Dijelaskan tentang (1-19). Dijelaskan  pula dari Sang Hyang Siva menurunkan Sungai Ganga yang memenuhi dataran, bercahaya warnanya, serta mantra pemujaan kepada Dewi Gangà  (24-32).
            Diuraikan proses terciptanya alam semesta dari unsur Panca Maha Bhuta serta para Dewa penguasa penjuru, penguasa bintang, bulan dan matahari  (33-40). Dijelaskan keesaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan beberapa kutipan mantram pemujaan (38-44). Uraian tentang proses dari para Bhuta menjadi Dewa penguasa penjuru, wujud, warna dan sthananya (44). Selanjutnya uraian tentang terciptanya manusia, para Dewa ikut mengambil bagian, ada yang menciptakan kulit, tulang, daging dan sebagainya. Bhatara Brahma menciptakan makhluk berkaki empat (binatang), Visnu menciptakan berbagai jenis ikan, Siva menciptakan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, gunung, tegal, dan sebagainya (45-56). Diceritakan turunnya Bhatarì Durga yang menakutkan beserta pengiringnya menciptakan kejahatan, Bhatara Pretanjala menjelma menjadi Kala yang menakutkan, beraneka rupa Bhuta pengiring Bhatara Kala, juga cerita Kandapat Bhuta yang menguasai berbagai poenjuru dunia dan para Bajan yang mengganggu manusia  (57-112). Para Dewa utamanya menjelma menjadi Pàndava, Kursika menjadi Dharmatanaya, Garga menjadi Bhìma, Metri menjadi Arjuna, Kurusya menjadi Nakula, Pretanjala menjadi Sahadeva. Masing-masing Dewa juga menjelma menjadi tokoh-tokoh Ramayana, Kurska menjadi Satrughna, Garga menjelma menjadi Laksmana, Metri menjadi Bharata, Kurusya menjadi Ràma, Pretanjala menjadi Dasaratha. Uraian tentang Rvabhineda, penjelasan berbagai janis pandita (viku), diakhiri dengan penjelasan bahwa manusia sesungguhnya bersaudara dengan berbagai jenis makhluk hidup di alam semesta ini serta pemujaan kepada para Dewa Pencipta alam semesta tersebut (113-126). Berdasarkan isi dari kitab ini maka teologi yang diajarkan adalah teologi penciptaan alam semesta dengan penekanan untuk mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk dan alam semesta (lingkungan alam) yang semuanya merupakan ciptaan-Nya (Hooykaas, 1974:10-48).
















DAFTAR PUSTAKA


Ardana, I Gusti Gede.1989. Sejarah Perkembangan Hinduisme. Denpasar: Tanpa Penerbit.
Ardika, I Wayan, 1997. Bali dalam Sentuhan Budaya Global’ dalam Dinamika Kebudayaan Bali. Denpasar: Upada Sastra.
Ardika, I Wayan, 2005. ‘Strategi Bali Mempertahankan Kearifan Lokal di Era Global’ dalam Kompetisi Budaya dalam Globalisasi,  Kusumanjali untuk Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Pustaka Larasan.
Chandrasekharendra Sarasvati, Sri Svami.1988. The Vedas. Bombay, India: Bharatiya Vidya Bhavan.
Darsana, I Gusti Putu.1997. Akar Kebudayaan Bali. Denpasar: Upada Sastra.
Dubois, Abbe J.A.1981. Hindu Manners, Customs and Ceremonies. Delhi: Oxford University Press.
Goris, R.1954. Prasasti Bali, I-II. Bandung: NV   Masa Baru.
Goudriaan, T. 1980. Sanskrit Texts and Indian Religion in Bali, dalam Jurnal Vivekananda Kendra Patrika, Madras, India: February, 1980
Google:2012:12:3
http://belajaragamahindu.wordpress.com/2010/11/02/unsur-unsur-waisnawa-yang-terdapat-dalam-saiwa-siddhanta/diakses Sabtu, 24 Maret 2012 Pukul 15.05 Wita.
http://thoriqs.blogspot.com/2011/03/sekte.html diakses Sabtu, 24 Maret 2012 Pukul 14.00 Wita.
http://cakepane.blogspot.com/2010/06/apakah-caru-segehan-dan-tawur.html, diakses Sabtu, 24 Maret 2012 Pukul 14.30 Wita.
Mahadevan.T.M.P. 1984. Outlines of Hinduism, Bombay: Chetana.
Maswinara I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu Sarva Darsana Samgraha. Surabaya: Paramita.
Nurkancana, Wayan. 1997. Menguak Tabir Perkembangan Hindu, BP : Denpasar
Parimartha, I Gde.  2003. “Memahami Desa Adat, Desa Dinas, dan Desa Pakraman: Tinjauan Historis, Kritis” dalam Politik Kebudayaan dan Identitas Etnik, Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Balimangsi Press.
Putra, I Gusti Agung dkk. 1987. Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Bali. Denpasar: Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.
Pudja, Gede. 1983. Tattwa Darsana Untuk Kelas II PGA Hindu. Jakarta:  Proyek pembinaan Mutu pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agama.
Pudja, I Gede. 1999. Bhagawdgita. Surabaya: Paramita
Redig, I Wayan.1997. ‘Ciri-Ciri Ikonografis Beberapa Arca Hindu di Bali: Studi Banding Dahulu dan Sekarang’ dalam Dinamika Kebudayaan Bali. Editor: I Wayan Ardika dan I Made Sutaba. Denpasar: Upada Sastra.
Sanjaya, Oka Gede. 2001. Lingga Purana. Surabaya: Paramita
Sanjaya, Oka Gede. 2001. Wisnu Purana. Surabaya: Paramita
Semadi Astra, G.1974. Masa Pemerintahan Anak Wungsu di Bali. Denpasar: Lembaga Pengkajian Fakultas Sasatra, Universitas Udayana.
Sivananda,  Sri Swami.1988. All About Hinduism. Sivanandanagar, Uttar Pradesh, India: Divine Life Society.
Sivananda, Sri Swami. 2003. Intisari Ajaran Hindu. Surabaya: Paramita.
Subagiasta, I Ketut. 2006. Sivasiddhangta di India dan di Bali. Surabaya: Paramita.
Sumadio, Bambang. 1976. Sejarah Nasional Indonesia. I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sumawa, I Wayan dkk. 1996. Materi Pokok Darsana Modul.   Jakarta: Direktoral jendral Bimbingan masyarakat Hindu dan Budha Departeman Agama RI.
Suastika, I Made. 1997. Calon Arang dalam Tradisi Bali: Suntingan Teks, Terjemahan, dan Proses Pem-Bali-an: Disertasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Soeka, Gde. 1993. Tri Murti Tattwa. Denpasar: CV. Kayumas.
Sudirga, IB. 2005. Widya Dharma Agama Hindu XI. Denpasar: Ganeca Exact.
Suhardana, Komang.2008.Tri Murti Tiga Perwujudan Utama Tuhan. Jakarta: Paramita.
Sukartha, I Ketut. 2002. Agama Hindu. Denpasar: Ganeca Exact.
Supartha, Suda I Nyoman. 1994. Penuntun Belajar Agama Hindu. Denpasar: Ganeca Exact.
Surayin, Ida Ayu Putu. 1993. Pitra Yadnya. Surabaya: Paramita.
Terjemahan lontar ”Jnana Siddhanta” arsip gedong kertiya singaraja.
Terjemahan lontar “Ganapatitattva’ arsip gedong kertiya singaraja.
Terjemahan lontar “Korawa Srama Panca yadnya” arsip gedong kertiya singaraja.
Terjemahan lontar “Kusuma Dewa Gong Wesi” arsip gedong kertiya singaraja.
Terjemahan lontar “Purwaka bumi Kemulan” arsip gedong kertiya singaraja.
Terjemahan lontar ”Wrehaspati Tattwa” arsip gedong kertiya singaraja.
Titib, I Made. 1996. Veda, Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan,  Surabaya: Penerbit Paramita.
Titib, I Made. 2001. Teologi dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu, Surabaya: Penerbit Paramita.
Titib, I Made. 2004. Puràna, Sumber Ajaran Hindu Komprehensif. Surabaya: Penerbit Paramita.
Titib, I Made. 2006. Persepsi Umat Hindu di Bali Tentang Svarga, Naraka, dan Moksa Dalam Svargarohanaparva, Perspektif Kajian Budaya. Surabaya: Penerbit Paramita.
Pandit, Bansi. 2006. Pemikiran Hindu. Surabaya: Paramita.
Wiana, Ketut. 2005. Sembahyang Menurut Hindu. Denpasar: Yayasan Dharma Naradha.
Yudhiantara, Kadek. 2003. Rahasia Pemujaan Sakti Durga Bhairawi. Surabaya: Paramita.



 




RIWAYAT PENULIS

I Ketut Pasek Gunawan, S.Pd.H yang lahir di Kendari tepatnya Sulawesi Tenggara pada tanggal 17 April 1988 pada hari Minggu di Desa Sumber Jaya dengan kedua orang tua bapak Wayan Merta dan Ibu Made Rsi dengan bersaudara 2 Kakak Perempuan dan 1 kakak Laki-laki. Dahulu kedua orang tua penyusun ikut program trasmigrasi ke Sulawesi Tenggara pada tahun 1982. Pendidikan yang pernah ditempuh penulis diantaranya dimulai yaitu SD No. 2 Sumber Jaya yang sekarang menjadi SD No 2 Lalembuu tahun 1995-2001, SMP Negeri 3 Tinanggea yang sekarang menjadi SMP Negeri 1 Lalembuu tahun 2001-2004, SMA S Kartika Wira Bhwana VII Kendari yang dimiliki oleh yayasan TNI Angkatan Darat Korem Kendari tahun 2004-2007. Setelah itu penulis melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi yaitu di IHDN Denpasar mengambil (S1) jurusan Pendidikan Agama Hindu tahun 2007-2011 dan saat ini sedang menyelesaikan program Magister (S2) Pendidikan Agama Hindu di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar (IHDN Denpasar) muali tahun 2011 sampai sekarang.
Sedangkan prestasi yaitu  juara I Lomba karya Tulis ilmiah tingkat mahasiswa IHDN Denpasar tahun 2010, juara III lomba Wushu tingkat se-Bali tahun 2010, juara III lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional di Jakarta tahun 2011. Saat ini sedang mengabdi sebagai tenaga Dosen Tidak Tetap di Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar.

2 komentar:

  1. nama: luh yantini
    nim : 11.1.2.2.1.242
    jurusan: pendidikan bahasa dan sastra agama
    fakultas: dharma acarya
    prodi: sastra agama dan pendidikan bahasa bali
    alamat blog : luhyantini.blogspot.com

    komentar blog: semangat pak, semoga sukses

    BalasHapus
  2. Succesfullh... brother... ☝👌👍

    BalasHapus